Panah Tradisional Kembali Dipertandingkan di PON

Panah Tradisional Kembali Dipertandingkan di PON

Mencari para calon – calon atlet panah yayasan SIPAS (Semut Ireng Pop Archery Sriwedari) mengadakan turnamen SIPAS Solo Open Archery Competition 2017 (SSOAC 2017). Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk melestarikan panahan tradisional (Jemparingan) dan keinginan kuat mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON). Acara ini dilakukan dalam kurun waktu tiga hari di Benteng Vastenberg, Solo. Bukan hanya panahan tradisi (Jemparingan) saja, tapi juga lomba panah Sandart Bo U-10, U-15, dan peserta umum.

Total keseluruhan peserta yang mengikuti acara tersebut adalah 450 peserta. Dengan dua kategori lomba dan berasal dari seluruh wilayah Indonesia seperti Jawa Timur, Bali, Kalimantan (Tarakan), Jawa Barat, Lombok, Jateng dan DIY.

Satu hal yang unik dalam acara ini adalah digelarnya ronde panahan tradisional (Jemparingan) pada hari terakhir perlombaan. Jenis yang dilombakan adalah panahan tradisi Mataram (Jemparingan).

Menurut ketua panitia SSOAC 2017, Bayu Ardianto. Lomba panah tradisional ini unik sekali, karena peserta wajib menggunakan pakaian daerah asal para peserta. Selain itu juga harus menggunakan busur juga panah tradisional.

Acara panahan ini dilakukan guna melestarikan budaya yang hampir mengalami kepunahan.

Ratusan Atlet Siap Ramaikan SSOAC 2017 di Solo

Ada ratusan atlet siap berkompetisi dalam SIPAS Solo Open Archery Competition (SSOAC) 2017 di Solo, pada hari Jumat – Minggu (20-23/10/2017).

Menurut ketua panitia Bayu Adi Kusuma, “Pertandingan juga untuk memperingati HUT Yayasan Semut Ireng Pop Archery Sriwedari (SIPAS),”

“Pertandingan juga untuk memperingati HUT Yayasan Semut Ireng Pop Archery Sriwedari (SIPAS),” Pesertanya, berasal dari seluruh wilayah Indonesia.

“Ada beberapa kategori usia dan pertandingan, seperti standar bow U 10, umum serta ronde panahan tradisional (jemparingan),” kata Ketua Panitia Bayu Adi Kusuma, Jumat (13/10/2017).

Menuru Bayu, ada sekitar 450 atlet yang sudah mendaftar. Pendaftaran masih dibuka sampai tanggal 15 Oktober. Nantinya akan ada 88 medali yang diperebutkan di semua kelas. Ajang kompetisi ini diharapkan bisa menjadi tempat atlet panahan muda. Dan juga mengenalkan budaya panahan tradisional pada masyarakat luas.

Mengenal Lebih Dekat Seni panahan Jemparigan

Suatu seni di Indonesia juga bisa dijadikan olahraga  khususnya melatih konsenterasi sekaligus pengendalian diri. Seni panahan Jemparigan bisa dipelajari oleh semua orang dari berbagai macam latar belakang maupun umur. Namun untuk menjadi ahli bukanlah suatu hal yang mudah. Bakat dan kecakapan dari tiap individu yang belajar memanah menjadi penentu. Ada yang hanya dalam jangka waktu sebulan sudah bisa da nada yang sampai satu tahun belum bisa. Tergantung bakatnya dan bagaimana ia mengenali busur itu.

Sebagai dari kesenian tradisional, pembuatan busur gaya Mataram yang disebut dengan nama gendewa itu harus melalui prosesi yang amat panjang. Hal ini dilakukan agar gendewa sesuai dengan pemanahnya. Ada satu hal yang tidak boleh asal dan di kira – kira sendiri. Sebagai senjata, gendewa harus sesuai dengan pemegangnya. Untuk itu mulai dari bahan hingga ukurannya pun harus tepat.

Jual busur dan alat panah harga murah, kunjungi: http://master-archery.com/

Seni panahan Jemparigan adalah memanah gaya Mataram yang sangat unik, dilakukan dalam posisi duduk bersila. Jelas berbeda dengan sikap badan dalam olah raga memanah yang ada biasanya, yang biasanya dilakukan dalam posisi badan tegak, menarik busur, serta memicingkan mata mengincar sasaran. Seni panahan Jemparigan ini memiliki nilai tertentu bukan hanya sebatas olah raga, tapi juga juga olah jiwa serta  tata krama.

Posted in Betasgki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *