Surat Gembala BPMS GKI Dalam menyambut Natal dan Tutup Tahun 2008 serta Tahun Baru 2009
Oleh Pdt. DR. Lazarus Hendro PurwantoSurat Gembala BPMS GKI
Dalam menyambut Natal dan Tutup Tahun 2008 serta Tahun Baru 2009
Anggota Jemaat GKI yang dikasihi Tuhan,
Pertama-tama, terimalah salam kami (Badan Pekerja Majelis Sinode GKI). Semoga di penghujung tahun 2008 ini saudara semua masih diberi kemampuan untuk menemukan alasan agar tetap dapat bersyukur kepada Tuhan. Kami sadar bahwa dalam kondisi perekonomian kita yang akhir-akhir semakin memburuk oleh karena krisis yang melanda dunia, termasuk dan terutama negeri kita, tidaklah terlalu mudah untuk merasakan sukacita. Padahal menjelang akhir tahun seperti ini, kita selalu merayakan sebuah hari raya yang seharusnya mendatangkan sukacita yaitu Natal. Di tengah kondisi yang kian menghimpit ini, kita patut bertanya apakah Natal kali ini akan benar-benar menjadi hari yang penuh sukacita? Demikian pula ketika saatnya tiba bagi kita untuk mengawali tahun yang baru, tahun 2009, apakah kita akan melakukannya dengan sebuah gairah sebagaimana layaknya?
Secara jujur harus kami akui bahwa kami tidak mampu untuk mengetahui keadaan saudara satu per satu. Tetapi jika kata-kata ini tidak dianggap semu belaka, biarlah kami mengatakannya: “kami sungguh ingin berada bersama saudara dan turut merasakan apa yang saudara rasakan”. Sebuah keinginan untuk berada bersama mungkin tidak ada gunanya. Jangankan hanya sebuah keinginan, ketika keinginan tersebut diwujudkan pun belum tentu ada gunanya. Bukankah di saat orang sedang berada dalam kesulitan, yang dibutuhkannya adalah sebuah jalan keluar? Sesuatu yang segera dapat membebaskannya dari kesulitan. Maka layak untuk dipertanyakan, apalah artinya sebuah kehadiran saja jika tidak diikuti dengan solusi konkrit? Tanpa bermaksud membela diri dan mengada-ada, ijinkan kami mengatakan bahwa sekecil apapun arti sebuah kehadiran dari orang lain di kala orang sedang susah, jika hati terbuka terhadapnya akan membawa dampak yang besar.
Natal sejatinya adalah sebuah kehadiran. Kehadiran dari Allah sendiri. Ia hadir di bumi, di tengah hiruk pikuknya kehidupan dunia. Kehidupan yang sebentar terisi sorak-sorai tanda gembira, sebentar terisi ratap tangis kesedihan. Kata orang di kehidupan yang demikian tidak ada yang bisa memastikan kapan senang, kapan susah. Harapan selalu ada bagi senang yang abadi. Tetapi tidak ada yang bisa menolak jika yang sebaliknyalah yang terjadi. Sejarah kehidupan di bumi adalah sejarah dimana kejayaan dan keruntuhan datang silih berganti, saling berpilin. Dalam sejarah yang serupa itu, Allah datang untuk menyatakan kebersamaan-Nya. Adakah yang berubah dengan kedatangan Allah tersebut? Tentu saja ada. Tanpa dan dengan Allah, hidup menjadi berbeda. Kedatangan Allah membuat hidup menjadi berbeda. Perbedaan yang ketika disadari oleh mereka yang menjalani hidup ini akan berakhir pada sebuah perubahan pula. Itulah makna sebuah kehadiran. Meski bukan berupa solusi yang instan. Tetapi yang instan belum tentu lebih bernilai. Kalaupun bernilai, belum tentu langgeng. Sedang kehadiran, seringkali terpartri dalam ingatan. Sebagaimana kehadiran Allah. Kehadiran-Nya itu selalu terpatri dalam ingatan kita. Karenanya kita terdorong untuk merayakannya dari tahun ke tahun, dalam bentuk perayaan Natal.
