Bapa Yang Rahmani (Minggu Pra-Paskah IV, 14 Maret 2010)
Oleh Pdt. Yohanes Bambang MulyonoRenungan Minggu, 14 Maret 2010
Tahun C: Pra-Paska IV
Warna: Ungu
Bapa Yang Rahmani
Yos. 5:9-12; Mzm. 32; II Kor. 5:16-21; Luk. 15:1-3, 11b-32
Pengantar
Martin Luther (10 November 1483 – 18 Februari 1546), bapa reformator gereja saat menjadi rahib pernah
mengalami kesulitan untuk mengucapkan doa “Bapa Kami”. Tentunya problem yang dia hadapi bukan karena Martin Luther kesulitan untuk menghafal dan melafalkan doa “Bapa Kami”. Tetapi problem yang dihadapi oleh Martin Luther bersifat psikologis dan teologis. Dia mengalami kesulitan untuk membayangkan Allah sebagai seorang “bapa”. Sebab setiap saat Martin Luther mengucapkan “Bapa Kami di surga”, dia langsung teringat sikap ayahnya yang bernama Hans Luther. Tampaknya Hans Luther telah mendidik anak-anaknya dengan sikap yang kasar dan melukai hati mereka. Dalam hal ini hati Martin Luther telah tergores cukup dalam sikap dan perilaku ayahnya. Luka-luka batin itulah yang merusak persepsinya tentang sosok seorang ayah. Sehingga di alam bawah sadar Martin Luther terbentuk sosok yang negatif setiap tokoh ayah, termasuk gelar Allah sebagai Bapa.
Persepsi Tentang Allah
Gambaran negatif terhadap sosok seorang ayah inilah yang menyulitkan Martin Luther untuk memahami sosok Allah sebagai seorang “Bapa”. Dengan kata lain, saat persepsi atau “mind-set” kita sering dirusakkan oleh luka-luka batin, maka kita akan mengalami kesulitan untuk menafsirkan realita kehidupan secara benar. Seperti halnya seorang anak kecil yang sering melihat ibunya sering disiksa oleh ayahnya, maka terbentuklah suatu pemahaman bahwa setiap laki-laki adalah jahat. Dianggapnya setiap laki-laki selalu bersikap kasar, kejam dan sewenang-wenang. Apalagi bilamana seorang anak pernah mengalami pelecehan seksual dan siksaan yang kejam dari ayahnya! Dengan demikian terlihat bahwa persepsi dan “mind-set” setiap orang dipengaruhi oleh pengalaman dan latar-belakangnya. Lebih khusus lagi, setiap orang saat mereka masih kecil memiliki “ideal-ego” terhadap orang-tuanya. Apabila mereka memperoleh “ideal ego” yang positif dari orang-tuanya, maka umumnya mereka lebih mampu bersikap positif saat mereka dewasa. Sebaliknya apabila mereka memperoleh “ideal-ego” yang buruk dari orang-tuanya, maka mereka cenderung bersikap negatif dan destruktif. Bahkan pola “ideal-ego” yang telah terbentuk berpengaruh pula terhadap sosok dan karakter Allah. Singkatnya, sosok dan karakter Allah sering diperoleh oleh manusia berdasarkan pengalaman dan persepsinya.
