Dicari: Orang Besar (Pdt. Em. Daud Adiprasetya)
Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 18 Oktober 2009
Minggu Biasa XXIV
Dalam suatu musim dingin, sore itu George Washington mengenakan mantel yang tebal dan sebuah topi yang menutupi wajahnya, untuk menghindar dari terpaan udara dingin, ia meninjau pasukannya di perbatasan terjauh dari kantor pusatnya. Di sana ia melihat ada sekelompok tentara yang bekerja keras dengan diawasi langsung oleh seorang kopral yang berteriak-teriak dengan nyaringnya.Washingon semakin mendekat, melihat bahwa sekawanan tentara itu sedang berusaha menarik keluar kereta yang memuat kayu- kayu berat yang terperosok ke dalam sebuah parit. Ia memperhatikan si kopral berteriak dengan lantangnya, “Tarik…! Ayo tarik ke atas, mana tenaga kalian…Ayo tarik lebih kuat lagi!” Kopral itu berteriak dengan semangatnya tanpa memberikan bantuan kepada anak buahnya. Ketika kereta itu hampir keluar dari parit, para tentara kehilangan keseimbangan karena licinnya tanah yang diselimuti salju. Sang kopral dengan nada kecewa berteriak, “Ayo, jangan loyo, ceppaaaat, satu, dua, tiga! Ayo dorong yang kuat!”
Ketika kereta akan tergelincir kali keduanya, Washington berlari dan segera memberikan bantuannya . Bersama para tentara, Washington berjibaku untuk mendorong dan membantu, akhirnya kereta yang berisi kayu yang berat itu berhasil dikeluarkan dari parit! Muka-muka pucat dan kecapaian terlihat di raut wajah para tentara yang dengan senang menepuk pundak Washington, dan tak lupa memberikan ucapan terimakasih kepada penolong misterius itu. Washington segera berkata kepada si kopral,”Mengapa Anda tidak memberikan pertolongan kepada anak buah Anda, padahal Anda tahu mereka sangat membutuhkan bantuan Anda?” Kaget dihardik oleh seorang yang tak dikenalnya, sang kopral menjawab,”Mengapa saya harus membantu mereka, tak tahukah Anda bahwa Anda sedang berbicara dengan seorang kopral?” Washington menjawab,”Tentu saya mengetahui Anda adalah seorang kopral (sambil membuka mantelnya, Washington memperlihatkan jubah kebesarannya} dan saya hanyalah seorang pemimpin tertinggi di negara ini. Lain kali Anda membutuhkan bantuan untuk mendorong kereta berat ini keluar dari parit, saya dengan senang hati bersedia melakukan.” (Dari Buku Champion).
Bersama sang kopral tadi kita mendapat pelajaran yang berharga, bahwa di atas langit masih ada langit, di atas tingkatan yang tinggi masih akan ada yang lebih tinggi. Bahwa yang tinggi tingkatannya mendapat nilai plus, jika ia mau rendah hati. Bahwa yang tinggi tingkatannya saja bisa merendah, apa lagi yang rendah tingkatannya. Akhirnya, bahwa rendah hati tidak hanya dalam wacana atau perkataan tapi terutama dalam perbuatan.
Kedudukan tinggi yang menggiurkan. Kedudukan tinggi selalu dihargai, dihormati, dan dikagumi. Karena itu kedudukan tinggi dicari, dikejar dan diperjuangkan. Sehingga kedua murid Yesus saja, Yakobus dan Yohanes mohon agar kelak diberi kedudukan yang mulia di kanan kiriNya. Andai hal itu merupakan tujuan mereka sebagai murid Yesus bagaimana? Pertanyaan seperti ini penting, sebab sekarang ini saja banyak pengikut Tuhan Yesus atau orang kristen, yang menjadikan kemuliaan sorga sebagai tujuannya. Kalau ditanya “Ikut Tuhan Yesus karena apa?” Jawabnya adalah: “Supaya masuk sorga.” Masuk sorga atau terlebih mendapat kedudukan yang mulia dalam Kerajaan Tuhan tentu saja merupakan kebahagiaan tiada taranya, siapa akan menolak anugerah maha hebat itu? Tapi bagaimana tanggapan Tuhan Yesus terhadap permohonan Yakobus dan Yohanes?
