Author
|
Topic: KHOTBAH MINGGU, 14 JUNI 2009 (Read 1375 times)
|
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
Administrator
GKI PERNIAGAAN JAKARTA
Full Member
    
Offline
Posts: 247
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
View Profile
WWW
|
Renungan Minggu, 14 Juni 2009 Tahun B: Minggu Biasa VI Warna: Hijau MELIHAT YANG TIDAK TAMPAK I Sam. 15:34 - 16:13; Mzm. 92:2-5, 13-16; II Kor. 5:6-17; Mark. 4:26-34
Pengantar Seandainya masyarakat Amerika Serikat pada tahun 1860 hanya memandang fisik khususnya wajah dari Abraham Lincoln, maka mungkin mereka akan menolak pencalonannya menjadi presiden yang ke-16. Sebab wajah Abraham Lincoln dianggap kurang tampan. Tetapi justru melalui peran kepemimpinannya, Abraham Lincoln berhasil memimpin bangsanya keluar dari Perang Saudara Amerika, mempertahankan persatuan bangsa, dan menghapuskan perbudakan. Dalam merencanakan perdamaian, presiden Abraham Lincoln dikenal bersifat fleksibel dan bermurah hati. Ia mengajak orang-orang Selatan yang memberontak supaya meletakkan senjata dan kembali ke pangkuan Amerika Serikat. Semangat yang menjadi pedomannya jelas tercermin dalam semangat pidato pelantikannya yang kedua sebagai presiden. Kalimat ini kini terukir di salah satu dinding tugu peringatan Lincoln (Lincoln Memorial) di Washington DC yang berbunyi: “Dengan keteguhan hati dan kebenaran yang sesuai dengan firman Allah, marilah kita berusaha untuk menyelesaikan tugas kita sekarang, yaitu menyembuhkan luka-luka bangsa”. Namun dalam kenyataannya manusia sering hanya memandang fisik dan penampilan seseorang. Sadar atau tidak sadar, kita selalu membuat ukuran terhadap sesama yang kita hadapi. Kita mengukur parasnya, ukuran tubuh, bentuk tubuh, pakaian, baju, perhiasan, merk handphone, sepatu dan mobil yang dipakainya. Apabila semua ukuran tersebut sesuai dengan harapan atau keinginan kita, maka mereka dianggap “masuk hitungan” alias satu “level” dengan diri kita. Tetapi sebaliknya apabila salah satu ukuran atau hampir semua hal dari sesama tersebut dianggap tidak sesuai dengan harapan atau keinginan kita, maka mereka akan digolongkan “tidak masuk hitungan” atau masuk kelompok “under-estimate”. Selain mereka dinilai tidak menarik, mereka juga cenderung diabaikan. Apapun yang mereka sampaikan atau bicarakan sering tidak dipedulikan, walaupun secara esensial mengandung kebenaran. Kualitas kadang-kadang terbungkus oleh kulit yang kurang menarik.
Allah Melihat Hati Saat Samuel mencari pengganti raja Saul, Samuel diperintahkan Allah untuk menemui keluarga Isai. Sebab di antara anak-anak Isai telah dipilih oleh Allah untuk menjadi raja Israel menggantikan Saul. Di I Sam. 15:35 menyaksikan latar-belakang perasaan Allah dan Samuel dengan sikap Saul yang telah mengecewakan hati Allah, yaitu: “Sampai hari matinya Samuel tidak melihat Saul lagi, tetapi Samuel berdukacita karena Saul. Dan TUHAN menyesal, karena Ia menjadikan Saul raja atas Israel”. Kesaksian Alkitab tersebut dapat menimbulkan pertanyaan, mengapa Allah menyesal karena Dia menjadikan Saul sebagai raja Israel? Bukankah Allah adalah Tuhan yang maha-tahu yang mengetahui isi hati manusia yang terdalam, bahkan Dia mengetahui apa yang akan terjadi? Jika Allah adalah Tuhan yang maha-tahu dan mengetahui hal-hal yang akan terjadi di masa depan, tentunya Allah tidak akan memilih Saul sebagai raja Israel? Dalam hal ini iman Kristen tidak pernah meragukan bahwa Allah maha-tahu dan mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Namun pada sisi lain iman Kristen juga menegaskan bahwa kemahatahuan Allah tidak meniadakan kebebasan (free-will) manusia. Kemahatahuan Allah bekerja sama dengan keputusan etis manusia. Semula Saul menunjukkan pribadi yang rendah-hati. Saat itu Saul menyatakan bahwa dirinya tidaklah layak untuk menjadi seorang raja sebab kaumnya yang paling hina dari segala kaum suku Benyamin. Di I Sam. 9:21, Saul berkata: "Bukankah aku seorang suku Benyamin, suku yang terkecil di Israel? Dan bukankah kaumku yang paling hina dari segala kaum suku Benyamin? Mengapa bapa berkata demikian kepadaku?" Sehingga tidak mengherankan jikalau dalam kehidupan Saul sebagai raja Israel berulang-ulang dinyatakan bahwa dia dikuasai oleh Roh Allah (I Sam. 10:6, 10; 11:6). Tetapi sikap Saul tersebut tidak bertahan lama. Ketika Samuel datang terlambat dan rakyat mulai gelisah, Saul mengambil keputusan yang berakibat fatal. Dia mengambil alih wewenang dan peran Samuel sebagai Imam Allah (I Sam. 13:8-9). Saul berani mempersembahkan kurban yang seharusnya dilaksanakan oleh seorang Imam Allah. Tepatnya Saul yang berkedudukan sebagai raja telah mengangkat dirinya menjadi Imam Allah secara tidak sah. Dalam ketidaktaatan dan ketidaksabaran Saul, dia telah melakukan “kudeta” terhadap Samuel sebagai Imam Allah. Itu sebabnya, Allah menolak Saul sebagai raja. Dia memerintahkan Samuel untuk mencari pengganti Saul dengan mendatangi Isai, sebab salah seorang anak Isai akan dipilih Allah menjadi raja Israel.
