Studi Calvinis Aktual dalam rangka peringatan 500 th hari lahir J. Calvin
Calvinisme Aktual di Indonesia (dan bagi GKI) satu dekade pasca-Orde Baru, dan menatap ke depan - dalam mengenang dan memberi makna baru atas warisan Calvinisme atau tradisi Reformed
PengantarPenjelasan Tema-tema bahasan
0. Intro: Agenda Calvinis Aktual – identitas dan integritas gereja dan umat Kristen di Indonesia (d.p.o. KPT)
Penjelasan tema:
Calvinisme lahir di tengah gejolak sosial, politik dan keagamaan di Eropa. Di tengah gejolak tersebut ada pilihan untuk menempuh perubahan secara damai atau secara radikal. Kaum humanist umumnya memilih jalan damai, termasuk berdamai dengan kekuatan-kekuatan lama. Sementara gerakan massa (popular movement) cendrung memilih reformasi radikal, dengan menyingkirkan kekuatan-kekuatan lama (sosial-politis maupun gerejawi).
Sebelum ikut dalam arus gerakan Reformasi, Calvin cenderung memihak kaum humanist yang lebih berhati-hati, namun ketika ia masuk dalam arus gerakan Reformasi, maka ia berpihak pada popular radicalism. Bahkan ia kemudian menjadi salah satu tokoh penting dari gerakan pembaruan ini.
Gejolak sosial, politik dan keagamaan ini merupakan ajang pertarungan berbagai kekuatan, baik kekuatan lama maupun kekuatan yang baru. Proyek pembaruan Calvin juga tidak dengan sendirinya dengan mudah mencapai sasaran. Tulisan-tulisan dan kerja kerasnya di tengah gereja dan masyarakat baik di Jenewa maupun di Strasbourg (ketika ia terusir dari Jenewa) memberikan beberapa tuntunan bagi perkembangan teologi dan tatanan masyarakat dan organisasi modern.
Siklus pertarungan antara lembaga gereja dan lembaga otoritas sipil (ecclesiastical/spiritual and temporal power) yang sudah berlangsung selama berabad-abad sejak Abad-abad Pertengahan untuk merebut dominasi, kini diputuskan dengan membagi wewenang di antara kedua lembaga tersebut. Pada abad ke-19 kita mengenal pemisahan antara Gereja dan Negara, namun pada abad ke-16 ini kita mengamati awalnya yaitu pembedaan atau pembagian wilayah di antara keduanya. Ini merupakan sebuah proses yang panjang dan sulit, meskipun banyak orang di masa kini yang dengan tergesa-gesa menempatkan fenomena abad ke-19 tadi pada pertengahan abad ke-16 atau awal abad ke-17.
Perhatian Calvin, dan juga murid-muridnya di kemudian hari, adalah senantiasa mencari keseimbangan kehidupan orang-orang Kristen di antara peran sosial-politis-ekonomis dengan peran gerejawi di tengah masyarakat. Oleh sebab itu dalam rangkaian studi Calvinisme ini KPT hendak mengajak kita bersama-sama menelusuri beberapa aspek dari warisan pemikiran dan aktivitas baik Calvin maupun beberapa tradisi pemikiran dan praktik kehidupan Calvinisme di masa lampau, sambil mencari kemungkinan-kemungkinan baru di tengah situasi kita di Indonesia yang memiliki momentum reformasi kita sendiri. Reformasi yang masih belum selesai atau mungkin sedang mengalami situasi tersesat tak menentu selama 10 tahun perjalanan awalnya.
[Pengantar oleh KPT: Yusak Soleiman, 30 menit]Aula UKRIDA Lt. VII
Sabtu, 13 Desember 2008
Tema 1: Teokrasi dalam masyarakat majemuk Indonesia, pasca-Orde Baru (Kekristenan dan Pemerintah, umat beragama dan tatanan sosial di Indonesia)
Penjelasan tema:
Konsep dan istilah Teokrasi adalah sesuatu yang asing bagi masyarakat modern yang hidup dalam negara modern. Meski begitu banyak gereja dengan tradisi Calvinis masih cukup rajin berbicara mengenai teokrasi dalam pengertian yang telah ‘tersunat’, sehingga hanya menjangkau masalah kesalehan pribadi, atau kedaulatan Allah dalam menentukan tanggungjawab sosial orang-orang Kristen di masyarakat. Padahal konsep ini menjangkau jauh lebih luas dan dalam daripada sekadar kedua hal di atas.
