Welcome, Guest. Please login or register.
May 22, 2012, 08:41:47 PM
Home | Help | Search | Calendar | Login | Register
News:

CyberGKI Forum  |  Kristen  |  Renungan  |  Topic: KHOTBAH MINGGU, 3 MEI 2009 « previous next »
Pages: [1] | Go Down Print
Author Topic: KHOTBAH MINGGU, 3 MEI 2009  (Read 998 times)
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
Administrator
GKI PERNIAGAAN JAKARTA
Full Member
*****
Offline

Posts: 247


Pdt. Yohanes Bambang Mulyono


View Profile WWW
KHOTBAH MINGGU, 3 MEI 2009
« on: April 08, 2009, 03:24:27 PM »

Renungan Minggu, 3 Mei 2009
Tahun B: Paska IV
Warna: Putih

MENGASIHI DENGAN RELA BERKORBAN
Kis. 4:5-12; Mzm. 23; I Yoh. 3:16-24; Yoh. 10:11-18


Pengantar
Saat ini kita berada dalam kondisi keragaman (pluralisme) keagamaan yang makin menguat. Setiap agama, keyakinan dan kepercayaan memiliki tempat yang setara. Sehingga dalam kondisi keragaman agama tidak ada lagi yang lebih tinggi atau lebih rendah. Juga tidak boleh ada suatu agama yang menganggap dirinya lebih superior dari pada agama yang lain, dan sebaliknya pula tidak boleh kita merendahkan agama lain sebagai kepercayaan yang inferior. Jika demikian, bagaimanakah sikap kita selaku umat yang percaya kepada Kristus? Apakah kita selaku umat Kristen boleh menganggap diri kita lebih superior dari pada agama-agama yang lain? Manakala kita merasa layak bersikap “superior” karena Kristus adalah satu-satunya keselamatan, apakah sikap “superioritas” kita tersebut dibenarkan oleh Kristus? Tepatnya apakah Tuhan Yesus memuji sikap iman kita yang merasa diri lebih tinggi atau lebih superior dengan memandang rendah agama-agama yang tidak percaya kepadaNya? Apabila Kristus membenarkan sikap kita yang merasa diri lebih tinggi dari pada sesama yang tidak seiman, bagaimanakah dengan pengajaran dan sikap Tuhan Yesus yang mengosongkan diriNya? Dengan pengosongan diriNya Tuhan Yesus justru menyatakan bagaimanakah kasihNya yang rela berkorban. Sesungguhnya Tuhan Yesus menghargai dan mengasihi setiap orang yang rendah hati yaitu mereka yang tidak memandang rendah sesamanya. Di hadapan Allah, siapapun yang memandang rendah sesamanya (sikap superioritas) pada hakikatnya telah melanggar hukum kasih. Sebab sikap superioritas tidak akan pernah mendapat tempat dalam Kerajaan Allah.

Namun bagaimanakah sikap kita yang seharusnya agar kita tetap mengedepankan kasih yang  sungguh mengosongkan diri dan rela berkorban, tanpa harus merelatifkan jaminan keselamatan Kristus yang absolut?  Apakah umat percaya yang mengosongkan diri dengan memberlakukan kasih yang berkorban harus merelatifkan keselamatan yang telah dianugerahkan Kristus kepada umat manusia? Setelah kebangkitan Kristus, disaksikan Petrus dan Yohanes berada di hadapan sidang Sanhedrin untuk menyampaikan kesaksian. Mereka memberitakan keselamatan yang telah dianugerahkan di dalam Tuhan Yesus, yaitu: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis. 4:12).  Kesaksian Alkitab tidak pernah berubah, yaitu tetap teguh dan lugas dalam menyatakan keselamatan Kristus yang absolut. Keselamatan Allah di dalam Kristus bersifat mutlak. Namun, apakah dalam menyaksikan kemutlakan keselamatan Allah di dalam Kristus - para rasul atau gereja telah bersikap superioritas terhadap sesama yang beragama lain? Apakah para rasul dan gerejaNya saat memberitakan karya Kristus yang menyelamatkan umat manusia dinyatakan dengan sikap merendahkan agama dan sesama yang tidak percaya? Para rasul dan gerejaNya tidak pernah merendahkan sesama yang beragama lain manakala mereka bersaksi tentang karya Kristus yang menyelamatkan. Sebab yang mereka lakukan adalah menyaksikan karya keselamatan Allah di dalam penebusan Kristus. Suatu kesaksian diberitakan karena para pelaku telah mengalami sesuatu yang benar secara faktual; yang mana kebenaran tersebut telah membawa suatu perubahan yang menyeluruh sehingga mereka tidak mampu menahan atau membungkamnya.  Mereka terdorong untuk menyaksikan dan membagikan berita tersebut kepada sesamanya. Demikian pula halnya dengan kesaksian iman pada hakikatnya tak pernah lahir dari suatu rekayasa dan akal yang licik, tetapi lahir dari lubuk hati yang terdalam dan yang didasari oleh pengalaman hidup yang menyentuh seluruh sendi-sendi kehidupan.

