Sukacita Kemenangan Orang Percaya Di Akhir Zaman (15 Nopember 2009)
Oleh Pdt. Yohanes Bambang MulyonoRenungan Minggu, 15 Nopember 2009
Minggu Biasa XXVIII
Warna: Hijau
SUKACITA KEMENANGAN ORANG PERCAYA DI AKHIR ZAMAN
Dan. 12:1-3; Mzm. 16; Ibr. 10:11-14, 19-25; Mark. 13:1-8
Pengantar
Saat kita mendengar perkataan atau ungkapan “akhir zaman” (the end-times) umumnya cenderung diidentikkan dengan peristiwa kesudahan zaman. Hampir setiap agama memiliki
kepercayaan tentang kesudahan zaman. Suatu saat dunia dan kehidupan umat manusia akan berakhir dengan peristiwa kosmis yang dahsyat, yang disebutnya dengan “kiamat” (doomsday). Yang mana bentuk kiamat tersebut bermacam-macam, apakah dalam bentuknya hancurnya bumi dan seluruh kehidupan karena dihantam oleh suatu benda asteroid atau yang disebut dengan planet minor atau planetoid. Asteroid adalah benda berukuran lebih kecil daripada planet tetapi lebih besar daripada meteroid. Ada pula yang menduga bumi akan hancur karena hantaman dari badai matahari (solar storm) sehingga menghanguskan semua mahluk hidup dan seluruh peradaban yang berhasil dibangun oleh manusia. Semua hipotesa atau ramalan tentang akhir zaman tersebut sebagian menyadarkan manusia bahwa bumi kita bukanlah tempat yang kekal. Kelompok kedua adalah orang-orang yang menjadi cemas dan pesimistis sehingga mereka berupaya untuk melarikan diri dari kenyataan hidup. Sedang kelompok yang ketiga menganggap bahwa semua keyakinan dan ramalan tersebut hanyalah omong-kosong belaka. Namun yang jelas umat manusia pada masa kini semakin menyadari bahwa keadaan bumi mengalami oleh berbagai bencana alam yang dahsyat dalam bentuk tsunami, angin topan, letusan gunung berapa dan gempa bumi. Semua bencana alam tersebut telah menelan korban dan harta benda yang luar biasa banyaknya. Apakah semua gejolak berupa bencana alam tersebut merupakan tanda bahwa dunia dan kehidupan bumi ini telah semakin dekat dengan kesudahan zaman? Apalagi umat manusia pada masa kini semakin cemas akan ramalan bangsa Maya yang dikenal melalui sistem kalender yang akurat yaitu bahwa dunia akan berakhir pada tanggal 21 Desember 2012. Menurut bangsa Maya, sesuai dengan perhitungan kalendernya umat manusia mulai tanggal 21 Desember 2012 akan memasuki masa yang disebutnya dengan “Baktun of the Transformation Matter” (Baktun Perubahan Zat) yang terjadi dengan pemusnahan bumi dan segala isinya.
Tetap Tinggal Rahasia
Sebagai wujud dari kasih karunia Allah, ilmu pengetahuan dimampukan untuk menyingkapkan rahasia alam semesta dan kehidupan ini. Itu sebabnya apa yang dahulu merupakan rahasia, kini melalui ilmu pengetahuan berhasil disingkapkan seperti: penyebab penyakit epilepsi yang pada zaman dahulu dianggap dari setan, berbagai jenis penyakit, penggunaan energi untuk kesejahteraan manusia,
mekanisme psikologi manusia, fenomena alam dan bumi, prediksi perubahan cuaca atau bencana alam. Pada masa kemudian ilmu pengetahuan tentunya akan mampu menyingkapkan berbagai hal yang saat ini masih misteri. Namun tidak berarti ilmu pengetahuan mampu menyingkapkan semua hal dalam kehidupan ini khususnya misteri kematian manusia dan kesudahan zaman. Kita sangat menghargai dan mengucap syukur atas kontribusi ilmu pengetahuan yang begitu besar dalam kehidupan umat manusia, tetapi kita tidak perlu mendewa-dewakannya. Ilmu pengetahuan bukan segala-galanya. Ilmu pengetahuan hanyalah alat atau media yang perlu terus dikembangkan untuk menjadi berkat yang menyejahterahkan hidup manusia. Tetapi ilmu pengetahuan bukanlah Allah. Ilmu pengetahuan tidaklah identik dengan Allah yang berkuasa untuk mengendalikan seluruh perjalanan sejarah dan kehidupan manusia. Itu sebabnya ilmu pengetahuan harus tunduk dengan rendah-hati kepada kebesaran Allah dan hanya bekerja untuk menyatakan kemuliaanNya. Dengan demikian tugas utama ilmu pengetahuan adalah menemukan dan menyebarkan pemahaman yang lebih positif dan utuh agar setiap orang mampu menghargai karya ciptaan Allah dan seluruh karunia dalam kehidupan ini. Pada sisi yang lain ilmu pengetahuan juga menyadarkan umat manusia bahwa ilmu pengetahuan tetap serba terbatas dan upaya pengenalan akan keberadaaan Allah di luar jangkauannya, termasuk pula rencana Allah tentang akhir sejarah dunia. Itu sebabnya di kitab Dan. 12:9, Allah menyampaikan firmanNya kepada Daniel, yaitu: "Pergilah, Daniel, sebab firman ini akan tinggal tersembunyi dan termeterai sampai akhir zaman”. Apa yang telah disembunyikan dan dimeteraikan oleh Allah, tidaklah akan dapat disingkapkan oleh siapapun dan oleh ilmu apapun juga.
