Pertobatan Dari Hati Ke Perilaku (Rabu Abu, 17 Februari 2010)
Oleh Pdt. Yohanes Bambang MulyonoRenungan Rabu, 17 Februari 2010
TahunC: Rabu Abu
Warna: Ungu
PERTOBATAN DARI HATI KE PERILAKU
Yl. 2:1-2, 12-17; Mzm. 51:1-17; II Kor. 5:20 – 6:10; Mat. 6:1-6, 16-21
Pengantar
Secara umum sikap pertobatan dipahami sebagai sikap yang jera untuk berbuat dosa. Sebab sikap yang jera
untuk berbuat dosa berarti dia bersedia menghentikan berbagai kebiasaan buruk khususnya tindakan yang melanggar firman Tuhan. Problem yang dihadapi oleh banyak orang adalah umumnya mereka tahu bahwa berbuat dosa merupakan hal yang jahat di mata Tuhan, namun mereka juga tidak tahu bagaimana dapat jera untuk tidak berbuat dosa lagi. Itu sebabnya agar seseorang dapat bertobat, maka agama-agama pada umumnya menciptakan efek jera. Di Perjanjian Lama, kita dapat melihat bagaimana Allah mengaruniakan hukum Taurat, yang menurut tradisi umat Israel berjumlah 613 hukum dengan tujuan agar umat mampu hidup menurut hukum-hukum Allah secara lengkap. Bilamana umat yang semula hanya mampu memenuhi sebagian kecil dari 613 hukum Taurat, berarti mereka dianggap telah meninggalkan perjanjian dengan Allah. Sebab tidaklah dibenarkan umat hanya mentaati beberapa hukum Allah, tetapi mereka juga melanggar sebagian hukum yang lain. Itu sebabnya pelanggaran terhadap perjanjian dengan Allah selalu diberi efek jera, misalnya: hukuman rajam bagi orang yang menyembah berhala (Ul. 17:2-7), atau nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki (Ul. 19:21). Dalam hal ini efek jera kepada umat yang melanggar hukum Allah adalah mereka akan dikenai hukuman fisik yang dilakukan oleh komunitas umat. Tetapi bilamana umat akhirnya mampu memenuhi seluruh 613 hukum Taurat, maka mereka dianggap telah bertobat. Dengan demikian makna pertobatan adalah sikap umat yang sungguh-sungguh jera berbuat dosa, sehingga umat dengan penuh kesadaran mampu melaksanakan setiap hukum Allah dengan setia.
Hukum Allah umumnya dapat ditegakkan manakala para pelanggarnya terbatas. Kesalahan seseorang atau suatu kelompok dapat diganjar dengan hukuman oleh komunitas umat yang lebih luas. Tetapi akan muncul problem
bagaimana bila para pelanggarnya adalah seluruh komunitas umat. Bagaimana hukuman Allah sebagaimana diatur dalam hukum Taurat dapat ditegakkan bilamana seluruh umat bersalah dan melanggar firman Allah? Saat seluruh umat bersalah dan melanggar firman Tuhan, maka pihak penanggungjawab untuk melakukan eksekusi yang sesuai dengan hukum Allah dianggap tidak berfungsi secara efektif. Bahkan mungkin komunitas umat yang telah terbiasa melakukan kesalahan akan menganggap kesalahan mereka sebagai suatu kebenaran. Sebaliknya seseorang yang hidup benar dengan berlaku setia di tengah-tengah komunitas umat yang berbuat jahat justru akan dianggap sebagai “orang yang bermasalah”. Hukum Tuhan yang benar dan suci akan dianggap oleh komunitas umat yang berbuat jahat sebagai hukum yang mengekang kebebasan manusiawinya. Sehingga mereka akan bersikap menolak untuk bertobat dan melakukan pembaharuan hidup. Mereka akan cenderung untuk meneruskan dosa dan kejahatannya sehingga akhirnya menjadi dosa struktural. Dalam kondisi yang demikian, maka hukuman yang efektif untuk memurnikan dosa struktural dalam kehidupan umat tidak dapat ditempuh selain melalui hukuman alam. Lebih khusus lagi Tuhan akan datang sebagai seorang Hakim. Tuhan akan datang untuk mengadili dan menghukum umat yang berdosa agar mereka sungguh-sungguh bertobat, yaitu perubahan dari sikap hati ke perilaku yang benar.