Jika demikian suatu kesaksian iman yang “merendahkan” sesama atau agama lain bertentangan dengan hakikat yang seharusnya. Kesaksian iman yang lahir dalam pengalamannya dengan Kristus yang bangkit tidak pernah boleh bersikap superioritas. Karena iman kepada Kristus yang bangkit pada hakikatnya dilandasi oleh kasih yang rela berkorban. Kebangkitan Kristus menjadi peristiwa yang menyelamatkan karena Kristus telah memberikan hidupNya bagi umat manusia. Itu sebabnya kesaksian iman Kristen tentang kemutlakan keselamatan Allah di dalam Kristus didasarkan kepada kasih dan pengorbanan Kristus. Jadi yang paling utama adalah bagaimanakah kita selaku umatNya dipanggil untuk memberitakan atau menyaksikan keselamatan dan kasih Kristus yang didasari oleh sikap berkorban. Kesaksian yang dimaksud adalah kesaksian kasih. Sehingga melalui kesaksian tersebut kita mengkomunikasikan kasih Allah yang mendamaikan dan menyelamatkan. Dalam konteks teologis tersebut, sebenarnya tidak terbuka sedikit celah sedikitpun bagi kita untuk menganggap diri lebih superioritas dari pada sesama. Sebab bukankah kasih yang suci senantiasa mampu membebaskan diri dari segala kompleks kejiwaan seperti superioritas diri dan inferioritas diri? Kasih selalu didasari kepedulian, keakraban dan kehangatan yang tulus.

Keakraban Gembala Dengan DombaNya
Kesaksian iman Kristen tentang keselamatan Allah di dalam Kristus perlu lugas namun tetap didasari oleh kerendahan hati dan kasih. Sebab sering kelugasan dipisahkan dengan kehangatan, keramahan dan rasa penghargaan kepada orang lain. Padahal suatu sikap yang lugas tanpa kasih akan menjadi sikap yang takabur. Akibatnya sikap yang lugas justru sering menjadi pemicu sikap yang antipati dan menimbulkan permusuhan. Kita tidak dapat lagi mendengar suara kebenaran yang terkandung dalam sikap lugas tersebut. Malahan kita hanya merasakan suara kebenaran yang sedang dibungkam oleh kelugasan yang salah. Padahal barangsiapa yang membungkam kebenaran baik pihak yang menyampaikan (“sender”) kebenaran maupun mereka yang menerimanya (“recipient”) bukanlah orang yang lurus hatinya. Mereka tergolong orang-orang yang jauh dari kebenaran. Dalam konteks tertentu mereka justru dapat dianggap sebagai musuh-musuh kebenaran.

