Menilik Perayaan Natal Para Difabel

Menilik Perayaan Natal Para Difabel

Menilik Perayaan Natal Para Difabel

Tidak diragukan lagi jika Natal merupakan hari yang spesial untuk setiap umat Kristiani, tak terkecuali mereka para jemaat penyandang tunawicara dan tuna rungu. Diwadahi Eklesia Tunarungu Wicara Solo, para jemaat baik dewasa maupun anak-anak berkumpul dalam satu geraja di Solo yaitu Gereja Pengharapan Allah untuk melakukan perayaan Natal bersama sebelum ibadah malam Natal.

Menilik Perayaan Natal Para Difabel

Pada perayaan malam Natal tersebut, nyanyian-nyanyian yang menggemakan nada gembira bisa terdengar memenuhi geraja. Dipimpin oleh seorang pendeta yang didampingi penerjemah bahasa isyarat, para jemaat nampak bersukacita dalam merayakan hari yang spesial ini diiringi oleh nyanyian-nyanyian tersebut. Meski mereka tidak dapat mendengarnya, senyum bahagia tetap terkembang di wajah mereka.

Pada malam itu juga, pendeta yang memimpin meminta tiga perwakilan dari jemaat tunawicara maupun tunarungu untuk maju. Tiga perwakilan ini diminta untuk menyampaikan apa yang menjadi harapan serta keinginan mereka pada perayaan Natal tersebut. Dengan sumringah, mereka pun menyampaikan apa yang mereka harapkan dengan menggunakan bahasa isyarat.

Pada kesempatan tersebut, salah seorang perwakilan menyampaikan rasa senangnya dengan adanya perayaan tersebut. Ia merasa bahwa perayaan natal kali ini berbeda karena ia bisa berkumpul dengan semua anggota geraja tuna rungu yang menjadi geraja pertama di Solo yang diperuntukan untuk tuna rungu ini.

Selanjutnya, acara perayaan Natal tersebut diakhiri dengan permainan angklung. Bukan hanya satu dua orang saja yang memainkan angklung tersebut, tetapi semua peserta yang hadir beserta keluarga ikut maju ke depan untuk memainkan perangkat musik tersebut. Dengan menggunakan aba-aba bahasa isyarat, mereka pun memainkan lagu-lagu rohani diiringi oleh musik angklung yang kompak.

Selain mengadakan perayaan hari besar seperti Natal khusus untuk jemaat difabel, Gereja Pengharapan Allah di Solo ini juga menggelar kebaktian setiap hari minggu. Dengan didampingi dua orang penerjemah bahasa isyarat, perkumpulan di gereja ini diharap dapat membantu jemaat Kristiani yang difabel untuk tetap dapat menghayati firman Tuhan sebagaimana jemaat lainnya. Hal ini tentunya sangat membantu karena sebelumnya jemaat difabel bergabung dengan kebaktian umum.

Baca juga artikel kami menganai: Unik ini dia budaya aqiqah umat kristen di pacongkang soppeng

Sumber: http://regional.liputan6.com/read/3203549/gereja-tunarungu-merayakan-natal-dalam-sunyi

Posted in Berita and tagged , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *