Mewujudkan Realitas Kerajaan Allah Dengan Kasih (1 Nopember 2009)
Oleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
Renungan Minggu, 1 Nopember 2009
Tahun B: Minggu Biasa XXVI
Warna: Hijau
Pengantar
Dengan tema “Mewujudkan realitas kerajaan Allah dengan kasih” sepertinya gereja sedang menyodorkan
sesuatu yang sangat menggiurkan, yaitu kehadiran realitas Kerajaan Allah dalam kehidupan manusia yang dipenuhi oleh kasih. Namun apakah judul tersebut bukan sesuatu yang sangat utopis dan idealistis saat kita menghadapi realitas kehidupan sehari-hari yang jauh dari realitas kasih apalagi berada dalam sistem Kerajaan Allah? Kita sering terjebak dalam konsep dan pernyataan yang serba pietis (serba saleh) tetapi realitanya kehidupan kita bertolak-belakang dengan pernyataan tersebut. Mungkin sebagian besar orang gemar berbicara dan membahas realitas “Kerajaan Allah” tetapi untuk diwujudkan dalam kenyataan hidup belum tentu mereka sepakat untuk menerapkan kasih. Sebab ungkapan realitas Kerajaan Allah dapat diisi oleh apa saja yang menyenangkan hati atau persepsi dan gagasan yang dianggap unggul. Sebagai contoh film “Kingdom of Heaven” yang dirilis tahun 2005 dengan sutradara Ridley Scott yang naskahnya dituis oleh William Monahan. Film “The Kingdom of Heaven” diangkat dari kisah sejarah Perang Salib pada abad XII yang memperebutkan kota Yerusalem antara orang Islam dan Kristen. Yang mana umat Muslim dipimpin oleh Saladin, dan tokoh fiksi pahlawan Kristen digambarkan dalam diri seorang yang bernama Balian Ibelin. Film yang dibuat di Quarzazate di Maroko begitu mempesona sebab produser film harus membuat replika kota tua Yerusalem di padang gurun. Juga untuk mendukung jalannya kisah, film tersebut juga dibuat di kota-kota Spanyol seperti: Loarre Castle, Segovia, Avila, Palma del Rio dan Casa de Pilatos di Sevilla. Inti dari film tersebut adalah bagaimana setiap kubu dari Islam dan Kristen berusaha membangun realitas Kerajaan Allah dengan cara memperebutkan kota Yerusalem yang dilakukan melalui kekerasan senjata atau perang. Dalam konteks ini kubu Kristen yang memanggul salib besar selama peperangan tidak lebih baik dengan umat Islam yang berambisi untuk merebut kota Yerusalem. Sebab dari kubu Kristen, yaitu Guy dan Raynald Chatillon melakukan pembantaian keji terhadap pedagang karavan Muslim. Sehingga akhirnya Saladin membantu mereka dengan cara mencoba untuk mengambil alih kota Yerusalem dengan menyerang benteng Raynald di Kerak. Itu sebabnya terjadi peristiwa perang massal antara Kristen dengan Islam yang menelan korban dalam jumlah yang banyak. Jadi makna mewujudkan realitas Kerajaan Allah ternyata dapat ditafsirkan dengan merebutnya melalui peperangan, kekerasan senjata, intrik, teror dan pembunuhan.
Makna Yang Rancu
Makna Kerajaan Allah dalam kenyataannya dapat ditafsirkan sebagai suatu “mimpi”, yaitu cita-cita dan harapan, bahkan juga ambisi pribadi yang tampaknya religius tetapi sesungguhnya bertentangan dengan nilai-nilai
spiritualitas. Sehingga upaya mewujudkan “kerajaan Allah” dalam praktek hidup sering menjadi ambisi untuk mewujudkan “kerajaan diri sendiri”, “kerajaan keluarga”, “kerajaan kelompok” dan sebagainya. Sebab nama “Allah” secara tidak disadari telah diidentikkan dengan berbagai kepentingan pribadi dan bersifat duniawi. Karena itu sepanjang sejarah umat manusia senantiasa dipenuhi oleh berbagai perjuangan untuk menegakkan “kerajaan duniawi” dengan nama “kerajaan Allah”. Di balik kata “kerajaan Allah” sering sarat dengan manipulasi makna, sikap religius yang munafik, sifat kejam dan keji yang terselubung, dan juga sikap pembenaran diri yang intinya berasal dari “kerajaan kegelapan” dalam diri seseorang. Singkatnya, realitas “kerajaan Allah” sering memiliki batas yang sangat tipis dengan realitas “kerajaan kegelapan”. Karena begitu tipisnya, maka umat manusia tidak lagi mampu membedakan apakah dia berada dalam kekuasaan kerajaan kegelapan ataukah kekuasaan Kerajaan Allah. Sayangnya, agama sering tidak mampu memberi pencerahan yang membebaskan dan obyektif sehingga sering timbul kerancuan antara kerajaan Allah dengan kerajaan kegelapan. Saat umat melakukan nilai-nilai dan prinsip kerajaan kegelapan dalam bentuk kekerasan, maka justru oleh para agamawan dianggap sebagai tindakan yang “berkenan kepada Allah” atau “sesuai dengan firman Allah”.
Sebaliknya saat umat berupaya untuk menerapkan nilai dan prinsip Kerajaan Allah yaitu kasih justru dianggap sebagai “sikap yang lemah dan pengecut” atau “menyimpang dari kebenaran”. Kerancuan tersebut juga timbul saat umat menafsirkan makna “kasih”. Pada satu pihak umat Kristen sepakat untuk mewujudkan realitas Kerajaan Allah dengan kasih, namun mereka juga mengalami kebingungan dalam penerapannya. Bagaimana bentuk kasih yang harus diterapkan sehingga dapat mewujudkan realitas Kerajaan Allah? Apakah setiap bentuk “kasih” juga dapat mewujudkan realitas Kerajaan Allah? Kembali kita berhadapan dengan masalah pengertian yang serba abstrak, yaitu “Kerajaan Allah” dan “kasih”. Padahal setiap pengertian yang serba abstrak terbukti sangat rawan untuk ditafsirkan (“diisi”) oleh setiap orang yang berkepentingan. Sehingga dalam prakteknya umat manusia hidup dalam pola penafsirannya yang serba subyektif dan mengikuti apa yang diyakininya. Tetapi justru pola penafsiran yang serba subyektif sering memperkuat konflik dan pengasingan terhadap sesamanya.
Spiritualitas Dan Bukan Sekedar Religiusitas
Di Mark. 12:34, menyaksikan: “Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah! Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus”. Pernyataan penginjil Markus terhadap ahli Taurat di Mark. 12:34 tersebut sangat positif. Kebanyakan ahli Taurat sering tampil sebagai seorang yang jahat dan ingin menjebak Tuhan Yesus. Tetapi di Mark. 12:34 menyaksikan bagaimana Tuhan Yesus memandang ahli Taurat tersebut sebagai seorang yang bijaksana sebab dia mengerti dengan baik maksud pertanyaan dan pengajaran Tuhan Yesus tentang hukum yang utama, yaitu kasih. Yang mana ahli Taurat menyatakan bahwa makna kasih kepada Allah dijabarkan dan dimanifestasikan ke dalam kasih kepada sesama, sehingga tindakan kasih lebih utama dari pada tindakan ritual keagamaan seperti mempersembahkan korban bakaran dan korban sembelihan. Ahli Taurat tersebut berkata: “Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan” (Mark. 12:33). Ahli Taurat tersebut mampu menangkap inti hukum yang utama dan paling mendasar dari kasih sebagaimana yang dimaksudkan oleh kitab Taurat dan Tuhan Yesus. Kasih kepada Allah dan sesama tidaklah identik dengan ritual keagamaan yang begitu saleh seperti kegiatan rutin untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban sembelihan. Sebab setiap persembahan korban bakaran dan korban sembelihan dapat terlepas dari akar yang utama yaitu kasih. Karena itu setiap persembahan korban bakaran dan korban sembelihan yang terlepas dari tindakan kasih, tindakan ritual tersebut hanya akan menjadi suatu kesia-siaan belaka. Korban tersebut tidak akan pernah sampai ke hadapan Allah dan juga tidak memberi arti apapun dalam kehidupan spiritualitas umat. Realitas Kerajaan Allah tidak mungkin dapat dibangun dengan ritual keagamaan atau berbagai persembahan yang paling mahal sekalipun.
Walaupun demikian umat manusia sering berupaya membangun realitas Kerajaan Allah dengan berbagai ritual keagamaan. Makna ritual keagamaan yang dimaksudkan bukanlah sekedar suatu tindakan persembahan yang dilakukan saat ibadah sedang berlangsung. Tetapi juga suatu pemberian dalam berbagai bentuk seperti: memberi sedekah, memberi makan orang-orang miskin, menjadi donatur pembangunan rumah ibadah, menjadi orang-tua asuh, dan sebagainya juga merupakan bagian ekspresi dari ritual keagamaan. Semua hal yang tampaknya mulia tersebut ternyata tidaklah selalu identik dengan kasih sebagaimana yang dimaksudkan oleh Allah. Sebab memberi sedekah dan memberi makan orang-orang miskin akan dilakukan seseorang agar dia memperoleh pahala ke sorga; menjadi donatur pembangunan rumah ibadah atau menjadi orang-tua asuh akan dilakukan agar seseorang dapat memperoleh pujian atau penghargaan. Berbagai perbuatan baik atau kebajikan dapat dilakukan dengan antusias keagamaan tetapi dengan tujuan untuk memperkuat egoisme diri dan pemujaan diri. Jadi panggilan untuk mewujudkan realitas Kerajaan Allah tidaklah cukup hanya dilakukan dengan berbagai perbuatan baik yang didasarkan pada ritual keagamaan. Nilai-nilai keagamaan dalam bentuk ritual dan etika tidak identik dengan nilai-nilai realitas Kerajaan Allah. Dengan perkataan lain, realitas Kerajaan Allah lebih agung dan tinggi dari pada seperangkat lengkap dari seluruh ritual dan moralitas atau etika yang dinyatakan oleh agama-agama. Bahkan dalam konteks tertentu, agama-agama justru dapat penghalang bagi umat untuk menghayati nilai-nilai Kerajaan Allah sebab mendorong dan memaksa umat untuk berpikiran sempit dan kerohanian yang dangkal. Jadi untuk membangun realitas Kerajaan Allah bukan ditentukan oleh jumlah keanggotan umat dalam suatu agama. Mayoritas umat suatu agama sama sekali tidak menjamin mampu menghadirkan realitas Kerajaan Allah. Sebab realitas Kerajaan Allah lebih bersangkut-paut dengan kualitas kasih dari pada kuantitatif keanggotaan umat yang beragama. Realitas Kerajaan Allah berkaitan dengan esensi dan manifestasi dari spiritualitas yang murni, dan bukan sekedar suatu religiusitas.
Internalisasi Dalam Batin
Spiritualitas kasih sering tidak akan mampu bertahan lama manakala kita tidak terus-menerus menginternalisasikan ke dalam batin. Arti dari menginternalisasi dalam batin berarti secara bersengaja dan terus-menerus mengulang, mengingat-ingat, merenung sehingga dapat mewujudkan spiritualitas kasih. Saat ahli Taurat bertanya kepada Tuhan Yesus, “Hukum manakah yang paling utama?” (Mark. 12:28b), maka Tuhan Yesus mengawali dengan memberi jawaban: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa” (Mark. 12:29). Ahli Taurat tersebut diingatkan oleh Tuhan Yesus tentang hukum Taurat di Ul. 6:4 yang diawali dengan pernyataan “syema” yang artinya: “dengarlah!”. Makna “syema” (dengarlah) menunjuk kepada panggilan Allah kepada umat Israel untuk selalu mendengar firman Tuhan dan menginternalisasikan ke dalam seluruh kepribadian mereka. Itu sebabnya setelah ucapan “syema” di Ul. 6:7 menyatakan suatu perintah, yaitu: “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”. Firman Tuhan bukan sekedar didengar sebagai suatu kumpulan pengetahuan keagamaan yang saleh, tetapi sejauh mana isi firman Tuhan tersebut telah diinternalisasikan berulang-ulang ke dalam batin sehingga menjadi sumber pencerahan nurani. Yang mana pengulangan yang diinternalisasi bukan sekedar suatu proses penghafalan mekanis ayat-ayat Alkitab, tetapi penghayatan dan penjiwaan akan firman Tuhan yang utama yaitu kasih.
Dengan demikian realitas Kerajaan Allah tidak dapat dibangun oleh umat yang hanya gemar menghafal ayat-ayat Kitab Suci. Para penghafal ayat-ayat Kitab Suci tidak akan secara otomatis menjadi para pribadi yang terbukti berhasil menginternalisasi firman Tuhan yang membebaskan dan membaharui hidup. Sebaliknya para penghafal Kitab Suci kadang-kadang dapat menjadi orang-orang yang membelenggu firman Tuhan secara mekanis dan harafiah, sehingga mereka menghalangi karya Kerajaan Allah yang menyelamatkan. Makna internalisasi firman Tuhan berarti kesediaan membuka hati untuk memperoleh pencerahan iman sehingga umat mampu mengalami perubahan perspektif, pola pikir dan tingkah-laku yang sesuai dengan kehendak Allah. Itu sebabnya internalisasi dalam batin selain berarti peresapan dan pendalaman firman juga merupakan kekuatan penggerak untuk melakukan transformasi hidup. Internalisasi firman ke dalam batin senantiasa akan menghasilkan paradigma yang baru. Sebab paradigma yang baru akan memampukan umat untuk melihat hal-hal yang semula tidak mereka lihat. Umat percaya akan dicelikkan mata-rohaninya yang selama ini buta sehingga mereka memiliki pemahaman yang lebih luas dan utuh. Sehingga mereka dimampukan untuk memberlakukan kasih secara mendalam dan luas kepada setiap sesama. Paradigma hidup yang baru tersebut akan dapat menjadi suatu kekuatan penggerak yang begitu besar dalam kehidupan umat karena internalisasi firman sekaligus menjadi manifestasi Roh Allah. Jadi realitas Kerajaan Allah hanya akan menjadi suatu kemungkinan saat media hati umat yang telah diinternalisasi oleh firman menjadi hati yang dipenuhi oleh Roh Allah.
Namun sayangnya dalam realitas kehidupan sehari-hari, kehidupan umat tidak senantiasa dipenuhi oleh Roh Allah sebab yang menginternalisasi batin mereka bukanlah firman Allah tetapi ideologi, filsafat, adat-istiadat, budaya, dan berbagai kesenangan duniawi. Kita sering membiarkan batin kita untuk dikendalikan oleh roh zaman dan hawa-nafsu dunia. Sehingga batin kita menjadi sarat dengan berbagai keinginan dan cita-cita duna. Batin kita menjadi buta dan kehilangan daya kritisnya. Dalam kondisi yang demikian tidaklah mungkin batin kita mampu menerima dan siap diinternalisasi firman Allah. Batin atau hati kita akan cenderung semakin mengeras. Sikap hati yang demikian akan selalu memiliki mekanisme yang selalu berhasil mengelak dan menolak setiap firman. Itu sebabnya kita sering gagal untuk memberlakukan sikap kasih dalam kehidupan sehari-hari. Seluruh ayat Kitab Suci yang dihafalkan atau berbagai pengetahuan keagamaan dan teologia sama sekali tidak berhasil menembus batin atau hati kita yang telah mengeraskan diri. Itu sebabnya mengapa para penganut keagamaan yang fanatik umumnya selalu memiliki sikap yang mendua-hati. Di satu sisi mereka tampak hidup saleh, namun di sisi lain kehidupan mereka sangat memalukan. Kesalehan mereka bukan karena dilandasi oleh kasih, tetapi kesalehan mereka sering dipakai untuk menutupi berbagai kekurangan dan sikap yang tercela. Padahal seharusnya seluruh kelemahan dan sikap yang tercela perlu diperbaharui dengan internalisasi firman yaitu Roh Allah yang membaharui seluruh kehidupan.
Diwujudkan Dalam Sistem Kehidupan
Proses internalisasi firman untuk menguatkan tindakan kasih dan membaharui kehidupan hanya akan efektif jikalau telah terjelma ke dalam sistem kehidupan. Selama proses internalisasi firman tersebut hanya menjadi minat dari para pribadi tertentu, maka upaya untuk mewujudkan realitas Kerajaan Allah hanya akan menjadi angan-angan manis. Padahal realitas perwujudan Kerajaan Allah bukan hanya suatu upaya dan kesadaran pribadi, tetapi juga harus menjadi upaya dan kesadaran komunal dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Kita dapat melihat bagaimana di negara-negara yang didominasi oleh nilai-nilai kekristenan terbukti mampu memberi penghargaan yang tinggi terhadap setiap mahluk hidup. Bagaimana nilai-nilai kasih diwujudkan ke dalam suatu sistem, sehingga setiap orang peduli terhadap keselamatan orang lain. Bahkan juga sesama akan menjadi para pengawas agar tidak ada seorangpun yang berani untuk menganiaya dan membunuh unggas atau mahluk hidup yang lain. Nilai-nilai kasih yang telah diwujudkan ke dalam suatu sistem, pada gilirannya akan menjadi sistem-nilai yang menggerakkan setiap orang untuk melakukan apa yang benar dengan seluruh kesadarannya. Sistem-nilai kasih yang telah terkondisi tersebut pada gilirannya akan menciptakan kesejahteraan, keselamatan dan keadilan dalam kehidupan masyarakat. Di Ul. 6:3, Allah berfirman: “Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya”.
Tentu saja sistem-nilai tentang kasih tersebut tidak boleh disamakan dengan pendirian negara agama. Sebab dalam sistem negara-agama, pemerintah atau orang-orang yang terlibat akan menjadikan norma-norma agama sebagai ketentuan untuk mengatur negara dan masyarakat umum. Padahal yang diadopsi dan dianggap sebagai norma-norma agama tersebut sebenarnya sering sama sekali tidak relevan lagi dengan kehidupan masa kini. Misalnya hukum mutilasi tangan bagi para pencuri atau hukum rajam dengan batu kepada seseorang dan wanita yang ketahuan berbuat zinah. Apakah hukum yang diatur oleh agama tersebut dapat diterapkan ke dalam masyarakat masa kini yang telah memiliki pola pemahaman yang sangat berbeda? Kalau seandainya norma-norma keagamaan diterapkan begitu saja berarti agama telah membuat langkah mundur. Prinsip agama yang demikian hanya akan membuktikan dirinya sebagai media yang anti manusiawi. Dunia akan menganggap agama-agama yang demikian sebagai tiran yang membelenggu dan mengikat umat manusia. Tentu saja agama yang menjadi tiran yang membelenggu kehidupan umat manusia tidak perlu ditaati dan diikuti. Karena keberadaan lembaga agama bukanlah tujuan utama dalam kehidupan umat manusia. Agama hanyalah media yang dianugerahkan oleh Allah, agar umat dapat berjumpa dengan sang Pencipta dan Penyelamatnya sehingga umat dapat mengalami karya Allah yang membebaskan dan membaharui kehidupan. Sebaliknya sistem-nilai kasih dalam kehidupan masyarakat dan bernegara harus ditegakkan namun bukan atas dasar otoritas atau supremasi keagamaan, tetapi atas dasar penyelenggaraan pemerintahan Allah yang adil dan benar. Dalam konteks ini setiap orang termasuk pemerintah menyadari bahwa negara dan gereja memiliki tempatnya yang khusus di hadapan Tuhan. Masing-masing pihak harus menundukkan diri di bawah kuasa Kerajaan Allah, sehingga negara dan gereja dapat memuliakan Allah sesuai dengan fungsi dan panggilannya masing-masing. Karena itu prinsip dari para reformator Kristen adalah: “bagaimana gereja dapat hidup bebas dan negara juga dapat hidup bebas”. Singkatnya: bagaimana dapat tercipta kehidupan beragama yang bebas di negara yang bebas.
Kristus sang Imam Besar Dan Wujud Kerajaan Allah
Realitas Kerajaan Allah pada hakikatnya merupakan manifestasi pemerintahan Allah dalam kehidupan umat manusia sehingga dalam setiap aspek kehidupan selalu diresapi oleh nilai-nilai atau prinsip kehendak Allah. Melalui realitas Kerajaan Allah, setiap umat dimampukan untuk senantiasa mempermuliakan Allah. Karena itu realitas Kerajaan Allah selalu terkait dalam kehidupan Kristus. Bahkan tepatnya realitas Kerajaan Allah pada hakikatnya hadir dalam seluruh kehidupan dan karya Kristus. Selaku Imam Besar yang agung, Kristus telah menebus dosa seluruh umat manusia dengan darahNya sendiri. Sehingga seluruh umat manusia yang berdosa telah menjadi milik kepunyaanNya. Dengan demikian sistem-nilai cinta-kasih yang menjadi landasan kehidupan pribadi dan masyarakat pada hakikatnya bersumber kepada diri Kristus. Sistem-nilai cinta kasih akan berfungsi secara efektif manakala setiap umat bersedia menempatkan Kristus selaku pusat kehidupannya. Sebab tanpa relasi dengan Tuhan Yesus, sistem-nilai cinta kasih tersebut akan kehilangan arah atau tujuan utamanya. Sistem-nilai cinta kasih tanpa relasi dengan Kristus akan menjadi sekedar suatu sistem yang dingin, tidak personal dan kehilangan daya rohNya yang membaharui. Sehingga sistem-nilai cinta kasih tersebut akan kehilangan kemampuannya untuk memanusiawikan sesama sebagai gambar dan rupa Allah. Padahal dengan pengorbanan dan kematianNya di atas kayu salib, Kristus telah menebus setiap umat manusia agar mereka memperoleh keselamatan Allah yang utuh. Karena itu surat Ibr. 9:15 berkata: “Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama”. Realitas Kerajaan Allah bukan sekedar suatu pola kehidupan yang berhasil mengatur dengan tertib setiap anggota masyarakatnya untuk patuh terhadap nilai-nilai asasi manusiawi tetapi juga memampukan setiap orang untuk hidup sesuai dengan martabatnya sebagai gambar dan rupa Allah. Karya penebusan Kristus memampukan umat percaya untuk memperoleh bagian yang kekal sebagaimana yang telah dijanjikan Allah.
Dengan demikian realitas Kerajaan Allah terkait erat dengan Kristus. Bahkan lebih khusus lagi Kristus menjadi pusat dari realitas Kerajaan Allah. Namun tidak berarti pewartaan tentang Kristus sebagai wujud dan pusat Kerajaan Allah sebagai suatu upaya kristenisasi. Pewartaan yang demikian juga akan mendangkalkan dan merendahkan martabat Kristus selaku Imam Besar dan Juru-selamat dunia. Sebaliknya pewartaan tentang Kristus seharusnya merupakan suatu tindakan yang luhur untuk meluhurkan nilai-nilai cinta-kasih yang telah dianugerahkan Allah secara implementatif, sehingga sesama yang menerimanya sungguh-sungguh mampu merespon karya penebusan Kristus dengan sikap kasih. Jadi kita tidak perlu berupaya menjadikan seseorang menjadi seorang Kristen apabila dia belum mampu untuk menerima atau dia masih bergumul dengan kebenaran atau keselamatan di dalam Kristus. Namun yang pasti Kristus tetap mengasihi dia apapun keadaannya. Untuk itu kita perlu tetap mengasihi dia, baik karena dia mau menerima pemberitaan kita maupun saat dia menolak untuk percaya kepada Kristus. Untuk mewujudkan realitas Kerajaan Allah, kita perlu rendah hati. Sebab peran kita sebenarnya tidak lebih hanya sebagai seorang penabur firman, tetapi Allah yang berwenang menentukan siapa yang percaya dan bertumbuh di dalam Kristus; dan siapa yang menolak dan tidak bertumbuh di dalam Kristus.
Panggilan
Realitas Kerajaan Allah telah hadir dalam kehidupan dan pelayanan Kristus. Karena itu tugas panggilan dan peran kita bukan menciptakan realitas Kerajaan Allah. Kita tidak dapat dan tidak berkuasa sedikitpun untuk menciptakan realitas Kerajaan Allah. Tetapi kita hanya dapat mewujudkan, karena realitas Kerajaan Allah telah dinyatakan secara paripurna di dalam diri Kristus. Dengan demikian cinta kasih yang dapat mewujudkan realitas Kerajaan Allah adalah cinta-kasih Kristus, dan bukan cinta-kasih yang dipahami dan dikenal oleh dunia ini. Cinta kasih Kristus adalah agape. Yang mana kasih agape adalah kasih yang berkorban sebab dilandasi oleh kasih Allah dalam karya penebusan Kristus. Kasih Kristus yang demikian perlu terus-menerus diinternalisasikan (dibatinkan) agar menjadi satu dengan kehendak Roh Kudus. Dengan demikian kasih Kristus akan menjadi daya penggerak dalam seluruh aspek kehidupan kita. Jadi kehidupan kita secara personal perlu digerakkan, dikendalikan dan dikuasai oleh kasih Kristus. Dan pada sisi lain daya gerak kasih Kristus secara personal juga harus diwujudkan dalam sistem-nilai dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Agar sistem-nilai kasih Kristus juga dapat memperbaharui dan menghasilkan perubahan dalam realitas kehidupan sehari-hari. Saat realitas kehidupan sehari-hari kita diperbaharui oleh sistem-nilai kasih Kristus, maka realitas kehidupan tersebut telah berubah menjadi tanda-tanda dari realitas Kerajaan Allah. Jika demikian, apakah kehidupan personal kita telah dipenuhi oleh sistem-nilai kasih Kristus? Juga apakah peran dan pekerjaan kita selalu mengerjakan tugas untuk membaharui komunitas di sekitar kita dengan sistem nilai dari pemerintahan Kristus? Bagaimana sikap dan respon saudara? Amin.