Esensi kebenaran sangat ditentukan oleh kualitas relasi yang diciptakan. Sebab esensi kebenaran tidak pernah berada dalam suatu ruang hampa. Esensi kebenaran dinyatakan dalam konteks historis, yaitu realitas kehidupan manusia. Itu sebabnya kebenaran Allah di dalam penebusan Kristus ditempatkan dalam konteks historis. Inkarnasi Kristus merupakan inkarnasi Firman Allah yang hadir secara eksistensial dalam kehidupan umat manusia. Yang mana melalui inkarnasi Kristus, Allah yang jauh (transenden) menjadi Allah yang dekat (imanen). Lebih jauh lagi, melalui karya penebusan Kristus, Allah berkenan menjadi Bapa dan kita adalah anak-anakNya. Di Yoh. 10, Tuhan Yesus juga menggambarkan diriNya sebagai Gembala dan kita adalah domba-dombaNya. Bukankah semua ungkapan (metafor) seperti hubungan Bapa dengan anak-anakNya, atau Gembala dengan domba-dombaNya menunjuk suatu hubungan kasih yang begitu akrab? Di Yoh. 10:14-15, Tuhan Yesus berkata: “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku”.  Kristus menyebut diriNya sebagai gembala yang baik dan mengenal domba-dombaNya. Bahkan Tuhan Yesus sebagai gembala yang baik pada hakikatnya mau menyerahkan nyawaNya bagi domba-dombaNya.  Arti “mengenal” domba-domba dalam pengertian ini tidak hanya dipahami hanya sebagai batas “tahu” atau “paham” yang sifatnya kognitif. Tetapi makna “mengenal” domba-dombaNya dipahami oleh Kristus dengan suatu tindakan, yaitu mau menyerahkan nyawaNya agar domba-domba yang dikenalNya itu selamat dan memperoleh hidup yang kekal. Jadi makna “mengenal” dalam konteks ini justru dipahami oleh Kristus sebagai kesediaan untuk berkorban yang didasari oleh kasih.

Jikalau demikian kesaksian iman Kristen tentang keselamatan perlu dihayati sebagai suatu kesaksian yang lugas dalam berkorban.  Sebab bukankah suatu kelugasan yang dilandasi oleh keengganan untuk berkorban hanya menjadi suatu pernyataan keras yang tidak memiliki esensi kebenaran?  Jadi kesaksian iman Kristen tentang keselamatan Kristus yang mutlak harus dibuktikan pula dengan kesaksian hidup yang mau berkorban bagi sesama. Sebagaimana Tuhan Yesus yang adalah Gembala yang baik bersedia mengorbankan nyawa bagi domba-dombaNya, demikian pula kesaksian iman kita seharusnya ditandai oleh pengorbanan dalam berbagai dimensi kehidupan. Namun sayangnya prinsip teologis tersebut justru yang tidak terjadi. Berita keselamatan yang absolut tentang Kristus justru dijadikan landasan untuk mengorbankan orang lain. Pelayanan Pekabaran Injil yang seharusnya mengkomunikasikan kehangatan kasih dan pengampunan Kristus justru diselewengkan menjadi suatu upaya untuk menundukkan orang lain. Akibatnya kita sering merusak citra nama “Pekabaran Injil”. Hanya mendengar nama atau istilah “Pekabaran Injil” banyak orang telah menjadi alergi khususnya masyarakat yang belum Kristen. Umumnya mereka takut di-”kristen”-kan. Penyebabnya karena kita tidak memerankan diri sebagai Gembala yang baik bagi domba-domba yang belum mengenal kasih Kristus. Padahal sesungguhnya citra dan karakter Kristus sangat jauh dari pola perilaku para pelayan atau umatNya. Seandainya suatu saat mereka dapat mengenal citra dan karakter Tuhan Yesus yang sebenarnya, maka pastilah mereka mau mengikut Dia. Sebab Tuhan Yesus bersedia berhadapan dengan bahaya maut untuk membela domba-dombaNya. Sebaliknya para gembala yang bekerja sebagai orang-orang upahan akan segera lari terbirit-birit untuk menyelamatkan nyawanya sendiri ketika mereka berhadapan dengan bahaya maut. Mereka sama sekali tidak mau memperdulikan keselamatan domba-domba yang telah dipercayakan Tuhan kepadanya. Jadi apabila kesaksian keselamatan yang absolut tentang Kristus tidak dilandasi oleh kelugasan berkorban, maka kita akan membiarkan domba-domba yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita untuk dimangsa oleh musuh. Sebab ternyata kita lebih mengutamakan keselamatan diri sendiri saat berhadapan dengan bahaya dari pada mempedulikan keselamatan domba-domba Kristus yang telah dipercayakan kepada kita.

