Pelaku Firman Yang Membebaskan (Minggu, 24 Januari 2010)
Oleh Pdt. Yohanes Bambang MulyonoRenungan Minggu, 24 Januari 2010
Tahun C: Epifani III
Warna: Hijau
PELAKU FIRMAN YANG MEMBEBASKAN
Neh. 8:1-11; Mzm. 19:2-15; I Kor. 12:12-31; Luk. 4:14-21
Pengantar
Posisi firman Allah dalam setiap agama begitu sentral. Jika demikian, di manakah sebenarnya keunikan posisi firman Allah dalam kehidupan jemaat Kristen? Apakah posisi firman Allah sama seperti konsep agama-agama pada umumnya? Yang jelas dalam penghayatan iman Kristen, makna firman Allah bukan sekedar suatu peraturan atau hukum-hukum ilahi yang diwahyukan dalam kehidupan manusia. Teologi reformatoris pada hakikatnya mengimani 3 aspek Firman Allah, yaitu: Firman Allah Yang Hidup, Firman yang tertulis dan Firman yang diberitakan. Kedudukan Firman Allah yang hidup tentu lebih tinggi dan mulia dibandingkan dengan Firman yang tertulis yaitu Alkitab dan Firman yang diberitakan yaitu Khotbah. Sebab Firman Allah Yang Hidup adalah Tuhan Yesus Kristus. Yoh. 1:14 menyatakan: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”. Yesus Kristus adalah inkarnasi sang Firman Allah, yang mana Firman Allah itu adalah Allah (Yoh. 1:1). Dengan demikian Alkitab menjadi firman Allah dan khotbah menjadi firman yang diberitakan karena secara substansial menyaksikan Kristus yang adalah Firman Allah Yang Hidup. Jadi seandainya Alkitab atau khotbah tidak menyaksikan atau memberitakan tentang Kristus dan karya keselamatanNya maka iman Kristen tidak akan menempatkan Alkitab sebagai Firman Allah yang tertulis dan Khotbah sebagai Firman Allah yang diberitakan. Ketiga aspek Firman Allah tersebut menyatu dan saling melengkapi agar berita atau kesaksianNya dapat hadir dan dipahami dalam kehidupan umat manusia. Lebih dari pada itu ketiga aspek Firman Allah tersebut menghadirkan keselamatan dan daya hidup yang kreatif serta transformatif, sehingga umat manusia dapat hidup benar sebagai anak-anak Allah. Yang mana seluruh umat haruslah senantiasa terarah atau berpusat kepada Kristus, sang Firman Hidup.
Interaksi Dengan Firman Tuhan
Pondasi utama dari tujuan hidup umat yang terarah kepada Tuhan Yesus adalah karena hanya di dalam Dia tersedia kehidupan kekal. Yoh. 1:4 menyaksikan tentang kedirian Kristus, yaitu: “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia”. Dengan demikian sumber kehidupan setiap mahluk dan manusia adalah Yesus Kristus yang disaksikan oleh Alkitab dan diberitakan dalam khotbah. Jadi jelaslah bahwa umat perlu menghayati firman Allah yang disaksikan oleh
Alkitab agar mereka dapat memahami lebih mendalam dan personal diri Kristus selaku Tuhan dan Juru-selamat. Umat harus merenungkan firman Tuhan sepanjang hidupnya bilamana mereka ingin bertumbuh dan memperoleh keselamatan yang kekal. Untuk itu setiap umat wajib memiliki disiplin rohani dan sikap yang konsisten dalam membaca dan merenungkan Alkitab. Namun sayangnya, umat sering enggan membaca dan merenungkan Alkitab secara langsung. Mereka lebih suka mendengarkan khotbah yang menyenangkan hati, menghibur dan lucu. Bahkan kini umat jarang mau membaca Alkitab secara langsung. Sehingga saat ke gereja mereka sengaja tidak membawa Alkitab, sebab di beberapa gereja telah disediakan teks ayat Alkitab yang telah difoto-copy atau ditayangkan dalam multi-media. Baru saat penyampaian khotbah mereka memberi respon. Bila penyampaian khotbah menarik dan menyenangkan hati, mereka menganggap telah memperoleh firman. Tetapi bila penyampaian khotbah kurang menarik, monoton atau isi cukup sulit dipahami; maka mereka segera tertidur dan menganggap tidak memperoleh firman. Fenomena ini menunjukkan 2 hal yang sangat memprihatinkan, yaitu: lemahnya relasi personal umat dengan Kristus selaku Firman Allah yang hidup, dan minimnya minat anggota jemaat untuk mendalami isi Alkitab secara mandiri. Sehingga khotbah sering dijadikan ukuran yang paling menentukan dalam pertumbuhan spiritualitas umat. Padahal khotbah atau firman yang diberitakan hanyalah satu bagian dari hakikat Firman Allah.
