Home - Artikel

Membaca dan Mempelajari Firman Tuhan Dengan Sukacita (Pdt.Em.Daud Adiprasetya)

Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Renungan Minggu – 24 Januari 2010
Epifani-III

MEMBACA DAN MEMPELAJARI FIRMAN TUHAN DENGAN SUKACITA
Nehemia 8:1-4, 6-7, 9-11  Mazmur 19:2-15  I Korintus 12:12-31a  Lukas 4:14-21

Ada seorang wanita membeli sebentuk cincin bertaburkan empat buah berlian. Untuk itu ia telah membayar dengan harga yang sangat mahal. Suatu hari ia datang ke pemilik toko mas yang menjual cincin itu untuk memberi teguran, bahwa salah satu berliannya adalah palsu.Sebenarnya ia dapat mengetahui kalau palsu, hanya secara kebetulan saja. Suatu malam ketika menghadiri sebuah pesta ia berjalan di bawah sinar lampu ultraviolet, di taman yang dihiasi dan disinari dengan aneka sinar lampu. Ketika berdiri di bawah sinar lampu yang ultraviolet, sejenak ia memandangi cincin berliannya. Saat itu petugas dalam pesta itu berkata:”Wah,cincin ibu dengan tiga berlian sungguh sangat indah!” Wanita itu segera menanggapinya:”Bapak kliru,bukan tiga tapi empat!” Tapi setelah berkata seperti itu ia memeriksa kembali cincin kebanggaannya itu, ternyata memang benar hanya tiga berlian saja yang berkilauan. Dari situ ia mengetahui bahwa “berlian” keempat pastilah palsu, sebab tidak bercahaya seperti yang lain. Hanya berlian yang asli saja yang akan dapat memantulkan sinar ultraviolet! ( Dari Lukisan Tentang Iman Dan Hidup Kristen}.

Bagaimanakah hidup iman kita selama ini? Redup, kurang bercahaya, tidak disertai kesungguhan dan sukacita? Berada di bawah terang Firman Tuhan maka kita akan dapat mengetahui seperti apa kualitas iman kita sesungguhnya. Pertama-tama bagaimanakah tanggapan kita terhadap Firman Tuhan? Apakah kita mengharapkan dan merindukan? Menyukai, menggemari dan mencintai Firman Tuhan,  atau biasa- biasa saja bahkan cenderung merasa bosan dan muak? Seperti seorang anak yang menempuh studi di luar kota, jika suatu hari mendapat telepon dari orang tuanya, bagaimanakah reaksinya? Merasa senang dan bersemangat, atau sebaliknya malas menyambut, bahkan merasa jengkel sebab telpun itu mengganggu istirahatnya?  Kehadiran “ telepun atau surat” dari Bapa Sorgawi, juga dapat menentukan kualitas iman dan kesungguhan ibadah kita kepadaNya. Itu tadi baru pemeriksaan tahap awal, baru hanya mengenai tanggapan kita terhadap Firman Tuhan. Belum lagi jika memasuki tahap berikut yaitu: Mempersilahkan seluruh hidup kita ditelusuri oleh Firman Tuhan. Seperti seorang pasien yang ditangani oleh dokter yang menggunakan alat medis yang disebut USG 4 Dimensi, maka akan kelihatanlah dengan jelas segala kekurangan kita. Juga apakah kita bersedia dikoreksi dan dibarui, menurut petunjuk Firman Tuhan? Kalau begitu, alangkah pentingnya fungsi Firman Tuhan dalam hidup kita! Apakah kita sudah menyambutnya dengan sukacita?

Firman Tuhan menjadi sentral dalam hidup beribadah. Sesudah Rumah Allah dan Tembok Yerusalem dibangun, maka kini Firman Tuhan harus menjiwai ibadah bahkan seluruh kehidupan umat Israel. Seharusnya kita merasa malu jika membandingkan diri kita dengan umat Tuhan waktu itu, yang sedemikian bersemangat dan bersungguh-sungguh menjunjung tinggi Firman Tuhan! Ada beberapa hal yang menarik yang mereka lakukan saat itu, yang dapat memberi pembelajaran kepada kita:

Pertama, dengan serentak seluruh rakyat berkumpul untuk minta agar Ezra mau membawa Kitab Taurat Musa, karena mereka merindukan Firman Tuhan. Seluruh rakyat saat itu seolah sedang mengadakan unjukrasa, menuntut dilakukannya pembacaan Firman Tuhan! Di sini kita melihat jiwa yang haus akan sabda Tuhan, serta hati yang merindukan sentuhan kasih sayang Bapa sorgawi. Setiap kali menerima Firman Tuhan, sebaiknya kita menghayati bahwa Tuhan sedang menyegarkan jiwa serta menyatakan kasih sayangNya kepada kita. Hal itu membuat kita merasa sangat bersyukur kepadaNya.