Karena itu tidaklah mengherankan jikalau Ludwig Andreas von Feuerbach (28 Juli 1804 – 13 September 1872) membangun suatu teori filsafat, bahwa keberadaan Allah pada hakikatnya diciptakan oleh manusia. Menurut Feuerbach,
keberadaan Allah sebenarnya hasil proyeksi manusia. Feuerbach menyatakan: “God is nothing else than man: he is, so to speak, the outward projection of man's inward nature” (Allah tidak lain dari manusia: Allah dibahas sebagai hasil proyeksi luar dari sifat batin manusia). Dalam pemikiran Feuerbach, sebenarnya keberadaan Allah itu tidak ada. Kalau kemudian Allah itu ada sebenarnya merupakan hasil pantulan batin manusia belaka. Jadi bilamana batin manusia itu baik dan bijaksana, maka muncullah gambaran yang lebih abstrak tentang keberadaan Allah yang baik dan bijaksana. Sebaliknya bilamana batin manusia itu penuh dengan kekerasan, otoriter dan sewenang-wenang maka pastilah muncul gambaran dan sosok Allah yang demikian. Bagi Feuerbach, manusialah yang menciptakan Allah dalam otaknya. Keberadaan Allah yang dihayati oleh agama-agama hanya sebagai hasil ciptaan dan pantulan batin manusia. Untuk itu manusia haruslah menciptakan gambaran Allah yang sempurna. Feuerbach menyatakan: “a God who is not benevolent, not just, not wise, is no God” (suatu Allah yang tidak baik hati, tidak adil, tidak bijaksana, adalah bukan Allah). Sehingga dengan gambaran dan karakter Allah yang sempurna itu, manusia dapat memperbaiki keadaan batinnya yang kurang baik. Jelaslah bahwa Feuerbach menempatkan makna keberadaan Allah sebagai hasil ciptaan pikiran dan proyeksi batin manusia belaka. Yang mana Feuerbach melupakan satu hal yang prinsip yaitu, siapakah pencipta yang menciptakan otak manusia. Juga siapakah yang menganugerahi manusia akal budi, moralitas, etika dan hati-nurani. Sebaliknya konsep Allah sebagai Bapa yang rahmani dalam iman Kristen adalah karena penyataan Allah di dalam diri Yesus Kristus. Melalui Kristus sebagai Anak Allah, kita dapat mengenal Allah sebagai Bapa.
Gambaran Relasi Allah Dengan UmatNya
Dalam perumpamaanNya, Tuhan Yesus menjelaskan bagaimana karakter Allah sebagai Bapa. Tolok-ukur karakter manusia berkaitan dengan dengan relasi dengan sesamanya. Tanpa melalui relasi dengan orang lain, maka kita tidak akan dapat menyingkapkan jati-diri kita yang sesungguhnya. Sebab melalui relasi yang personal, setiap orang
akan mengungkapkan dan mengeskpresikan isi karakter dan kepribadiannya. Sehingga melalui relasi dengan sesama, kita mengungkapkan dimensi keunikan diri selaku individu. Untuk tujuan itulah Tuhan Yesus melukiskan dalam perumpamaanNya, 2 sifat utama manusia yang digambarkan dalam kepribadian anak yang bungsu dan yang sulung. Namun pada pihak lain melalui sifat dan karakter anak yang bungsu dan yang sulung tersebut tersingkaplah karakter utama Allah sebagai Bapa yang rahmani. Dengan demikian, dalam perumpamaan Tuhan Yesus di Luk. 15:11-32 terlihat 3 karakter utama yaitu melalui tokoh Allah sebagai Bapa yang rahmani, anak bungsu yang mewakili umat yang berdosa dan anak sulung yang mewakili kelompok orang yang merasa diri benar dan saleh. Penggambaran ketiga karakter utama tersebut terlihat di Luk. 15:1-2, yaitu bagaimana para pemungut cukai dan orang-orang berdosa datang menemui Tuhan Yesus; dan di lain pihak bagaimana orang-orang Farisi dan ahli Taurat bersikap kesal dengan bersungut-sungut dengan berkata: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka". Sehingga perumpamaan Tuhan di Luk. 15:11-32 jelas menunjukkan paralelisme karakter anak yang bungsu mewakili para pemungut cukai dan orang-orang berdosa; di pihak lain karakter anak yang sulung mewakili orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Namun dari kedua kelompok/karakter tersebut, ternyata yang mau datang menemui Tuhan Yesus hanyalah umat yang merasa dirinya berdosa. Jadi sikap Tuhan Yesus yang mau menerima umat yang berdosa pada hakikatnya menggambarkan sikap Allah sebagai Bapa yang rahmani.