Pertama, ada satu hal penting yang terlewatkan, yaitu harus lebih dulu mau meminum cawan dan menyambut baptisan Tuhan Yesus. Artinya harus bersedia menanggung derita dan merendahkan diri. Sebab cawan Yesus berarti salib dan penderitaanNya (Mazmur 11:6), Yesus minta dibaptis, berarti Putera Allah merendahkan diri secara total di depan manusia. Permohonan Yakobus dan Yohanes sebenarnya kurang pantas, sebabYesus Putera Allah saja sedang mengorbankan kedudukanNya, tidak memperhitungkan kesetaraanNya dengan Allah untuk menyelamatkan orang berdosa, tapi mengapa mereka malah memikirkan kedudukan yang bagus untuk diri sendiri. Kejanggalan lain, mengapa mereka masih mengupayakan “kedudukan yang bagus” , padahal diselamatkan oleh Kristus sudah merupakan sukacita besar. Masih ditambah lagi banyak sukacita yang lain, termasuk boleh ikut melayani Tuhan Yesus dalam hidup ini! Tak heran jika Tuhan Yesus mengatakan, sebenarnya mereka tidak tahu apa yang mereka minta. Mungkin mereka itu hanya ingin menjadi murid-murid yang hebat, menjadi “Orang Besar” dalam Kerajaan Allah. Kita sering lupa bahwa dalam Kerajaan Allah banyak hal yang harus kita jungkir balikkan. Misalnya dalam Khotbah Yesus di bukit (Matius 5) kita membaca bahwa orang-orang yang sederhana, dan bahkan mengalami perlakuan buruk dari sesamanya justeru disebut berbahagia oleh Tuhan Yesus.Atas permintaan mereka berdua, Tuhan Yesus juga memberi tanggapan.
Kedua, Yesus tidak berhak memberikannya. Menurut Tuhan Yesus, tentu Bapa-Nyalah yang berhak memberikan kedudukan seperti itu. Sebab Yesus sendiri juga akan didudukkan Bapa, di sebelah kananNya (Efesus 1:20). Kalau Yesus sang Putera didudukkan di sebelah kananNya oleh Bapa, hal itu memang sudah cocok, sebab Bapa yang mengutus PuteraNya. Tapi mengapa Yesus menyatakan bahwa Ia tidak berhak mendudukkan Yakobus dan Yohanes kelak? Apakah di sini ada pembagian kerja diantara Bapa dan Anak? Saya kira tidak demikian, tapi ini adalah sikap Tuhan Yesus yang merendah di hadapan BapaNya. Dialah “Orang Besar” yang selalu rendah hati. Orang yang rendah hati selalu menarik. Ada kisah tentang orang rendah hati yang suka menolong sesamanya, sampai Tuhan tergerak untuk memberi hadiah kepadanya. Tuhan mengutus malaikatNya tapi dia tidak mau minta apapun. “ Apa ingin kekuatan khusus yang bikin orang bisa bertobat?” “Tidak! Itu pekerjaan malaikat.” “Atau kau mau menjadi pria teladan dalam hidup ini, sehingga banyak yang tertarik kepadamu?” “Tidak mau! Nanti aku jadi pusat perhatian.” “Bagaimana kalau mengalami keajaiban?” Setelah berpikir sejenak lalu jawabnya,”Baiklah! Keajaiban bahwa semua kebaikan yang kulalukan, tidak kusadari sendiri.” Itulah keajaiban seperti yang dilakukan oleh bunga, yang tidak tahu bahwa dirinya harum. Sejak itu Tuhan memberi kuasa yang khusus kepada bayangannya, sehingga orang sakit jika dilaluinya, jadi sembuh. Tanah yang gersang, jadi subur. Wajah pucat jadi memerah.Orang yang sengsara hidupnya, berubah jadi bahagia. Dan semua itu terjadi tanpa dia sadari!