Kebersamaan Allah dan kita tidak berhenti dan berputar-putar di sekitar Natal saja. Kebersamaan-Nya itu merentang ke sepanjang kehidupan kita. Sampai dengan tahun yang, atas perkenan-Nya, akan kita lewati sebentar lagi. Jika tahun 2008 ini telah kita jalani bersama dengan Allah, kita patut berharap tahun 2009 nanti juga akan kita jalani bersama Allah. Keberhasilan atau kegagalan kita jalani bersama Allah. Kalaupun keadaan kita menjadi lebih buruk di tahun mendatang, itupun kita jalani bersama Allah. Kebersamaan-Nya itulah yang kiranya membuat kita tetap bertahan. Bertahan sebagai orang yang tetap memiliki harapan. Bertahan sebagai orang yang ulet. Bertahan sebagai orang yang kreatif. Tidak ada yang patut membinasakan kita, jika kebersamaan Allah selalu ada dalam kesadaran kita. Simpati-Nya kepada kita mendatangkan kekuatan yang tak berkesudahan.
Adalah juga panggilan bagi kita untuk mengikuti jejak Tuhan yang berkenan hadir di tengah hidup liyan (the other/s). Siapakah liyan itu bagi kita? Siapa pun yang baginya kehadiran kita akan membawa makna. Tetapi dalam keadaan hidup yang sulit seperti sekarang, liyan dapat kita fokuskan menjadi mereka yang miskin, menderita, tersisihkan dan tak menentu nasibnya (Matius 25:35-36). Andaikata ada yang hidupnya lebih sulit daripada kita, merekalah yang patut kita perlakukan sebagai liyan. Keberadaan mereka yang lebih menderita daripada kita bukanlah alasan untuk membuat kita bersyukur. Bersyukur karena hidup kita lebih baik daripada mereka. Bersyukur karena kita tidak semenderita mereka. Keberadaan mereka adalah justru merupakan sebuah undangan. Undangan untuk menyatakan simpati dan empati kita. Undangan untuk mewujudkan teladan Tuhan yang hendak kita ikuti.
Bangsa kita membutuhkan keteladanan agar kehadiran bagi sesama yang menderita bukan dianggap sebagai hal yang membuang-buang waktu dan sia-sia. Keteladanan bahwa hadir menjadi sesama bagi liyan bukan hanya sebuah retorika belaka yang tak pernah bermuara pada tindakan nyata. Sebagai GKI kita telah mencoba untuk memberikan keteladanan itu. Berbagai kegiatan penanggulangan bencana berupa program-program tanggap darurat telah kita lakukan bersama. Melihat besarnya dampak bencana-bencana yang datang silih berganti di negeri kita, memang apa yang kita lakukan itu bukanlah sesuatu yang bisa dengan cepat memulihkan hidup saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana. Akan tetapi yang terpenting adalah kehadiran kita. Semoga kehadiran nyata kita dirasakan maknanya oleh saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana tersebut.
Ijinkan kami dalam kesempatan ini pula menghimbau saudara-saudara agar di tahun yang baru nanti saudara dapat meningkatkan kehadiran saudara bagi liyan. Andaikata mungkin, tangguhkanlah kegiatan-kegiatan yang tidak langsung berkenaan dengan liyan (kalau boleh kami sebutkan, diantaranya dan terutama adalah kegiatan pembangunan gedung). Kami menyadari ketika kesulitan berat menimpa negeri kita, tidak ada orang yang dapat menghindar darinya. Semua akan mengalami kesulitan. Tetapi andaikan kita masih tidak lebih sulit daripada yang lain dan masih ada yang dapat kita nyatakan sebagai tanda kehadiran kita bagi mereka yang lebih sulit daripada kita, alangkah baiknya jika kita dengan rela menyatakan kehadiran kita bagi mereka. Kehadiran kita yang kami maksudkan di sini adalah terutama kehadiran sebagaimana yang diteladankan oleh Yesus Kristus, yaitu sebuah kehadiran yang nyata, kehadiran yang sedapat-dapatnya berupa diri kita sendiri.
Jika di awal tadi ada pertanyaan apakah Natal kali ini akan membawa sukacita, jawabannya sudah semestinya ya. Sebab sukacita bagi kita adalah ketika kita berhasil menyatakan kehadiran kita bagi liyan. Kalau di awal tadi dipertanyakan apakah tahun baru nanti dapat kita songsong dengan penuh gairah? Jawabannya pun ya. Sebab gairah bagi kita adalah dorongan menggebu-gebu untuk hadir bersama dengan liyan. Maka bersukacitalah dalam menyambut Natal 2008 dan bergairahlah dalam memasuki tahun baru, tahun 2009.