Di Bawah Ancaman Hukuman Allah
Hukuman Allah kepada umat yang melakukan dosa struktural adalah bertujuan untuk memulihkan kehidupan yang
selaras dengan kekudusan Allah. Bentuk hukuman Allah tersebut umumnya terjadi dalam bentuk pemusnahan alam. Ketika umat manusia secara kolektif berdosa dan tidak bersedia mengalami pertobatan, maka Allah akan memberi hukuman seperti yang terjadi dalam zaman Nuh. Jenis dosa yang struktural akan dihukum Allah secara struktural pula. Sebaliknya dosa yang sifatnya pribadi akan dihukum Allah secara pribadi. Di kitab Yoel menyaksikan bagaimana menubuatkan bahwa kelak Allah akan datang untuk menghakimi umat manusia dengan daya pemusnah yang dahsyat, yaitu: “Di depannya bumi gemetar, langit bergoncang; matahari dan bulan menjadi gelap, dan bintang-bintang menghilangkan cahayanya. Dan TUHAN memperdengarkan suara-Nya di depan tentara-Nya. Pasukan-Nya sangat banyak dan pelaksana firman-Nya kuat. Betapa hebat dan sangat dahsyat hari TUHAN! Siapakah yang dapat menahannya?” (Yl. 2:10-11). Isi nubuat nabi Yoel tersebut merupakan suatu berita yang juga dikumandangkan oleh para nabi. Mereka menyebutnya sebagai “hari Tuhan yang dahsyat” (Yes. 13:6, Yeh. 30:3, Ob. 15, Zef. 1:14). Untuk itu umat dipanggil untuk meratap dan menyesal dengan hati yang hancur terhadap dosa-dosa yang telah dilakukannya. Namun timbul pertanyaan, apakah sehat dan benar bilamana umat menyesal dan bertobat karena mereka diperhadapkan dengan hukuman yang dahsyat? Bukankah mereka menyesal dan bertobat bukan karena mereka sungguh-sungguh menyadari akan kesalahannya, tetapi karena perasaan takut menghadapi hukuman Allah?
Jera Karena Takut
Atas dasar kesaksian ayat-ayat Alkitab tersebut di atas, agama-agama bahkan gereja sering memberitakan hukuman Allah saat kedatanganNya yang begitu dahsyat dengan tujuan agar umat jera berbuat dosa. Hukuman Allah diberitakan dengan harapan umat mau bertobat. Kita sering menyaksikan di beberapa program televisi bagaimana suatu kelompok agama sering menakut-nakuti seseorang yang bersalah dengan metode memasukkan dia ke makam atau dibawa ke tempat yang angker. Sehingga dalam ketakutannya yang begitu mengerikan, dia segera menyatakan sikap tobat. Mungkin sejak saat itu dia tidak akan berani lagi melakukan suatu kesalahan atau dosa yang dilarang oleh hukum Allah. Dia takut dengan azab dan sengsara neraka atau hukuman Allah yang mengerikan. Namun apakah dengan sikap pertobatan yang demikian mampu membawa seseorang kepada pertobatan yang sesungguhnya? Bukankah seharusnya makna dari umat yang bertobat bukan didasari oleh ketakutan atau kengerian terhadap hukuman Allah dan api neraka yang mengerikan? Pertobatan yang lahir dari perasaan takut atau ngeri tidak pernah mungkin mampu melahirkan sikap kasih yang sempurna. Surat I Yoh. 4:18 dengan sangat tepat menjelaskan, yaitu: “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih”. Selama sikap kita dikendalikan oleh perasaan takut, maka berbagai tindakan kita yang bernilai mulia dan suci akan menjadi sesuatu yang tidak sempurna. Misalnya tindakan beribadah sangatlah mulia, tetapi ketika kita beribadah karena takut tidak akan memperoleh berkat rezeki, maka ibadah tersebut menjadi sesuatu yang manipulatif. Atau memberi sedekah kepada sesama yang menderita merupakan sesuatu yang luhur akan berubah menjadi tindakan yang manipulatif saat kita memiliki motivasi untuk memperoleh pahala. Mengapa motivasi memperoleh pahala untuk melakukan kebajikan dan kasih tidaklah benar? Karena upaya memperoleh pahala sebenarnya bertujuan agar kita tidak memperoleh hukuman Allah atau hidup yang menderita dalam api neraka. Sehingga kita melakukan perbuatan baik atau kebajikan sekedar untuk menghindar dari murka Allah. Jika demikian, mengapa kita harus berbuat kebajikan dengan selalu dilandasi oleh bayang-bayang hukuman Allah? Makna pertobatan hati pada hakikatnya mampu berbuat kebajikan dan kebenaran yang sesuai dengan kehendak Allah tanpa harus dibayang-bayangi oleh hukuman Allah. Pertobatan hati hanya dilandasi oleh kasih yang sempurna. Dia bertobat karena mengalami kekayaan kasih Allah dalam kehidupannya. Dengan pemahaman teologis yang demikian, bukankah seharusnya Alkitab tidak perlu menyaksikan hukuman yang dahsyat saat kedatangan Tuhan nanti di akhir zaman? Namun, mengapa Alkitab khususnya kitab Yoel harus memberitakan hukuman Allah yang begitu dahsyat?