Tetapi tampaknya Samuel masih terlihat kurang belajar saat menghadapi anak-anak Isai. Samuel belum belajar dari pengalaman kegagalan Saul menjadi raja. Sehingga saat Samuel melihat Eliab, dia langsung berpikir: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya” (I Sam. 16:6). Samuel sangat terkesan dengan perawakan tubuh Eliab yang gagah dan tinggi. Tetapi Allah kemudian berfirman: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati" (I Sam. 16:7). Penilaian dan pemilihan Allah tidak ditentukan oleh perawakan fisik seseorang, walaupun dari sudut penilaian dunia sangat mengesankan. Bukankah dunia lebih menghargai para pria yang atletis, tinggi, kokoh, dan kuat? Atau menghargai para wanita yang bertubuh cantik, seksi, dan penuh pesona? Namun penampilan fisik tidaklah selalu identik dengan kualitas kepribadian. Penampilan fisik yang sempurna juga tidaklah selalu mencerminkan mutu diri yang dimiliki oleh seseorang. Dalam acara “Britain’s Got Talent” bulan April 2009 yang lalu muncul seorang kandidat yang penampilannya jauh dari harapan para penonton Inggris. Bagaimana tidak, sebab kandidat tersebut seorang wanita dengan postur tubuh yang gemuk, beralis tebal, dandanan pakaian yang sangat sederhana dan wajah yang sama sekali kurang menarik. Kandidat tersebut adalah Susan Boyle yang saat itu tampil dalam usia 47 tahun.
Semula pengamat musik ternama yakni Simon Cowell dan para penonton lainnya bersikap sangat meremehkan dan mencemooh Susan Boyle. Apalagi ketika ditanya Susan Boyle menjawab bahwa dia ingin menjadi seorang artis cantik ternama bernama Elaine Paige sambil menggoyang-goyangkan badannya yang gemuk. Sontak para penonton tertawa meremehkan Susan Boyle. Tetapi Susan Boyle yang berasal dari desa Blackburn di wilayah Wesy Lothian, Skotlandia tersebut tetap tampil percaya diri. Sikap para juri dan penonton segera berubah total ketika Susan Boyle menyanyikan lagu “I Dreamed a Dream”. Sebab Susan Boyle menyanyikan dengan suara yang begitu merdu dan sangat memukau. Para juri dan penonton segera memberi penghormatan dan pujian saat mereka menyaksikan penampilan dan kualitas suara Susan Boyle yang begitu “ajaib”. Demikianlah sikap dunia pada umumnya. Mereka cenderung untuk memperlakukan orang lain pertama-tama dari penampilan luarnya. Padahal dalam kenyataan hidup sehari-hari kita sering terkecoh. Kepada orang yang kita anggap “tidak masuk hitungan” (under-estimate) justru dia kemudian menjadi seorang yang berhasil dengan gemilang. Tetapi kepada orang yang kita unggul-unggulkan atau direkomendasi, justru dia sering sangat mengecewakan dan jauh dari kualitas atau mutu yang seharusnya. Bukan hanya dia mengecewakan dari kualitas kemampuan intelektual dan tanggungjawab, tetapi juga sangat jauh dari kualitas moral. Betapa tidak mudahnya kita menilai dan mengukur kehidupan pribadi seseorang. Tetapi pada sisi lain kita juga sering tidak pernah jera untuk selalu mengukur orang lain dari sudut lahiriahnya. Kita juga sering tidak jera menghakimi orang lain hanya karena faktor-faktor yang sosial-ekonomi, bahkan agama atau pandangan teologis yang dianutnya.
