Anak Sulungpun Seharusnya Dapat Ikut Bergembira (Pdt. Em. Daud Adiprasetya)
Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 14 Maret 2010
Pra –Paska IV
Seorang psikolog melaporkan sebuah penemuan yang mencengangkan atas hasil surveinya. Ia melakukan interview dengan para narapidana di penjara-penjara Amerika Serikat. Hasilnya, tidak satu pun dari mereka yang mengaku bersalah atas tuduhan yang dijatuhkan kepada mereka. Jawaban klasik yang mereka berikan adalah bahwa mereka berada pada waktu yang salah, di tempat yang salah, dan bertemu dengan orang yang salah. Akhir dari penelitian itu menyimpulkan bahwa sekumpulan terbesar orang yang tidak bersalah akan Anda temukan di dalam penjara. Memang sangat ironis, mengingat tempat yang menampung orang bersalah terbanyak di dunia ini adalah penjara.
Seorang tua berjalan dalam kegelapan malam dan berhenti di bawah sebuah lampu jalanan. Ia terlihat serius mencari-cari sesuatu yang hilang, namun belum juga berhasil menemukan apa yang dicarinya. Kemudian, datang seorang pemuda yang menanyakan, “Apa yang sedang Bapak cari?” Jawab si bapak, “Saya sedang mencari kunci saya yang hilang.” Anak muda itu langsung menawarkan bantuannya untuk mencari kunci tersebut. Setelah satu jam mencari, akhirnya si anak muda pun menyerah. Dengan putus asa ia berkata kepada bapak tua, “Kita telah mencari di semua tempat sekitar sini dan belum juga menemukannya. Apakah Bapak yakin kehilangan kunci itu di sekitar tempat ini?” Orang tua itu menjawab dengan malu, “Oh tidak, kunci itu hilang di rumah, tapi rumah saya tidak memiliki penerangan yang cukup sedangkan tempat ini kelihatannya lebih terang daripada rumah saya.” ( Dari Buku Champion }
Dalam hidup ini kita tentu mempunyai kesalahan, bahkan mungkin kesalahan atau dosa kita itu sangat banyak dan besar. Hanya saja kadang kita tidak menyadari atau sengaja tidak mau memikirkan, apalagi mengakui bahwa bersalah. Sikap itu tentu menimbulkan masalah dalam pergaulan kita dengan sesama dan Tuhan tentunya. Para narapidana di Amerika Serikat itu misalnya. Kesalahan kita juga kadang sudah berubah menjadi suatu kebodohan, sebab sangat keterlaluan. Terlebih lagi jika ditambah dengan tindak-lanjut yang tidak masuk akal dan jauh dari sikap bijaksana. Seperti yang dilakukan oleh pak tua yang kehilangan kunci tadi.
Mari bercermin dari perumpamaan Tuhan Yesus. Dalam Lukas 15:2 kita membaca: Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya:”Ia (Yesus) menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu lupa bahwa mereka itu bukanlah orang-orang suci, malah kejahatannya bisa lebih besar dari pemungut cukai dan anggota masyarakat yang dipandang berdosa. Menanggapi orang-orang yang merasa sok suci, maka Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan ini yang terkenal sampai di seluruh dunia. Ada tiga tokoh penting dalam perumpamaanNya, yaitu: ayah, si bungsu dan si sulung. Lebih dulu akan kita kritik sikap mereka itu, supaya jangan sampai menular dalam hidup kita sekarang.
