Yang Terbaik Masih Akan Datang (Pdt.Em. Daud Adiprasetya)
Oleh: Pdt. Em. Daud Adiprasetya
Minggu 21 Maret 2010
Pra Paska V
YANG TERBAIK MASIH AKAN DATANG
Yesaya 43:16-21 Mazmur 126 Filipi 3: 4b – 14 Yohanes 12:1-8
Seorang seniman Yunani berbakat bernama Timanthes, belajar pada seorang pelukis terkenal. Beberapa tahun kemudian pelukis muda tersebut menghasilkan sebuah lukisan yang sangat bagus yang memuaskan hatinya, sehingga dari hari kehari tak jemu-jemu ia memandangi hasil karyanya itu. Suatu pagi ia dibuat terkejut tatkala mengetahui gurunya dengan sengaja telah merusak lukisan yang sangat dikaguminya itu. Maka dengan marah dan sambil menangis, Timanthes mempertanyakan tindakan gurunya mengapa merusak miliknya yang sangat berharga itu? Guru yang bijak itu menjawab, “Aku melakukannya untuk kebaikanmu sendiri. Lukisan itu memperlambat kemajuanmu. Lukisan itu memang berkualitas tinggi, tetapi tetap belum sempurna. Coba kau mulai melukis lagi yang lebih bagus dan lebih berkualitas.” Timanthes mendengar nasehat gurunya dan akhirnya ia menghasilkan karya besar yang diberi judul Sacrifice of Iphigenia, yang dianggap sebagai salah satu karya lukis klasik yang terbaik. (Dari Buku Mutiara Kasih).
Kisah Timanthes menunjukkan dengan jelas bahwa kondisi hidup kita, tidak pernah dapat menetap di satu tempat. Dapat merosot atau sebaliknya, bergantung pada banyak faktor. Merupakan pengharapan yang kita yakini, bahwa kondisi hidup kita tahap demi tahap akan menjadi lebih baik, untuk kemudian menjadi yang terbaik. Bukankah kita sering mendengar perkataan hari ini lebih baik dari kemarin. Jika dihubungkan dengan doa kita maka di sini ada ungkapan yang sangat menyentuh hati, sebab terbukti dalam hidup kita: God answer prayers in three ways: He says yes, and gives us what we want. He says no, and gives us something better. He says wait, and gives us the best. Kalau begitu, berada di dalam Tangan Tuhan hidup kita terpelihara dengan sempurna!
Keluarga yang telah disentuh kasih Kristus. Dari dulu sampai sekarang rupanya sudah menjadi kebiasaan manusia, bahwa sukacita dan rasa syukur selalu dihubungkan dengan makan bersama. Diadakan perjamuan untuk Dia, ya untuk Tuhan Yesus. Sudahlah pada tempatnya jika Yesus Kristus menjadi yang utama dan pertama, menjadi Pribadi yang terpenting dan pusat dalam seluruh kehidupan kita. Sesudah disentuh oleh kasih Kristus yang ajaib, kasih yang membangkitkan itu maka Lazarus perlu dan harus hadir dalam jamuan, tak ada acara lain yang bisa membatalkan kehadirannya. Memang tidak disebut-sebut apakah perannya dalam jamuan itu, tapi penampilannya saja sudah merupakan daya tarik dan satu kesaksian yang kuat. Belum lagi jika nanti Lazarus menceritakan segala pengalamannya sesudah memasuki alam maut selama empat hari!Itu kalau bisa, tentunya. Namun setidaknya, akan sangat menarik kesan dan pesannya, sebagai orang yang dikaruniai hidup yang kedua kalinya itu. Sebagai orang yang sudah dibangkitkan oleh Kristus, sekarang Lazarus memasuki lembar hidup yang baru, yang lebih baik dan indah! Sesudah didekap oleh Seorang Penolong yang tak mengenal jalan buntu itu, maka ke depannya sekarang Lazarus akan dapat melangkah semakin mantap bersama Dia! Sekarang kita mau mendekati Marta yamg ceria. Dalam Yohanes 11:21 Marta berkata kepada Tuhan Yesus dengan nada kecewa berat, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Kedekatannya dengan Tuhan Yesus menyebabkan dia berani melontarkan kata-kata teguran. Saat itu pastilah Marta menyimpan perasaan yang