Kondisi dan kecenderungan tersebut memang sangat manusiawi. Tetapi juga kecenderungan mengukur orang lain secara lahiriah makin menunjukkan bahwa orientasi hidup kita sering hanya terarah kepada hal-hal yang tampak secara lahiriah. Kita sering kurang peka dan jeli terhadap hal-hal yang rohaniah, yaitu realita hidup yang tidak kasat mata. Padahal dimensi kehidupan yang sering tidak kasat mata yang berkaitan dengan realita rohaniah dan spiritualitas justru merupakan hal-hal yang paling mendasar. Sebab realita rohaniah, hati dan spiritualitas kehidupan setiap orang pada hakikatnya merupakan inti keseluruhan kepribadian kita. Yang mana pusat hidup atau batin seseorang akan bernilai atau bermutu tinggi walaupun hanya “dibungkus” dengan penampilan fisik yang serba sederhana. Demikian pula sebaliknya pusat hidup atau batin seseorang akan dianggap bermutu rendah walaupun telah dibungkus dengan busana, perhiasan dan mobil yang serba mahal. Karena itu jangan pernah melihat bungkusnya, tetapi lihatlah selalu isinya yang tidak selalu tampak! Inilah yang menjadi dasar sikap Allah yang tidak pernah terkecoh dengan penampilan fisik, kekuatan militer, atau kemewahan duniawi. Allah selalu memilih umat yang berkenan di hatiNya, dan bukan umat yang berusaha mempesona hatiNya.
Iman Yang Berkualitas Sebagai Tolok-Ukur Agama-agama di dunia sebenarnya juga menghargai segi rohaniah manusia dari pada realitas jasmaniah. Bahkan Plato (427 sM - 347sM) jauh sebelumnya telah menganggap bagian rohaniah yakni dunia ide atau pikiran lebih tinggi dari pada bagian jasmaniah. Sebab bagian jasmaniah hanya dianggap oleh Plato sebagai sumber nafsu dan keinginan-keinginan yang rendah. Tetapi dalam hal ini Plato justru melupakan suatu kenyataan, yaitu nafsu dan keinginan-keinginan manusia justru bersumber dari roh, bukan dari tubuh jasmaniahnya. Sebab tubuh atau jasmaniah sebenarnya hanya merupakan alat dari roh manusia untuk mencapai kehendak atau keinginan untuk mewujudkan hawa-nafsu duniawi. Itu sebabnya situasi keberdosaan manusia dari zaman ke zaman sulit ditaklukkan karena bersumber dari roh yang najis di hadapan Allah. Di Mark. 7:20-21, Tuhan Yesus berkata: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." Solusinya bukan dengan mengabaikan hal-hal yang jasmaniah, tetapi sikap hati yang bersedia membuka diri untuk menerima penebusan Kristus. Pencapaian kualitas rohaniah umat manusia bukan ditempuh dengan pola hidup yang terus-menerus bertarak. Tetapi yang utama adalah bagaimanakah kita menempatkan iman kepada Kristus sebagai landasan hidup. Sebab tanpa iman, segala upaya rohaniah seperti bertarak dan melakukan berbagai kebajikan akan menjadi sia-sia belaka. Dengan demikian, iman kepada Kristus seharusnya menjadi dasar penentu dari seluruh pencapaian kualitas rohaniah. Rasul Paulus berkata: “sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (II Kor. 5:7). Iman kepada Kristus itulah yang akan melayakkan diri kita berkenan kepada Allah (II Kor. 5:9). Jadi tanpa iman kepada Kristus, maka segala perbuatan baik atau kebajikan dan berbagai ritual/ibadah keagamaan hanya menjadi sekedar pakaian dan asesoris yang indah tetapi kehilangan isi atau esensinya. Semua perbuatan baik dan kebajikan tersebut hanya indah menurut pandangan dan penilaian manusia, tetapi tidak berkenan di hati Allah.
