Author
|
Topic: SIM GKI (Read 4282 times)
|
Daniel Sugiarto
Administrator
GKI Peterongan Semarang.
Newbie
    
Offline
Posts: 13
View Profile
|
 |
SIM GKI
« on: March 15, 2006, 10:56:16 AM » |
|
Komisi Pengembangan Informasi GKI SW Jateng telah mengadakan pelatihan SIM GKI bekerjasama dengan Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta Gelombang I : 23-24 Januari 2006 di ikuti 24 Jemaat, 50 peserta Gelombang II : 13-14 Maret 2006 di ikuti 20 Jemaat, 35 peserta Gelombang II : 14-15 Maret 2006 di ikuti 17 Jemaat, 25 peserta http://www.gki.or.id/forum/index.php/topic,15.0.htmlRespon dari Jemaat-Jemaat sangat baik, terbukti dengan jumlah peserta yang mengikuti pelatihan dari 61 Jemaat dari 86 Jemaat di Sinode Wilayah Jawatengah. Menyadari SIM GKI ver 1.0 ini masih belum sempurna dan KPI akan terus mengembangkannya, mohon bantuan rekan-rekan untuk memberi masukkan/komentar dari hasil implementasi di Jemaat setempat. Silahkan Rekan-rekan bisa menggunakan forum ini untuk diskusi tentang SIM GKI Salam Komisi Pengembangan Informasi GKI SW Jateng
|
|
|
|
« Last Edit: March 15, 2006, 01:36:43 PM by Daniel Sugiarto »
|
Logged
|
|
|
|
Donny Adi Wiguna
GKI Tm. Cibunut Bandung
Newbie

Offline
Posts: 7
View Profile
|
 |
Re: SIM GKI
« Reply #1 on: March 16, 2006, 07:04:45 PM » |
|
Salam dalam kasih Kristus,
Beberapa catatan saya tentang program... hanya komentar saja...
1. Sebaiknya menu untuk referensi yang sifatnya publik (sinode, klasis, dst) hanya bisa diedit oleh KPI saja, jadi dipisahkan dari menu referensi yang bisa diedit oleh jemaat (wilayah, kegiatan, dst.)
2. Agar tidak harus mengirimkan semua file, sebaiknya ada cara untuk membuat file transfer khusus untuk bagian referensi publik (seperti poin 1). Bisa memakai fasilitas XML, yang kalau mau aman bisa juga memakai program enkripsi seperti PGP yang gratis.
3. Pada bagian-bagian mutasi, seperti mutasi alamat, sebaiknya dibuat otomatis saja. Kalau orang mengganti alamat, akan dikonfirmasi. Kalau konfirmasi OK, otomatis alamat lama masuk ke tabel mutasi alamat, sedangkan alamat baru dipajang di tabel jemaat.
4. Lebih teknis pada tabel: usul saya adalah memakai primary key yang sifatnya internal, mungkin berupa autonumber. Sedangkan nomor induk jangan jadi acuan, sebab mungkin saja ada kemungkinan di mana terjadi duplikasi nomor induk karena salah input. Kalau kesalahannya terjadi di satu jemaat, lebih mudah terdeteksi. Tetapi kalau kesalahannya terjadi inter-jemaat, kesalahan baru akan diketahui di saat penggabungan data kelak... betapa repotnya nanti kalau data-data jemaat digabungkan.
5. Tentang inputnya: bisa dibuat lebih sederhana? Maksudnya begini: ada data-data fundamental yang penting dan harus diisi. Tetapi ada juga data-data yang bisa diedit belakangan, sifatnya sekunder. Sekarang kalau kita lihat, di entry data jemaat, di dialog yang sama ada input nama dan input pekerjaan juga. Jadinya, kelihatannya banyak sekali yang perlu diinput. Akan lebih enak jika hal-hal ini dipisahkan. Sebaliknya, kalau dilihat justru nama istri/suami ada di tab lain (dan harus sedikit dicari dulu untuk mengisinya), padahal itu kan data fundamental (menurut saya).
6. Ada beberapa field yang rasanya lumayan bikin susah, seperti nomor akta dan nomor catatan sipil. Sampai seberapa jauhnyakah manfaat dari nomor-nomor ini?
7. Saya usul, berkaitan dengan pembinaan jemaat, program ini juga bisa mencatat sejauh mana seorang jemaat sudah dibina (BUKAN Pastoral). Misalnya pernah ikut Sekolah Alkitab Malam, atau pernah ikut kuliah teologia dan lulus sebagai M.A. ... ini perlu untuk pemberdayaan jemaat awam.
Wah... jadi banyak komentar nih.
8. Yang terakhir: saya rasa program ini bagus sekali, karena sudah ada dan bisa berjalan. Jadi, jalankanlah saja. Tetapi perlu dipikirkan untuk membuat modul-modul yang mengacu pada database yang sama, sebagai perluasan.
Salam kasih, Donny
|
|
|
|
|
Logged
|
|
|
|
paulus phoek
gki coyudan
Newbie