Percakapan mengenai teokrasi atau kedaulatan Allah atas semua aspek kehidupan ini hendak menemukan kembali arti teokrasi dalam tradisi Calvinis. Bagaimanapun juga sulit sekali membicarakan butir-butir lain dari pandangan Calvin maupun Calvinisme, tanpa terlebih dahulu kita memahami teokrasi seperti apa yang menjadi dasar dari garis tradisi ini, bila diperhadapkan pada tradisi yang lain. Pandangan teokrasi ini pada gilirannya akan mewarnai segala segi yang lain, seperti posisi teologis, sikap terhadap kebudayaan dan persoalan sosial politis, pandangan tentang manusia, sikap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan juga apresiasi terhadap kesenian sebagai ekspresi dan kreativitas manusia.
Kita akan mencermati perubahan-perubahan atau pergeseran pengertian yang terjadi dalam perkembangan tradisi Calvinis. Selain mengamati perubahan dan pergeseran tadi kita juga akan bersama-sama menilai seberapa jauh teokrasi ini mewarnai dan membentuk sejumlah faktor. Teologi yang hidup, relevan dan aktual harus mampu berhadapan dan memberi makna pada berbagai faktor. Faktor-faktor sosial, budaya, politik dan teologi apa yang membuat pengertian ini menjadi tetap relevan atau sebaliknya basi bagi pergumulan hidup orang-orang Kristen Indonesia di masa kini.
Secara luas kita akan memberi perhatian pada konteks Indonesia, setelah mengadakan penelusuran berbagai tradisi teokrasi Calvinis yang pernah dominan di Belanda dan pada kelompok Calvinis konservatif di Amerika pada abad-abad yang lampau. Kita akan mengaji bagaimana Calvinis ala Belanda yang dibawa masuk ke Indonesia menghayati teokrasi tersebut pada masa kolonial dan pada masa muda Republik ini.
Diskusi akan diarahkan untuk melihat nilai teokrasi Calvinis bagi kehidupan bersama orang Kristen di negara majemuk yang sedang mengalami momentum Reformasinya sendiri.
[seminar untuk umum]
Aula UKRIDA Lt. VII
Sabtu, 13 Desember 2008 Pk. 8.30 – 13.00
Moderator: Yohanes Bambang Mulyono (Jurnal Penuntun)
Para pembicara:
Agustinus Batlajery:
Yakub Susabda – Gereja Reformed Injili:
- Menjelaskan konteks pergumulan Calvin dan generasi awal Calvinis yang mendorong dikembangkannya pemikiran teologis mengenai Kedaulatan Allah atas segala aspek kehidupan manusia dan dunia
- Menjelaskan perkembangan pemikiran teologis ini pada kaum Calvinis dari generasi selanjutnya, a.l., Calvinis di Belanda dengan Sinode Dordrecht, 1619, dan kaum Calvinis Ortodoks di Amerika yang mempopulerkan TULIP
- Menjelaskan bagaimana pandangan teologis di atas menolong atau sebaliknya mempersulit kehadiran dan peran sosial-kemasyarakatan orang-orang Kristen di tengah kenyataan kemajemukan di Indonesia
Robert Setio – Gereja Kristen Indonesia:
- Memberikan pandangan dan sikap terhadap makna pandangan teologis ini bagi orang-orang Kristen di tengah kenyataan kemajemukan di Indonesia menurut visi GRII
- Menjelaskan peran dan kehadiran gerejanya di Indonesia, sehubungan dengan aktualisasi dari pandangan teologis ini
Penjelasan tema:
- Memberikan pandangan dan sikap terhadap makna pandangan teologis ini bagi orang-orang Kristen di tengah kenyataan kemajemukan di Indonesia
- Menjelaskan peran dan kehadiran gerejanya di Indonesia, sehubungan dengan aktualisasi dari pandangan teologis ini
Tema 2: Partisipasi Politik Kristen dan Realitas fragmentasi masyarakat Indonesia (Oikos dan polis sebagai wadah aktulisasi iman bagi kemaslahatan bangsa)
Pada era Pilarisasi di Belanda, masing-masing aliran Kristen membentuk partai politik dan lembaga-lembaga sosial kemasyarakatannya masing-masing. Periode ini menandai suatu kebebasan berekspresi bagi kelompok ‘minoritas’ (Katolik dan kelompok-kelompok non-Calvinis lainnya), namun juga merupakan awal dari suatu akhir. Agama-agama perlahan namun pasti masuk ke ruang private dan tersingkir dari ruang public. Mengusung kepentingan kelompok agama menjadi perilaku sektarian dan kelompok-kelompok yang dibangun berdasarkan identitas agama susut menjadi sub-cultur dan bukan lagi kultur dominan dalam masyarakat.