Namun dalam praktek betapa sering manusia ingin berupaya menyingkapkan misteri masa depan dan kesudahan zaman. Sikap ingin tahu terhadap apa yang akan terjadi juga dialami oleh para murid Tuhan Yesus. Di Mark. 13:3-4 menyaksikan bagaimana Petrus, Yakobus, Yohanes dan Andreas mendatangi Tuhan Yesus untuk menanyakan perihal: "Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi, dan apakah tandanya, kalau semuanya itu akan sampai kepada kesudahannya." Pada masa kini cukup banyak orang yang juga ingin tahu rahasia masa depan dengan mendatangi paranormal atau berbagai peramal yang menganggap dirinya tahu apa yang akan terjadi. Padahal misteri tersebut dalam pandangan Allah justru penting untuk tetap tersembunyi. Misteri kehidupan diperlukan dalam kehidupan ini sebab misteri juga bernilai positif. Misalnya lebih baik mana seseorang mengetahui saat dan cara kematiannya ataukah dia sebaiknya tidak mengetahuinya. Sebab seandainya kita mampu mengetahui waktu dan cara kematian kita, apakah kehidupan akan tenang dan wajar? Saat kita mengetahui waktu dan cara mati kita, maka kita justru akan lebih menderita dan tidak mampu hidup secara normal. Kehidupan kita akan terus-menerus “memikirkan” waktu kematian yang semakin dekat dan kita akan selalu mengelak cara kematian tersebut sedemikian rupa sampai kita tidak mampu melakukan suatu kegiatan apapun juga. Pengetahuan tentang waktu kematian kita justru akan membutakan mata kita untuk menghayati hidup secara produktif dan bertanggungjawab. Demikian pula seandainya kita mengetahui dengan persis waktu kesudahan zaman, maka kita akan lebih cenderung hidup dalam kecemasan dan perasaan gelisah dari pada mengerjakan tugas pekerjaan atau pelayanan secara bertanggungjawab. Jadi tidak semua misteri dalam kehidupan ini bermanfaat untuk disingkapkan. Selaku insan manusiawi, kita dipanggil untuk menghayati keberadaan diri kita dalam misteri kehidupan agar kita dapat menyikapi kehidupan ini dengan sikap iman. Juga agar kita semakin mampu rendah-hati bahwa Allah dan kuasaNya lebih besar dari pada segala sesuatu yang diketahui oleh umat manusia. Dengan demikian melalui misteri kehidupan yang tidak tersingkapkan, manusia dipanggil untuk belajar membuka diri untuk mengalami kehadiran Allah di kedalaman hidupnya. Misteri kehidupan bukanlah sesuatu yang menakutkan karena melalui Kristus Allah berkenan telah menyatakan rahasia kehendakNya, yaitu kasih dan keselamatanNya.