Jadi kerinduan hati umat untuk memperoleh pemahaman firman Tuhan melalui isi khotbah tidak boleh meniadakan relasi yang personal dan mendalam dengan Kristus. Selain itu kedudukan khotbah tidak boleh melemahkan disiplin rohani dan kerinduan umat untuk membaca dan mempelajari ayat-ayat Alkitab secara kontinyu atau teratur. Demikian pula sebaliknya! Umat tidak boleh hanya menganggap hubungan Kristus secara personal sebagai
satu-satunya cara untuk mengetahui kebenaran dan kehendak Allah, tetapi kenyataannya mereka mengabaikan pembacaan dan penggalian isi Alkitab secara benar. Penemuan Kristus yang demikian hanya akan menghasilkan gambaran diri Kristus yang subyektif dan ilusif. Sebab mereka hanya mereka-reka gambaran diri Kristus menurut kemauan dan keinginannya sendiri. Jati-diri Kristus yang benar adalah Kristus yang disaksikan oleh Alkitab dan diteguhkan melalui pemberitaan firman dalam ibadah. Saat umat meletakkan hidup mereka kepada Kristus dan memahami firmanNya, maka Roh Kudus akan memberi pengertian yang benar tentang kehendak dan kebenaran Kristus. Jadi bilamana umat hanya memperhatikan salah satu aspek dari eksistensi Firman, maka mereka tidak akan mampu untuk menjadi pelaku firman yang membebaskan. Pelaku firman yang membebaskan adalah bilamana mereka sungguh-sungguh mengasihi dan mempermuliakan Kristus selaku Firman yang hidup dengan sikap yang selalu mendengar dan memperlajari Alkitab (firman yang tertulis) dan sikap responsif saat mereka mendengar firman yang diberitakan melalui khotbah. Dengan demikian pusat hidup umat percaya adalah Kristus yang disaksikan oleh Alkitab dan diberitakan oleh gereja.