Koyakkan Hati, Bukan Pakaian
Inti pemberitaan Alkitab tentang hukuman Allah yang dahsyat pada akhir zaman bukanlah ancaman kepada umat manusia. Berita Alkitab tentang hukuman Allah pada hakikatnya hendak menyampaikan bagaimana kekudusan dan keadilan Allah ditegakkan di tengah-tengah realita kehidupan umat manusia yang korup dan berdosa. Dengan demikian, sikap manusia yang seharusnya bukan merasa takut akan hukuman Allah sehingga mereka “terpaksa” berbuat baik atau melakukan hukum-hukum Allah dengan setia. Tetapi seharusnya umat manusia bersedia dengan kasih untuk menyesuaikan pola dan sistem nilai-nilai kehidupannya berdasarkan kekudusan dan keadilan Allah. Namun sayangnya manusia ternyata lebih takut kepada hukuman dan murka Allah dari pada menghadapi kekudusan dan keadilan Allah. Tampaknya kita takut dengan sesuatu yang mampu melukai dan membinasakan diri kita tetapi kita tidak takut melukai hati Allah yang kudus dan adil. Seperti kita takut dengan senjata yang dimiliki oleh pemerintah, tetapi kita tidak takut mengkhianati negara. Padahal selama kita berlaku hormat dan benar kepada pemerintah, kita tidak perlu takut dengan senjata yang dimilikinya. Di surat Roma, rasul Paulus memberi nasihat bagaimana kita harus bersikap kepada pemerintah, yaitu: “Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya” (Rom. 13:3). Demikian pula dengan sikap kita kepada Tuhan. Selama kita berbuat benar sesuai dengan firmanNya, maka tidak ada alasan sedikitpun bagi kita untuk takut dengan hukumanNya. Tetapi karena kita memilih untuk memberontak dan melawan kehendakNya, kita telah melukai hatinya. Sehingga hidup kita berada dalam bayang-bayang hukuman Allah. Untuk menetralisir hukuman Allah tersebut, sering kita berusaha melakukan berbagai perbuatan baik.
Sikap pertobatan hati yang total senantiasa berpusat kepada hati Allah. Yang mana sikap pertobatan hati tidak pernah menempatkan berita hukuman dan murka Allah sebagai bagian yang paling utama. Sebab berita hukuman dan murka Allah hanyalah salah satu bagian dari ekspresi hati Allah yang “terluka” akibat sikap umat yang memberontak dan melawan kehendak Allah. Sehingga umat yang mengalami pertobatan sungguh-sungguh selalu mengungkapkan hati mereka yang remuk di hadapan Allah yang telah mereka lukai dengan perbuatan dosa dan pelanggaran mereka. Dengan demikian makna pertobatan hati mencerminkan kesadaran dan pembaharuan hidup umat yang sifatnya relasional. Pembaharuan atau pertobatan hati berarti kesediaan umat untuk dibaharui dalam hubungan yang personal dengan Allah. Itu sebabnya yang perlu mereka koyak bukanlah pakaian sebagaimana kebiasaan ekspresi umat Israel saat berduka dan menyesal. Tetapi yang perlu mereka koyakkan adalah bagian terdalam, yaitu hati dan jiwa mereka. Di Yoel 2:13, nabi Yoel menyampaikan seruan kepada umat yang hidup dalam pelanggaran dan dosa, yaitu: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya”. Sebab pada hakikatnya Allah mengasihi setiap orang yang bersedia mengaku dosanya dengan hati yang remuk. Apa artinya umat gemar mengoyakkan pakaiannya sebagai tanda penyesalan akan dosanya, tetapi mereka tidak pernah bertobat secara menyeluruh. Demikian pula sikap raja Daud ketika dia ditegur oleh Natan karena telah berzinah dengan Batsyeba. Daud memperlihatkan penyesalan hatinya sehingga dia mengaku dosa di hadapan Allah. Di Mzm. 51:5-6, Daud mengungkapkan pengakuan dosanya di hadapan Allah, yaitu: “Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah”. Dengan pengakuan dosa yang demikian, Daud tidak mau menempatkan pengakuan dosanya hanya dengan menggunakan simbolisasi ritual. Sehingga Daud lebih memilih suatu pengakuan dosa yang lahir dari hati yang hancur dari pada pengakuan dosa dengan ritual mempersembahkan kurban penebus dosa. Sebab Daud percaya, bahwa: “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” (Mzm. 34:19).