Di Indonesia kita menghadapi kenyataan yang mengarah pada politik aliran (atau ‘politisasi aliran’). Beberapa orang Kristen, dengan berbagai alasan dan motivasi, ikut serta dalam arus ini, meski yang lain tetap memilih untuk berada dalam kelompok-kelompok yang mengusung tema nasionalis dan kemajemukan.
Calvin dan banyak murid-murid pertamanya tidak berhadapan langsung dengan kemajemukan sebagaimana yang dialami oleh orang-orang Kristen di Indonesia hari ini. Sikapnya yang cenderung kooperatif terhadap pemerintah kota sering menjadi alasan gereja-gereja Indonesia di masa lalu untuk selalu loyal kepada pemerintah. Bagaimanakah sebetulnya wawasan kesadaran politis yang dikembangkan oleh Calvin dan murid-muridnya? Adakah prinsip-prinsip dasar yang masih relevan dari pandangan mereka untuk memberi inspirasi bagi kemajemukan dan sekaligus fragmentasi masyarakat Indonesia yang kita hadapi hari ini? Sumbangan dan refleksi teologis seperti apa yang bisa dikembangkan oleh gereja-gereja Calvinis di Indonesia bagi Kekristenan, sebagai hasil pergumulan kontekstualnya di dalam masyarakat majemuk Indonesia?
[lokakarya terbatas, hanya untuk para pemimpin Gereja]
GKI Pondok Indah
Senin, 19 Januari 2009 Pk. 9.00 – 14.00
Moderator: Arliyanus Larosa (Sekum BPM Sinode GKI)
Para pembicara:
Natan Setiabudi:
- Menjelaskan konteks pergumulan Calvin dan generasi awal Calvinis menghadapi kenyataan disintegrasi sosial-keagamaan akibat gerakan Reformasi abad ke-16 di Eropa dan pilihan-pilihan politis yang dilakukan oleh Calvin serta para muridnya
- Menjelaskan perkembangan pemikiran dan praktik politik kaum Calvinis di Eropa dan di Amerika, dengan memberikan beberapa contoh kasusnya sebagai perbandingan di antara kepelbagaian sikap dan pilihan politis kaum Calvinis
- Menjelaskan perilaku dan dasar pemikiran para pemimpin gereja-gereja bertradisi Calvinis di Indonesia di masa yang lalu, masa kini, dan harapan-harapan di masa depan
Albertus Patty:
- Memberikan tanggapan serta penilaian atas dasar pemikiran para pemimpin gereja-gereja bertradisi Calvinis di Indonesia di masa yang lalu, masa kini, dan kemungkinan-kemungkinannya di masa depan
- Memberikan tantangan kepada peserta untuk memikirkan peluang dan tantangan untuk mengembangkan teologi politik ‘baru’
Ruyandi Hutasoit [PDS]:
- Memberikan tanggapan serta penilaian atas dasar pemikiran para pemimpin gereja-gereja di Indonesia di masa yang lalu, masa kini, dan kemungkinan-kemungkinannya di masa depan
- Memberikan tantangan kepada peserta untuk memikirkan peluang dan tantangan untuk mengembangkan teologi politik ‘baru’
Tema 3: Ibadah dan Hidup Rukun dalam keluarga dan bertetangga (Kehadiran Allah yang berkelanjutan di dalam kehadiran sosial orang-orang percaya di tengah keluarga dan hidup bertetangga)
Penjelasan tema:
Ibadah selalu merupakan kegiatan komunal. Ibadah dalam tradisi Reformasi bukan semata aktivitas panggung yang dipertontonkan oleh aktor/aktris tunggal, melainkan kegiatan bersama untuk menghadap Allah. Ibadah tidak pernah dan tidak boleh dikurung di dalam ruang ibadah semata, karena gedung gereja bagi tradisi Reformasi bukan ruang maha suci. Bahkan ibadah dalam tradisi Reformasi cenderung pragmatis dan rasional: semua unsur harus berpusat pada pemberitaan firman dan unsur-unsur yang bisa mengalihkan/mengacaukan perhatian umat dihindari.