Kedua, lalu pada hari yang telah ditentukan, saat Ezra membacakan Firman Tuhan dari pagi sampai tengah hari, mereka semua mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka dapat bertahan berjam-jam mendengarkan pemberitaan Firman Tuhan sebab jiwa mereka dipenuhi sukacita yang besar. Tuhan bagai kekasih yang sudah lama dirindukan, maka perjumpaan dengan Tuhan sangat menggairahkan, dan  suaraNya terdengar sangat merdu! Selain begitu, harus diakui bahwa Firman Tuhan merupakan asupan bergizi yang dibutuhkan oleh jiwa manusia yang sedang lelah, karena kerumunan problim hidup.

Ketiga, sikap hormat terhadap Firman dan Tuhan, dilakukan oleh semua yang hadir.
Bahwa ada para pendamping sementara Ezra membacakan Firman Tuhan, seluruh umat  bangkit berdiri, Ezra memuji Allah yang maha besar, semua orang menyambut dengan “Amin, amin” sambil mengangkat tangan, kemudian sujud menyembah Tuhan! Di sini kita melihat bahwa Tuhan begitu dirasakan kehadiranNya pada saat Firman dibacakan. Demikian kentalnya kesatuan Firman dan yang berfirman (Tuhan), sangat terasa saat itu. Walaupun disampaikan oleh seorang manusia biasa, namun sebab diyakini bahwa Tuhan sedang bersabda,  maka dirasakan seperti sedang berada di hadiratNya, berhadapan dengan Yang Maha Mulia yang patut diberi hormat yang setinggi-tingginya!

Keempat, maka Nehemia tidak setuju jika hari kudus yang berkelimpahan dengan Firman Tuhan itu ditandai dukacita dan tangisan. Mereka itu tidak dilarang tapi malah dianjuri untuk makan dan minum dalam suasana yang ceria, sebab merayakan suatu perjumpaan yang membahagiakan, tapi dianjuri untuk memberi perhatian kepada yang berkekurangan. Jika Tuhan dan FirmanNya ada di tengah-tengah kita, maka tak ada alasan bersedih hati, walau tantangan hidup masih harus kita hadapi. Akan kita hadapi bersama Tuhan sang pelindung kita! ( Nehemia 8:11 ).

Firman Tuhan dalam kesatuan Tubuh Kristus (I Korintus 12). Kita patut merasa sangat bahagia sebab boleh menjadi bagian dari Tubuh Kristus, menjadi milikNya dan Kristus milik kita. Jika kita anggota tubuhNya, maka Kristus adalah kepala kita (Kolose 1:18). Selanjutnya Firman Tuhan juga memberitahu kita bahwa dalam satu Roh , orang-orang beriman memiliki kesatuan yang kokoh sebagai Tubuh Yesus Kristus! Kenyataan ini harus memunculkan semangat kekeluargaan yang kuat di antara kita. Seharusnya kita saling memperhatikan, melayani dan menolong, sebagaimana anggota tubuh jasmani kita melakukan pola hidup seperti itu. Dalam hidup berjemaat, dapat kita rasakan secara nyata  bahwa ada hubungan vertikal dengan Tuhan di satu fihak, dan hubungan yang horisontal dengan sesama anggota. Selama kita berpegang teguh pada Firman Tuhan, selain hati  dipenuhi sukacita, maka kita juga akan beroleh banyak petunjuk berharga untuk dapat membina kedua hubungan yang penting tadi, dengan Tuhan dan dengan sesama anggota.

Sangat disayangkan bahwa di dalam praktek, anggota jemaat pada umumnya tidak mau membaca Alkitab secara teratur, dan tidak mempelajarinya dengan tekun. Ada  seorang pendeta yang ingin menguji sampai sejauh mana anggota jemaat membaca Alkitab setiap harinya. Maka pada suatu hari minggu, ia minta dengan sangat agar semua anggota jemaat mau membaca  Injil Markus pasal 17 di rumah masing-masing. Pak Pendeta  merasa girang, sebab semua yang hadir saat itu berjanji mau melakukan pesannya. Minggu berikutnya ketika ditanya siapakah yang sudah memenuhi permintaannya, yaitu membaca Markus pasal 17, serentak semua orang mengangkat tangan tinggi-tinggi. Kenyataan itu justeru membuat hati Pak Pendeta merasa sedih, sebab Injil Markus hanya mempunyai 16 pasal! ( Dari Lukisan Tentang Iman Dan Hidup Kristen ).