Hati umat yang remuk sebab dikoyakkan oleh sikap penyesalan dan pertobatan lebih berkenan di hadirat Allah, sebab di dalam setiap hati yang remuk pada hakikatnya terbuka pintu untuk menerima rahmat Allah. Sebaliknya sikap hati umat yang merasa diri benar di hadapan Allah karena kesalehannya akan menempatkan mereka dalam sikap kebanggaan diri yang semu. Sehingga sikap umat yang tidak menyesali setiap kesalahannya dengan hati yang remuk sebenarnya mereka berupaya mengelabuhi Allah seakan-akan Allah tidak mengetahui isi hati manusia yang paling terdalam. Padahal dalam kekudusan dan keadilanNya, Allah adalah juga sang maha-tahu. Pengakuan dosa dengan hati yang remuk berarti pula umat secara sengaja sungguh-sungguh mengakui kemaha-tahuan Allah pada tempat yang semestinya. Seperti kita lebih menghargai sesama yang berani mengakui kesalahannya secara terbuka dari pada kita menghadapi seseorang yang selalu berkelit dan mencari dalih. Pengakuan dosa dengan hati yang remuk berarti penyingkapan diri yang dilandasi oleh kebenaran batin. Sehingga saat Daud berkata: “Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku”, Daud telah mengakui kemaha-tahuan dan keadilan Allah yang mampu melihat kebenaran batin manusia yang terdalam.
Bukan Pamer, Tapi Pancaran Hati
Pertobatan hati senantiasa lahir dari sanubari yang paling terdalam. Dia memancarkan keotentikan diri. Yang mana pancaran hati tersebut tidak dapat direkayasa. Sehingga pembaharuan hidup yang dipancarkan bukan hasil polesan atau kosmetik diri. Itu sebabnya yang diungkapkan bukan ritual berpuasanya, tetapi pertobatan hati. Tetapi tidak demikian halnya dengan umat yang belum mengalami pertobatan hati. Mereka akan lebih cenderung untuk memamerkan berbagai tindakan atau perilaku kesalehan. Sehingga mereka gemar memperlihatkan kepada publik segala bentuk kegiatan yang berkaitan dengan ritual keagamaan atau perilaku saleh agar dapat memperoleh pujian dan penghormatan. Di Mat. 6:17-18, Tuhan Yesus mengingatkan: “Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu". Menurut Tuhan Yesus, seseorang yang gemar memamerkan kebaikan atau kesalehannya pada hakikatnya telah memperoleh balasan yaitu pujian dari orang-orang di sekitarnya. Jika demikian, mereka tidak berhak memperoleh pujian dan berkat dari Allah. Perilaku pamer diri dan kesalehan tersebut telah cukup memperoleh balasannya dari publik. Selain itu ciri utama dalam sikap pertobatan hati adalah spiritualitas yang tersembunyi. Arti “tersembunyi” di sini jelas menunjuk kepada situasi atau keadaan yang secara sengaja tidak ingin diketahui oleh orang lain. Yang ada di benaknya hanyalah relasi dia dengan Allah. Dia melaksanakan kewajiban agama, memberi sedekah, berdoa dan berpuasa secara tersembunyi di hadapan Allah. Sebab hal melaksanakan kewajiban agama, memberi sedekah, berdoa dan berpuasa merupakan urusan privat atau hubungan personal dia dengan Allah. Sehingga yang mengetahui secara persis setiap perbuatan mulia atau kebajikan yang dilakukan hanyalah Allah. Dia melakukan berbagai perbuatan yang mulia dan benar kepada setiap orang, tetapi hanya Allah saja yang boleh mengetahuinya.