Ingin menjadi “Orang Besar” di antara pengikut Kristus? Boleh! Demi mendengar bahwa Yakobus dan Yohanes mengajukan permohonan seperti itu, kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada mereka berdua. Tapi mengapa marah? Ada dua kemungkinan, pertama: Karena menganggap bahwa tidak pantas Yakobus dan Yohanes mengajukan permohonan seperti itu, egois, kekanak-kanakan dan memalukan. Kemungkinan kedua: Karena Yakobus dan Yohanes mendahului mereka, tidak setia kawan Untunglah bahwa permintaan itu ditolak oleh Tuhan Yesus. Tapi sekarang ketahuan bahwa diam-diam mereka berdua itu mengincar kedudukan tinggi, jika berhasil menyebabkan yang lain menjadi bawahan mereka. Mengetahui bahwa kesepuluh muridnya marah maka Tuhan Yesus merasa perlu memberi penjelasan, yang sangat penting untuk kita semua. Orang besar di dalam pemerintahan dunia sangat berbeda dengan orang besar dalam Kerajaan Tuhan. Jika mereka memerintah rakyatnya dengan tangan besi, maka yang ingin menjadi besar di antara anak-anak Tuhan harus bersedia menjadi hamba yang melayani. Kalau begitu tidak dilarang menjadi “Orang Besar” di antara para pengikut Tuhan Yesus, atau di antara orang kristen. Semakin banyak yang ingin menjadi orang besar malah semakin baik, sebab semakin banyak orang yang berjiwa melayani. Jika Paulus bicara mengenai perlombaan yang diwajibkan bagi kita tentulah perlombaan iman, tapi iman yang melayani dengan rendah hati ( Ibrani12:1). Kalau begitu mari kita berlomba menjadi “Orang Besar” yang menghamba!
Lihatlah Hamba Tuhan yang menderita. Yesaya 53 terkenal karena menampilkan seorang Hamba Tuhan yang menderita. Di ayat 3 dikatakan bahwa orang menutup mukanya terhadap dia. Untuk menyatakan bahwa dia sangat hina dina sehingga orang tidak sudi bertatap muka dengan dia, atau buruk muka karena kotor oleh peluh, debu dan darah! Tapi dia berhati mulia! Semula orang menyangka dia mendapat pukulan dan tindasan sebagai hukuman Allah karena kesalahannya sendiri, padahal tidak! Dalam ayat 4-6 kata ganti “kita” digunakan hingga sepuluh kali! Hal ini menegaskan bahwa semua penderitaannya itu disebabkan karena dosa kita. Dia telah menanggung penyakit, kesengsaraan, pemberontakan dan ganjaran kita semua! Sebagai domba Tuhan kita telah sesat karena menyimpang, tapi dia mau menanggung hukuman kita. Ketika dianiaya dan ditindas, dia menghadapinya seperti anak domba yang dbawa ke pembantaian, dan seperti induk domba kelu yang sedang diguntingi bulunya. Inilah nubuat yang sangat mengesankan. Tapi Hamba Tuhan manakah yang bisa begitu pasrah, rendah hati, berjiwa melayani serta berkorban? Hamba Tuhan manakah yang oleh penderitaannya, kita semua menjadi sembuh, dipulihkan dari sakit dosa, serta dibarui?
Hanya dalam Yesus Kristus hati Allah dipuaskan, umat manusia diselamatkan. Yesus Kristus adalah Hamba Tuhan yang menderita, dalam nubuat dan dalam kenyataan! Karena Hamba Tuhan yang menderita, Ia juga telah tampil sebagai Imam Besar Agung! (Ibrani 5). Sebagai Imam Besar Agung Yesus mengerti bahaya dosa, karena dalam hidup- Nya Dia dikerumuni dosa, tapi tidak berdosa. Yesus berkuasa mengangkut dosa, karena Dia satu-satunya penebus kita.Yesus juga memahami orang yang hidup dalam ketakutan, karena Dia pernah mengalami sendiri di taman Getsemani. Dia berkuasa membebaskan kita dari segala ketakutan, sebab Dia sudah mengatasi ketakutannya umat manusia terhadap murka Allah, dan hukuman kekal yang dahsyat. Maka di dalam Kristus, Allah yang Maha Tinggi menjadi sangat dekat, bahkan menjadi tempat perlindungan dan tempat perteduhan kita. (Mazmur 91:9).