Si bungsu yang cari perkara. Kita mulai dengan si bungsu yang diam-diam selalu memikirkan warisan orang tuanya, padahal sang ayah masih hidup. Mungkin saja dia mengharapkan ayahnya lekas mampus, tapi karena tak kunjung mati juga maka ia memberanikan diri meminta bagiannya. Terpaksa sang ayah melakukan pembagian warisan di antara mereka berdua. Dalam waktu singkat si bungsu mencairkan warisannya untuk menjadi bekal petualangannya. Bukan untuk berumah tangga atau membuka suatu usaha, tapi hanya untuk pergi ke tempat yang jauh mengejar kesenangan semata. Harta miliknya diboroskan, untuk hal-hal yang tidak perlu, bahkan untuk berfoya-foya dan sangat mungkin berhubungan dengan kehidupan yang kotor. Sesudah terlepas dari pengawasan orang tua, seharusnya dia bisa berhemat demi masa depannya. Pengeluaran tanpa pemasukan pasti berakhir dengan kebangkrutan, apalagi jika terjadi musibah, dalam hal ini bencana kelaparan. Alkitab menyatakan bahwa si bungsu pun mulai melarat! Kita bisa melihat bahwa dosa tidak harus ditandai dengan perbuatan jahat seperti membunuh, mencuri atau berbuat zinah. Di tempat yang jauh dan asing itu si bungsu mungkin saja dikenal sebagai seorang “dermawan” dan baik hati, tapi prilakunya itu tidak bertanggung jawab, bahkan menjurus kepada kebodohan dan dosa! Uang dalam kantongnya itu adalah satu-satunya peninggalan atau warisan dari seorang ayah yang sangat mengasihinya. Di sini seharusnya ada tanggungjawab moral, ada ikatan batiniah yang mendalam antara anak dan ayah. Tapi si bungsu tidak mengasihi ayahnya, dan tidak dapat menghargai pemberiannya. Dengan demikian dia juga telah berdosa kepada Tuhan. Maka dalam penyesalannya ia pun berkata: “Aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa.” Percayalah bahwa Tuhan selalu membuka tangan dan hatiNya. “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi” Mazmur 32:1 Kita dapat memetik beberapa pelajaran dari pengalaman si bungsu. Pertama, Dalam hidup ini kita memang boleh mengadakan “langkah besar” demi idealisme, impian serta cita-cita Tapi kita tidak boleh gegabah! Jangan sampai meninggalkan kesan yang buruk dan melukai hati orang-orang dekat. It’s better to lose your pride, than to lose the one you love. Lebih baik jika kehilangan sesuatu yang kau banggakan, dari pada kehilangan seseorang yang kau cintai. Kedua, Tuhan memang memelihara dan memimpin perjalanan hidup kita, tapi kita harus mau berjuang dan bertahan dalam segala situasi yang terburuk sekali pun. Ketiga, Jika sampai mengalami kegagalan dan penderitaan, pandanglah Tuhan dan bangkitlah! Sebab kita adalah anak yang sangat dikasihi oleh Bapa sorgawi, dan setiap peristiwa yang diizinkan Tuhan menimpa diri kita pasti ada hikmatnya. When something happen to you, good or bad, consider what it means.
Seorang ayah yang merugi, karena kesalahannya sendiri! Jelas bahwa dia kurang menyiapkan anak-anaknya, untuk menjadi orang dewasa yang utuh. Dalam hal ini dia tidak dapat menggambarkan kebaikan Bapa- sorgawi.Tugas orang tua di mana pun adalah mendidik anaknya menjadi dewasa, yang utuh! Kedua anaknya hanya dewasa secara fisik, kiprah dan sikap mereka mengecewakan! Pendidikan rohaniah untuk anak harus diutama, tidak bisa ditawar-tawar lagi dan tidak bisa ditunda atau diambil oper orang lain. Sebenarnya sang ayah tadi sangat mengasihi kedua anaknya, tapi dengan mengabaikan yang satu ini, pendidikan rohaniah, berarti dia sudah mencoret kasihnya itu. Mewariskan harta kepada anak-anaknya bukanlah merupakan prestasi yang membanggakan, sebab masih ada warisan lain yang lebih bernilai tinggi!
