Oleh Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 19 Oktober 2008
Tahun A Minggu Biasa 21
BERHATI-HATI DALAM BERKATA-KATA
Keluaran 33:12-23; Mazmur 99; I Tesalonika 1:1-10; Matius 22:15-22
Apa Saudara masih ingat kisah Naaman yang disembuhkan Tuhan melalui nabi Elisa? Padahal sakit kusta tapi bisa sembuh seketika hanya dengan cara mandi di sungai Yordan. Nah,Gehazi hamba Elisa itu secara diam-diam menemui Naaman dan berkata dusta bahwa disuruh tuannya karena ada keperluan mendesak, untuk meminta hadiah yang semula telah ditolak oleh tuannya. Kata-kata dustanya telah mendatangkan kekayaan besar bagi Gehazi. Tapi karena tetap berkata dusta setelah berhadapan dengan Elisa maka Gehazi dihukum Tuhan, penyakit kusta Naaman pindah ke tubuh Gehazi dan ke semua anak cucunya! Di Perjanjian Baru kisah Ananias dan Safira lebih mengerikan lagi. Waktu mempersembahkan untuk pekerjaan Tuhan, Ananias telah mendustai diri sendiri, mendustai Petrus dan Roh Kudus mengenai hasil penjualan tanahnya, maka ia mendapat hukuman dari Tuhan tewas seketika. Safira, isterinya mengalami hal yang sama karena meneguhkan kata-kata dusta Ananias.
Saya tidak bermaksud membuat Saudara menjadi takut.Sangat mungkin hal-hal seperti itu sudah tidak atau jarang kita jumpai lagi. Tapi yang penting, marilah kita terima peringatan dari Tuhan supaya berhati-hati dalam berkata-kata. Ketika kita berkata-kata kepada Tuhan dalam doa, maupun kepada keluarga dan sesama dalam pergaulan kita. Mengenai berkata-kata,Tuhan Yesus bersabda dalam Matius 5:37 “Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Ajaran Tuhan Yesus ini menimbulkan pertanyaan di hati kita:”Jika orang kristen harus bicara apa adanya, apakah tidak akan dijadikan bulan-bulanan oleh orang jahat?” Jangan lupa Tuhan Yesus juga berkata dalam Matius 10:16 “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala. Sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” AjaranNya ini selalu diwujud- nyatakan oleh Tuhan Yesus dalam hidupNya; seperti dalam bacaan kita tadi, Matius 22:15-22. Di awali dengan perundingan orang-orang Farisi untuk menjerat Tuhan Yesus dengan suatu pertanyaan. Untuk itu mereka lalu mengutus murid-murid mereka bersama orang-orang Herodian menghadap Tuhan Yesus. Mula-mula menyampaikan kata-kata yang mengandung pujian tapi palsu, kemudian baru pertanyaan jerat yang tendensius dan dilematis. Mereka itu seperti serigala yang siap menerkam domba. Pertanyaan yang diajukan sepertinya sangat sederhana, tapi bisa berakibat fatal bagi jiwa Tuhan Yesus. “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar atau tidak?” Jika dijawab “boleh” maka Tuhan Yesus bagi bangsaNya adalah seorang pengkhianat, pengecut, sahabat kaisar sang penjajah. Jika dijawab “tidak boleh” maka mereka akan melaporkan kepada orang-orang Romawi, dan Tuhan Yesus akan ditangkap sebagai seorang revolusioner dan penghasut, pemberontak. Mereka yakin bahwa Tuhan Yesus sudah masuk ke dalam perangkap, dan tidak bakal bisa melepaskan diri. Saudara, mereka tidak berhati-hati dalam berpikir, berkata-kata maupun bertindak. Mereka lupa diri dan tidak sadar sedang berhadapan dengan siapa? Pada tempatnya jika Tuhan Yesus marah, tapi tidak kita jumpai dalam Alkitab, yang jelas Tuhan Yesus kecewa berat dan merasa sedih, itu terbaca dalam ayat 18, demikian: Tetapi Yesus mengetahui