Renungan Minggu, 18 Oktober 2009
Minggu Biasa XXIV
DICARI: ORANG BESAR
Yesaya 53:4-12 Mazmur 91:9-16 Ibrani 5:1-10 Markus 10:35-45
Yesaya 53:4-12 Mazmur 91:9-16 Ibrani 5:1-10 Markus 10:35-45
Dalam suatu musim dingin, sore itu George Washington mengenakan mantel yang tebal dan sebuah topi yang menutupi wajahnya, untuk menghindar dari terpaan udara dingin, ia meninjau pasukannya di perbatasan terjauh dari kantor pusatnya. Di sana ia melihat ada sekelompok tentara yang bekerja keras dengan diawasi langsung oleh seorang kopral yang berteriak-teriak dengan nyaringnya.Washingon semakin mendekat, melihat bahwa sekawanan tentara itu sedang berusaha menarik keluar kereta yang memuat kayu- kayu berat yang terperosok ke dalam sebuah parit. Ia memperhatikan si kopral berteriak dengan lantangnya, “Tarik…! Ayo tarik ke atas, mana tenaga kalian…Ayo tarik lebih kuat lagi!” Kopral itu berteriak dengan semangatnya tanpa memberikan bantuan kepada anak buahnya. Ketika kereta itu hampir keluar dari parit, para tentara kehilangan keseimbangan karena licinnya tanah yang diselimuti salju. Sang kopral dengan nada kecewa berteriak, “Ayo, jangan loyo, ceppaaaat, satu, dua, tiga! Ayo dorong yang kuat!”
Ketika kereta akan tergelincir kali keduanya, Washington berlari dan segera memberikan bantuannya . Bersama para tentara, Washington berjibaku untuk mendorong dan membantu, akhirnya kereta yang berisi kayu yang berat itu berhasil dikeluarkan dari parit! Muka-muka pucat dan kecapaian terlihat di raut wajah para tentara yang dengan senang menepuk pundak Washington, dan tak lupa memberikan ucapan terimakasih kepada penolong misterius itu. Washington segera berkata kepada si kopral,”Mengapa Anda tidak memberikan pertolongan kepada anak buah Anda, padahal Anda tahu mereka sangat membutuhkan bantuan Anda?” Kaget dihardik oleh seorang yang tak dikenalnya, sang kopral menjawab,”Mengapa saya harus membantu mereka, tak tahukah Anda bahwa Anda sedang berbicara dengan seorang kopral?” Washington menjawab,”Tentu saya mengetahui Anda adalah seorang kopral (sambil membuka mantelnya, Washington memperlihatkan jubah kebesarannya} dan saya hanyalah seorang pemimpin tertinggi di negara ini. Lain kali Anda membutuhkan bantuan untuk mendorong kereta berat ini keluar dari parit, saya dengan senang hati bersedia melakukan.” (Dari Buku Champion).
Bersama sang kopral tadi kita mendapat pelajaran yang berharga, bahwa di atas langit masih ada langit, di atas tingkatan yang tinggi masih akan ada yang lebih tinggi. Bahwa yang tinggi tingkatannya mendapat nilai plus, jika ia mau rendah hati. Bahwa yang tinggi tingkatannya saja bisa merendah, apa lagi yang rendah tingkatannya. Akhirnya, bahwa rendah hati tidak hanya dalam wacana atau perkataan tapi terutama dalam perbuatan.
Kedudukan tinggi yang menggiurkan. Kedudukan tinggi selalu dihargai, dihormati, dan dikagumi. Karena itu kedudukan tinggi dicari, dikejar dan diperjuangkan. Sehingga kedua murid Yesus saja, Yakobus dan Yohanes mohon agar kelak diberi kedudukan yang mulia di kanan kiriNya. Andai hal itu merupakan tujuan mereka sebagai murid Yesus bagaimana? Pertanyaan seperti ini penting, sebab sekarang ini saja banyak pengikut Tuhan Yesus atau orang kristen, yang menjadikan kemuliaan sorga sebagai tujuannya. Kalau ditanya “Ikut Tuhan Yesus karena apa?” Jawabnya adalah: “Supaya masuk sorga.” Masuk sorga atau terlebih mendapat kedudukan yang mulia dalam Kerajaan Tuhan tentu saja merupakan kebahagiaan tiada taranya, siapa akan menolak anugerah maha hebat itu? Tapi bagaimana tanggapan Tuhan Yesus terhadap permohonan Yakobus dan Yohanes?