Para Martir Kontemporer


Di suatu artikel dalam majalah "Geografi Nasional" melukiskan suatu gambaran yang luar biasa tentang makna kasih Kristus yang berkorban. Setelah terjadinya suatu kebakaran hutan di Taman Nasional Yellowstone, disebutkan bahwa patroli hutan memulai perjalanan panjang mereka mendaki gunung untuk menaksir kerusakan akibat kebakaran besar tersebut. Tiba-tiba seorang polisi hutan menemukan seekor burung yang hampir membatu di dalam abu, bertengger seperti patung di tanah di dasar sebuah pohon. Dengan perasaan yang agak mual oleh karena pemandangan yang mengerikan itu, ia membalik burung tersebut dengan sebuah tongkat. Segera setelah itu, tiga anak burung yang kecil-kecil berhamburan keluar dari bawah sayap induknya yang sudah mati itu. Induk burung dengan instink “kasih”-nya, dengan kesadaran yang tajam akan bencana yang sudah mendekat, telah membawa anak-anaknya ke bagian dasar pohon dan mengumpulkan mereka di bawah sayapnya, oleh karena mengetahui secara naluri bahwa asap beracun akan membubung. Sebenarnya induk burung itu dapat saja terbang ke tempat yang aman, akan tetapi ia menolak untuk meninggalkan bayi-bayinya. Ketika amukan api tiba dan panasnya telah menghanguskan badannya yang kecil itu, induknya tetap tidak bergeming. Oleh karena sang induk rela mati, maka anak-anaknya yang berada di bawah kepak sayapnya dapat tetap hidup.

Walaupun induk burung tersebut hanya didasari oleh instink untuk melindungi anak-anaknya, tetapi dia terbukti mampu berkorban dengan memberikan nyawanya. Sang induk burung bersedia menjadi “kurban” (sacrifice) agar anak-anaknya tetap hidup. Gambaran tersebut secara konkret telah dilakukan oleh Kristus. Karena kasihNya, Dia mau berkurban agar kita memperoleh keselamatan. Spiritualitas berkurban inilah yang membuat gereja bertumbuh. Sebab bukankah gereja dibangun di atas dasar darah para martir? Hampir setiap anggota jemaat tersentuh saat mereka mendengar kisah kepahlawanan para martir yang bersedia menyerahkan nyawanya. Tetapi apakah pada masa kini juga muncul orang-orang yang bersedia berkorban seperti para martir? Seberapa banyakkah anggota jemaat yang telah menjadi para martir kontemporer? Tentu saja kita tidak boleh menutup mata terhadap pengabdian orang-orang tertentu yang mau berkorban seperti para martir. Surat I Yoh. 3:17 mengajak anggota jemaat untuk menterjemahkan semangat berkorban secara konkret, yaitu: “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?”  Tentu yang disebut sebagai para martir adalah mereka yang mau menyerahkan nyawa demi keselamatan sesamanya. Tetapi apakah dalam kehidupan sehari-hari, kita juga menjadi para martir (saksi iman) yang mau berkorban kehilangan sebagian harta yang kita miliki untuk dibagikan kepada saudara yang sedang kekurangan?  Bukankah sangat sedikit orang yang mau berkorban untuk membagi sebagian harta yang dimilikinya? Bahkan kita juga dapat jumpai beberapa kasus seperti demi mempertahankan harta warisan, seseorang tega membunuh anggota keluarganya. Apabila harta kita pertahankan sedemikian rupa dengan cara mengorbankan nyawa orang lain, bagaimanakah mungkin kita mau menyerahkan nyawa kepada sesama?  Dari sudut nilai iman, tentu nilai “nyawa” manusia lebih tinggi  dan luhur dari pada nilai harta-benda. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari justru sering terbalik: harta lebih mahal dan berharga dari pada nyawa manusia!