negatip terhadap Sahabat dan Tuhannya itu, perasaan kecewa berat, kesedihan, dan kemarahan! Kalau begitu Marta sempat menilai Tuhan Yesus tidak setia kawan, sangat lamban dalam menolong, tidak peka dan kekuasaanNya terbatas. Tapi, kebangkitan Lazarus sesudah empat hari mati telah mengubah secara total pandangan Marta terhadap Tuhan Yesus, dan kejadian itu telah membuat hari-hari Marta menjadi semakin baik. Jika biasanya saja Marta sudah giat dan lincah dalam pelayanan, apa lagi sekarang! Kini Marta mendapat pelajaran baru tentang pelayanan; jika disertai kekaguman kepada Tuhan, membuat pelayanan penuh kebanggaan dan bermegah-megah. Jika disertai kasih, membuat pelayanan penuh pengorbanan. Jika disertai penyesalan sebab pernah melukai hati Tuhan, melayani dengan keharuan dan rasa syukur. Dulu dia pernah melayani Tuhan sambil merasa iri melihat Maria “hanya” duduk dekat kaki Tuhan mendengarkan Firman Tuhan (Lukas 10:40}, sekarang tentu sudah berubah menjadi lebih baik, sebab baginya melayani Tuhan merupakan kesempatan yang terpenting dalam hidup ini! Bagaimana dengan Maria ? Tuhan Yesus pernah berkata tentang dia, “Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Lukas 10:42). Dalam pengamatan Tuhan Yesus, Maria sudah memilih bagian hidup yang terbaik, menjalin persekutuan dengan Sang Sumber Hayat. Hal itu dilakukan orang seperti Maria itu dari waktu ke waktu di sepanjang hidupnya. Semua orang sekarang bisa terheran-heran tak habis mengerti mengapa Maria bisa begitu merelakan satu persembahan yang sangat mahal? Setengah kati minyak narwastu murni dicurahkan di kaki Tuhan Yesus, kemudian diseka dengan rambutnya. Persembahan Maria itu menimbulkan dua hal yang berbeda, yaitu: Pertama, bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. Mengingatkan bahwa saat itu di tengah mereka telah hadir Seorang yang patut dihormati dan dimuliakan.Setiap orang di situ disadarkan untuk berbuat sesuatu yang kongkrit bagi Tuhan seperti halnya Maria. Kedua, tapi tindakan Maria ternyata kontroversial, sebab menuai kritik tajam dari Yudas Iskariot sang bendahara rombongan Tuhan Yesus. Mengapa minyak narwastu itu tidak dijual saja lalu hasilnya dibagi-bagikan kepada orang miskin? Jadi, Yudas beranggapan Maria telah melakukan kesalahan besar, berbuat bodoh dan tak bertanggung jawab, Maria melakukan pemborosan berkat Tuhan, bahkan tindakan yang tidak bermutu sebab membuang-buang barang yang berharga di kaki Tuhan Yesus, sia-sia saja! Yudas cukup berani ketika melontarkan kritiknya itu, sebab dia mengajari Maria dan segenap hadirin bahwa masih ada yang lebih penting dibanding memberi hormat dan mengungkap kasih kepada Tuhan Yesus. Selain itu Yudas juga berani berlagak sok suci dan menjadi pembela kaum miskin, di hadapan Tuhan Yesus yang mengetahui segala boroknya. Yudas lupa, atau dia tidak mengerti bahwa setiap orang mempunyai latarbelakang kehidupan yang berbeda-beda dengan Tuhannya. Maria bisa melalukan “kejutan” seperti itu karena kasihnya kepada Tuhan Yesus selama ini terus diakumulasi, dijumlah setindak demi setindak tapi pasti, bertambah-tambah semakin tinggi menggunung! Sehingga andai Maria mempunyai dua kati minyak narwastu, maka dia tidak akan merasa sayang untuk mempersembahkannya. Ingatlah Stefanus yang bahkan telah mempersembahkan jiwa raganya bagi Yesus! Siapa yang sudah disentuh oleh kasih Kristus, akan dapat merasakan bahwa kasih Kristus itu tidak dapat susut tapi bertambah terus dalam segala aspek hidup kita, sehingga yang terbaik selalu akan datang.