Offline
Posts: 11
me? Discovering myself could be a lifetime journey
View Profile
WWW
|
 |
Re: SIM GKI
« Reply #2 on: March 29, 2006, 01:05:29 AM » |
|
Bp. Daniel, bisakah memberi informasi or bayangan biaya yg dibutuhkan utk set up sistim absensi anggota jemaat dengan menggunakan kartu, bagi jemaat beranggota 2 ribu sd 4 rb.... thanks before. 
|
|
|
|
|
Logged
|
always smile :p
|
|
|
Daniel Sugiarto
Administrator
GKI Peterongan Semarang.
Newbie
    
Offline
Posts: 13
View Profile
|
 |
Re: SIM GKI
« Reply #3 on: March 30, 2006, 10:42:20 PM » |
|
Untuk masukkan dari P. Dony A.W. akan menjadi catatan KPI untuk pengembangan software selanjutnya. Untuk Pak Paulus Poek. Sistim Absensi ada 2 macam ( Barcode dan RFID ) Sistim Barcode.Hardware yang diperlukan. Di pintu masuk diperlukan 1 Set Komputer + Barcode Scaner, Untuk PC harga sesuai dengan Spec yang di kehendaki, pakai celeron pun sudah cukup. Untuk Barcode Reader ada beberapa macam dan merk, jika menggunakan yang ccd harga (750rb s/d 1,5Jt) cukup murah tetapi kepekaan kurang, ada kemungkinan akan menimbulkan antrian cukup panjang, Jika menggunakan Laser Scaner dengan sinar yang terpencar ( biasa dipakai di Swalayan) harga ( 350 s/d 450 USD) relatif lebih mahal dan respon lebih cepat. Jika pengunjung kebaktian > 500 Orang diperlukan lebih dari 1 set komputer. Harga Kartu plastik relatif murah dan tergantung dengan teknologi pencetakan ( Blank Card dicetak dengan Thermal transfer, atau dengan sistim Inkjet + pemanas/laminating + mesin ponch) apakah akan di cetak sendiri atau akan dibuatkan di luar, juga tergantung dengan apakah akan dicetak lengkap dengan Foto atau hanya nama + barcode saja. Saya sarankan untuk GKI di Solo bekerjasama atau klasis mengkoordinir pengadaan mesin untuk pencetak Kartu Plastik, sehingga harga bisa lebih murah. Perkiraan saja untuk kartu plastik jika dikerjakan diluar tanpa foto +/- Rp 3.500,-/pc Untuk selanjutnya total perkiraan biaya bisa dihitung sendiri Sistim RFID. Teknologi ini di Indonesia belum banyak dipakai namun di Negara maju telah banyak dipakai dan saat ini harga Reader maupun kartu sudah relatif murah dibanding dengan teknologi yang dimiliki, karena didalam kartu akan tercatat informasi yang lengkap (sekaligus sebagai backup data) dan dapat mencatat 1Kb atau 4Kb tergantung kapasitas memori kartu tsb. Bahkan kartu tidak perlu dikeluargan dari Dompet/alkitab dan bisa langsung membaca beberapa kartu yang ditumpuk, proses absen sangat mudah dan cepat. Untuk Harga Kartu Kosong( belum tercetak) 1.25 s/d 1.5 USD tergantung jumlah, untuk biaya cetak 1 Muka Full Color ( Rp 4,500 s/d Rp 5,000) dan 1 muka Hitam saja ( Rp 1.000). Hanya harga Mesin cetak +/- 25 Juta. Jika beberapa GKI memesan sekaligus, maka logo, background warna dan text yang lain di cetak pre printing akan lebih murah dan untuk masing2 kartu tinggal dicetak nama+nomer Induk di cetak hitam saja ini akan lebih murah, mungkin 1 kartu tidak sampai Rp 17,000.- Minimum cetak Pre Painting 6000 Kartu ( gabungan beberapa Jemaat). Untuk RFID Reader ada 2 macam, 1 Komputer + 1 Reader atau 1 Komputer dengan beberapa Reader yang terhubung dengan RS 485. Untuk yang standalone dan bisa disambung beberapa reader juga dilengkapi dengan fasilitas pembuka pintu elektrik. Untuk Informasi tentang RFID bisa lihat di http://indonetwork.co.id/gunadatacom/prod Semoga informasi ini dapat memberikan bayangan dan dapat dipakai untuk membuat anggaran program th 2006-2007. Salam Daniel Sugiarto
|
|
|
|
|
Logged
|
|
|
|
Adi Suryaputra P
GKI Jemursari
Newbie

Offline
Posts: 4
View Profile
|
 |
Re: SIM GKI
« Reply #4 on: April 06, 2006, 11:02:18 AM » |
|
Rekan-rekan GKI sekalian
kebetulan ketika tugas akhir saya , saya mencoba mendesain dan mengimplementasikan suatu sistem administrasi berbasis web, sistem ini saya desain dan implementasikan di GKI Jemursari Surabaya ,apabila ada rekan-rekan yang ingin melihat saya bisa berikan source code beserta databasenya lengkap
bagi yang berminat bisa menghubungi saya via japri
terimakasih
GBU
|
|
|
|
|
Logged
|
Best Regards Adi Suryaputra P
|
|
|
paulus phoek
gki coyudan
Newbie

