Naomi HS
Barker Road Methodist Church Singapura
Jr. Member
 
Offline
Posts: 77
View Profile
|
Saya membaca susunan acara tepatnya aksi natal di sebuah gereja yang kebetulan saya singgah. Gereja ini mengajak saudara kita yang kurang beruntung hidupnya untuk ikut bersuka-cita dalam menyambut Natal. Mereka berkunjung dan mengadakan perayaan Natal dengan membagi- bagikan hadiah juga sembako di panti asuhan, panti jompo, orang-orang cacat, tuna wisma, penjara, di perumahan kumuh, dan semua itu di filmkan.
Saya melihat saudara-saudara kita yang kurang beruntung tadi begitu bahagia, nampak di wajah mereka saat mereka bertepuk tangan dan menyanyi mengikuti lagu natal yang dinyanyikan. Kegembiraan itu seakan bertambah tatkala bingkisan natal dan sembako dibagikan. Sangat mengharukan, melihat kegembiraan mereka walaupun hanya sesaat. Saya membayangkan pasti setiap Natal menjelang, saudara kita tadi pasti sudah bersemangat karena berpikir bahwa akan ada banyak rejeki yang datang, karena memang setiap tahun ternyata gereja ini mengadakan aksi sosial. Spirit Natal ada pada setiap orang. Dan benar, harapan itu tidak sia-sia. Banyak aksi sosial dilakukan oleh orang-orang ataupun organisasi juga gereja.
Setelah saat yang menggembirakan itu tiba dan berlalu, saya membayangkan pasti kegembiraan itu masih tersisa bahkan terbawa dimimpinya. Hingga esok haripun sisa-sisa kebahagiaan itu tentu masih ada, saya pikir, selama atau seumur bingkisan dan sembako yang mereka dapatkan. Karena setelah itu, kehidupan akan kembali seperti biasanya. Tidak banyak orang berkunjung, tidak ada acara khusus dan pasti tidak ada hadiah, perhatian dan kasih yang gegap gempita. Sulit membayangkan harapan apa lagi yang ada di benak orang-orang tadi. Saya membayangkan mereka pasti akan menarik nafas panjang dan berat sambil menguat-nguatkan hati, menghadapi kehidupan yang sulit kedepan dan menyabarkan hati menunggu Natal di tahun depan.
Timbul pertanyaan di hati saya, benarkah Kristus sudah lahir? Benarkah Kristus membawa sukacita? Bagi mereka yang tidak berdaya, mengapa sukacita itu datangnya musiman? Mengapa sukacita itu hanya dirasakan oleh sebagian orang? Mengapa mereka tidak bisa merasakan sukacita itu lebih sering? Membayangkan hal itu, hati saya sangat sedih. Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu orang-orang malang itu? Apa yang sudah saya lakukan selama inipun ternyata hanya membahagiakan beberapa orang saja, atau, membahagiakan diri saya sendiri tepatnya.
Mengapa saya menganggap membahagiakan diri sendiri? Karena saya sadar kalau saya tidak rutin menolong orang-orang yang membutuhkan. Saya cenderung memberi jika ada orang yang meminta, atau memberi berdasarkan mood atau suasana hati saja. Dan setelah memberi, ada perasaan bahagia di hati saya. Saya bahkan tidak pernah mencari tahu apakah yang saya beri juga bahagia sama seperti saya. Atau bertanya kira-kira apa yang mereka butuhkan dan yang membikin mereka bahagia.
Kebahagiaan yang terjadi ternyata tidak sebanding dengan banyaknya orang-orang yang malang . Satu kota, bisa ada beberapa panti asuhan, beberapa panti jompo, panti-panti cacat, berapa ribu tuna wisma. Belum lagi para korban bencana alam, kelaparan. Disaat saat saya sedang merenung-renung dan membayang-bayangkan, seorang kerabat saya menghubungi saya dan mengeluh dalam pembicaraan kita via telephone. Dia dalam keadaan menderita ketakutan karena mendapati banyak sekali kejatuhan dosa menimpa orang-orang yang dikasihinya. Saya memberinya kekuatan dengan memberi pesan demikian; “Kita tidak bisa mengubah dunia, karena kita tidak mampu. Tetapi kita sudah diberi kuasa oleh Yesus, untuk mengubah dunia di sekeliling kita. Dengan cara apa? Ya dengan perbuatan kita.”
Tuhan datang ke dunia bukan untuk meniadakan kemalangan atau dosa. Demikian pula kita sebagai pengikut-Nya. Kita bukan meniadakan, tetapi memeranginya. Kita diutus untuk mengabarkan berita keselamatan, dimana Allah sangat mengasihi umat manusia sehingga menghapus dosa-dosanya dengan mengorbankan Yesus di kayu salib. Kasih Allah itulah yang harus kita beritakan, kita bagi-bagikan. Memberitakan kasih Allah harus dengan perbuatan, bukan hanya perkataan. Karena selama manusia hidup di dunia, mereka ada di bawah hukum daging. Mereka memerlukan makanan, pakaian, tempat tinggal, kebahagiaan, rasa aman, perhatian dll. Dengan perbuatan, kita bisa memerangi penderitaan, minimal menguranginya.
1Yoh. 3:18 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.
Saya kembali mengingat saudara kita yang kurang beruntung tadi sambil membayangkan lagi, jika saja semua pengikut Kristus demikian, kebahagiaan mereka tentu tidak akan lagi musiman atau hanya ada di saat Natal. Benarkah Kristus sudah lahir? Pasti tidak ada orang yang akan bertanya lagi.
|