Proaktif Menyikapi Tanda-Tanda Zaman
Selaku umat percaya jelaslah bahwa kita tidak layak mendasarkan nasib dan masa depan kita kepada sistem perhitungan manusiawi atau ramalan dari paranormal manapun juga. Makna iman kepada Allah yang esa seharusnya membawa suatu konsekuensi etis-iman, yaitu bahwa hanya kepadaNya saja kita bersandar dan menaruh harapan. Sehingga kita hanya mau bersandar kepada firman dan penyataanNya yang secara khusus dinyatakan di dalam diri Yesus Kristus. Namun tidak berarti iman atau kepercayaan yang demikian membuat diri kita mengabaikan kejelian untuk membaca tanda-tanda zaman. Tuhan Yesus mengingatkan agar kita selalu jeli untuk membaca tanda-tanda zaman. Di Mat. 16:2-3, Tuhan Yesus berkata: "Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman, tidak”. Makna tanda-tanda zaman bukan sekedar kemampuan manusia untuk menganalisis hal-hal yang sifatnya fisik dalam berbagai perubahan musim, cuaca dan keadaan alam tetapi juga segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui berbagai peristiwa dan kejadian yang terjadi, kita dipanggil untuk mendengar “suara” Allah. Kita dipanggil untuk menghubungkan (merelevansikan) firman Allah di dalam Alkitab dengan peristiwa atau kejadian yang sedang terjadi secara global maupun yang ada di dekat kita. Karena itu kehidupan umat percaya bukan sekedar seorang pengamat yang hanya mampu melihat setiap peristiwa dan kejadian dalam kehidupan ini. Lebih dari pada itu apakah umat percaya mau berperan secara proaktif. Apakah umat percaya mampu memberi kontribusinya yang nyata dan konstruktif dalam kehidupan bersama dengan sesamanya? Sejauh mana peran umat percaya untuk bertanggungjawab menjaga atau memelihara keselamatan bumi dan sesama sehingga bumi tidak mengalami kerusakan sebagai akibat kecerobohan atau egoisme manusia. Ataukah sebaliknya umat percaya dalam praktek hidup sehari-hari justru tidak berbeda jauh dengan sikap orang-orang dunia yang tidak bertanggungjawab dalam mengelola kehidupan, bumi dan alam semesta. Orang-orang dunia sering merasa tidak perlu bertanggungjawab akan kehidupan bumi dan ekologi karena mereka menganggap seakan-akan kehidupan akan terus berlangsung abadi apapun juga sikap manusia. Itu sebabnya mereka tanpa merasa bersalah merusak alam secara bersengaja seperti: menebang hutan, membuang limbah ke laut, membuang sampah yang tidak berhasil diolah kembali, mengambil terumbu karang secara liar, mengabaikan polusi udara, penggunaan zat-zat kimiawi, dan sebagainya. Jika demikian umat manusia perlu secara merata memperoleh pencerahan dan kesadaran moral yang lebih mendalam tentang keselamatan bumi dan alam semesta. Umat manusia harus menyadari bahwa bumi, seluruh mahluk hidup dan alam semesta saat ini telah berada pada tingkat yang paling kritis dan membutuhkan perubahan paradigma dan tindakan etis-iman.
Memiliki Atau Menjadi
Salah satu sebab utama dari berbagai peristiwa kekacauan dan kerusakan alam adalah sikap manusia yang serakah untuk memiliki segala sesuatu secara tidak terbatas. Sejarah hidup manusia sering ditandai oleh spiritualitas untuk memiliki banyak hal. Arti “memiliki banyak hal” adalah keinginan untuk memperoleh obyek-obyek yang sebenarnya berasal dari luar (eksternal) kehidupan kita seperti: uang, kekayaan, perhiasan, kenikmatan dan status sosial. Apabila spiritualitas kita berorientasi kepada hal “memiliki” maka kita akan lebih cenderung untuk melekatkan obyek-obyek duniawi tersebut ke dalam eksitensi diri kita. Sehingga ruang kehidupan kita semakin diisi oleh obyek-obyek duniawi. Padahal semakin ruang kehidupan kita diisi dan ditimbuni oleh berbagai obyek duniawi, maka ruang jati-diri kita yang sesungguhnya akan semakin menjadi sempit. Anugerah kehidupan manusia sebagai gambar dan rupa Allah akan menjadi semakin melemah bilamana ruang jati-dirinya ditimbuni oleh berbagai obyek atau hawa-nafsu duniawi. Dengan kondisi rohani yang demikian, kita menjadi tidak berdaya melawan hawa-nafsu dan kecenderungan dosa yang ada di dalam diri kita. Walaupun kita telah ditebus oleh Kristus, namun tidak berarti karya penebusan Kristus tersebut bekerja secara otomatis. Kuasa anugerah penebusan dan keselamatan Kristus lebih tepat berfungsi sebagai kekuatan ilahi untuk mengalahkan kuasa dosa. Tetapi hasil karya penebusan Kristus tersebut ditentukan oleh sikap dan pilihan etis kita, yaitu sejauh mana kita menggunakan atau memanfaatkan kekuatan ilahi dari Kristus untuk menjadi anak-anak Allah. Bilamana orientasi spiritualitas kita cenderung untuk memiliki banyak hal, maka anugerah ilahi dalam karya penebusan Kristus tersebut akan terhalang. Singkatnya karya penebusan Kristus tersebut akan ter”blokir” sebab telah dilumpuhkan oleh kecenderungan dan keinginan hawa-nafsu kita. Dengan demikian orang yang fasik adalah orang-orang yang hati-nurani dan spiritualitasnya dikuasai oleh hawa-nafsu atau keinginannya sendiri, sehingga mereka menempatkan obyek-obyek duniawi sebagai yang paling utama. Jangkauan hidup orang fasik cenderung terbatas kepada kehidupan masa kini dan kehilangan perspektif keselamatan yang utuh dan kekal di masa depan.