kejahatan hati mereka itu lalu berkata:”Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?” Jadi Saudara, kejahatan hati akan menghasilkan kata-kata yang berbisa! Kemudian kata Tuhan Yesus:”Tunjukkan kepadaKu mata uang untuk pajak itu.” Setelah ditunjukkan dan ternyata ada gambar serta tulisan kaisar di sana, berkatalah Tuhan Yesus:”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Inilah contoh terbaik dan tepat untuk “Berhati-hati dalam berkata-kata”. Di dalamnya ada kecerdikan dan ketulusan. Cerdik dalam menyikapi kejahatan, tulus dalam mengungkap kebenaran. Jawaban Tuhan Yesus membuat mereka heran dan meninggalkan Dia. Kata-kata sembrono dan beracun telah ditangkis dengan kata-kata bijak tanpa cela. Jika keping uang itu ada gambar dan tulisan Kaisar, tentunya milik Kaisar maka wajib dikembalikan kepada Kaisar sebagai pajak. Tapi! Dalam diri kita ada gambar Allah, bukan? Berarti kita adalah milik Allah, maka wajib kita serahkan hidup kita kepada Allah! Lebih jauh patut kita ketahui bahwa Kerajaan Allah mencakup wilayah mana pun di dunia ini, jadi setiap orang termasuk Kaisar harus tunduk dan wajib “membayar pajak” kepada Allah Yang Maha Kuasa. Termasuk kepada Putera Allah dan Allah Putera!
Saudara mari sekarang kita menyimak bacaan kita yang pertama, Keluaran 33. Kita membaca di sana bahwa sebenarnya Tuhan memberi hal-hal yang penting. Kepada Musa yang dikenalNya dengan baik itu Tuhan memberi kasih karunia, dan di ayat 14 secara pribadi Tuhan bersedia membimbing Musa dan memberi ketenteraman. Walaupun demikian tetap ada satu hal yang mengganjal di hati Musa, yaitu: Mengapa Tuhan hanya akan mengutus seorang malaikat dalam perjalanan umat Allah ke Tanah Kanaan? Meskipun malaikat itu handal sehingga berkuasa menghalau musuh-musuh yang akan merintangi perjalanan mereka, meskipun mereka dijamin tiba di tempat tujuan dengan selamat, tetapi Musa tetap tidak senang hati. Aneh,bukan? Biasanya manusia bersyukur dan pasti merasa bangga jika didampingi oleh malaikat, apalagi malaikat khusus yang diutus oleh Tuhan sendiri. Di ayat 15 lebih tegas Musa berkata jika Tuhan sendiri tidak membimbing, lebih baik tidak berangkat! Saudara, apa ini tidak kliwat batas? Sepertinya Musa begitu sembrono dengan kata-kata penolakannya, sangat tidak berhati-hati dalam berkata, kepada Tuhan lagi! Untung besar bahwa Musa berhadapan dengan Tuhan, yang mendengar kata-kata dan sekaligus dapat melihat isi hati yang sedalam-dalamnya. Meskipun Tuhan mendengar kata-kata yang bernada membangkang, namun Ia melihat hati Musa yang tulus menghargai dan mencintai Tuhan serta umatNya. Bagi Musa kehadiran malaikat, perjalanan yang aman, dan akhirnya tiba di Tanah Perjanjian dengan selamat, semua itu menjadi nomer dua. Nomer satu dan yang terpenting adalah Tuhan! Seperti bunyi Mazmur 73:25B “Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Jika Tuhan yang sejauh ini selalu menyertai perjalanan lalu tiba-tiba hanya mau mewakilkan malaelatNya, maka mesti ada yang tak beres. Hubungan Tuhan dengan Musa baik-baik saja, tetapi tidaklah demikian dengan umatNya. Lalu apa artinya semua keerhasilan yang dicapai umat Tuhan jika tetap ditandai keretakan hubungan dengan Pribadi yang utama, yaitu Tuhan? Keperihatinan Musa yang membuat ia kurang bersyukur, kurang berserah, dan mungkin kita anggap kurang ajar, tapi justeru sangat menyentuh hati Tuhan sehingga Ia bersedia mengabulkan permohonan Musa. Maka di ayat 17 kita membaca:”Juga hal yang telah kau katakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapanKu dan