Anak sulung yang masgul. Bisa juga: Anak sulung yang kebakaran jenggot! Masgul atau merasa sedih membayangkan adiknya yang bisa hidup bebas dan senang di luar negeri, sedangkan dia terbelenggu oleh pekerjaan rutin yang membosankan. Juga sedih ketika melihat adiknya masih juga disambut dengan hangat, meskipun pulang membawa aib bagi keluarga. Kebakaran jenggot atau kebingungan ketika menyadari bahwa ayahnya dan orang-orang lain dalam rumahnya melimpahi begitu banyak perhatian, kekaguman serta cinta kasih kepada seorang pecundang yang lebih pantas dicaci maki dan diusir! Anak sulung itu seharusnya bisa ikut bergembira ria, sekiranya dia memiliki hati seperti ayahnya. Hati yang selalu merindukan kepulangan si bungsu. Hati yang tersentak girang tatkala mendapati kenyataan bahwa yang sudah dianggap mati, tiba-tiba hidup kembali. Hati yang penuh persediaan maaf dan ampun, hati yang berbelas kasih, tanpa niat sedikit pun untuk menggugat, mengusir apalagi menghukum. Tapi hati yang seperti itu tidak dimiliki sang kakak, sebab dia cuma merasakan kejanggalan pada sikap ayahnya. Anak sulung merasa tidak nyaman, karena dikerumuni rasa iri, gemas dan geram yang menari-nari seperti pemain cadangan yang minta segera di luncurkan ke tengah lapangan bola! Dalam hidup ini saudara kandung bisa lebih jahat dari seorang musuh, dan seorang teman bisa lebih baik dari saudara kandung. Di dalam gereja Tuhan kita telah sepakat untuk menerima setiap orang sebagai saudara kita. Kesepakatan kita jangan cuma di bibir saja, tapi dalam ikatan kasih Kristus mari kita wujud nyatakan terus dari waktu ke waktu. Kalau itu yang terjadi maka kita telah memperoleh keuntungan besar, mempunyai banyak saudara dan saudari seiman dalam keluarga besar Yesus Kristus!
Persaudaraan umat Allah sejak zaman Yosua. Sehubungan dengan ‘cela Mesir’ yaitu dosa para prajurit tatkala keluar dari Mesir, maka lalu diadakan penyunatan massal. Ciri fisik yang menandai sunat itu bersifat permanen, menunjukkan betapa mantapnya perjanjian dengan Tuhan dan persaudaraan umat Tuhan. Dalam Kristus sunat sudah disempurnakan menjadi Baptis Kudus, baik untuk pria maupun wanita. Kolose 2:11,12 “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.” Setelah sunat massal, umat Tuhan juga merayakan Paskah, ditandai dengan makan roti tak beragi. Semua itu mengingatkan bahwa kita mempunyai Tuhan yang suka mengampuni dosa, dan mempersekutukan kita dalam kasih persaudaraan, yang pada saat mengalami kesakitan dan kepahitan justeru semakin dapat bergandeng tangan.
Di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru! Dalam seluruh Alkitab sebenarnya sudah tersurat dan tersirat, kerinduan Tuhan untuk membarui hidup kita. Itu sebabnya maka Kristus telah berjuang dan berhasil meletakkan dasar yang kokoh, ketika Dia menjadi pendamai di antara kita dengan Allah dan sesama. Dengan demikian di dalam Kristus kita bisa menjadi ciptaan baru, yang tidak lagi berorientasi kepada yang lapuk. Perumpamaan anak yang hilang juga menyimpan pesan agar setiap orang bersedia menjadi bagian dari ciptaan baru. Bukan hanya ayah dan si bungsu saja yang dapat bergembira, anak sulung pun seharusnya dapat ikut bergembira, sebab ciptaan baru harus ditandai dengan hidup sukacita, di tengah keluarga, di dalam jemaat Tuhan, di tempat kerja dan di mana pun!