Namun tidaklah demikian sikap umat percaya dalam arti yang sesungguhnya. Bagi umat percaya, karya penebusan Kristus adalah anugerah ilahi yang sempurna sehingga harus disikapi dengan orientasi hidup dan spiritualitas yang benar. Karena itu orientasi hidup umat percaya bukanlah upaya untuk memiliki banyak hal. Milik atau harta tetap diperlukan oleh siapapun juga. Tetapi bagi umat percaya, harta atau milik tidak pernah menjadi tujuan yang utama. Sebab yang menjadi tujuan utama hidup mereka adalah bagaimana mereka terus-menerus mampu “menjadi” seorang pribadi yang serupa dengan Kristus. Apabila spiritualitas “memiliki” lebih cenderung menimbun berbagai obyek duniawi ke dalam eksistensi mereka, maka tidaklah demikian spiritualitas “menjadi”. Spiritualitas “menjadi” selalu diawali dari proses pembaharuan internal diri, yaitu pembaharuan budi yang terus diperluas dalam relasinya dengan sesama. Yang mana proses pembaharuan internal diri selalu terbuka terhadap intervensi ilahi dan karya keselamatan Allah, sehingga dia mengalami proses pemurnian diri. Di kitab Dan. 12:10, Allah mengingatkan nabi Daniel, yaitu: “Banyak orang akan disucikan dan dimurnikan dan diuji, tetapi orang-orang fasik akan berlaku fasik; tidak seorangpun dari orang fasik itu akan memahaminya, tetapi orang-orang bijaksana akan memahaminya”. Umat yang memiliki spiritualitas untuk “menjadi” anak-anak Allah akan selalu terbuka untuk dikuduskan dan dimurnikan. Makna “pengudusan” atau “pemurnian” di sini menunjuk kepada suatu proses pembaharuan rohani yang terus-menerus terjadi dalam rangkaian waktu kehidupan seseorang. Sehingga dia semakin diberdayakan oleh kuasa anugerah Allah untuk hidup benar dan berkemenangan sampai akhir zaman. Itu sebabnya umat percaya yang menghayati spiritualitas “menjadi” lebih dimampukan Allah untuk berperan secara efektif dalam pembaharuan yang lebih luas, baik pembaharuan masyarakat maupun pembaharuan secara global. Sebaliknya umat yang memiliki spiritualitas untuk “memiliki” berbagai barang duniawi akan hidup sebagai orang fasik dan memilih untuk menegarkan hati terhadap kehendak Allah.
Selalu Waspada
Orientasi dan spiritualitas hidup yang “menjadi” dalam proses pembaharuan budi seseorang juga akan mempertajam mata rohaninya. Proses pembaharuan budi yang dialami oleh seseorang bukan sekedar suatu perubahan yang membuat dia bergairah dengan hal-hal yang rohaniah atau ritual keagamaan. Tetapi lebih dari pada itu pembaharuan budi yang dialami oleh seseorang akan mendorong dia untuk haus mencari dan menguji kebenaran. Karena itu pembaharuan budi justru memampukan seseorang untuk semakin bersikap kritis. Dia akan menguji segala sesuatu agar dia tidak disesatkan dan diombang-ambingkan oleh kebenaran yang semu. Proses pengudusan dan pemurnian yang dikerjakan Allah di dalam dirinya akan memampukan dia untuk menguji setiap hal agar selalu menghasilkan kebenaran yang murni. Itu sebabnya pembaharuan budi dalam terang Roh Kudus akan menghasilkan sikap waspada yang lahir dari hati yang murni. Dia akan waspada untuk tidak disesatkan oleh dunia ini. Dengan pengertian yang sama, Tuhan Yesus berkata: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!” (Mark. 13:5). Khususnya dia akan waspada dan menguji apakah kebenaran tersebut berasal dari Kristus, ataukah dari Mesias palsu.