Pada akhirnya saudara, semua yang baik dan semua yang berkenan kepada Tuhan, lakukanlah semua itu demi kemuliaan dan kebesaran namaNya. Kiranya Tuhan memberkati dan menolong saudara-saudara dalam menjalankan pekerjaan dan pelayananNya ini!
Secara jujur harus kami akui bahwa kami tidak mampu untuk mengetahui keadaan saudara satu per satu. Tetapi jika kata-kata ini tidak dianggap semu belaka, biarlah kami mengatakannya: “kami sungguh ingin berada bersama saudara dan turut merasakan apa yang saudara rasakan”. Sebuah keinginan untuk berada bersama mungkin tidak ada gunanya. Jangankan hanya sebuah keinginan, ketika keinginan tersebut diwujudkan pun belum tentu ada gunanya. Bukankah di saat orang sedang berada dalam kesulitan, yang dibutuhkannya adalah sebuah jalan keluar? Sesuatu yang segera dapat membebaskannya dari kesulitan. Maka layak untuk dipertanyakan, apalah artinya sebuah kehadiran saja jika tidak diikuti dengan solusi konkrit? Tanpa bermaksud membela diri dan mengada-ada, ijinkan kami mengatakan bahwa sekecil apapun arti sebuah kehadiran dari orang lain di kala orang sedang susah, jika hati terbuka terhadapnya akan membawa dampak yang besar.
Natal sejatinya adalah sebuah kehadiran. Kehadiran dari Allah sendiri. Ia hadir di bumi, di tengah hiruk pikuknya kehidupan dunia. Kehidupan yang sebentar terisi sorak-sorai tanda gembira, sebentar terisi ratap tangis kesedihan. Kata orang di kehidupan yang demikian tidak ada yang bisa memastikan kapan senang, kapan susah. Harapan selalu ada bagi senang yang abadi. Tetapi tidak ada yang bisa menolak jika yang sebaliknyalah yang terjadi. Sejarah kehidupan di bumi adalah sejarah dimana kejayaan dan keruntuhan datang silih berganti, saling berpilin. Dalam sejarah yang serupa itu, Allah datang untuk menyatakan kebersamaan-Nya. Adakah yang berubah dengan kedatangan Allah tersebut? Tentu saja ada. Tanpa dan dengan Allah, hidup menjadi berbeda. Kedatangan Allah membuat hidup menjadi berbeda. Perbedaan yang ketika disadari oleh mereka yang menjalani hidup ini akan berakhir pada sebuah perubahan pula. Itulah makna sebuah kehadiran. Meski bukan berupa solusi yang instan. Tetapi yang instan belum tentu lebih bernilai. Kalaupun bernilai, belum tentu langgeng. Sedang kehadiran, seringkali terpartri dalam ingatan. Sebagaimana kehadiran Allah. Kehadiran-Nya itu selalu terpatri dalam ingatan kita. Karenanya kita terdorong untuk merayakannya dari tahun ke tahun, dalam bentuk perayaan Natal.
Kebersamaan Allah dan kita tidak berhenti dan berputar-putar di sekitar Natal saja. Kebersamaan-Nya itu merentang ke sepanjang kehidupan kita. Sampai dengan tahun yang, atas perkenan-Nya, akan kita lewati sebentar lagi. Jika tahun 2008 ini telah kita jalani bersama dengan Allah, kita patut berharap tahun 2009 nanti juga akan kita jalani bersama Allah. Keberhasilan atau kegagalan kita jalani bersama Allah. Kalaupun keadaan kita menjadi lebih buruk di tahun mendatang, itupun kita jalani bersama Allah. Kebersamaan-Nya itulah yang kiranya membuat kita tetap bertahan. Bertahan sebagai orang yang tetap memiliki harapan. Bertahan sebagai orang yang ulet. Bertahan sebagai orang yang kreatif. Tidak ada yang patut membinasakan kita, jika kebersamaan Allah selalu ada dalam kesadaran kita. Simpati-Nya kepada kita mendatangkan kekuatan yang tak berkesudahan.