Karya penebusan Kristus dalam konteks sejarah memang terjadi di tengah-tengah kehidupan umat Israel. Tetapi karya penebusan Kristus tidak hanya tertuju kepada umat Israel saja. Kasih Kristus yang telah dibuktikan dengan kematianNya di atas kayu salib tertuju kepada seluruh umat manusia. Itu sebabnya di Yoh. 10:16, Tuhan Yesus berkata: “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala”.  Dengan demikian seharusnya  kasih dan kepedulian kita tidak hanya tertuju kepada anggota keluarga, suku dan etnis kita. Namun sayangnya kepada orang-orang yang terdekat, kita sering masih gagal menyatakan kasih dengan kesediaan berkorban. Tidaklah mudah bagi setiap orang untuk rela membagi harta milik kepada kakak, adik, dan keponakan atau saudara lain. Apalagi kita harus menyerahkan nyawa bagi “domba-domba lain” yang artinya adalah “orang lain” (the others). Rasanya panggilan untuk menyerahkan nyawa bagi “domba-domba lain” yang bukan dari kandang sendiri merupakan “mission of impossible” (misi yang serba muskil). Kemustahilannya terletak pada kualitas spiritualitas kita yang masih jauh dari kasih Kristus. Namun kemustahilan (impossible) kasih akan berubah menjadi suatu kemungkinan (possible), ketika kita dimampukan untuk melihat setiap sesama yang menderita sebagai wajah Kristus sendiri. Sehingga kita terdorong untuk menyerahkan nyawa dalam arti yang seluas-luasnya asalkan sesama atau saudara  kita tersebut selamat. Ternyata para martir kontemporer yaitu umat percaya masa kini tidak harus selalu berhadapan dengan eksekusi berupa kematian yang mengerikan. Mereka hanya dipanggil untuk berani mengeksekusi ego-nya.

Inisiatif Dan Kerelaan
Sampai saat ini masih begitu banyak orang yang salah paham dengan peristiwa penyaliban Tuhan Yesus di bukit Golgota. Mereka menganggap bahwa Tuhan Yesus pada satu sisi diimani telah menebus dosa umat manusia, tetapi pada sisi lain kematianNya dianggap sebagai hasil ulah dan rekayasa para pemimpin agama Yahudi. Menurut pendapat saya, golongan yang berpikir bahwa kematian Kristus sebagai 100% hasil perbuatan para anggota Sanhedrin sebenarnya tidak memberi tempat kepada kerelaan Kristus dalam menyikapi vonis eksekusi tersebut. Tepatnya mereka menganggap Kristus dalam posisi lemah dan tidak berdaya. Kristus dianggap tidak mampu membebaskan diri, sehingga Dia harus mengalami siksaan dan kematian tragis di kayu salib. Padahal di Mat. 26:53, Tuhan Yesus berkata kepada Petrus, yaitu: “Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada BapaKu, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?” Sesungguhnya Tuhan Yesus tidak berada dalam posisi yang lemah saat Dia ditangkap, diadili, disiksa dan disalibkan. Dia dapat meminta kepada Allah untuk melindungi  dari upaya jahat para musuhNya. Bahkan dengan kuasaNya sebagai Anak Allah, Tuhan Yesus mampu melawan dan mengalahkan setiap orang yang berusaha menangkap dan menyakiti diriNya. Tetapi Tuhan Yesus lebih memilih untuk tidak mau menggunakan semua kuasa ilahi untuk kepentingan dan keselamatan diriNya. Sebab Dia datang dengan misi khusus, yaitu menyatakan keselamatan dan penebusan Allah bagi umat manusia dengan penderitaan dan kematianNya. Itu sebabnya di Yoh. 10:17-18, Tuhan Yesus berkata: “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari padaKu, melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari BapaKu”.