Dalam kenyataannya saat ini terlihat betapa jauhnya penyimpangan yang telah terjadi dalam kehidupan ibadah gereja-gereja Reformasi hari ini. Ibadah jadi tempat untuk mencari kenikmatan spiritual individual, datang beribadah untuk mencari tontonan dan sering juga terjadi ruang-ruang ibadah kita berubah menjadi ruang maha suci.
Bagaimanakah sesungguhnya tradisi peribadahan yang kita warisi sebagai gereja Reformasi, baik penghayatan maupun bentuk-bentuk penyelenggaraannya? Bagaimana pemahaman kita mengenai makna kehadiran Allah terus menerus, termasuk di luar jam ibadah yang tertentu? Bagaimana kita bisa mengerti bahwa beribadah bersama merupakan cermin dari dan undangan untuk mewujudkan realitas hidup bersama dalam damai bersama semua orang?
Bagaimanakah simbol-simbol ibadah dapat mendapat tempat yang sewajarnya, sehingga tidak berhenti pada sekadar kewajiban dan keharusan ritual? Apa relevansinya untuk tetap memelihara dan mengembangkan warisan ibadah dari tradisi Reformasi?
[untuk umum]
GKI Emaus Surabaya
Sabtu, 14 Februari 2009 Pk. 9.00 – 14.00
Moderator: Timur Citra Sari (KPT)
Para pembicara:
Juswantori Ichwan:
- Menjelaskan terobosan yang dilakukan Calvinisme terhadap tradisi peribadahan Kristen yang lebih tua, serta pemikiran teologis-humanistik yang mendasarinya
- Menjelaskan simbol-simbol yang digunakan di dalam peribadahan dan kaitannya dengan kehidupan dan kehadiran sosial orang Kristen
- Menjelaskan peluang dan tantangan untuk melakukan terobosan baru dalam peribadahan gereja-gereja Calvinis di Indonesia
Purboyo Susilaradeya:
• Memberikan tanggapan dan penilaian atas kehidupan peribadahan gereja-gereja di Indonesia dari sudut pandang Pembangunan Jemaat
Rasid Rachman:
• Memberikan tanggapan dan penilaian atas kehidupan peribadahan gereja-gereja di Indonesia ditinjau dari sudut pandang Praksis berteologi
Tema 4: Rohaniwan, institusi agama dan masyarakat modern. (Teologi Panggilan, perubahan dan tuntutan peran Pendeta dan lembaga Gereja dalam masyarakat modern)
Penjelasan tema:
Tradisi Protestan tumbuh dalam suasana yang mengkritik sangat keras dominasi kaum rohaniwan dalam hidup sehari-hari. Ketika akhirnya fungsi rohaniwan dipertahankan maka ia ditempatkan bersama-sama dengan fungsi kepemimpinan (penatua) dan fungsi sosial (diaken) untuk menjalankan fungsi pengajaran. Dengan demikian bagi tradisi Protestan sesungguhnya peran institusi jauh lebih penting dan menentukan dibandingkan dengan fungsi personil tertentu. Majelis Jemaat jauh lebih penting dan menentukan dibandingkan dengan sang pendeta, inilah prinsip yang masih kita pelihara hingga hari ini.