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com
Tahun B: Minggu Biasa XXVI
Warna: Hijau
MEWUJUDKAN REALITAS KERAJAAN ALLAH DENGAN KASIH
Ul. 6:1-9; Mzm. 146; Ibr. 9:11-14; Mark. 12:28-34
Ul. 6:1-9; Mzm. 146; Ibr. 9:11-14; Mark. 12:28-34
Pengantar
Dengan tema “Mewujudkan realitas kerajaan Allah dengan kasih” sepertinya gereja sedang menyodorkan
sesuatu yang sangat menggiurkan, yaitu kehadiran realitas Kerajaan Allah dalam kehidupan manusia yang dipenuhi oleh kasih. Namun apakah judul tersebut bukan sesuatu yang sangat utopis dan idealistis saat kita menghadapi realitas kehidupan sehari-hari yang jauh dari realitas kasih apalagi berada dalam sistem Kerajaan Allah? Kita sering terjebak dalam konsep dan pernyataan yang serba pietis (serba saleh) tetapi realitanya kehidupan kita bertolak-belakang dengan pernyataan tersebut. Mungkin sebagian besar orang gemar berbicara dan membahas realitas “Kerajaan Allah” tetapi untuk diwujudkan dalam kenyataan hidup belum tentu mereka sepakat untuk menerapkan kasih. Sebab ungkapan realitas Kerajaan Allah dapat diisi oleh apa saja yang menyenangkan hati atau persepsi dan gagasan yang dianggap unggul. Sebagai contoh film “Kingdom of Heaven” yang dirilis tahun 2005 dengan sutradara Ridley Scott yang naskahnya dituis oleh William Monahan. Film “The Kingdom of Heaven” diangkat dari kisah sejarah Perang Salib pada abad XII yang memperebutkan kota Yerusalem antara orang Islam dan Kristen. Yang mana umat Muslim dipimpin oleh Saladin, dan tokoh fiksi pahlawan Kristen digambarkan dalam diri seorang yang bernama Balian Ibelin. Film yang dibuat di Quarzazate di Maroko begitu mempesona sebab produser film harus membuat replika kota tua Yerusalem di padang gurun. Juga untuk mendukung jalannya kisah, film tersebut juga dibuat di kota-kota Spanyol seperti: Loarre Castle, Segovia, Avila, Palma del Rio dan Casa de Pilatos di Sevilla. Inti dari film tersebut adalah bagaimana setiap kubu dari Islam dan Kristen berusaha membangun realitas Kerajaan Allah dengan cara memperebutkan kota Yerusalem yang dilakukan melalui kekerasan senjata atau perang. Dalam konteks ini kubu Kristen yang memanggul salib besar selama peperangan tidak lebih baik dengan umat Islam yang berambisi untuk merebut kota Yerusalem. Sebab dari kubu Kristen, yaitu Guy dan Raynald Chatillon melakukan pembantaian keji terhadap pedagang karavan Muslim. Sehingga akhirnya Saladin membantu mereka dengan cara mencoba untuk mengambil alih kota Yerusalem dengan menyerang benteng Raynald di Kerak. Itu sebabnya terjadi peristiwa perang massal antara Kristen dengan Islam yang menelan korban dalam jumlah yang banyak. Jadi makna mewujudkan realitas Kerajaan Allah ternyata dapat ditafsirkan dengan merebutnya melalui peperangan, kekerasan senjata, intrik, teror dan pembunuhan. Makna Yang Rancu
Makna Kerajaan Allah dalam kenyataannya dapat ditafsirkan sebagai suatu “mimpi”, yaitu cita-cita dan harapan, bahkan juga ambisi pribadi yang tampaknya religius tetapi sesungguhnya bertentangan dengan nilai-nilai
spiritualitas. Sehingga upaya mewujudkan “kerajaan Allah” dalam praktek hidup sering menjadi ambisi untuk mewujudkan “kerajaan diri sendiri”, “kerajaan keluarga”, “kerajaan kelompok” dan sebagainya. Sebab nama “Allah” secara tidak disadari telah diidentikkan dengan berbagai kepentingan pribadi dan bersifat duniawi. Karena itu sepanjang sejarah umat manusia senantiasa dipenuhi oleh berbagai perjuangan untuk menegakkan “kerajaan duniawi” dengan nama “kerajaan Allah”. Di balik kata “kerajaan Allah” sering sarat dengan manipulasi makna, sikap religius yang munafik, sifat kejam dan keji yang terselubung, dan juga sikap pembenaran diri yang intinya berasal dari “kerajaan kegelapan” dalam diri seseorang. Singkatnya, realitas “kerajaan Allah” sering memiliki batas yang sangat tipis dengan realitas “kerajaan kegelapan”. Karena begitu tipisnya, maka umat manusia tidak lagi mampu membedakan apakah dia berada dalam kekuasaan kerajaan kegelapan ataukah kekuasaan Kerajaan Allah. Sayangnya, agama sering tidak mampu memberi pencerahan yang membebaskan dan obyektif sehingga sering timbul kerancuan antara kerajaan Allah dengan kerajaan kegelapan. Saat umat melakukan nilai-nilai dan prinsip kerajaan kegelapan dalam bentuk kekerasan, maka justru oleh para agamawan dianggap sebagai tindakan yang “berkenan kepada Allah” atau “sesuai dengan firman Allah”.