Makna ucapan Tuhan Yesus tersebut sangat jelas menyatakan bahwa penderitaan dan kematian yang dialamiNya merupakan hasil dari kerelaanNya dalam menyerahkan nyawa. Dia berkuasa memberikan nyawaNya dan berkuasa pula untuk mengambilNya kembali. Sehingga tidak ada kuasa di dunia ini yang mampu merebut atau mencabut nyawa Kristus. Dengan demikian yang paling menonjol sekaligus sebagai faktor pembeda dengan kuasa dunia ini adalah: kuasa dunia berupaya untuk mencabut nyawa Kristus agar mereka dapat menghentikan misi keselamatan Allah; tetapi pada pihak lain Kristus mau  menyerahkan nyawaNya agar Dia dapat menyempurnakan misi keselamatan Allah. Jadi terdapat 2 inisiatif yang sama sekali berbeda. Kuasa dunia berinisiatif untuk mematikan Kristus. Tetapi Kristus berinisiatif untuk memberi hidupNya bagi umat manusia. Tepatnya Tuhan Yesus sejak awal telah berinisiatif menyerahkan nyawaNya di tengah-tengah kuasa dunia yang berinisiatif untuk membunuhNya. Bukankah demikian pula tugas panggilan kita selaku umat percaya? Kita juga dipanggil oleh Tuhan agar memiliki inisiatif untuk memberikan hidup kita bagi sesama yang menderita di tengah-tengah dunia yang selalu berinisiatif menghentikan dan mematikan hidup kita. Apabila inisiatif dan kerelaan kita untuk memberikan hidup bagi sesama begitu total, maka pelayanan kita tidak akan dapat dihentikan atau dipatahkan oleh kuasa dunia ini. Kecuali inisiatif dan kerelaan untuk memberikan hidup bagi sesama sebagai pro-forma” atau sekedar label kesalehan diri kita belaka, maka pastilah kuasa dunia ini akan begitu mudah untuk menghentikan seluruh pelayanan kita. Karena itu janganlah pernah kecil hati dan putus-asa manakala pelayanan kita mengalami hambatan dan kadang-kadang gagal. Inisiatif dan kerelaan harus menjadi dasar yang menggerakkan spiritualitas iman kita.

Sikap inisiatif yang lahir dari kerelaan juga menunjukkan bahwa pelayanan  kita bersifat kreatif. Pelayanan tersebut bukan sekedar mengulang-ulang apa yang telah basi, tetapi terus menemukan bentuk dan metode yang mampu menjawab setiap kebutuhan atau permasalahan. Karena itu pelayanan yang didasari oleh inisiatif dan kerelaan selalu berupaya untuk membuat riset atau penelitian agar kita dapat mengetahui dengan baik situasi riel yang sedang kita hadapi. Bahkan melalui riset yang terus-menerus kita lakukan dapat memprediksi dan mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk  yang dapat menghalangi atau menggagalkan program pelayanan tersebut. Sebagai umat yang telah ditebus oleh Kristus, kita tidak boleh lengah. Tepatnya kita juga harus cerdik di samping tulus. Bukankah Tuhan Yesus berkata: “Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat. 10:16).

Panggilan
Kesaksian iman tentang keselamatan Kristus bersifat absolut. Kita tidak boleh merelatifkan dengan menyatakan bahwa semua agama sama. Ungkapan tersebut hanyalah “klise” belaka, karena jelas setiap agama memiliki keunikannya sendiri dan tak perlu dipaksa untuk disamakan. Tugas kita yang utama adalah menyaksikan keselamatan Kristus yang absolut. Tetapi kelugasan kita dalam menyaksikan keselamatan Kristus harus didasari oleh kasih yang total. Yang mana kasih yang total tersebut terlihat nyata dalam pergumulan sehari-hari seperti peduli dengan saudara yang sedang menderita. Untuk itu Kristus yang bangkit memanggil kita untuk selalu berinisiatif  dalam memberlakukan kasih. Dengan demikian kasih yang telah dianugerahkan Kristus dapat menjadi kasih yang selalu segar dan responsif dalam menghadapi berbagai permasalahan yang terjadi di sekeliling kita. Jika demikian, apakah saudara telah menyaksikan keselamatan Kristus yang absolut dengan kasih yang absolut? Ataukah kesaksian tentang keselamatan Kristus yang absolut disampaikan dengan kasih yang tidak rela berkorban? Pastilah kita akan gagal untuk mempraktekkan tugas dari Allah, yaitu “mengasihi dengan rela berkorban”.  Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
http://www.yohanesbm.com
« Last Edit: April 09, 2009, 01:13:57 AM by Pdt. Yohanes Bambang Mulyono » Logged
Pages: [1] | Go Up Print 
CyberGKI Forum  |  Kristen  |  Renungan  |  Topic: KHOTBAH MINGGU, 3 MEI 2009 « previous next »
Jump to:  



Login with username, password and session length

Copyright 2006 - 2009 by Simple Machines LLC
Page created in 1.329 seconds with 17 queries.
http://www.gki.or.id/wap Penggunaan
RSS