Adalah juga panggilan bagi kita untuk mengikuti jejak Tuhan yang berkenan hadir di tengah hidup liyan (the other/s). Siapakah liyan itu bagi kita? Siapa pun yang baginya kehadiran kita akan membawa makna. Tetapi dalam keadaan hidup yang sulit seperti sekarang, liyan dapat kita fokuskan menjadi mereka yang miskin, menderita, tersisihkan dan tak menentu nasibnya (Matius 25:35-36). Andaikata ada yang hidupnya lebih sulit daripada kita, merekalah yang patut kita perlakukan sebagai liyan. Keberadaan mereka yang lebih menderita daripada kita bukanlah alasan untuk membuat kita bersyukur. Bersyukur karena hidup kita lebih baik daripada mereka. Bersyukur karena kita tidak semenderita mereka. Keberadaan mereka adalah justru merupakan sebuah undangan. Undangan untuk menyatakan simpati dan empati kita. Undangan untuk mewujudkan teladan Tuhan yang hendak kita ikuti.
Bangsa kita membutuhkan keteladanan agar kehadiran bagi sesama yang menderita bukan dianggap sebagai hal yang membuang-buang waktu dan sia-sia. Keteladanan bahwa hadir menjadi sesama bagi liyan bukan hanya sebuah retorika belaka yang tak pernah bermuara pada tindakan nyata. Sebagai GKI kita telah mencoba untuk memberikan keteladanan itu. Berbagai kegiatan penanggulangan bencana berupa program-program tanggap darurat telah kita lakukan bersama. Melihat besarnya dampak bencana-bencana yang datang silih berganti di negeri kita, memang apa yang kita lakukan itu bukanlah sesuatu yang bisa dengan cepat memulihkan hidup saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana. Akan tetapi yang terpenting adalah kehadiran kita. Semoga kehadiran nyata kita dirasakan maknanya oleh saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana tersebut.
Ijinkan kami dalam kesempatan ini pula menghimbau saudara-saudara agar di tahun yang baru nanti saudara dapat meningkatkan kehadiran saudara bagi liyan. Andaikata mungkin, tangguhkanlah kegiatan-kegiatan yang tidak langsung berkenaan dengan liyan (kalau boleh kami sebutkan, diantaranya dan terutama adalah kegiatan pembangunan gedung). Kami menyadari ketika kesulitan berat menimpa negeri kita, tidak ada orang yang dapat menghindar darinya. Semua akan mengalami kesulitan. Tetapi andaikan kita masih tidak lebih sulit daripada yang lain dan masih ada yang dapat kita nyatakan sebagai tanda kehadiran kita bagi mereka yang lebih sulit daripada kita, alangkah baiknya jika kita dengan rela menyatakan kehadiran kita bagi mereka. Kehadiran kita yang kami maksudkan di sini adalah terutama kehadiran sebagaimana yang diteladankan oleh Yesus Kristus, yaitu sebuah kehadiran yang nyata, kehadiran yang sedapat-dapatnya berupa diri kita sendiri.
Jika di awal tadi ada pertanyaan apakah Natal kali ini akan membawa sukacita, jawabannya sudah semestinya ya. Sebab sukacita bagi kita adalah ketika kita berhasil menyatakan kehadiran kita bagi liyan. Kalau di awal tadi dipertanyakan apakah tahun baru nanti dapat kita songsong dengan penuh gairah? Jawabannya pun ya. Sebab gairah bagi kita adalah dorongan menggebu-gebu untuk hadir bersama dengan liyan. Maka bersukacitalah dalam menyambut Natal 2008 dan bergairahlah dalam memasuki tahun baru, tahun 2009.
Pada akhirnya saudara, semua yang baik dan semua yang berkenan kepada Tuhan, lakukanlah semua itu demi kemuliaan dan kebesaran namaNya. Kiranya Tuhan memberkati dan menolong saudara-saudara dalam menjalankan pekerjaan dan pelayananNya ini!
Badan Pekerja Majelis Sinode
Gereja Kristen Indonesia,
Pdt.Dr. Lazarus H. Purwanto Pdt. Dr. Robert Setio
Sekretaris Umum Ketua Umum
|
Posted Thursday, 11 December 2008 |
halaman sebelumnya | warta lainnya | Halaman Depan |