Pertama, ada satu hal penting yang terlewatkan, yaitu harus lebih dulu mau meminum cawan dan menyambut baptisan Tuhan Yesus. Artinya harus bersedia menanggung derita dan merendahkan diri. Sebab cawan Yesus berarti salib dan penderitaanNya (Mazmur 11:6), Yesus minta dibaptis, berarti Putera Allah merendahkan diri secara total di depan manusia. Permohonan Yakobus dan Yohanes sebenarnya kurang pantas, sebabYesus Putera Allah saja sedang mengorbankan kedudukanNya, tidak memperhitungkan kesetaraanNya dengan Allah untuk menyelamatkan orang berdosa, tapi mengapa mereka malah memikirkan kedudukan yang bagus untuk diri sendiri. Kejanggalan lain, mengapa mereka masih mengupayakan “kedudukan yang bagus” , padahal diselamatkan oleh Kristus sudah merupakan sukacita besar. Masih ditambah lagi banyak sukacita yang lain, termasuk boleh ikut melayani Tuhan Yesus dalam hidup ini! Tak heran jika Tuhan Yesus mengatakan, sebenarnya mereka tidak tahu apa yang mereka minta. Mungkin mereka itu hanya ingin menjadi murid-murid yang hebat, menjadi “Orang Besar” dalam Kerajaan Allah. Kita sering lupa bahwa dalam Kerajaan Allah banyak hal yang harus kita jungkir balikkan. Misalnya dalam Khotbah Yesus di bukit (Matius 5) kita membaca bahwa orang-orang yang sederhana, dan bahkan mengalami perlakuan buruk dari sesamanya justeru disebut berbahagia oleh Tuhan Yesus.Atas permintaan mereka berdua, Tuhan Yesus juga memberi tanggapan.
Kedua, Yesus tidak berhak memberikannya. Menurut Tuhan Yesus, tentu Bapa-Nyalah yang berhak memberikan kedudukan seperti itu. Sebab Yesus sendiri juga akan didudukkan Bapa, di sebelah kananNya (Efesus 1:20). Kalau Yesus sang Putera didudukkan di sebelah kananNya oleh Bapa, hal itu memang sudah cocok, sebab Bapa yang mengutus PuteraNya. Tapi mengapa Yesus menyatakan bahwa Ia tidak berhak mendudukkan Yakobus dan Yohanes kelak? Apakah di sini ada pembagian kerja diantara Bapa dan Anak? Saya kira tidak demikian, tapi ini adalah sikap Tuhan Yesus yang merendah di hadapan BapaNya. Dialah “Orang Besar” yang selalu rendah hati. Orang yang rendah hati selalu menarik. Ada kisah tentang orang rendah hati yang suka menolong sesamanya, sampai Tuhan tergerak untuk memberi hadiah kepadanya. Tuhan mengutus malaikatNya tapi dia tidak mau minta apapun. “ Apa ingin kekuatan khusus yang bikin orang bisa bertobat?” “Tidak! Itu pekerjaan malaikat.” “Atau kau mau menjadi pria teladan dalam hidup ini, sehingga banyak yang tertarik kepadamu?” “Tidak mau! Nanti aku jadi pusat perhatian.” “Bagaimana kalau mengalami keajaiban?” Setelah berpikir sejenak lalu jawabnya,”Baiklah! Keajaiban bahwa semua kebaikan yang kulalukan, tidak kusadari sendiri.” Itulah keajaiban seperti yang dilakukan oleh bunga, yang tidak tahu bahwa dirinya harum. Sejak itu Tuhan memberi kuasa yang khusus kepada bayangannya, sehingga orang sakit jika dilaluinya, jadi sembuh. Tanah yang gersang, jadi subur. Wajah pucat jadi memerah.Orang yang sengsara hidupnya, berubah jadi bahagia. Dan semua itu terjadi tanpa dia sadari!