Offline
Posts: 11
me? Discovering myself could be a lifetime journey
View Profile
WWW
|
 |
Re: SIM GKI
« Reply #5 on: July 24, 2006, 11:05:59 PM » |
|
Pak Daniel, saya sedang mencoba mengaplikasikan SIM GKI di jemaat kami. Terus terang saya agak lupa dengan beberapa hal. berikut ini beberapa pertanyaan saya berkaitan program SIM GKI. 1. Apakah benar tanggal lahir merupakan data penting dan merupakan penentu nomor induk? 2. Apabila banyak data anggota yang belum ada tanggal lahirnya, apakah bisa "sementara" diisi misalnya : 01 januari 2000 semua? sementara itu saja. Terima kasih buanyaaaak 
|
|
|
|
|
Logged
|
always smile :p
|
|
|
Daniel Sugiarto
Administrator
GKI Peterongan Semarang.
Newbie
    
Offline
Posts: 13
View Profile
|
 |
Re: SIM GKI
« Reply #6 on: July 31, 2006, 08:15:18 PM » |
|
Pak Paulus Phoek, Sorry saya baru sempat posting . Benar tanggal Lahir digunakan sebagai pedoman pembuatan nomer Induk, Jika ada anggota Jemaat yang lupa tanggal Lahirnya maka bisa diberikan tanggal lahir sebagai pedoman saja pembuatan Nomer Induk anggota, misalnya 01 Januari XXXX(Tahun) untuk tahun diperkirakan Usia dari anggota tersebut. Salam Daniel Sugiarto Pak Daniel, saya sedang mencoba mengaplikasikan SIM GKI di jemaat kami. Terus terang saya agak lupa dengan beberapa hal. berikut ini beberapa pertanyaan saya berkaitan program SIM GKI. 1. Apakah benar tanggal lahir merupakan data penting dan merupakan penentu nomor induk? 2. Apabila banyak data anggota yang belum ada tanggal lahirnya, apakah bisa "sementara" diisi misalnya : 01 januari 2000 semua? sementara itu saja. Terima kasih buanyaaaak 
|
|
|
|
|
Logged
|
|
|
|
Lily Retnowati
GKI Kartasura
Newbie

Offline
Posts: 2
View Profile
|
 |
Re: SIM GKI
« Reply #7 on: August 31, 2006, 12:22:18 AM » |
|
Sdr. Donny saya setuju dengan pendapat Anda tentang aplikasi SIM GKI, kritikan saya sama dengan Anda dan teman-teman lain membuat group Programmer membantu sdr. Daniel untuk memperbaiki sistem ini. Kita kembangkan aplikasi ini pakai database sederhana seperti My SQL yang gratis saja. Kalau sistem recording datanya dibuat dengan cara pelacakan sebelum simpan, tentu User tidak perlu melihat kesalahan Unique record, atau kesalahan lain. Untuk menunjang ide menghemat biaya gereja akan memakai tenaga IT khusus, kita kembangkan juga sistem recording data dengan menggunakan RFID. Untuk menunjang keperluan administrasi, kita buat saja aplikasi yang memakai database tersebut untuk membuat surat permohonan kotbah dan lainnya.
Dengan Kartu RF ID, Jemaat tidak perlu melakukan absensi seperti karyawan masuk pabrik (aja). bahkan kartupun gak perlu keluar kantong bisa. Yang masalah harganya, jika kita ingin kartu terbaca pada jarak cukup jauh (antar sensor dan Kartu) maka kita memilih kartu high frequency, kalau kebutuhan kita adalah kartu dilewatkan diatas reader, maka cukup membeli yang tipe frequency rendah. (beda harganya separuh lebih, contoh Kartu RFId frekuensi rendah (125 Khz), yang tidak bisa ditulis harganya 1USD kurang dan yang bisa ditulis harganya sekitar 1,3 USD. baca jarak 5 cm (Promosinya sih 12 cm sampai 15 cm) harganya sekitar 500 sampai 1 jutaan (keyboard emulation). Kalau dirancang bisa simpan data secara off line harganya sekitar Rp. 4.000.000 Kalau pengen nyaman pakai yang high frequency (13 Mhz) bisa dibaca sensor sampai 2 meter (atau akurat 1,2 sampai 1,5 m) harganya sekitar 1,5 USD/kartu. tapi 1 reader harganya masih belasan juta rupiah. Kartu RFId dijadikan ID Card untuk keluarga GKI. Mana tahu ada yang mau kasih discount khusus, Ongkos cetak pengenal ini kurang lebih Rp. 5.500 full color. Kalau sistem seperti ini baru kayak iklan sampurna, "kalo bisa disederhanakan kenapa harus dibuat repot"
CHRISTIAN JOHAN
|
|
|
|
|
Logged
|
|
|
|
|
|