Namun dalam prakteknya kita melihat ada fungsi yang lain yang dimainkan oleh para rohaniwan, yang juga cukup penting untuk memelihara institusi. Ada soal kesinambungan, ada soal simbol ketika berhadap-hadapan dengan tradisi agama lain, dan lain sebagainya. Hal ini mengakibatkan fungsi rohaniwan menjadi jauh lebih menonjol dibandingkan dengan kedua fungsi lainnya.
Bagaimana idealisme yang dibayangkan oleh generasi pertama di Geneva dan sekitarnya mengenai kaum rohaniwan? Bagaimana pula kenyataan yang telah berkembang hingga hari ini? Perubahan-perubahan mana yang harus diterima sebagai suatu kewajaran dan perlu dipertahankan, dan mana yang merupakan kekeliruan dan perlu dikoreksi?
Bagaimana kaum rohaniwan itu sendiri melihat dirinya ketika diperhadapkan dengan berbagai perubahan yang terjadi saat ini? Dan juga bagaimana kaum rohaniwan dan gereja sebagai institusi agama, di samping institusi keagamaan yang lainnya di Indonesia, menempatkan diri dan berinteraksi satu sama lain?
Seberapa jauh gereja-gereja Calvinis di Indonesia secara kreatif telah mengembangkan dasar-dasar yang dibangun oleh tradisi Calvinis sebelumnya? Dan bagaimana peran kongkret yang telah disumbangkannya dalam masyarakat Indonesia modern?
[diskusi panel, untuk para rohaniwan]
GKI Kedoya
Senin, 9 Maret 2009 Pk. 9.00 – 14.00
Moderator: J. Calvin Pindo (Jurnal Penuntun)
Para pembicara:
Joas Adiprasetya:
- Menjelaskan sumbangan teologi Calvinis atas teologi Jabatan, kekuatan dan kelemahannya
- Menjelaskan hal-hal yang telah mendorong terjadinya perkembangan dan perubahan penting atas peran Pendeta dan lembaga gereja pada gereja-gereja bertradisi Calvinis
- Memaparkan beberapa kemungkinan mengenai peran yang dapat dimainkan oleh Pendeta dan lembaga gereja di tengah arus perubahan yang sedang berlangsung di Indonesia
Lanny Santoso:
- Memberi tanggapan atas peran Pendeta dan lembaga gereja yang sedang berlangsung saat ini
- Menanggapi usul pemakalah mengenai peran Pendeta dan lembaga gereja di tengah arus perubahan di Indonesia
M.A.M. Sasabone:
- Memberikan perbandingan dan penilaian atas peran Pendeta dan lembaga gereja di masa yang lampau dan di masa kini
- Menanggapi usul pemakalah mengenai peran Pendeta dan lembaga gereja di tengah arus perubahan di Indonesia
Tema 5: Diakoni dan Pastoralia Sosial (Pelayanan Pastoral sebagai wujud kehadiran Kekristenan bagi warga gereja dan warga bangsa)
Penjelasan tema:
Bagi gereja-gereja Calvinis hari ini, pelayanan diakoni dan pastoral merupakan dua bentuk pelayanan yang ‘tersembunyi’ di balik hiruk pikuk kegiatan ibadah. Jarang kita mendengar panitia pencari pendeta/calon pendeta yang memfokuskan diri pada calon yang mahir berdiakoni dan melakukan pelayanan pastoral, mereka lebih suka mencari calon yang mahir berkotbah.
Mengapa diakoni dan pastoralia cenderung diabaikan di gereja-gereja kita? Bukankah kedua hal ini sesungguhnya memiliki intensitas yang lebih tinggi dan strategis dibandingkan dengan ibadah dan kotbah untuk memperlihatkan wajah dan kehadiran gereja bagi orang banyak (di dalam dan terutama di luar gereja)?