Pemahaman Feuerbach tentang Allah dengan iman Kristen jelas beda. Feuerbach menegaskan keberadaan Allah hanyalah sebagai hasil proyeksi atau ciptaan batin manusia. Sebaliknya iman Kristen menegaskan keberadaan Allah dinyatakan melalui relasi personal Allah dengan umat ciptaanNya. Tentu makna keberadaan Allah sebagai hasil proyeksi manusia adalah keberadaan semu atau keberadaan tipuan belaka. Allah yang demikian tidak mampu
mengaruniakan keselamatan, kebebasan, dan pembaharuan hidup. Lebih tepat “allah” yang demikian identik dengan idol atau berhala-berhala yang diciptakan oleh manusia. Sehingga sifat, karakter dan peran “allah” senantiasa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan manusia. Padahal seharusnya manusia selaku ciptaan harus menyesuaikan diri dengan pola dan sistem nilai yang dikehendaki oleh Allah. Tetapi tidak demikian ciri yang mendasar dari keberadaan Allah yang sejati. Keberadaan Allah yang sejati adalah Allah yang berkenan menyingkapkan diriNya dalam relasi yang personal. Allah yang sejati adalah keberadaan ilahi yang berkenan mentransformasikan dan melayakkan manusia yang sesungguhnya tidak layak. Sehingga melalui penyataan diriNya di dalam Kristus, Allah menawarkan realitas yang baru, yaitu suatu realitas keberadaan dan karakter yang melampaui (transcendence, beyond) sifat-sifat umat manusia yang diwakili oleh tokoh anak yang bungsu dan anak yang sulung. Allah yang transenden inilah yang menjadi imanen dan nyata di dalam diri Kristus, sehingga kerahiman Allah menyentuh secara eksistensial dan personal dalam kehidupan umat manusia. Dengan demikian tujuan utama dari perumpamaan Tuhan Yesus di Luk. 15:11-32 adalah agar manusia mengakui otoritas dan kuasa Allah sebagai Bapa yang penuh rahmani, yang mana Allah berkenan mengasihi dan mengampuni setiap orang yang berdosa dan tidak ada seorangpun yang ditolakNya. Karena itu di dalam Kristus, seluruh gambaran Allah yang telah dibuat dan “ditempelkan” atau “dikenakan” manusia segera dieliminir. Sosok diri Allah yang kejam, sewenang-wenang dan pembalas dendam terkikis habis dalam peristiwa penyataan Kristus. Jadi di dalam Kristus, kita menemukan sosok diri Allah yang murni, yaitu Allah yang telah menciptakan dan memelihara umat dengan anugerah kasihNya. Bahkan di dalam Kristus, kita dapat mengalami Allah yang pengampun dengan kerelaanNya untuk menderita dan wafat bagi kita.
Pemberi Pilihan
Berulangkali orang menanyakan penyebab penderitaan dalam hubungannya dengan Allah yang maha-kuasa. Bila Allah maha-kuasa, mengapa timbul penderitaan dalam kehidupan manusia. Juga bila Allah maha-adil, mengapa terjadi ketidakadilan. Pertanyaan “theodicy” tersebut memang tidak mudah untuk menjawabnya dengan tuntas. Tetapi pertanyaan-pertanyaan tersebut juga perlu diimbangi dengan pertanyaan etis, yaitu: sejauh manakah umat manusia telah mempertanggungjawabkan kehendak bebas dan pilihannya? Sebab bukankah begitu banyak penderitaan dan kesusahan yang disebabkan oleh ulah dan keputusan manusia sendiri? Di Luk. 15:12 menyaksikan bagaimanakah sikap anak yang bungsu, yaitu: “Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka”. Anak bungsu tersebut mengambil pilihan dan