Hukum Yang Menghidupkan
Beberapa sikap religius yang ekstrem dalam menghayati firman Tuhan dapat terjadi karena umat hanya berinteraksi dengan ayat-ayat Kitab Suci dan khotbah atau ulasan tekstual Kitab Suci yang terpisah dengan Kristus selaku sang Firman Yang Hidup. Kita dapat melihat sikap radikalisme atau fundamentalisme agama-agama dilakukan oleh orang-orang yang sangat menggeluti Kitab Suci dan khotbah-khotbah yang lepas dari teologi Firman yang berinkarnasi. Padahal hakikat firman Allah yang berinkarnasi dalam konsep Yunani disebut dengan “Logos”, orang Ibrani menyebut “Hokmah” (hikmat), dan orang Muslim menyebut sebagai “Kalimatullah”. Semua konsep tersebut mengacu secara teologis kepada Yesus Kristus. Lebih khusus lagi Kristus selaku Firman Allah Yang Hidup disebut oleh Injil Yohanes berperan sebagai oknum ilahi yang menjadikan alam semesta dan seisinya. Yoh. 1:3 menyaksikan: “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan”. Tepatnya, Allah menjadikan alam semesta dan seisinya melalui kuasa FirmanNya. Surat Ibrani memperjelas konsep dasar peran Firman Allah dalam karya penciptaan Allah, yaitu: “Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat” (Ibr. 11:3). Itu sebabnya segala pengertian, hikmat, kepandaian dan pengertian tentang kebenaran yang disaksikan oleh setiap Kitab Suci akan menjadi hukum yang mematikan, bilamana dilepaskan dari Kristus sang Firman Yang Hidup. Melalui iman dan relasi kasih dengan Kristus, umat percaya akan dimampukan untuk mengerti kebenaran Allah yang menyelamatkan dan membebaskan. Iman dan relasi kasih dengan Kristus akan memberi pencerahan dan penyingkapan yang membebaskan sehingga hukum-hukum Allah yang tertulis dalam Alkitab atau Kitab Suci menjadi hukum yang menghidupkan. Dengan sangat tepat di II Kor. 3:14, rasul Paulus berkata: “Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya” (II Kor. 3:14). Tanpa anugerah dan hikmat dari Kristus, maka ayat-ayat Kitab Suci tersebut akan tertutup pengertiannya. Jadi setiap umat manusia pada hakikatnya membutuhkan Kristus untuk memperoleh penyingkapan kebenaran ilahi.
Sayangnya umat masih sering terjebak dalam persoalan doktrin firman Allah yang diwahyukan. Umat sering gemar berdebat apakah ayat-ayat Kitab Suci mereka diwahyukan Allah secara langsung atau tidak langsung. Maksud doktrin Firman yang diwahyukan secara langsung adalah firman yang didiktekan secara mekanis, yaitu: didekte huruf demi huruf, kalimat demi kalimat. Sedang doktrin Firman yang diwahyukan secara tidak langsung bilamana tulisan dan ayat-ayat di Kitab Suci tersebut dianggap sekedar suatu inspirasi yang sepenuhnya menggunakan bakat-bakat dan kepribadian penulis Kitab Suci. Padahal yang menentukan nilai dan hakikat firman tersebut bukan doktrin pewahyuan, tetapi bagaimana efek ayat-ayat Kitab Suci tersebut kepada umat. Apa artinya kita yakini suatu Kitab Suci tertentu diwahyukan secara mekanis (didekte huruf demi huruf) tetapi ternyata membawa pengaruh yang destruktif dan mematikan dalam kehidupan manusia. Yang dibutuhkan umat manusia pada masa kini bukanlah doktrin tentang pewahyuan firman Allah secara mekanis, tetapi bukti penyataan Allah yang dapat dialami secara eksistensial. Suatu doktrin tertentu justru dapat mendorong umat manusia ke arah pengertian yang jauh dari sikap jernih dan obyektif. Begitu banyak kesesatan, pikiran jahat dan tragedi sepanjang sejarah disebabkan oleh doktrin-doktrin agama. Itu sebabnya manusia membutuhkan Kristus selaku Firman Yang Hidup, yaitu Firman yang berinkarnasi untuk mengaruniakan keselamatan dan hidup yang kekal. Sebab saat semua doktrin agamawi dihadapkan dengan Kristus, barulah pada saat itu semua doktrin tersebut mengalami pemurnian dan pencerahan rohaniah yang membebaskan. Dengan demikian hakikat doktrin hanyalah alat akal budi yang terbatas untuk mengungkap hal yang tak terbatas karena telah dipertalikan dan dijiwai oleh Kristus sang sumber kehidupan dan keselamatan.