Ketika Yesus membaca Firman. Ada beberapa hal yang menarik perhatian kita, yaitu:

Pertama, dalam kuasa Roh Ia kembali ke Galilea, selanjutnya sampai di kota Nasaret itu untuk membacakan Firman Tuhan di sebuah rumah ibadat. Di sini kita melihat bahwa dalam seluruh kegiatanNya Tuhan Yesus selalu berdampingan dengan Roh Kudus, termasuk dalam melakukan pelayanan Firman. Mengapa demikian? Sebab hadirnya Firman Tuhan ke dalam dunia ini adalah karena Roh Kudus, begitu pula  bergeraknya Firman Tuhan di antara umat manusia, juga tidak terlepas dari karya Roh Kudus. Jika Tuhan Yesus dalam kesempurnaanNya didampingi Roh Kudus saat melayani, terlebih lagi kita yang membutuhkan bantuan Roh Kudus karena kelemahan kita. Pada waktu menerima, terlebih memberitakan Firman Tuhan kita harus mohon pimpinan Roh Kudus.

Kedua, dengan sikap yang mantap dan meyakinkan Yesus melakukan pembacaan Alkitab saat itu sesuai ketentuan yang berlaku. Sikap seperti itulah yang selalu dilakukan olehNya pada saat Ia memasuki kehidupan manusia. Rendah hati, menghargai hukum dan adat.

Ketiga, mengungkap kebenaran dari dalam Firman Tuhan. Bahwa hari itu sudah genaplah nas, yang didengar oleh orang-orang yang hadir di situ. Perhatikanlah sikap Yesus, yang  selalu begitu, mengungkap kebenaran dengan tegas dan lugas. Jika  membaca ayat- ayat selanjutnya maka kita akan  mengetahui kebenaran seperti apa yang diungkap oleh Tuhan Yesus, dan bagaimanakah reaksi orang-orang di situ. Walau kebenaran belaka yang telah diucapkan oleh Tuhan Yesus, tetapi orang banyak itu merasa sakit hati dan geram, sehingga berniat untuk melempar Yesus ke dalam jurang. Kalau begitu dapat kita katakan   saat Yesus menggenapi Firman Tuhan, manusia justeru menanggapi secara negatip. Seharusnya semakin Firman diungkap dengan jelas, serta mendapatkan pemenuhannya, semakin kita sambut dengan besar hati dan sukacita. Karena Firman Tuhan tidak hanya sekedar wacana tapi terlaksana. Dan yang terpenting, selain memiliki Firman Tuhan  maka sekarang kita juga bisa memiliki sang penggenapnya!  Semua ini menyadarkan kita bahwa di dalam dan karena Yesus Kristus, seharusnya membuat kita semakin bergairah  dalam membaca dan mempelajari Alkitab.

Allah yang senang menyapa kita! Melalui alam semesta dan hamparan langit yang luas,  cakrawala dan samudera raya, tapi juga angin sepoi bahkan embun pagi dan hujan rintik-rintik sebenarnya Tuhan sedang menyapa kita. Melalui aneka peristiwa di dunia dan di hidup kita masing-masing, Tuhan mau bilang bahwa Ia tetap ada untuk berkarya bagi kita semua. Melalui Hukum Taurat dan FirmanNya, Tuhan ingin berinteraksi dengan setiap pribadi yang mengasihiNya. Melalui Anak Tunggal Yesus Kristus, Tuhan menegaskan bahwa Ia tidak berubah dalam mengasihi kita, bahkan kasihNya itu semakin menjadi-jadi tak dapat dibendung lagi. Sebab mautlah sebagai buktinya! Setelah Yesus merampungkan tugas besarnya dan naik ke sorga, Roh Kudus melanjutkan usaha kudus ilahi untuk dapat terus memberkati kita. Oh, indahnya hidup dalam persekutuan kasih dengan Tuhan!
Posted Friday, 15 January 2010
Last updated Friday, 15 January 2010
halaman sebelumnya | artikel lainnya | Halaman Depan
http://www.gki.or.id/wap Penggunaan
RSS