keputusan, yaitu meminta haknya. Menurut adat-istiadat orang Yahudi, yang boleh diminta seorang anak pada waktu ayahnya masih hidup adalah harta yang bergerak, seperti: uang, perhiasan dan ternak. Sebab harta yang tidak bergerak seperti: rumah dan tanah tidak dapat dibagi (Im. 25:23). Jumlah yang diterima anak yang bungsu hanyalah ⅓ bagian dari kekayaan ayahnya. Sedangkan anak yang sulung memperoleh ⅔ bagian (Ul. 21:17). Sehingga dengan harta yang telah diperolehnya, anak yang bungsu tersebut dapat leluasa untuk memenuhi keinginannya. Dia pergi meninggalkan kota kelahirannya dan menggunakan uang warisan ayahnya untuk berfoya-foya dengan teman-temannya. Dalam waktu singkat, uang warisan yang begitu besar menjadi ludes. Lebih malang lagi, negeri asing di mana anak bungsu itu tinggal tiba-tiba mengalami bencana kelaparan. Sehingga anak yang bungsu tersebut terlunta-lunta dan tidak mampu membeli makanan yang dibutuhkan. Begitu mengenaskan keadaan anak bungsu itu, sehingga dia hanya dipercaya untuk menjaga babi. Tetapi karena dia begitu lapar, maka anak bungsu tersebut segera makan apa yang sebenarnya najis bagi orang Yahudi. Anak bungsu tersebut makan makanan babi. Hewan babi jelas najis bagi umat Yahudi, apalagi si anak bungsu tersebut makan makanan babi. Anak bungsu tersebut telah menempatkan dirinya seperti kawanan babi. Jadi penderitaan yang dialami oleh anak yang bungsu tersebut jelas merupakan hasil pilihannya sendiri.
Namun dalam menghadapi penderitaan dan kesusahan, kita cenderung mempersoalkan kemaha-kuasaan dan keadilan Allah. Padahal kita sering menuai dari apa yang telah kita tabur. Tampaknya kita lebih mudah mengingat setiap penderitaan yang kita alami dari pada mengingat setiap dosa dan kesalahan yang pernah kita perbuat. Sehingga timbullah persepsi yang kabur dan pincang, seakan-akan hidup kita telah benar dan tak layak mengalami penderitaan. Pandangan kita akan menjadi lebih obyektif, jikalau kita mau menempatkan setiap penderitaan yang kita alami di tengah-tengah konteks hasil pilihan etis dan keputusan moral kita. Bilamana kita menyadari arti dari setiap pilihan dan keputusan etis, maka seharusnya kita juga dimampukan untuk menyadari konsekuensi-konsekuensinya. Sayangnya kita sering tidak berpikir panjang dan bijaksana saat mau mengambil keputusan. Padahal setelah kejadian tersebut telah berlalu, barulah kita sadari bahwa keputusan dan respon kita tidaklah benar. Karena itu kemudian kita harus menanggung banyak kesusahan dan penderitaan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Seandainya anak yang bungsu tersebut tidak meminta haknya untuk berfoya-foya, maka pastilah anak yang bungsu itu akan tetap tinggal bersama ayah dan kakaknya dengan sejahtera. Tetapi anak bungsu tersebut lebih memilih terpisah atau putusnya relasi dengan ayah dan kakaknya. Seperti halnya umat manusia yang lebih memilih jauh meninggalkan Allah dari pada mereka hidup dalam persekutuan dengan Allah. Mereka menganggap kenikmatan dunia mampu memberi kebahagiaan. Memang kesadaran akan kebenaran sering datang terlambat. Dalam hal ini dorongan keinginan dan hawa-nafsu kita ternyata mampu bergerak lebih cepat dari pada proses kesadaran diri.