Dipenuhi oleh Roh
Saat Tuhan Yesus pergi ke sinagoge di Nazaret tempat Dia dibesarkan, Dia diberi bacaan dari Yes. 61:1-2 yang menyatakan: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang" (Luk. 4:18-19). Namun setelah pembacaan Alkitab tersebut, dengan tegas Tuhan Yesus menyatakan bahwa ayat tersebut telah tergenapi di dalam Dia (Luk. 4:21). Dengan demikian nubuat Yes. 61:1-2 tersebut secara esensial menunjuk kepada diri Kristus. Ayat-ayat tekstual dari kitab nabi Yesaya yang telah dinubuatkan 6-7 abad sebelumnya kini telah hadir secara eksistensial dalam diri Kristus. Singkatnya ayat-ayat tekstual dari kitab nabi Yesaya ditempatkan dalam konteks riel kehidupan Tuhan Yesus Kristus. Yang mana seluruh kehidupan Yesus dipenuhi oleh roh Tuhan yang mengurapi Dia selaku Mesias Allah. Sehingga hanya Kristus yang terbukti telah diutus oleh Allah untuk menyampaikan kabar baik, memberitakan pembebasan, memberi penglihatan, membebaskan orang-orang yang tertindas dan memberitakan tahun rahmat Tuhan. Di dalam diri Kristus, ayat-ayat tekstual tersebut telah terwujud menjadi seorang pribadi yang secara efektif berperan sebagai pembebas dan penyelamat Allah. Sehingga saat hidup kita dipertalikan dalam relasi kasih dan iman kepada Kristus, kita dimampukan untuk dilengkapi oleh Roh Kudus dalam menghayati setiap ayat Alkitab. Pola spiritualitas yang demikian akan memampukan kita untuk memperoleh perspektif iman yang baru, hidup, dinamis dan transformatif. Sebab kita tidak lagi hanya mampu menjadi pendengar dan penelaah firman yang baik, tetapi juga mampu menjadi pelaku firman yang membebaskan.
Makna pelaku firman yang membebaskan berarti kita selaku umat dimampukan untuk memberlakukan esensi isi firman Tuhan yang tidak sekedar hurufiah, namun di sisi lain juga tidak dirohanikan ke arah yang emosional-mistis. Kecenderungan mengartikan firman Tuhan secara harafiah hanya akan menghasilkan pola spiritualitas yang kaku dan legalistis. Sedang mengartikan firman Tuhan secara emosional-mistis akan menghasilkan sikap pembenaran diri yang subyektif, seakan-akan hanya seseorang atau sekelompok orang saja yang diberi dispensasi khusus untuk menerima kehadiran Roh Kudus. Padahal hanya Tuhan Yesus saja yang memperoleh hak khusus kehadiran Roh Kudus, karena Dia sehakikat dengan Allah Bapa dan Roh Kudus. Semua klaim seakan-akan seseorang atau sekelompok orang telah dipenuhi oleh Roh Kudus seperti Kristus adalah para nabi palsu. Mereka adalah para penyesat, yang bertujuan menjauhkan umat dari hubungan kasih dan iman kepada Kristus. Orang-orang yang demikian jelas hanya mencari kemuliaan diri sendiri dengan menyalahgunakan nama Kristus atau Roh Kudus. Karena itu sikap kita haruslah kritis untuk membongkar setiap kesesatan atau penyalahgunaan terhadap nama Kristus sehingga umat memperoleh pembebasan dari doktrin yang palsu. Karena makna utama dari “dipenuhi oleh Roh” di Luk. 4:18 adalah umat diberdayakan untuk berperan sebagai pembebas bagi umat yang tertindas, menyampaikan firman Tuhan sebagai kabar baik dan pemulihan bagi sesama yang menderita. Dengan kata lain makna “dipenuhi oleh Roh” berarti umat dimampukan untuk mengalami sentuhan dan rangkulan kasih Allah saat mereka mendalami ayat-ayat firman Tuhan, sehingga mereka digerakkan dan diberdayakan untuk menjadi agen-agen pembaharuan hidup.