Aku mengenal engkau.” Kalau demikian Allah kita Maha Pemaham dan Pemaaf., sebab walaupun peristiwa Anak Lembu Emas sedemikian masih menyakitkan hatiNya namun Tuhan rela korban perasaan. Dan di sini tidak ada basa basi illahi. Yang ada hanya ketulusan hati yang menyebabkan Tuhan juga sangat menghargai ketulusan hati yang merupakan sumber dari setiap perkataan kita. Selanjutnya kita juga akan melihat bagaimana kalau Tuhan sudah jatuh hati kepada seseorang. Kita tahu bahwa kasihNya kepada manusia menyebabkan Tuhan memberikan PuteraNya, memberikan DiriNya, kehadiran dan kemuliaanNya tidak dipersoalkan lagi. Hal itu kita lihat dalam kesediaan Tuhan untuk lewat di hadapan seorang Musa! Tak habis dimengerti bahwa Tuhan sedemikian mengupayakan agar keinginan Musa dapat terwujud tanpa mencelakainya. Itulah kedekatan agung yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia, akan berlanjut dalam Kristus , dalam Roh Kudus dan surga kelak!
Saudara apa yang kita baca di I Tesalonika 1:1-10 tadi? Bahwa buah pemberitaan Rasul Paulus bukan hanya berupa orang-orang yang pandai berbicara atau berkata-kata., tetapi sikap hidup yang baru. Dan semua itu berasal dari hati yang disentuh oleh Roh Kudus. Jika sudah begitu maka Jemaat di Tesalonika dapat menjadi teladan untuk banyak orang di sekitarnya bahkan sampai di tempat-tempat yang jauh.
Dalam Mazmur 99 tadi kita juga melihat betapa pemazmur mendambakan bangsa-bangsa di dunia meninggikan dan memuliakan Tuhan. Hal itu dapat terwujud jika Tuhan memberi kasih karuniaNya, dan umat Tuhan mau memperkenalkan Tuhan melaui hidupnya. Ya, melalui kata-kata dan perbuatan yang berasal dari hati yang tulus dan jernih. Sehubungan dengan tema kita, di sini ada nasehat yang menarik, dengan judul: “Kurangi Dan Perbanyak Dalam Hidup Ini”
Kurangi ucapan dengki, perbanyak ucapan mengasihi
Kurangi kata yang mengejek, perbanyak kata yang menghargai
Kurangi kata yang melemahkan, perbanyak yang mendorong
Kurangi kata yang negatip, perbanyak yang positip
Kurangi kata-kata kritik, perbanyak yang membangun
Kurangi kata-kata kasar, perbanyak yang lemah lembut.
Di sini juga ada nasehat bagus dari Buku Litani Serba Salah Pastor untuk Saudara: Suatu hari datang seorang berbisik kepada Socrates:”Ada gosip tentang temanmu.” “Tunggu, harus kau teliti dengan tiga saringan! Pertama, apakah kau yakin bahwa gosipmu itu benar?” “Maaf aku mendengar dari orang ke dua.” “ Menurutmu hal yang akan kau katakan itu baik apa tidak baik?” “Sepertinya kurang baik lho.” “Ketiga, apa kau rasa perlu kau sampaikan kepadaku? Jika tidak benar, tidak baik, dan tidak perlu, sebaiknya kau buang saja!” Saudara, sudah wajar jika kita senang berkata-kata sebab Tuhan kita juga berfirman. Tapi mari lebih berhati-hati berkata sebab dapat menjadi berkat, tapi juga sebaliknya dapat merusak. Dapat menyembuhkan atau menyakitkan.