Kesadaran Diri Di Tengah Makanan Babi
Saat anak yang bungsu tersebut terlunta-lunta dan dengan terpaksa dia makan ampas babi, di situlah anak yang bungsu itu teringat akan seluruh kebaikan dan kasih bapanya. Di Luk. 15:18-19 menyaksikan: “Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa”. Di saat dia berada dalam situasi yang bangkrut, najis dan di titik yang paling rendah seperti kawanan babi; di situlah dia menemukan dirinya untuk kembali kepada bapanya. Anak yang bungsu itu kemudian menyadari keberdosaannya secara menyeluruh, yaitu berdosa terhadap sorga dan ayahnya. Namun di titik nadir itulah anak yang bungsu mampu melihat dengan penuh harapan akan kemurahan dan belas-kasihan ayahnya. Dia kemudian bangkit meninggalkan kandang babi di mana dia bekerja menuju rumah ayahnya. Bukankah kisah kesadaran dan pertobatan anak yang bungsu tersebut melampaui dan juga bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh Feuerbach? Karena menurut Feuerbach, sosok Allah yang penuh kasih tidaklah mungkin dihasilkan atau dipantulkan oleh batin manusia yang sedang terpuruk. Seharusnya yang muncul di benak anak yang bungsu itu adalah gambaran seorang ayah yang bengis dan penghukum bagi setiap kesalahannya. Situasi terlunta-lunta dengan hina dan najis seharusnya menghasilkan gambaran tentang diri Allah yang tidak berbelas-kasihan. Kalau gambaran tentang Allah demikian, maka pastilah yang dilakukan oleh anak bungsu itu adalah dia akan memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Tetapi melalui perumpamaan tersebut Tuhan Yesus justru menunjukkan sosok diri Allah yang begitu rahmani. Yang mana Allah yang rahmani itu adalah Allah yang menyatakan diriNya sebagai seorang Bapa. Sehingga anak bungsu itu dengan penuh percaya diri pulang ke rumah untuk menjumpai ayahnya.
Dalam kehidupan sehari-hari proses penyadaran diri kita sering terhalang oleh mekanisme pembenaran diri (defence of mechanism) dan anggapan-anggapan yang keliru/sesat tentang harta milik. Sehingga mata rohani kita tidak mampu melihat dengan jeli dan kritis realitas keberadaan diri kita. Tepatnya mata rohani kita sering dibutakan, – kita tidak mampu melihat apa yang seharusnya dilihat atau mengerti apa yang seharusnya patut dimengerti. Itu sebabnya kita sering mengambil keputusan dengan sikap “gelap mata” atau hati-nurani yang terbungkam. Seperti anak bungsu tersebut, kita meminta hak kepada Allah untuk memberikan karunia atau berkatNya, tetapi kemudian kita pergi meninggalkan Dia. Yang mana karunia dan berkat Allah tersebut kita salah gunakan hanya untuk memuaskan hawa nafsu dunia dan kepentingan diri sendiri. Namun di saat hidup kita runtuh total dan tidak ada lagi tempat berpegang, di situlah kita dimampukan untuk menyadari betapa bodoh dan jahatnya diri kita. Kita yakin bahwa kesadaran tersebut terjadi karena anugerah Allah yang mengasihi diri kita. Kisah perumpamaan Tuhan Yesus tersebut cukup melegakan, karena anak bungsu itu segera menyadari akan seluruh kesalahannya. Tetapi betapa sering kita jumpai cukup banyak orang yang terlambat untuk menyadari kesalahan dan kepicikan hatinya. Mereka baru menyadari kesalahannya saat menghadapi sekarat maut. Tetapi ternyata kemudian mereka tidak sempat mengungkapkan penyesalan dan pengakuan dosanya kepada Tuhan, karena kematian segera merenggut diri mereka. Mereka juga tidak sempat untuk meminta maaf kepada orang-orang di sekeliling yang telah terluka dengan perbuatan dan sikap mereka. Bahkan beberapa orang justru semakin mengeraskan hati saat mereka menghadapi penderitaan dan sakit yang parah akibat ulah perbuatan mereka sendiri. Hati nurani mereka sama sekali tidak terketuk dan menyesal untuk bertobat sebagaimana yang telah dilakukan oleh anak yang bungsu dalam perumpamaan Tuhan Yesus. Dengan kata lain, mereka tidak mengalami kesadaran diri di saat mereka sedang berada di titik nadir dan najis sebagaimana yang dialami oleh anak bungsu. Mereka tetap tegar tengkuk dan sombong di saat mereka membutuhkan pengampunan Allah. Penyebabnya mereka tidak mau memandang kemurahan hati dan kasih Allah yang rahmani. Tetapi mereka lebih suka memandang ke arah kepahitan, kesusahan dan penderitaan mereka sendiri.