Ingin menjadi “Orang Besar” di antara pengikut Kristus? Boleh! Demi mendengar bahwa Yakobus dan Yohanes mengajukan permohonan seperti itu, kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada mereka berdua. Tapi mengapa marah? Ada dua kemungkinan, pertama: Karena menganggap bahwa tidak pantas Yakobus dan Yohanes mengajukan permohonan seperti itu, egois, kekanak-kanakan dan memalukan. Kemungkinan kedua: Karena Yakobus dan Yohanes mendahului mereka, tidak setia kawan Untunglah bahwa permintaan itu ditolak oleh Tuhan Yesus. Tapi sekarang ketahuan bahwa diam-diam mereka berdua itu mengincar kedudukan tinggi, jika berhasil menyebabkan yang lain menjadi bawahan mereka. Mengetahui bahwa kesepuluh muridnya marah maka Tuhan Yesus merasa perlu memberi penjelasan, yang sangat penting untuk kita semua. Orang besar di dalam pemerintahan dunia sangat berbeda dengan orang besar dalam Kerajaan Tuhan. Jika mereka memerintah rakyatnya dengan tangan besi, maka yang ingin menjadi besar di antara anak-anak Tuhan harus bersedia menjadi hamba yang melayani. Kalau begitu tidak dilarang menjadi “Orang Besar” di antara para pengikut Tuhan Yesus, atau di antara orang kristen. Semakin banyak yang ingin menjadi orang besar malah semakin baik, sebab semakin banyak orang yang berjiwa melayani. Jika Paulus bicara mengenai perlombaan yang diwajibkan bagi kita tentulah perlombaan iman, tapi iman yang melayani dengan rendah hati ( Ibrani12:1). Kalau begitu mari kita berlomba menjadi “Orang Besar” yang menghamba!
Lihatlah Hamba Tuhan yang menderita. Yesaya 53 terkenal karena menampilkan seorang Hamba Tuhan yang menderita. Di ayat 3 dikatakan bahwa orang menutup mukanya terhadap dia. Untuk menyatakan bahwa dia sangat hina dina sehingga orang tidak sudi bertatap muka dengan dia, atau buruk muka karena kotor oleh peluh, debu dan darah! Tapi dia berhati mulia! Semula orang menyangka dia mendapat pukulan dan tindasan sebagai hukuman Allah karena kesalahannya sendiri, padahal tidak! Dalam ayat 4-6 kata ganti “kita” digunakan hingga sepuluh kali! Hal ini menegaskan bahwa semua penderitaannya itu disebabkan karena dosa kita. Dia telah menanggung penyakit, kesengsaraan, pemberontakan dan ganjaran kita semua! Sebagai domba Tuhan kita telah sesat karena menyimpang, tapi dia mau menanggung hukuman kita. Ketika dianiaya dan ditindas, dia menghadapinya seperti anak domba yang dbawa ke pembantaian, dan seperti induk domba kelu yang sedang diguntingi bulunya. Inilah nubuat yang sangat mengesankan. Tapi Hamba Tuhan manakah yang bisa begitu pasrah, rendah hati, berjiwa melayani serta berkorban? Hamba Tuhan manakah yang oleh penderitaannya, kita semua menjadi sembuh, dipulihkan dari sakit dosa, serta dibarui?
Hanya dalam Yesus Kristus hati Allah dipuaskan, umat manusia diselamatkan. Yesus Kristus adalah Hamba Tuhan yang menderita, dalam nubuat dan dalam kenyataan! Karena Hamba Tuhan yang menderita, Ia juga telah tampil sebagai Imam Besar Agung! (Ibrani 5). Sebagai Imam Besar Agung Yesus mengerti bahaya dosa, karena dalam hidup- Nya Dia dikerumuni dosa, tapi tidak berdosa. Yesus berkuasa mengangkut dosa, karena Dia satu-satunya penebus kita.Yesus juga memahami orang yang hidup dalam ketakutan, karena Dia pernah mengalami sendiri di taman Getsemani. Dia berkuasa membebaskan kita dari segala ketakutan, sebab Dia sudah mengatasi ketakutannya umat manusia terhadap murka Allah, dan hukuman kekal yang dahsyat. Maka di dalam Kristus, Allah yang Maha Tinggi menjadi sangat dekat, bahkan menjadi tempat perlindungan dan tempat perteduhan kita. (Mazmur 91:9).
|
Posted Friday, 9 October 2009 Last updated Friday, 9 October 2009 |
halaman sebelumnya | artikel lainnya | Halaman Depan |