Kita sering mendengar berbagai pernyataan yang mengklaim berasal dari Allah atau orang-orang yang diutus oleh Allah. Bahkan beberapa tokoh secara terang-terangan mengklaim dirinya sebagai inkarnasi Kristus. Sebut saja seseorang bernama Sergei Torop, usia 48 tahun yaitu seorang mantan polisi lalu lintas di Siberia 2000 km dari Moskow mengaku dirinya sebagai inkarnasi Kristus. Dasarnya kebetulan dia memiliki wajah dan postur tubuh seperti gambar Kristus. Saat ini Sergei Torop telah memiliki pengikut sekitar 5000 orang yang percaya bahwa dia adalah inkarnasi dari Yesus Kristus yang pernah disalibkan dan bangkit. Ada pula Mesias palsu yang tidak menyebut dirinya sebagai Kristus. Tetapi dia bersikap seolah-olah lebih tinggi dan lebih ilahi dari Kristus. Bahkan perkataan dan pemikirannya dianggap identik dengan wahyu Allah. Selain itu juga ada yang menyebut dirinya sebagai nabi zaman akhir, yang artinya dia menganggap sebagai satu-satunya nabi yang paling sempurna. Di Mark. 13:6, Tuhan Yesus berkata: “Akan datang banyak orang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah dia, dan mereka akan menyesatkan banyak orang”. Bagi kita umat percaya, pernyataan orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai inkarnasi Kristus, atau penerima wahyu Allah, atau nabi zaman akhir bukanlah sesuatu yang luar-biasa. Setan atau Iblis juga tidak pernah menyatakan dirinya sebagai penguasa kegelapan, tetapi dia akan menyebut dirinya sebagai malaikat terang atau manifestasi diri Allah. Umat percaya yang hidup dalam proses pembaharuan budi akan selalu menguji setiap pernyataan atau klaim diri tersebut, yaitu apakah kehidupan mereka sungguh-sungguh sempurna dalam kasih. Apakah mereka selalu menempatkan Kristus sebagai yang paling terkemuka di dunia dan di akhirat, ataukah sebaliknya.
Saat ini cukup banyak orang yang semakin terbuka mata-rohaninya dan kritis terhadap pernyataan atau klaim kebenaran sebagai wahyu Allah. Mungkin dahulu klaim suatu kebenaran sebagai “wahyu Allah” masih memukau dan membuat banyak orang tunduk. Tetapi pada masa kini khususnya bagi orang-orang yang diperbaharui hatinya tidak akan bersikap demikian. Karena orang-orang pada masa kini justru tergelitik bersikap kritis saat suatu kebenaran diidentikkan dengan “wahyu Allah”. Ungkapan “wahyu Allah” justru sering dianggap sebagai mekanisme psikologis untuk melegitimasi pandangan pribadi yang subyektif agar memperoleh otoritas yang tinggi sebagai firman Allah. Yang terpenting bukan lagi pernyataan atau klaim sebagai “wahyu Allah”, tetapi apakah pernyataan atau pemikiran tersebut mampu menjadi kebenaran yang membebaskan dan membawa keselamatan bagi umat manusia. Sehingga semua hal yang dianggap “firman Allah” atau “wahyu Allah” akan menjadi musuh kebenaran dan kehidupan, ketika ternyata klaim “firman Allah” atau “wahyu Allah” tersebut justru mendorong banyak orang untuk melakukan kekerasan, kekejaman dan kejahatan kepada sesamanya. Jadi yang terpenting bukan lagi “vokalnya” suatu klaim, pernyataan atau pengajaran; tetapi apakah pernyataan dan pengajaran tersebut memiliki isi atau substansi yang berkuasa untuk membebaskan dan menyelamatkan kehidupan umat manusia. Karena itu suatu pernyataan atau pengajaran agamawi yang mengklaim dirinya dengan wibawa “firman Allah” padahal realitanya berpandangan sempit dan menyesatkan umat hanyalah akan semakin memperkuat kepalsuannya.