Kehausan manusia yang paling mendasar adalah kebutuhan untuk memperoleh pujian dan penghargaan. Yang mana kehausan tersebut mendorong manusia untuk melakukan berbagai tindakan yang sekiranya dapat memancing perhatian orang banyak. Apakah kehausan untuk memperoleh perhatian tersebut dinyatakan dalam bentuk mode, perhiasan, tingkah-laku yang ekstrem, ritual agama, penggunaan nama/sebutan, penggalangan massa, dan sebagainya. Yang mana kehausan memperoleh pujian tersebut seringkali mengabaikan nilai-nilai etis-moral. Para pelaku yang haus memperoleh pujian tersebut akhirnya sering melupakan harga diri atau identitas diri yang seharusnya. Penyebabnya karena di dalam batinnya yang terdalam dia merasakan kesunyian dan kehampaan. Dia merasa hidupnya tidak berarti. Sebagai kompensasinya adalah dia akan terus-menerus berupaya untuk memperoleh perhatian, dukungan, dan penghargaan dari orang-orang di sekitar. Kalau segala macam cara yang ditempuh dianggap kurang membawa hasil, maka dia akan berupaya lebih jauh lagi dengan mengorbankan apa yang dimilikinya. Misalnya dia akan memperlihatkan sikap yang royal, terlalu murah-hati, dan mengikuti kehendak atau kemauan orang banyak. Padahal landasan etisnya bukan karena dia memiliki sikap yang murah-hati atau kasih, tetapi ketakutan tidak memperoleh perhatian dan dukungan teman. Dengan demikian jelas, bahwa suatu perbuatan baik atau kebajikan tidak boleh dilandasi oleh perasaan takut. Apakah dia takut akan kehilangan dukungan teman, atau juga dia takut memperoleh hukuman dan murka Allah. Semua sikap takut selalu menyebabkan penyimpangan terhadap motif dan tujuan, sehingga dia kehilangan dasar berpijak yang otentik secara etis-iman. Makna pertobatan hati yang diwujudkan dalam perilaku tidak pernah boleh didasari oleh perasaan takut. Sebaliknya pertobatan hati yang diwujudkan dalam perilaku justru bersedia kehilangan apapun, asalkan nama Tuhan dipermuliakan. Selain itu seseorang yang mengalami pertobatan hati juga mampu bersikap wajar, sebab dia tidak pernah dibuat lelah karena kepalsuan dan kemunafikan yang harus selalu diperankan. Seluruh perilaku dan keputusan etisnya didasarkan pada pancaran pertobatan yang keluar dari hati yang telah dibaharui oleh Allah.
Panggilan
Pada hari Rabu sebagai awal dari masa Pra-Paska pada hakikatnya mengajak setiap umat percaya untuk menghayati sikap pertobatan hati yang diwujudkan dalam perilaku. Memang dalam perayaan hari Rabu Abu, kita menggunakan ritual atau ibadah khusus. Tetapi tidak berarti kita menghayati pertobatan secara ritualistik belaka. Pola pertobatan yang ritualistik hanyalah kamuflage dan tidak berarti di hadapan Allah. Sebaliknya melalui ritual yang kita laksanakan pada hari Rabu Abu dan masa Pra-Paska bertujuan untuk membawa kita kepada kesadaran dan pertobatan hati yang paling mendalam. Ibadah hari Rabu Abu menjadi media bagi umat untuk mengalami kasih-karunia Allah dalam karya penebusan Kristus, sehingga mereka mampu mengakui setiap dosa dan kesalahannya dengan hati yang remuk.
Sebagai pembukaan masa Pra-Paska, ibadah hari Rabu Abu dapat menjadi awal bagi kita untuk mengalami karya Allah yang mendamaikan. Di II Kor. 5:20, rasul Paulus berkata: “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah”. Bilamana kita bertobat dengan hati yang hancur, maka pintu rahmat Allah terbuka sehingga hidup kita dipulihkan dan diperdamaikan. Sebaliknya pertobatan yang semu justru membawa kita kepada permusuhan yang semakin dalam dengan Allah dan sesama. Penyebabnya karena pertobatan semu selalu mendorong kita untuk berlaku munafik dan sikap yang membenarkan diri. Yang mana sikap munafik dan membenarkan diri menjadi penghalang bagi setiap orang untuk menemukan kebenaran dan keselamatan Allah. Padahal sikap munafik dan pembenaran diri merupakan penghalang bagi upaya pertobatan. Jika demikian, bagaimanakah sikap saudara? Marilah kita bertobat bukan karena ancaman dan murka Allah, tetapi kita bertobat karena Allah mengasihi kita dengan mengaruniakan Kristus dalam kehidupan kita. Amin.
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com
|
Posted Tuesday, 9 February 2010 Last updated Tuesday, 9 February 2010 |
halaman sebelumnya | artikel lainnya | Halaman Depan |