Di dunia Barat sebelum munculnya negara kesejahteraan, gereja setempat bersama pemerintah kota menyelenggarakan diakoni dan pastoralia. Kedua hal ini terkait erat karena menyangkut proses pembentukan disiplin bagi warga masyarakat. Konsistori dan dewan kota bertanggung jawab untuk mengarahkan kehidupan warga masyarakat.
Ketika praktek tersebut dibawa masuk ke Indonesia pada masa kolonial terjadilah pergeseran fungsinya. Dari proses pembentukan disiplin menjadi alat kontrol penguasa.
Setelah negara-negara modern mengambil-alih tanggungjawab untuk ‘mengurus’ orang-orang miskin, perlahan tapi pasti gereja-gereja di Barat kehilangan kontrol atas disiplin bagi masyarakat. Gereja-gereja di Indonesia yang hanya mewarisi ‘aspek rohani’ dari fungsi sosial Kekristenan ini pada gilirannya mengalami kesulitan untuk mendefinisikan ulang fungsi diakoni dan pastoralia sosialnya.
Bagaimana kita dapat menemukan kembali wujud kehadiran Kristen melalui peran sosialnya ini? Bagaimana agar kita tidak terjebak pada aksi karitatif yang sangat mewarnai berbagai ‘aksi-sosial’ gereja-gereja kita di musim hari-hari raya gerejawi? Ataukah memang sudah tidak relevan lagi bagi kita bicara tentang kehadiran gereja melalui diakoni dan pastoralia sosial di masyarakat?
[untuk umum dan secara khusus akan mengundang badan-badan gerejawi yang terlibat pada pelayanan sosial di masyarakat]
Aula UKRIDA Lt. VII
Sabtu, 2 Mei 2009 Pk. 8.00 – 13.00
Moderator: Sthira B. Purwosuwito (KPT)
Para pembicara:
Kuntadi Sumadikarya:
- Menjelaskan kekhasan pelayanan Diakonia dan Pastoralia Sosial dalam tradisi Calvinis, serta dampak sosial yang ditimbulkannya pada masa awal terbentuknya masyarakat modern di dunia Barat
- Menjelaskan dampak sosial dari penerapan praktik Diakonia dan Pastoralia Sosial pada masa awal Gerakan Pekabaran Injil Modern di Asia, serta dampaknya bagi terbentuknya komunitas Kekristenan Asia
- Menguraikan kesulitan, peluang dan tantangan bagi suatu peran Diakonia dan Pastoralia Sosial di tengah masyarakat Indonesia masa kini
Robert Borrong:
- Memberi tanggapan dan penilaian terhadap peran Diakonia dan Pastoralia Sosial gereja-gereja di Indonesia masa kini
- Memberikan gambaran situasi mengenai peran dan kehadiran lembaga-lembaga pelayanan Diakonia dan Pastoralia Sosial Kristen di Indonesia masa kini
Yoseph Widiatmadja:
- Memberi tanggapan dan penilaian terhadap peran Diakonia dan Pastoralia Sosial gereja-gereja di Indonesia masa kini
- Memberikan penilaian atas peran dan kehadiran lembaga-lembaga pelayanan Diakonia dan Pastoralia Sosial Kristen di Indonesia masa kini
Tema 6: Mentalitas / Disiplin sosial dan Pendidikan bangsa (Pendidikan sebagai wadah pembentukan manusia seutuhnya – intelektualitas, sensitivitas dan tanggung jawab)
Penjelasan tema:Pendidikan bukan cuma soal alih informasi, tetapi juga pembentukan watak dan mental. Badan-badan pendidikan Kristen dan Katolik cukup terkenal karena telah menghasilkan cukup banyak anak muda yang memiliki prestasi akademis (=intelektualitas) tinggi. Bagaimana dengan sensitivitas dan tanggungjawab moral mereka?
Pendidikan yang dijalankan sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan apa yang hidup dalam masyarakatnya. Badan-badan Pendidikan tidak bisa terlalu dipersalahkan untuk buruknya mentalitas bangsa, sebab perilaku para tokoh masyarakat, tokoh agama, dan public figure lainnya juga punya andil besar dalam mendidik anak-anak muda kita.