Renungan Minggu, 14 Maret 2010
Pra –Paska IV
'ANAK SULUNG' PUN SEHARUSNYA DAPAT IKUT BERGEMBIRA
Yosua 5:9-12 Mazmur 32 II Korintus 5:16-21 Lukas 15:1-3,11b-32
Yosua 5:9-12 Mazmur 32 II Korintus 5:16-21 Lukas 15:1-3,11b-32
Seorang psikolog melaporkan sebuah penemuan yang mencengangkan atas hasil surveinya. Ia melakukan interview dengan para narapidana di penjara-penjara Amerika Serikat. Hasilnya, tidak satu pun dari mereka yang mengaku bersalah atas tuduhan yang dijatuhkan kepada mereka. Jawaban klasik yang mereka berikan adalah bahwa mereka berada pada waktu yang salah, di tempat yang salah, dan bertemu dengan orang yang salah. Akhir dari penelitian itu menyimpulkan bahwa sekumpulan terbesar orang yang tidak bersalah akan Anda temukan di dalam penjara. Memang sangat ironis, mengingat tempat yang menampung orang bersalah terbanyak di dunia ini adalah penjara.
Seorang tua berjalan dalam kegelapan malam dan berhenti di bawah sebuah lampu jalanan. Ia terlihat serius mencari-cari sesuatu yang hilang, namun belum juga berhasil menemukan apa yang dicarinya. Kemudian, datang seorang pemuda yang menanyakan, “Apa yang sedang Bapak cari?” Jawab si bapak, “Saya sedang mencari kunci saya yang hilang.” Anak muda itu langsung menawarkan bantuannya untuk mencari kunci tersebut. Setelah satu jam mencari, akhirnya si anak muda pun menyerah. Dengan putus asa ia berkata kepada bapak tua, “Kita telah mencari di semua tempat sekitar sini dan belum juga menemukannya. Apakah Bapak yakin kehilangan kunci itu di sekitar tempat ini?” Orang tua itu menjawab dengan malu, “Oh tidak, kunci itu hilang di rumah, tapi rumah saya tidak memiliki penerangan yang cukup sedangkan tempat ini kelihatannya lebih terang daripada rumah saya.” ( Dari Buku Champion }
Dalam hidup ini kita tentu mempunyai kesalahan, bahkan mungkin kesalahan atau dosa kita itu sangat banyak dan besar. Hanya saja kadang kita tidak menyadari atau sengaja tidak mau memikirkan, apalagi mengakui bahwa bersalah. Sikap itu tentu menimbulkan masalah dalam pergaulan kita dengan sesama dan Tuhan tentunya. Para narapidana di Amerika Serikat itu misalnya. Kesalahan kita juga kadang sudah berubah menjadi suatu kebodohan, sebab sangat keterlaluan. Terlebih lagi jika ditambah dengan tindak-lanjut yang tidak masuk akal dan jauh dari sikap bijaksana. Seperti yang dilakukan oleh pak tua yang kehilangan kunci tadi.
Mari bercermin dari perumpamaan Tuhan Yesus. Dalam Lukas 15:2 kita membaca: Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya:”Ia (Yesus) menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu lupa bahwa mereka itu bukanlah orang-orang suci, malah kejahatannya bisa lebih besar dari pemungut cukai dan anggota masyarakat yang dipandang berdosa. Menanggapi orang-orang yang merasa sok suci, maka Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan ini yang terkenal sampai di seluruh dunia. Ada tiga tokoh penting dalam perumpamaanNya, yaitu: ayah, si bungsu dan si sulung. Lebih dulu akan kita kritik sikap mereka itu, supaya jangan sampai menular dalam hidup kita sekarang.