Kemenangan Umat Percaya Karena Kemenangan Kristus
Kekuatan dan pengharapan kita untuk menghadapi berbagai pergumulan dan tantangan hidup ini bukan didasarkan kepada kebenaran manusiawi seperti: filosofi, teologi, ideologi atau prinsip-prinsip etika dan moral kita. Semua nilai dan pemikiran tersebut menjadi bernilai sejauh ditempatkan dalam karya penebusan Kristus. Dengan demikian karya penebusan Kristus dan hukum-hukum Kerajaan Allah yaitu kasihNya yang menjadi standar yang paling utama. Semua pemikiran filosofi, teologi, ideologi atau nilai-nilai budaya dan adat-istiadat menjadi relatif bilamana bertentangan dengan karya penebusan Kristus. Alasannya adalah karena karya penebusan Kristus di atas kayu salib sungguh sempurna. Satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya. Sehingga melalui pendamaian Kristus, setiap umat manusia memperoleh jaminan keselamatan yang serba pasti. Itu sebabnya surat Ibrani menyatakan: “Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah” (Ibr. 10:12). Kesaksian surat Ibrani tentang Kristus yang duduk di sebelah kanan Allah hendak menegaskan bahwa di dalam namaNya tersedia suatu jaminan keselamatan yang kokoh. Sebab karya penebusan Kristus mampu membasuh setiap dosa dan kesalahan kita satu kali untuk selama-lamanya sehingga kita dibenarkan oleh Allah. Hal ini ditegaskan ulang di Ibr. 10:14 yang menyatakan: “Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan”. Dengan demikian kemenangan Kristus melalui karya penebusanNya menjadi landasan bagi setiap umat percaya untuk meraih kemenangan atas kuasa dosa yang saat ini tetap bekerja sampai akhir zaman. Konsekuensinya, bilamana setiap umat menempatkan kemenangan Kristus melalui karya penebusanNya maka umat manusia mampu menyongsong kesudahan zaman dengan keselamatan yang sempurna. Sebaliknya bilamana setiap umat mengabaikan dan menganggap remeh kemenangan Kristus dengan menonjolkan prestasi keagamaan atau perbuatan baik belaka, maka umat manusia akan menghadapi kesudahan zaman tanpa harapan dan tanpa jaminan keselamatan.
Jika demikian karya penebusan Kristus seharusnya menjadi satu-satunya panduan kehidupan yang paling utama. Walaupun misteri kehidupan dan kesudahan zaman tetap tersembunyi, kita tidak perlu kuatir dan takut karena kita berjalan bersama dengan Kristus yang telah membayar dosa-dosa kita dengan darahNya. Pengharapan ke masa depan kita juga bukan karena kita merasa memiliki berbagai peralatan teknologi yang serba canggih dan kemampuan untuk memprediksi berbagai hal. Tetapi pengharapan kita telah memiliki pijakan yang kokoh dalam kasih Allah yang dinyatakan melalui karya penebusan Kristus. Sehingga melalui iman, pengharapan kita akan berlabuh dalam naungan kasihNya.
Panggilan
Kita hidup di antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedatangan Kristus yang kedua.Melalui kedatangan Kristus yang pertama, Allah telah menganugerahkan karya penebusan yang sempurna, satu kali untuk selama-lamanya. Karya penebusan Kristus tersebut menjadi landasan utama bagi umat percaya untuk menyongsong akan misteri kedatanganNya yang kedua sehingga kita senantiasa diteguhkan dalam kuasa kasihNya. Dengan demikian panduan hidup kita bukanlah tersingkapnya misteri kesudahan zaman, tetapi tersingkapnya rahasia penyataan Allah di dalam penebusan Kristus. Sehingga melalui penyingkapan rahasia penyataan Allah tersebut kita dimampukan untuk berjalan dengan iman bersama Kristus. Untuk memenuhi panggilan Allah tersebut spiritualitas yang perlu terus dikembangkan adalah spiritualitas yang selalu berupaya untuk “menjadi” serupa dengan Kristus. Bilamana kita memiliki spiritualitas yang selalu ingin menjadi serupa dengan Kristus, maka kita tidak akan lagi tertarik atau tergoda untuk memberlakukan spiritualitas yang ingin memperoleh (“memiliki”) barang-barang duniawi ini. Jika demikian, bagaimanakah kehidupan saudara? Apakah kehidupan saudara telah dilandasi oleh kemenangan dari karya penebusan Kristus? Amin.
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com
|
Posted Sunday, 8 November 2009 Last updated Sunday, 8 November 2009 |
halaman sebelumnya | artikel lainnya | Halaman Depan |