Sebaliknya saat umat berupaya untuk menerapkan nilai dan prinsip Kerajaan Allah yaitu kasih justru dianggap sebagai “sikap yang lemah dan pengecut” atau “menyimpang dari kebenaran”. Kerancuan tersebut juga timbul saat umat menafsirkan makna “kasih”. Pada satu pihak umat Kristen sepakat untuk mewujudkan realitas Kerajaan Allah dengan kasih, namun mereka juga mengalami kebingungan dalam penerapannya. Bagaimana bentuk kasih yang harus diterapkan sehingga dapat mewujudkan realitas Kerajaan Allah? Apakah setiap bentuk “kasih” juga dapat mewujudkan realitas Kerajaan Allah? Kembali kita berhadapan dengan masalah pengertian yang serba abstrak, yaitu “Kerajaan Allah” dan “kasih”. Padahal setiap pengertian yang serba abstrak terbukti sangat rawan untuk ditafsirkan (“diisi”) oleh setiap orang yang berkepentingan. Sehingga dalam prakteknya umat manusia hidup dalam pola penafsirannya yang serba subyektif dan mengikuti apa yang diyakininya. Tetapi justru pola penafsiran yang serba subyektif sering memperkuat konflik dan pengasingan terhadap sesamanya.Spiritualitas Dan Bukan Sekedar Religiusitas
Di Mark. 12:34, menyaksikan: “Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah! Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus”. Pernyataan penginjil Markus terhadap ahli Taurat di Mark. 12:34 tersebut sangat positif. Kebanyakan ahli Taurat sering tampil sebagai seorang yang jahat dan ingin menjebak Tuhan Yesus. Tetapi di Mark. 12:34 menyaksikan bagaimana Tuhan Yesus memandang ahli Taurat tersebut sebagai seorang yang bijaksana sebab dia mengerti dengan baik maksud pertanyaan dan pengajaran Tuhan Yesus tentang hukum yang utama, yaitu kasih. Yang mana ahli Taurat menyatakan bahwa makna kasih kepada Allah dijabarkan dan dimanifestasikan ke dalam kasih kepada sesama, sehingga tindakan kasih lebih utama dari pada tindakan ritual keagamaan seperti mempersembahkan korban bakaran dan korban sembelihan. Ahli Taurat tersebut berkata: “Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan” (Mark. 12:33). Ahli Taurat tersebut mampu menangkap inti hukum yang utama dan paling mendasar dari kasih sebagaimana yang dimaksudkan oleh kitab Taurat dan Tuhan Yesus. Kasih kepada Allah dan sesama tidaklah identik dengan ritual keagamaan yang begitu saleh seperti kegiatan rutin untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban sembelihan. Sebab setiap persembahan korban bakaran dan korban sembelihan dapat terlepas dari akar yang utama yaitu kasih. Karena itu setiap persembahan korban bakaran dan korban sembelihan yang terlepas dari tindakan kasih, tindakan ritual tersebut hanya akan menjadi suatu kesia-siaan belaka. Korban tersebut tidak akan pernah sampai ke hadapan Allah dan juga tidak memberi arti apapun dalam kehidupan spiritualitas umat. Realitas Kerajaan Allah tidak mungkin dapat dibangun dengan ritual keagamaan atau berbagai persembahan yang paling mahal sekalipun.
Walaupun demikian umat manusia sering berupaya membangun realitas Kerajaan Allah dengan berbagai ritual keagamaan. Makna ritual keagamaan yang dimaksudkan bukanlah sekedar suatu tindakan persembahan yang dilakukan saat ibadah sedang berlangsung. Tetapi juga suatu pemberian dalam berbagai bentuk seperti: memberi sedekah, memberi makan orang-orang miskin, menjadi donatur pembangunan rumah ibadah, menjadi orang-tua asuh, dan sebagainya juga merupakan bagian ekspresi dari ritual keagamaan. Semua hal yang tampaknya mulia tersebut ternyata tidaklah selalu identik dengan kasih sebagaimana yang dimaksudkan oleh Allah. Sebab memberi sedekah dan memberi makan orang-orang miskin akan dilakukan seseorang agar dia memperoleh pahala ke sorga; menjadi donatur pembangunan rumah ibadah atau menjadi orang-tua asuh akan dilakukan agar seseorang dapat memperoleh pujian atau penghargaan. Berbagai perbuatan baik atau kebajikan dapat dilakukan dengan antusias keagamaan tetapi dengan tujuan untuk memperkuat egoisme diri dan pemujaan diri. Jadi panggilan untuk mewujudkan realitas Kerajaan Allah tidaklah cukup hanya dilakukan dengan berbagai perbuatan baik yang didasarkan pada ritual keagamaan. Nilai-nilai keagamaan dalam bentuk ritual dan etika tidak identik dengan nilai-nilai realitas Kerajaan Allah. Dengan perkataan lain, realitas Kerajaan Allah lebih agung dan tinggi dari pada seperangkat lengkap dari seluruh ritual dan moralitas atau etika yang dinyatakan oleh agama-agama. Bahkan dalam konteks tertentu, agama-agama justru dapat penghalang bagi umat untuk menghayati nilai-nilai Kerajaan Allah sebab mendorong dan memaksa umat untuk berpikiran sempit dan kerohanian yang dangkal. Jadi untuk membangun realitas Kerajaan Allah bukan ditentukan oleh jumlah keanggotan umat dalam suatu agama. Mayoritas umat suatu agama sama sekali tidak menjamin mampu menghadirkan realitas Kerajaan Allah. Sebab realitas Kerajaan Allah lebih bersangkut-paut dengan kualitas kasih dari pada kuantitatif keanggotaan umat yang beragama. Realitas Kerajaan Allah berkaitan dengan esensi dan manifestasi dari spiritualitas yang murni, dan bukan sekedar suatu religiusitas.
Internalisasi Dalam Batin
Spiritualitas kasih sering tidak akan mampu bertahan lama manakala kita tidak terus-menerus menginternalisasikan ke dalam batin. Arti dari menginternalisasi dalam batin berarti secara bersengaja dan terus-menerus mengulang, mengingat-ingat, merenung sehingga dapat mewujudkan spiritualitas kasih. Saat ahli Taurat bertanya kepada Tuhan Yesus, “Hukum manakah yang paling utama?” (Mark. 12:28b), maka Tuhan Yesus mengawali dengan memberi jawaban: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa” (Mark. 12:29). Ahli Taurat tersebut diingatkan oleh Tuhan Yesus tentang hukum Taurat di Ul. 6:4 yang diawali dengan pernyataan “syema” yang artinya: “dengarlah!”. Makna “syema” (dengarlah) menunjuk kepada panggilan Allah kepada umat Israel untuk selalu mendengar firman Tuhan dan menginternalisasikan ke dalam seluruh kepribadian mereka. Itu sebabnya setelah ucapan “syema” di Ul. 6:7 menyatakan suatu perintah, yaitu: “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”. Firman Tuhan bukan sekedar didengar sebagai suatu kumpulan pengetahuan keagamaan yang saleh, tetapi sejauh mana isi firman Tuhan tersebut telah diinternalisasikan berulang-ulang ke dalam batin sehingga menjadi sumber pencerahan nurani. Yang mana pengulangan yang diinternalisasi bukan sekedar suatu proses penghafalan mekanis ayat-ayat Alkitab, tetapi penghayatan dan penjiwaan akan firman Tuhan yang utama yaitu kasih.