Si bungsu yang cari perkara. Kita mulai dengan si bungsu yang diam-diam selalu memikirkan warisan orang tuanya, padahal sang ayah masih hidup. Mungkin saja dia mengharapkan ayahnya lekas mampus, tapi karena tak kunjung mati juga maka ia memberanikan diri meminta bagiannya. Terpaksa sang ayah melakukan pembagian warisan di antara mereka berdua. Dalam waktu singkat si bungsu mencairkan warisannya untuk menjadi bekal petualangannya. Bukan untuk berumah tangga atau membuka suatu usaha, tapi hanya untuk pergi ke tempat yang jauh mengejar kesenangan semata. Harta miliknya diboroskan, untuk hal-hal yang tidak perlu, bahkan untuk berfoya-foya dan sangat mungkin berhubungan dengan kehidupan yang kotor. Sesudah terlepas dari pengawasan orang tua, seharusnya dia bisa berhemat demi masa depannya. Pengeluaran tanpa pemasukan pasti berakhir dengan kebangkrutan, apalagi jika terjadi musibah, dalam hal ini bencana kelaparan. Alkitab menyatakan bahwa si bungsu pun mulai melarat! Kita bisa melihat bahwa dosa tidak harus ditandai dengan perbuatan jahat seperti membunuh, mencuri atau berbuat zinah. Di tempat yang jauh dan asing itu si bungsu mungkin saja dikenal sebagai seorang “dermawan” dan baik hati, tapi prilakunya itu tidak bertanggung jawab, bahkan menjurus kepada kebodohan dan dosa! Uang dalam kantongnya itu adalah satu-satunya peninggalan atau warisan dari seorang ayah yang sangat mengasihinya. Di sini seharusnya ada tanggungjawab moral, ada ikatan batiniah yang mendalam antara anak dan ayah. Tapi si bungsu tidak mengasihi ayahnya, dan tidak dapat menghargai pemberiannya. Dengan demikian dia juga telah berdosa kepada Tuhan. Maka dalam penyesalannya ia pun berkata: “Aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa.” Percayalah bahwa Tuhan selalu membuka tangan dan hatiNya. “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi” Mazmur 32:1 Kita dapat memetik beberapa pelajaran dari pengalaman si bungsu. Pertama, Dalam hidup ini kita memang boleh mengadakan “langkah besar” demi idealisme, impian serta cita-cita Tapi kita tidak boleh gegabah! Jangan sampai meninggalkan kesan yang buruk dan melukai hati orang-orang dekat. It’s better to lose your pride, than to lose the one you love. Lebih baik jika kehilangan sesuatu yang kau banggakan, dari pada kehilangan seseorang yang kau cintai. Kedua, Tuhan memang memelihara dan memimpin perjalanan hidup kita, tapi kita harus mau berjuang dan bertahan dalam segala situasi yang terburuk sekali pun. Ketiga, Jika sampai mengalami kegagalan dan penderitaan, pandanglah Tuhan dan bangkitlah! Sebab kita adalah anak yang sangat dikasihi oleh Bapa sorgawi, dan setiap peristiwa yang diizinkan Tuhan menimpa diri kita pasti ada hikmatnya. When something happen to you, good or bad, consider what it means.
Seorang ayah yang merugi, karena kesalahannya sendiri! Jelas bahwa dia kurang menyiapkan anak-anaknya, untuk menjadi orang dewasa yang utuh. Dalam hal ini dia tidak dapat menggambarkan kebaikan Bapa- sorgawi.Tugas orang tua di mana pun adalah mendidik anaknya menjadi dewasa, yang utuh! Kedua anaknya hanya dewasa secara fisik, kiprah dan sikap mereka mengecewakan! Pendidikan rohaniah untuk anak harus diutama, tidak bisa ditawar-tawar lagi dan tidak bisa ditunda atau diambil oper orang lain. Sebenarnya sang ayah tadi sangat mengasihi kedua anaknya, tapi dengan mengabaikan yang satu ini, pendidikan rohaniah, berarti dia sudah mencoret kasihnya itu. Mewariskan harta kepada anak-anaknya bukanlah merupakan prestasi yang membanggakan, sebab masih ada warisan lain yang lebih bernilai tinggi!