Anugerah Pemulihan
Anugerah Allah yang memulihkan sering tidak dapat kita alami, karena kita cenderung meragukan dan membatasiNya. Namun ketika anak bungsu tersebut menghampiri ayahnya, ternyata sang ayah telah menunggu kedatangannya. Dengan serta-merta sang ayah berlari menghampiri anak bungsunya dan memeluk dia dengan kasih sayang yang tidak berubah. Seluruh penyesalan dan pengakuan dosa anak bungsunya ditenggelamkan ke dalam kerahiman kasihnya. Demikian pula sikap Allah kepada diri kita. Walaupun pakaian rohani kita compang-camping, badan kita sangat bau dan kotor; tetapi tidak pernah menghalangi anugerah pengampunanNya. Lebih jauh lagi anak bungsu tersebut menerima jubah, cincin dan sepatu dari ayahnya (Luk. 15:22) Makna jubah menunjukkan kehormatan dan kedudukan dia sebagai seorang anak telah dipulihkan. Cincin menunjukkan pertalian kasih yang terputus dapat disatukan kembali; dan sepatu menunjukkan bahwa dia dipulihkan ayahnya untuk menjadi seorang tuan bagi para pekerja yang bekerja di rumah ayahnya. Anugerah pemulihan Allah bagi umat yang menyesal dan bertobat bersifat total. Bahkan untuk menyambut kedatangan kita, Allah berkenan mengadakan suatu perjamuan besar. Di Luk. 15:23, sang bapa berkata kepada para pegawainya: “Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita”. Respon Allah terhadap umat yang bertobat tidak pernah menyambut mereka dengan sikap yang sinis dan memandang rendah; tetapi Allah selalu menyambutnya dengan sukacita yang besar. Yang mana sikap Allah tersebut sangat berbeda dengan sikap orang-orang dunia dalam menyambut seseorang yang pernah melakukan kesalahan yang besar. Mereka sering mengungkit kembali setiap kesalahan yang sebenarnya telah diampuni Allah, atau menunjukkan sikap yang meremehkan. Seakan-akan seseorang yang pernah bersalah, maka pastilah seluruh hidupnya akan tetap hitam kelam. Padahal mereka yang pernah terpuruk dan menyesal justru sering mampu bangkit dengan anugerah Allah untuk melakukan hal-hal yang lebih besar dan mulia dari pada mereka yang merasa diri hidup selalu benar dan lebih baik dari pada orang lain.
Di dalam karya penebusan Kristus, kita tidak hanya memperoleh pengampunan atas dosa-dosa kita tetapi juga Allah berkenan mengangkat kita menjadi anak-anakNya. Itu sebabnya rasul Paulus berkata: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (II Kor. 5:17). Anugerah pemulihan Allah di dalam Kristus pada hakikatnya telah menghapus dosa-dosa kita di masa lampau agar kehidupan kita sekarang dan mendatang lebih dipenuhi oleh pola hidup yang baru. Namun betapa sering kita kembali mengikuti pola hidup anak yang bungsu sebelum dia bertobat. Kita kembali berkubang di tengah-tengah ampas kenajisan, dan kemudian tidak pernah mampu bangkit lagi. Karena semakin kita berkubang di tengah-tengah ampas kenajisan, timbullah perasaan nikmat terhadap yang najis itu. Sebab kita menganggap hidup kita telah menjadi bagian yang utuh dari kawanan umat yang najis.