Dengan demikian realitas Kerajaan Allah tidak dapat dibangun oleh umat yang hanya gemar menghafal ayat-ayat Kitab Suci. Para penghafal ayat-ayat Kitab Suci tidak akan secara otomatis menjadi para pribadi yang terbukti berhasil menginternalisasi firman Tuhan yang membebaskan dan membaharui hidup. Sebaliknya para penghafal Kitab Suci kadang-kadang dapat menjadi orang-orang yang membelenggu firman Tuhan secara mekanis dan harafiah, sehingga mereka menghalangi karya Kerajaan Allah yang menyelamatkan. Makna internalisasi firman Tuhan berarti kesediaan membuka hati untuk memperoleh pencerahan iman sehingga umat mampu mengalami perubahan perspektif, pola pikir dan tingkah-laku yang sesuai dengan kehendak Allah. Itu sebabnya internalisasi dalam batin selain berarti peresapan dan pendalaman firman juga merupakan kekuatan penggerak untuk melakukan transformasi hidup. Internalisasi firman ke dalam batin senantiasa akan menghasilkan paradigma yang baru. Sebab paradigma yang baru akan memampukan umat untuk melihat hal-hal yang semula tidak mereka lihat. Umat percaya akan dicelikkan mata-rohaninya yang selama ini buta sehingga mereka memiliki pemahaman yang lebih luas dan utuh. Sehingga mereka dimampukan untuk memberlakukan kasih secara mendalam dan luas kepada setiap sesama. Paradigma hidup yang baru tersebut akan dapat menjadi suatu kekuatan penggerak yang begitu besar dalam kehidupan umat karena internalisasi firman sekaligus menjadi manifestasi Roh Allah. Jadi realitas Kerajaan Allah hanya akan menjadi suatu kemungkinan saat media hati umat yang telah diinternalisasi oleh firman menjadi hati yang dipenuhi oleh Roh Allah.
Namun sayangnya dalam realitas kehidupan sehari-hari, kehidupan umat tidak senantiasa dipenuhi oleh Roh Allah sebab yang menginternalisasi batin mereka bukanlah firman Allah tetapi ideologi, filsafat, adat-istiadat, budaya, dan berbagai kesenangan duniawi. Kita sering membiarkan batin kita untuk dikendalikan oleh roh zaman dan hawa-nafsu dunia. Sehingga batin kita menjadi sarat dengan berbagai keinginan dan cita-cita duna. Batin kita menjadi buta dan kehilangan daya kritisnya. Dalam kondisi yang demikian tidaklah mungkin batin kita mampu menerima dan siap diinternalisasi firman Allah. Batin atau hati kita akan cenderung semakin mengeras. Sikap hati yang demikian akan selalu memiliki mekanisme yang selalu berhasil mengelak dan menolak setiap firman. Itu sebabnya kita sering gagal untuk memberlakukan sikap kasih dalam kehidupan sehari-hari. Seluruh ayat Kitab Suci yang dihafalkan atau berbagai pengetahuan keagamaan dan teologia sama sekali tidak berhasil menembus batin atau hati kita yang telah mengeraskan diri. Itu sebabnya mengapa para penganut keagamaan yang fanatik umumnya selalu memiliki sikap yang mendua-hati. Di satu sisi mereka tampak hidup saleh, namun di sisi lain kehidupan mereka sangat memalukan. Kesalehan mereka bukan karena dilandasi oleh kasih, tetapi kesalehan mereka sering dipakai untuk menutupi berbagai kekurangan dan sikap yang tercela. Padahal seharusnya seluruh kelemahan dan sikap yang tercela perlu diperbaharui dengan internalisasi firman yaitu Roh Allah yang membaharui seluruh kehidupan.
Diwujudkan Dalam Sistem Kehidupan
Proses internalisasi firman untuk menguatkan tindakan kasih dan membaharui kehidupan hanya akan efektif jikalau telah terjelma ke dalam sistem kehidupan. Selama proses internalisasi firman tersebut hanya menjadi minat dari para pribadi tertentu, maka upaya untuk mewujudkan realitas Kerajaan Allah hanya akan menjadi angan-angan manis. Padahal realitas perwujudan Kerajaan Allah bukan hanya suatu upaya dan kesadaran pribadi, tetapi juga harus menjadi upaya dan kesadaran komunal dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Kita dapat melihat bagaimana di negara-negara yang didominasi oleh nilai-nilai kekristenan terbukti mampu memberi penghargaan yang tinggi terhadap setiap mahluk hidup. Bagaimana nilai-nilai kasih diwujudkan ke dalam suatu sistem, sehingga setiap orang peduli terhadap keselamatan orang lain. Bahkan juga sesama akan menjadi para pengawas agar tidak ada seorangpun yang berani untuk menganiaya dan membunuh unggas atau mahluk hidup yang lain. Nilai-nilai kasih yang telah diwujudkan ke dalam suatu sistem, pada gilirannya akan menjadi sistem-nilai yang menggerakkan setiap orang untuk melakukan apa yang benar dengan seluruh kesadarannya. Sistem-nilai kasih yang telah terkondisi tersebut pada gilirannya akan menciptakan kesejahteraan, keselamatan dan keadilan dalam kehidupan masyarakat. Di Ul. 6:3, Allah berfirman: “Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya”.
Tentu saja sistem-nilai tentang kasih tersebut tidak boleh disamakan dengan pendirian negara agama. Sebab dalam sistem negara-agama, pemerintah atau orang-orang yang terlibat akan menjadikan norma-norma agama sebagai ketentuan untuk mengatur negara dan masyarakat umum. Padahal yang diadopsi dan dianggap sebagai norma-norma agama tersebut sebenarnya sering sama sekali tidak relevan lagi dengan kehidupan masa kini. Misalnya hukum mutilasi tangan bagi para pencuri atau hukum rajam dengan batu kepada seseorang dan wanita yang ketahuan berbuat zinah. Apakah hukum yang diatur oleh agama tersebut dapat diterapkan ke dalam masyarakat masa kini yang telah memiliki pola pemahaman yang sangat berbeda? Kalau seandainya norma-norma keagamaan diterapkan begitu saja berarti agama telah membuat langkah mundur. Prinsip agama yang demikian hanya akan membuktikan dirinya sebagai media yang anti manusiawi. Dunia akan menganggap agama-agama yang demikian sebagai tiran yang membelenggu dan mengikat umat manusia. Tentu saja agama yang menjadi tiran yang membelenggu kehidupan umat manusia tidak perlu ditaati dan diikuti. Karena keberadaan lembaga agama bukanlah tujuan utama dalam kehidupan umat manusia. Agama hanyalah media yang dianugerahkan oleh Allah, agar umat dapat berjumpa dengan sang Pencipta dan Penyelamatnya sehingga umat dapat mengalami karya Allah yang membebaskan dan membaharui kehidupan. Sebaliknya sistem-nilai kasih dalam kehidupan masyarakat dan bernegara harus ditegakkan namun bukan atas dasar otoritas atau supremasi keagamaan, tetapi atas dasar penyelenggaraan pemerintahan Allah yang adil dan benar. Dalam konteks ini setiap orang termasuk pemerintah menyadari bahwa negara dan gereja memiliki tempatnya yang khusus di hadapan Tuhan. Masing-masing pihak harus menundukkan diri di bawah kuasa Kerajaan Allah, sehingga negara dan gereja dapat memuliakan Allah sesuai dengan fungsi dan panggilannya masing-masing. Karena itu prinsip dari para reformator Kristen adalah: “bagaimana gereja dapat hidup bebas dan negara juga dapat hidup bebas”. Singkatnya: bagaimana dapat tercipta kehidupan beragama yang bebas di negara yang bebas.