Berperan Sesuai Kompetensi Dan Panggilan
Tugas dan panggilan menjadi agen-agen pembaharuan hidup di tengah-tengah kehidupan yang kompleks tidaklah mungkin hanya ditangani oleh segelintir orang. Lebih tepat setiap umat dipanggil untuk menjadi agen-agen pembaharuan yang sesuai dengan kompetensi dan fungsinya. Saat setiap kompetensi atau kemampuan dikuduskan oleh Allah, maka setiap kompetensi dan karunia Tuhan tersebut akan menjadi kekuatan yang transformatif. Sehingga kompetensi yang paling sederhana sekalipun saat dikuduskan oleh Allah akan menjadi suatu fungsi yang membangun kehidupan komunitas. Di I Kor. 12:18-20 rasul Paulus berkata: “Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh”. Hasil interaksi umat dengan Kristus sang Firman Hidup yang disaksikan dalam Alkitab (Firman yang tertulis) dan diteguhkan oleh firman yang diberitakan akan menjadi firman yang dilaksanakan untuk mewujudkan pembangunan jemaat dan masyarakat. Setiap umat akan saling berperan sesuai karunia Roh yang telah dianugerahkan, dan pada pihak lain mereka juga akan saling menghormati setiap fungsi yang berbeda-beda. Sehingga firman yang dilakukan oleh umat akan membentuk suatu bangunan hidup bersama yang sinergis.
Kita sering kecil hati saat menyadari hanya memiliki suatu talenta yang tidak terlalu berarti atau bakat yang kurang terpandang. Perasaan kecil hati tersebut timbul karena kita sering mengukur talenta tersebut dari sudut manusiawi yang berdosa. Kuasa dosa menyebabkan kita tidak mampu menghargai karunia Tuhan di dalam hidup kita dan sesama yang memiliki karunia yang berbeda. Dosa juga membutakan mata rohani kita untuk mengukur peran yang dipercayakan Tuhan dengan standar minimum. Atau sebaliknya dosa membutakan mata rohani kita untuk mengukur peran yang dipercayakan Tuhan dengan standar yang terlalu berlebihan. Sehingga kita gagal untuk berperan sebagai pelaku firman yang membebaskan. Bagaimana kita mampu membebaskan orang lain apabila kita sendiri bermasalah dan terbelenggu oleh perasaan inferior atau superior? Tugas sebagai pelaku firman yang membebaskan secara eksternal akan terwujud jikalau firman Allah secara internal telah membaharui setiap aspek kehidupan pribadi kita. Karya firman Tuhan yang membaharui kehidupan secara menyeluruh diungkapkan oleh si pemazmur, yang salah satu bagiannya berkata: “Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya” (Mzm. 19:8-9). Pembaharuan hidup yang telah ditransformasi oleh firman Tuhan akan menghasilkan jiwa yang segar, memberi hikmat, menyukakan hati dan mata bercahaya. Jadi apabila firman yang kita gali dan pahami dari Alkitab justru membuat jiwa kita penat, pikiran yang semakin picik, penuh kepahitan dan mata yang semakin suram maka pastilah kehidupan rohani kita telah terputus dengan Kristus. Sehingga kita gagal untuk mewujudkan setiap talenta atau kompetensi yang telah dianugerahkan Allah secara optimal dan konstruktif kepada sesama di sekitar kita.