Teologia Anak Sulung
Kerahiman Allah yang berkenan menerima dan mengampuni dosa anak bungsunya, ternyata tidak menyukakan hati anak sulung. Dia menganggap adiknya sama sekali tidak layak untuk menerima pengampunan dari ayahnya dan perjamuan syukur untuk kedatangannya, yaitu: “Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia” (Luk. 15:30). Sengaja anak sulung tersebut tidak mau menyebut sebagai “adiknya”, tetapi memakai sebutan “anak bapa”. Anak sulung tersebut menolak untuk mengakui adiknya. Dia telah memberikan stempel kekal atau stigma abadi bahwa adiknya hanyalah sebagai seseorang yang gemar memboroskan harta kekayaan ayah dengan para pelacur. Singkatnya anak sulung tidak mau melihat realitas pertobatan dan penyesalan adiknya. Itu sebabnya dia menolak untuk masuk ke dalam rumah untuk bersukacita dengan adiknya yang telah kembali pulang. Sangat menarik pula ungkapan anak sulung kepada ayahnya, yaitu: “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku” (Luk. 15:29). Dengan ungkapan ini anak sulung ternyata hanya menganggap dirinya selaku seorang pegawai atau orang upahan yang melayani perintah ayahnya. Tanpa disadari anak sulung selama dia tinggal bersama dengan ayahnya adalah dia tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang anak. Sehingga dia kemudian menagih kepada ayahnya memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatnya. Paradoks teologia anak sulung adalah anugerah yang berlimpah di rumah Allah tidak dipandangnya sebagai ungkapan kasih, tetapi hanya dianggap sebagai pahala/upah atas kerja kerasnya selama ini. Dia telah melupakan bahwa tinggal bersama dengan ayahnya merupakan suatu anugerah dan penghormatan yang tidak ternilai. Teologia anak sulung pada satu pihak menempatkan diri sebagai orang yang lebih saleh dan benar, dan pada pihak lain kesalehan dan kebenarannya hanya dianggap sebagai kerja keras seorang upahan. Para penganut teologia anak sulung tidak mampu memahami kekayaan kasih dan kerahiman Allah sebagai seorang Bapa. Apabila mereka mampu memahami rahasia kerahiman Allah, maka pastilah mereka akan bekerja keras bukan untuk menerima pahala atas amal-ibadahnya, tetapi sebagai ungkapan kasih yang tulus.
Panggilan
Di dalam Kristus, Allah telah mengungkapkan kerahiman atau rahmaniNya yang tidak terbatas. Dia tidak hanya memanggil umat yang berkedudukan sebagai “anak sulung”, tetapi juga sebagai “anak bungsu” yang selama ini hidup dalam belenggu kuasa dunia. Melalui karya penebusan Kristus, Allah telah mendamaikan dunia dengan diriNya. Sehingga melalui karya penebusan Kristus, tangan Allah terulur bagaikan seorang Bapa yang rahmani untuk menerima penyesalan dan pertobatan umat yang berdosa. Karena itu seharusnya setiap “umat pilihan” Allah tidak memperlihatkan sikap superioritasnya dengan memandang remeh umat yang berada di luar diri mereka. Sebaliknya karena mereka “dipilih” khusus oleh Allah, maka seharusnya kehidupan setiap “umat pilihan” mencerminkan kerahiman Allah yang kaya dengan pengampunan. Bilamana kita selaku umat Kristen menganggap diri sebagai “umat pilihan” di dalam Kristus, maka seharusnya kita tidak mempraktekkan teologia anak sulung dalam kehidupan kita. Karena itu kita tidak perlu menuntut Allah dengan hasil kerja atau pelayanan kita kepadaNya. Bukankah pelayanan kita kepada Allah karena kita berkedudukan sebagai anak-anakNya? Jika demikian, bagaimanakah sikap saudara? Apakah sebagai anak bungsu yang menyesal dan bertobat? Ataukah sebagai anak sulung yang merasa diri lebih baik dari pada orang lain? Lebih tepat lagi, sejauh manakah kita sungguh-sungguh menghayati dan mempraktekkan kerahiman Allah atau sifat Allah yang rahmani dalam kehidupan sehari-hari? Apakah iman dan kasih kita kepada Kristus, semakin memampukan kita lebih efektif untuk menyatakan karakter Allah yang rahmani? Amin.
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com
|
Posted Tuesday, 2 March 2010 Last updated Tuesday, 2 March 2010 |
halaman sebelumnya | artikel lainnya | Halaman Depan |