Kristus sang Imam Besar Dan Wujud Kerajaan Allah
Realitas Kerajaan Allah pada hakikatnya merupakan manifestasi pemerintahan Allah dalam kehidupan umat manusia sehingga dalam setiap aspek kehidupan selalu diresapi oleh nilai-nilai atau prinsip kehendak Allah. Melalui realitas Kerajaan Allah, setiap umat dimampukan untuk senantiasa mempermuliakan Allah. Karena itu realitas Kerajaan Allah selalu terkait dalam kehidupan Kristus. Bahkan tepatnya realitas Kerajaan Allah pada hakikatnya hadir dalam seluruh kehidupan dan karya Kristus. Selaku Imam Besar yang agung, Kristus telah menebus dosa seluruh umat manusia dengan darahNya sendiri. Sehingga seluruh umat manusia yang berdosa telah menjadi milik kepunyaanNya. Dengan demikian sistem-nilai cinta-kasih yang menjadi landasan kehidupan pribadi dan masyarakat pada hakikatnya bersumber kepada diri Kristus. Sistem-nilai cinta kasih akan berfungsi secara efektif manakala setiap umat bersedia menempatkan Kristus selaku pusat kehidupannya. Sebab tanpa relasi dengan Tuhan Yesus, sistem-nilai cinta kasih tersebut akan kehilangan arah atau tujuan utamanya. Sistem-nilai cinta kasih tanpa relasi dengan Kristus akan menjadi sekedar suatu sistem yang dingin, tidak personal dan kehilangan daya rohNya yang membaharui. Sehingga sistem-nilai cinta kasih tersebut akan kehilangan kemampuannya untuk memanusiawikan sesama sebagai gambar dan rupa Allah. Padahal dengan pengorbanan dan kematianNya di atas kayu salib, Kristus telah menebus setiap umat manusia agar mereka memperoleh keselamatan Allah yang utuh. Karena itu surat Ibr. 9:15 berkata: “Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama”. Realitas Kerajaan Allah bukan sekedar suatu pola kehidupan yang berhasil mengatur dengan tertib setiap anggota masyarakatnya untuk patuh terhadap nilai-nilai asasi manusiawi tetapi juga memampukan setiap orang untuk hidup sesuai dengan martabatnya sebagai gambar dan rupa Allah. Karya penebusan Kristus memampukan umat percaya untuk memperoleh bagian yang kekal sebagaimana yang telah dijanjikan Allah.
Dengan demikian realitas Kerajaan Allah terkait erat dengan Kristus. Bahkan lebih khusus lagi Kristus menjadi pusat dari realitas Kerajaan Allah. Namun tidak berarti pewartaan tentang Kristus sebagai wujud dan pusat Kerajaan Allah sebagai suatu upaya kristenisasi. Pewartaan yang demikian juga akan mendangkalkan dan merendahkan martabat Kristus selaku Imam Besar dan Juru-selamat dunia. Sebaliknya pewartaan tentang Kristus seharusnya merupakan suatu tindakan yang luhur untuk meluhurkan nilai-nilai cinta-kasih yang telah dianugerahkan Allah secara implementatif, sehingga sesama yang menerimanya sungguh-sungguh mampu merespon karya penebusan Kristus dengan sikap kasih. Jadi kita tidak perlu berupaya menjadikan seseorang menjadi seorang Kristen apabila dia belum mampu untuk menerima atau dia masih bergumul dengan kebenaran atau keselamatan di dalam Kristus. Namun yang pasti Kristus tetap mengasihi dia apapun keadaannya. Untuk itu kita perlu tetap mengasihi dia, baik karena dia mau menerima pemberitaan kita maupun saat dia menolak untuk percaya kepada Kristus. Untuk mewujudkan realitas Kerajaan Allah, kita perlu rendah hati. Sebab peran kita sebenarnya tidak lebih hanya sebagai seorang penabur firman, tetapi Allah yang berwenang menentukan siapa yang percaya dan bertumbuh di dalam Kristus; dan siapa yang menolak dan tidak bertumbuh di dalam Kristus.
Panggilan
Realitas Kerajaan Allah telah hadir dalam kehidupan dan pelayanan Kristus. Karena itu tugas panggilan dan peran kita bukan menciptakan realitas Kerajaan Allah. Kita tidak dapat dan tidak berkuasa sedikitpun untuk menciptakan realitas Kerajaan Allah. Tetapi kita hanya dapat mewujudkan, karena realitas Kerajaan Allah telah dinyatakan secara paripurna di dalam diri Kristus. Dengan demikian cinta kasih yang dapat mewujudkan realitas Kerajaan Allah adalah cinta-kasih Kristus, dan bukan cinta-kasih yang dipahami dan dikenal oleh dunia ini. Cinta kasih Kristus adalah agape. Yang mana kasih agape adalah kasih yang berkorban sebab dilandasi oleh kasih Allah dalam karya penebusan Kristus. Kasih Kristus yang demikian perlu terus-menerus diinternalisasikan (dibatinkan) agar menjadi satu dengan kehendak Roh Kudus. Dengan demikian kasih Kristus akan menjadi daya penggerak dalam seluruh aspek kehidupan kita. Jadi kehidupan kita secara personal perlu digerakkan, dikendalikan dan dikuasai oleh kasih Kristus. Dan pada sisi lain daya gerak kasih Kristus secara personal juga harus diwujudkan dalam sistem-nilai dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Agar sistem-nilai kasih Kristus juga dapat memperbaharui dan menghasilkan perubahan dalam realitas kehidupan sehari-hari. Saat realitas kehidupan sehari-hari kita diperbaharui oleh sistem-nilai kasih Kristus, maka realitas kehidupan tersebut telah berubah menjadi tanda-tanda dari realitas Kerajaan Allah. Jika demikian, apakah kehidupan personal kita telah dipenuhi oleh sistem-nilai kasih Kristus? Juga apakah peran dan pekerjaan kita selalu mengerjakan tugas untuk membaharui komunitas di sekitar kita dengan sistem nilai dari pemerintahan Kristus? Bagaimana sikap dan respon saudara? Amin.
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com
|
Posted Friday, 23 October 2009 Last updated Friday, 23 October 2009 |
halaman sebelumnya | artikel lainnya | Halaman Depan |