Bagaimanakah pendidikan Kristen menetapkan idealismenya di tengah situasi yang sangat tidak kondusif ini? Seberapa jauh pendidikan Kristen telah berhasil mewujudkan idealisme sebagaimana yang dirintis oleh Calvin dan murid-muridnya?
Seperti apakah pendidikan Kristen dan pendidikan masyarakat yang dibayangkan oleh akademi Geneva? Bagaimana idealisme itu dikembangkan oleh para lulusannya dan turut mengubah Eropa pada zaman Reformasi abad ke-16/17 dan pengaruhnya yang sangat luas pada pendidikan publik/massal yang terus dipraktekkan hingga hari ini?
Bagaimanakah pendidikan Kristen masa kini menempatkan dirinya sebagai pewaris semangat pendidikan Reformatoris? Apa arti pendidikan massal (pendidikan untuk semua) bagi badan-badan pendidikan Kristen dan gereja-gereja Calvinis di Indonesia?
[untuk umum dan secara khusus pusat-pusat pembinaan dan badan-badan pendidikan Kristen]
GKI Surya Utama
Sabtu, 25 Juli 2009 Pk. 8.00 – 12.30
moderator: Yusak Soleiman (KPT)
para pembicara:
Aristarchus Sukarta – rektor UKRIDA:
- Menjelaskan sumbangan penting tradisi Calvinis dalam mengembangkan pola pendidikan massal pada zamannya, serta dampaknya pada perkembangan dunia modern di Barat
- Menjelaskan kesadaran dan kiprah gereja-gereja Calvinis di Indonesia dalam hal pengembangan pendidikan modern, serta sumbangannya bagi kemajuan bangsa
- Memaparkan usulan bagi gereja-gereja dan lembaga-lembaga pendidikan dasar, menengah dan tinggi yang dikelola oleh yayasan-yayasan Kristen untuk mengantisipasi arah perkembangan Indonesia di masa yang akan datang
Jan Sihar Aritonang – ketua STT Jakarta:
- Memberikan tanggapan dan penilaian terhadap visi, missi dan praktik lembaga-lembaga pendidikan Missi/Zending pada masa penjajahan
- Memberikan tanggapan dan penilaian terhadap visi, missi dan praktik lembaga-lembaga pendidikan Kristen pada masa kini
- Menanggapi usulan yang dikemukakan oleh pemakalah
Ellisabeth Hasikin:
- Memberikan tanggapan dan penilaian atas kiprah lembaga-lembaga pendidikan Kristen masa kini, berdasarkan ilmu pendidikan modern
- Memberikan tanggapan dan penilaian atas kiprah lembaga-lembaga pembinaan gerejawi: di manakah sesungguhnya tempat dan peran mereka di dalam proses pendidikan warga masyarakat
- Menanggapi usulan yang dikemukakan oleh pemakalah
Tema 7: Etos Kerja, Kemakmuran, dan Demokrasi Modern, monopoli kaum Protestan? (Mari kita bangun dari Tidur dan Mimpi Indah kaum urban kelas menengah!)
Penjelasan tema:
Kita perlu membaca ulang analisis Weber mengenai Etos Protestan dan dampaknya atas Kemakmuran dalam konteks perkembangan demokrasi modern yang berorientasi pada kemajuan. Salah satu hal penting yang sering luput dari kajian terhadap kemajuan dunia Barat (Protestan) pada era modern, adalah bahwa mereka adalah kaum imperialis/kolonial yang membangun dunia modern dan kemakmuran mereka di atas kemiskinan dan penindasan di Asia dan Afrika.
Dengan kesadaran ini kita juga bisa meninjau ulang makna kemakmuran dalam kerangka globalisasi hari ini, dengan melihat siapakah pihak yang menanggung kemiskinan dan penindasan di era globalisasi ini. Apakah memang kemakmuran semata-mata persoalan ajaran agama dan mentalitas yang berkaitan dengannya?