Mana lebih penting, persembahan kepada Yesus atau orang miskin? Tuhan Yesus membenarkan persembahan Maria, sebab dihubungkan dengan penguburanNya (Yohanes 12:7). Di sini kita melihat bahwa setiap tindakan kasih serta ibadah kita, oleh Tuhan Yesus dihubungkan dengan pengorbanan dan karyaNya, sebagai respon kita yang selalu dihargaiNya. Mengarahkan kasih kita kepada Tuhan Yesus harus menjadi prioritas dan yang terpenting, sebab Dia adalah segala-galanya bagi kita! Dari situlah kasih kepada Yesus akan disempurnakan supaya kemudian secara khusus kita pancarkan kepada orang miskin dan sesama kita yang hidup menderita Sejak menjadi Penebus kita,maka Yesus menjadi pintu gerbang bagi kita saat melakukan kegiatan kasih di dunia ini. Waktu itu Maria menunjukkan kasihnya yang unik dan spesifik kepada Tuhan Yesus, tapi dia tidak boleh berhenti sampai di situ. Perjumpaan serta pengurapannya yang diterima oleh Tuhan Yesus itu harus berlanjut dalam berbagai aksi kasih dengan sesamanya. Walau sekarang Tuhan Yesus sudah berada di sorga, tapi pola mengasihi seperti tadi tetap berlaku bagi kita semua. Hanya dalam kasih kepada Kristuslah yang kemudian membuat kasih kepada sesama bisa berbobot. “Pintu gerbang” Yesus Kristus setiap jam setiap saat dapat kita masuki melalui iman dan doa kita, supaya kemudian kita juga dapat memancarkan kasih kepada orang-orang miskin dan yang menderita (Matius 25:45). Keberadaan mereka itu merupakan kesempatan yang menantang kita untuk menunjukkan bahwa kita mengasihi Tuhan Yesus, yang memiliki mereka dan yang menghendaki kita peduli kepada mereka. Maka yang terbaik masih terus akan datang dalam persekutuan Yesus Kristus.
Paulus “orang baik” yang menjadi lebih baik. Sesudah dijumpai oleh Tuhan Yesus, sesudah bertobat barulah Paulus dapat melihat masa-lalunya yang tidak bermutu, sia-sia dan sebagai kerugian besar! Perubahan menjadi lebih baik yang dialami oleh Paulus terjadi begitu cepat dan radikal, tapi Paulus semakin menikmatinya dan bersyukur. Aneh juga jika orang yang semula merupakan musuh besar, sekarang justeru menjadi Sahabat dan Tuhan yang patut disembah seumur hidup dengan sebulat-bulat hati! Membaca surat-surat Paulus maka kita mesti beroleh begitu banyak masukan rohaniah yang semakin dapat memperkaya kita. Tetapi bagaimana pengakuan Paulus mengenai dirinya sendiri? Walaupun kita sudah merasa kagum melihat ketekunan dan perjuangannya sebagai seorang hamba Tuhan, tetapi tetap saja dia masih jauh dari sempurna dan masih harus terus mengejar. Jika masa lalunya memperlihatkan hidup percuma yang kelam maka kini Paulus tidak sudi mengulang, dia sudah lepas landas dan hanya mengharapkan yang terbaik yang disediakan Tuhan baginya. Tokoh Paulus dan perjuangannya selaku seorang hamba Tuhan seharusnya mendorong kita untuk menyongsong masa depan yang sudah disediakan Tuhan untuk kita hadapi. Sebagai umatNya kita tidak boleh melarikan diri dari kenyataan, sebab Tuhan selalu mendampingi kita dan berperan serta! Apa yang kita baca di Yesaya 43:21? “Umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyuran-Ku.”Mengapa? Sebab dalam segala keberhasilan umat Tuhan, di situ selalu ada campur tanganNya. Semua itu merupakan rahasia keberhasilan hidup yang selalu menyediakan hal-hal yang terbaik.” Sorak-sorai bagi yang menabur dengan cucuran air mata. Berkas-berkas bagi yang berjalan maju dengan menangis.” (Mazmur 126).
Kesulitan-kesulitan dalam hidup ini dimaksudkan untuk membuat kita lebih baik( better }
Bukan menjadi kepahitan ( bitter }.
|
Posted Thursday, 11 March 2010 Last updated Thursday, 11 March 2010 |
halaman sebelumnya | artikel lainnya | Halaman Depan |