Tanpa Kata Tapi Nyata
Pelaku firman yang didasari oleh kompetensi yang dikuduskan oleh Allah umumnya tidak banyak bicara, tetapi terbukti menghasilkan karya. Mereka mungkin tidak pernah berkhotbah atau mengulas ayat-ayat Alkitab, tetapi pengaruh sikap dan karya mereka sangatlah nyata. Spiritualitas pelaku firman yang membebaskan seperti alam semesta yang selalu menyaksikan karya dan kemuliaan Allah. Di Mzm. 19:4-5 menyaksikan bagaimana langit dan cakrawala memberitakan kemuliaan Allah tanpa kata-kata, yaitu: “Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi”. Langit dan seisinya tidak pernah menyaksikan kemuliaan Tuhan melalui perkataan atau bahasa. Cukuplah langit dan seisinya menyaksikan kemuliaan Allah melalui prinsip keteraturan, kontinuitas kehidupan, ruang yang menampung setiap ciptaan dan keagungannya yang tanpa batas tiap-tiap saat. Melalui langit dan seisinya, kita melihat jejak kaki dan tangan Allah yang mencipta serta terus memelihara dengan kesetiaanNya. Demikian pula seharusnya kehidupan umat percaya. Respon terhadap firman Tuhan harus dinyatakan umat dalam sikap dan tingkah-laku sehari-hari sehingga pola spiritualitas tersebut selalu terpancar keluar dalam lingkup yang lebih luas. Saat umat memancarkan kerohanian yang tulus, kasih yang tanpa batas, kemurahan dan pengampunan yang tanpa syarat pastilah pola hidup mereka tersebut telah memberitakan firman Allah secara nyata sehingga sesama dapat melihat kemuliaan Allah.
Panggilan
Tolok ukur kualitatif dalam pertumbuhan hidup jemaat perlu tersedia suatu pemberitaan firman yang Alkitabiah dan otoritatif dengan berpusat kepada Kristus. Gereja tidak boleh mengabaikan suatu pola pemberitaan firman yang kering, hambar, kurang eksegetis dan tidak komunikatif. Begitu banyak pola pemberitaan firman yang telah ketinggalan zaman dan tidak menyentuh relung hati para anggota jemaat. Sehingga kebutuhan spiritualitas jemaat yang tidak terpenuhi. Di samping itu gereja juga harus mengukur spiritualitas jemaat dari antusiasme mereka dalam membaca dan memberlakukan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Umat juga harus menjadi pelaku firman yang setia. Sehingga terdapat keseimbangan antara umat yang memperoleh pemberitaan firman yang berkualitas dan umat yang tergerak untuk memberlakukan firman. Keseimbangan spiritualitas tersebut dapat terjadi jikalau pusat hidup umat adalah Yesus Kristus sang Firman Yang Hidup. Dengan sikap iman yang demikian umat akan digerakkan dan dimampukan oleh Roh Kudus untuk melakukan kehendak Kristus yang membebaskan dan menyelamatkan. Tujuannya umat mampu berperan sebagai pelaku firman yang membebaskan setiap belenggu yang dialami oleh sesama di sekitar mereka.
Jika demikian, bagaimanakah peran kita selaku umat? Begitu banyak ayat-ayat firman Tuhan yang telah kita gumuli dan juga ratusan khotbah yang telah kita dengarkan. Tetapi apakah seluruh anugerah Allah telah membawa kita kepada suatu peran yang signifikan? Tepatnya, apakah pembacaan Alkitab dan khotbah yang kita terima sungguh-sungguh digerakkan oleh Roh Kudus sehingga kita dimampukan untuk menjadi pelaku firman yang membebaskan. Ataukah pembacaan Alkitab dan khotbah yang kita dengarkan sekedar suatu pelengkap untuk mengisi rutinitas hidup sehari-hari. Tentunya dengan sikap spiritualitas yang demikian hidup kita tidak lagi dipimpin oleh kuasa firman Allah dan Roh Kudus. Saat ini kita ditantang untuk berperan sebagai pelaku firman dari pada sekedar pendengar firman yang baik. Harapan tersebut akan terwujud jikalau hidup kita bersandar penuh kepada Tuhan Yesus Kristus. Semakin kita memiliki relasi yang intim dengan Kristus, maka setiap pembacaan Alkitab dan khotbah menjadi sesuatu yang menggairahkan dan menggerakkan diri kita melakukan firman Tuhan. Hidup kita menjadi seperti Kristus yang bekerja dan melayani untuk melakukan kehendak Allah. Jadi bagaimanakah sikap saudara sekarang? Amin.
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com
|
Posted Thursday, 14 January 2010 Last updated Thursday, 14 January 2010 |
halaman sebelumnya | artikel lainnya | Halaman Depan |