Anak sulung yang masgul. Bisa juga: Anak sulung yang kebakaran jenggot! Masgul atau merasa sedih membayangkan adiknya yang bisa hidup bebas dan senang di luar negeri, sedangkan dia terbelenggu oleh pekerjaan rutin yang membosankan. Juga sedih ketika melihat adiknya masih juga disambut dengan hangat, meskipun pulang membawa aib bagi keluarga. Kebakaran jenggot atau kebingungan ketika menyadari bahwa ayahnya dan orang-orang lain dalam rumahnya melimpahi begitu banyak perhatian, kekaguman serta cinta kasih kepada seorang pecundang yang lebih pantas dicaci maki dan diusir! Anak sulung itu seharusnya bisa ikut bergembira ria, sekiranya dia memiliki hati seperti ayahnya. Hati yang selalu merindukan kepulangan si bungsu. Hati yang tersentak girang tatkala mendapati kenyataan bahwa yang sudah dianggap mati, tiba-tiba hidup kembali. Hati yang penuh persediaan maaf dan ampun, hati yang berbelas kasih, tanpa niat sedikit pun untuk menggugat, mengusir apalagi menghukum. Tapi hati yang seperti itu tidak dimiliki sang kakak, sebab dia cuma merasakan kejanggalan pada sikap ayahnya. Anak sulung merasa tidak nyaman, karena dikerumuni rasa iri, gemas dan geram yang menari-nari seperti pemain cadangan yang minta segera di luncurkan ke tengah lapangan bola! Dalam hidup ini saudara kandung bisa lebih jahat dari seorang musuh, dan seorang teman bisa lebih baik dari saudara kandung. Di dalam gereja Tuhan kita telah sepakat untuk menerima setiap orang sebagai saudara kita. Kesepakatan kita jangan cuma di bibir saja, tapi dalam ikatan kasih Kristus mari kita wujud nyatakan terus dari waktu ke waktu. Kalau itu yang terjadi maka kita telah memperoleh keuntungan besar, mempunyai banyak saudara dan saudari seiman dalam keluarga besar Yesus Kristus!
Persaudaraan umat Allah sejak zaman Yosua. Sehubungan dengan ‘cela Mesir’ yaitu dosa para prajurit tatkala keluar dari Mesir, maka lalu diadakan penyunatan massal. Ciri fisik yang menandai sunat itu bersifat permanen, menunjukkan betapa mantapnya perjanjian dengan Tuhan dan persaudaraan umat Tuhan. Dalam Kristus sunat sudah disempurnakan menjadi Baptis Kudus, baik untuk pria maupun wanita. Kolose 2:11,12 “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.” Setelah sunat massal, umat Tuhan juga merayakan Paskah, ditandai dengan makan roti tak beragi. Semua itu mengingatkan bahwa kita mempunyai Tuhan yang suka mengampuni dosa, dan mempersekutukan kita dalam kasih persaudaraan, yang pada saat mengalami kesakitan dan kepahitan justeru semakin dapat bergandeng tangan.
Di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru! Dalam seluruh Alkitab sebenarnya sudah tersurat dan tersirat, kerinduan Tuhan untuk membarui hidup kita. Itu sebabnya maka Kristus telah berjuang dan berhasil meletakkan dasar yang kokoh, ketika Dia menjadi pendamai di antara kita dengan Allah dan sesama. Dengan demikian di dalam Kristus kita bisa menjadi ciptaan baru, yang tidak lagi berorientasi kepada yang lapuk. Perumpamaan anak yang hilang juga menyimpan pesan agar setiap orang bersedia menjadi bagian dari ciptaan baru. Bukan hanya ayah dan si bungsu saja yang dapat bergembira, anak sulung pun seharusnya dapat ikut bergembira, sebab ciptaan baru harus ditandai dengan hidup sukacita, di tengah keluarga, di dalam jemaat Tuhan, di tempat kerja dan di mana pun!
|
Posted Monday, 1 March 2010 Last updated Monday, 1 March 2010 |
halaman sebelumnya | artikel lainnya | Halaman Depan |