Apa yang sesungguhnya dikembangkan oleh Calvin dan murid-muridnya ketika mereka berbicara mengenai: kerja dan ekonomi? Seberapa besar andil mereka dalam menciptakan kemakmuran bagi sekelompok orang tertentu? Wawasan teologi seperti apa yang sesungguhnya kita warisi dari mereka?
Modernisasi dan kemakmuran yang dinikmati sekelompok kecil umat manusia di dunia selama dua setengah abad terakhir bukan cuma menelan korban manusia yang lainnya, tetapi juga mengguncang keseimbangan alam, selain mengurasnya. Kesadaran seperti ini belum muncul pada Calvin dan murid-murid pertamanya, dan mereka juga tidak menyadari dampak yang dapat ditimbulkan oleh teologi dan ajaran yang mereka kembangkan.
Gereja-gereja Calvinis perlu merefleksikan ulang mengenai teologi yang pro-kemakmuran, pro-modernisasi, pro-pembangunan, pro-globalisasi, dst.
[diskusi panel, untuk umum]
GKI Surya Utama
Sabtu, 25 Juli 2009 Pk. 13.30 – 17.30
Moderator: Essy Eisen (KPT/Jurnal Penuntun)
Para pembicara:
Soritua A. E. Nababan:
- Menjelaskan relasi di antara kemakmuran yang dicapai oleh bangsa-bangsa Barat dengan etos yang melandasi pola pikir, sikap, dan perilaku mereka.
- Menjelaskan seberapa besar nilai-nilai yang dikembangkan oleh Calvin dan murid-muridnya memberikan dasar pada kemajuan dan kemakmuran yang dicapai oleh bangsa-bangsa Barat ratusan tahun sesudahnya.
- Memberikan tanggapan dan penilaian terhadap proyek/program kemakmuran bangsa-bangsa Barat yang memakan korban dan biaya yang sedemikian besar, dalam bentuk kerusakan alam, maupun komunitas dan peradaban yang lain
Mungki Sasmita:
- Memberikan penilaian terhadap teologi-teologi Kristen yang pro-kemakmuran, pro-modernisasi, pro-pembangunan, pro-globalisasi, dst.
- Menjelaskan bagaimana ‘etos-Protestan’ harus dibaca ulang di dalam konteks Indonesia masa kini
Karlina Leksono:
- Memberikan penilaian terhadap ideologi-ideologi yang pro-kemakmuran, pro-modernisasi, pro-pembangunan, pro-globalisasi, dst.
- Memberikan alternatif pemikiran bagaimana mengembangkan kesadaran publik yang lebih seimbang mengenai makna kemakmuran bersama dalam konteks Indonesia
8. Refleksi Akhir dan Penutup: Agenda Calvinisme Aktual, mengatasi jebakan Calvinisme-Basi (d.p.o. KPT)
Penjelasan tema:
Calvin dan Calvinisme adalah produk suatu komunitas dan zaman tertentu. Mereka bagian yang tak terpisahkan dari kesinambungan yang kita hayati hingga saat ini, di sinilah kita menyebutnya sebagai tradisi. Namun kita juga melihat bahwa berbagai bentuk ekspresi yang mereka lahirkan merupakan jawab atas persoalan-persoalan yang diperhadapkan pada mereka.
Seberapa dekat dan lekat kita dengan tradisi masa lampau itu? Tidakkah sudah waktunya kita mulai berusaha melepaskan label Calvinis atau Reformed dan jerat-jerat dogma beku? Dan kita berusaha berkembang untuk menjadi Kekristenan Indonesia yang otentik, di tengah pergumulan iman dan hidup sehari-hari.
Presentasi multimedia yang memberikan rangkuman singkat atas rangkaian 7 studi mengenai Calvinisme sejak Desember 2008 hingga Juli 2009 ini.
[Penutup oleh KPT: Yusak Soleiman, 10-15 menit]
GKI Surya Utama
Sabtu, 25 Juli 2009
|
Posted Thursday, 11 December 2008 Last updated Thursday, 11 December 2008 |
halaman sebelumnya | warta lainnya | Halaman Depan |


