Naomi HS
Barker Road Methodist Church Singapura
Jr. Member
 
Offline
Posts: 77
View Profile
|
Anak saya akan bilang dia masih kecil, kalau saya sedang menegur kesalahannya. Sebaliknya, dia akan bilang dia sudah besar kalau saya tidak mengijinkan sesuatu yang dia inginkan. Sangat menggelikan. Mengapa dia bisa berpikir seperti itu, sebenarnya sangat wajar. Karena saya sering melakukannya.
Saya sering menyemangati dia dengan kata 'kamu kan sudah besar, pasti bisa'. Dan akan mengatakan juga 'kamu tidak boleh ini dan itu, karena masih kecil'. Jadi, sayalah yang sebenarnya yang menggelikan memang, ridiculous, nonsensical.
Ternyata saya banyak menemui orang-orang yang saya golongkan pada ridiculous, selain saya sendiri dan anak saya. Seseorang akan mudah sekali memaklumi, jika tubuh atau kedagingan itu lemah. Sehingga pemahaman ini terkadang dipakai sebagai alasan untuk membenarkan tindakannya. Ada orang mengeluh demikian, 'minggu- minggu ini saya banyak menemui masalah, maklum saja saya lagi males sekali doa, yah... tubuh memang lemah ya...' dan sayapun mengiyakan begitu saja, kadang terkesan membenarkan dengan membicarakan 'iman yang up and down'.
Terkadang ada teman sampai beradu argumentasi, yang mengarah ke perselisihan. Setelah cooling down, diapun memakai senjata kelemahan tubuh untuk alasan kemarahannya. 'Bagaimana tidak emosi, saya sudah mempersiapkan semuanya dengan sungguh-sungguh, dia tidak membantu, malah mencela..' ada juga yang sebenarnya menyadari kalau emosi itu salah, tetapi tetap berkata demikian: maaf ya, saya tadi emosi, saya sangat capai beberapa hari ini, eh malah dengar omongan yang enggak-enggak... siapa yang nggak tersinggung...?' dan pasti banyak lagi kasus seperti di atas. Ridiculous-kah itu..?? Belum! Lalu dimana ke-ridiculous-nya??
Disini. Berbicara tentang kelemahan tubuh, nafsu kedagingan, memang mudah dimengerti. Tetapi kalau kelemahan tubuh dijadikan alasan untuk membenarkan kesalahan, ini yang harus diselidiki dulu, dan akan muncul pembuktian dengan sendirinya.
Ada saat yang sulit, untuk membicarakan masalah ketekunan kepada orang lain. Padahal ketekunan adalah salah satu kunci utama untuk mengatasi kelemahan tubuh. Orang yang terbiasa berdoa sebelum bertindak, sangat kecil kemungkinan nya untuk bersikap ceroboh, atau emosi. Orang yang terbiasa merenungan Firman setiap hari, juga lebih bisa mengendalikan diri dalam menghadapi situasi-situasi sulit. Terlebih orang yang terbiasa merenungi Firman setiap hari, lebih kecil lagi kemungkinannya untuk out of control. Mengapa demikian? Karena kebiasaan.
Tubuh memang lemah, benar. Tetapi kita mempunyai kemampuan untuk berpikir. Otak kita yang tidak seberapa besar, sanggup menyimpan memori yang besar dan tidak pernah overload. Dengan membiasakan diri untuk hal-hal yang baik, otak merekamnya dengan otomatis. Dan dengan otomatis pula dia akan mengirim pesan jika kita tidak melakukan kebiasaan tersebut. Contoh yang mudah, saya terbiasa bangun pagi. Jadi, saya mengalami kesulitan untuk terlambat bangun, karena otak saya selalu memerintahkan saya bangun meskipun tanpa alarm. Malah ada teman saya yang sudah terbiasa bersaat teduh sebelum kerja. Pernah sekali waktu tidak sempat bersaat teduh karena terlambat. Dia mengatakan sepertinya ada yang kurang hari itu, seperti orang yang ujian tapi belum belajar. Ada kekuatiran disana.
Tidak mudah untuk menganjurkan kebiasaan di atas pada orang lain. Banyak alasan yang akan muncul, seperti, tidak sempat, kelupaan, malas, tidak ada waktu, tidak mungkin dll. Inilah letak ke-ridiculous-annya. Disaat melakukan kesalahan, orang dengan mudahnya memakluminya, baik kesalahan diri sendiri ataupun orang lain. Tetapi tidak mau atau berat hatinya untuk melakukan latihan-latihan yang bisa membantu untuk mengatasi kelemahan tubuh tersebut. Ini bisa disamakan dengan orang yang berharap untuk cepat sembuh, tetapi tidak mau minum obatnya.
Dalam Mat. 26:41; Mrk. 14:38 dikatakan: Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."
Tuhan sudah memberi kita karunia untuk berpikir. Tubuh memang lemah, tetapi kita mempunyai iman. Kita bisa mengendalikan tubuh asalkan kita sungguh- sungguh. Apakah kemampuan berpikir bukan suatu karunia? Ini adalah karunia yang luar biasa. Akankah kita sia-siakan karunia ini? Ataukah kita akan memanipulasinya untuk memenangkan keinginan-keinginan yang lain. Tentu tidak bukan?
Ibarat sebuah pertandingan, kita mempunyai target yang harus kita raih. Dengan roh yang beriman, kita mengetahui ada hadiah keselamatan disana. Dengan roh yang beriman, kita memberi semangat kepada tubuh kita untuk bergerak maju, melewati segala rintangan, untuk mencapai tujuan. Iman selalu bekerja-sama dengan tubuh.
Iman tanpa perbuatan adalah omong kosong. Melakukan segala sesuatu tanpa dasar imanpun akan sia-sia. Karena kita tidak punya harapan apa yang akan kita raih. Dengan beriman, kita melakukan semua perbuatan baik, karena demikianlah Firman Tuhan. Apakah itu berat? Pasti berat, selama kita hidup dalam daging. Tetapi Tuhan sudah memberi karunia berpikir kepada kita, tinggal bagaimana kita memanfaatkan karunia berpikir tadi untuk menunjang keimanan kita. Dalam tubuh yang lemah, kita bisa berpikir, kita bisa melihat, kita bisa mendengar, kita bisa merasakan tuntunan Tuhan di dalam hidup ini.
Amin.
|