Kita sering mengabaikan makna “berkenan kepada Allah”. Seakan-akan segala perbuatan baik dan kebajikan kita tersebut telah memadai dan sempurna. Padahal segala perbuatan baik atau kebajikan tersebut sering dilakukan manusia hanya untuk memuaskan nafsu “religiusitas” dan kepentingan diri sendiri; tetapi bukan dilakukan karena pertobatan dan kehidupan yang baru. Apabila segala perbuatan baik atau kebajikan dilakukan untuk kepentingan diri sendiri, maka kita akan menjadi kurang peka dengan situasi dan pergumulan sesama yang sedang kita hadapi. Perbuatan baik atau kebajikan kita tersebut dapat membutakan mata hati dan nurani kita. Sehingga berbagai tindakan yang semula kita anggap baik selain sering tidak bermakna juga dapat berakibat melukai hati sesama. Penyebabnya karena kita menganggap telah berbuat baik dan banyak melakukan kebajikan. Dengan anggapan tersebut dapat muncul dorongan untuk bersikap mengukur dan menghakimi orang lain. Di II Kor. 5:16, rasul Paulus mengutarakan bagaimana perubahan hidupnya yang tidak lagi mengukur sesama dari ukuran manusiawi. Rasul Paulus berkata: “Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian”. Pernyataan rasul Paulus tersebut lahir dari proses pembaharuan hidupnya setelah dia berjumpa dengan Kristus. Tepatnya iman kepada Kristus telah mengubah paradigma dan spiritualitasnya, sehingga rasul Paulus tidak lagi mengukur seseorang menurut ukuran manusia. Jadi sangatlah jelas bahwa iman kepada Kristus seharusnya menjadi pengukur yang paling solid untuk mencapai pembaharuan hidup yang berkenan kepada Allah. Iman kepada Kristus menjadi sumber kekuatan pengubah atau pembaharu kehidupan umat percaya. Sehingga seluruh potensi, kualitas diri dan pembaharuan budi kita sungguh-sungguh bersumber kepada iman kepada Kristus.
Manakala seluruh potensi, kualitas diri dan pembaharuan budi kita telah bersumber kepada Kristus, maka kehidupan kita akan diubahkan secara menyeluruh walau harus melalui proses setahap demi setahap. Manusia lama yang pernah kita hidupi akan segera ditinggalkan dan diubah oleh Kristus menjadi ciptaan baru. DI II Kor. 5:17, rasul Paulus berkata: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”. Sebagai ciptaan baru di dalam Kristus, kita tidak lagi menilai dan menghakimi orang lain tetapi kita akan lebih jeli dan kritis untuk menilai diri sendiri. Bukankah lebih baik kita lebih intensif membuat penilaian diri (self-assessment) dari pada menghakimi orang lain? Sebagai umat percaya sebaiknya kita lebih mengutamakan kemuliaan hati dari pada mengukur kualitas diri dari penampilan lahiriah. Dengan demikian sebagai ciptaan baru yang telah dilakukan oleh Kristus, kita dimampukan untuk memperlakukan sesama sebagai ciptaan yang telah ditebus oleh darah salib Kristus. Sehingga kita mengasihi sesama bukan karena seseorang telah mengasihi dan berbuat baik kepada kita, tetapi karena Kristus telah mengasihi dia. Paradigma teologis tersebut dapat membawa kita kepada suatu kedalaman spiritualitas yang lebih eksistensial. Juga dapat membawa proses pembaharuan hidup yang lebih otentik. Bukankah lawan kata dari makna pengamatan yang lahiriah adalah kedalaman spiritualitas, dan lawan kata dari hidup yang artifisial adalah hidup yang otentik di hadapan Allah atau sesama? Pembaharuan hidup memang bersangkut-paut dengan perubahan yang fundamental dari spiritualitas dan otentisitas makna hidup, dan bukan sekedar perubahan penampilan dan tingkah-laku yang sopan. Sebab dalam proses pembaharuan hidup seluruh kebiasaan buruk, karakter, pola berpikir dan respon kita akan diubahkan sedikit demi sedikit sesuai dengan kehendak Allah. Untuk itulah iman perlu terus ditumbuhkan oleh benih-benih firman Allah.
Kecil Namun Potensial Penyataan Allah yang menurunkan firman berupa Dasa-Titah di Kel. 20:18-19 disaksikan hadir dalam bentuk yang dahsyat dan menggentarkan, sehingga umat Israel takut. Namun pada sisi yang lain, penyataan Allah dalam firmanNya justru sering digambarkan seperti benih yang ditaburkan. Benih tersebut umumnya sangat kecil. Bahkan di Mark. 4:31, Tuhan Yesus menggambarkan Kerajaan Allah seperti biji moster (yang diterjemahkan oleh LAI dengan biji sesawi). Biji moster tersebut begitu kecil sampai dia disebut sebagai: “biji yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi”. Ukuran lebarnya hanya 1 mm dan beratnya hanya 1 mg. Sehingga dari sudut penampilannya, biji moster tersebut sama sekali tidak berarti. Namun apabila biji moster tersebut ditabur di tanah, ia akan tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala jenis tanaman sayuran yang lain dan juga akan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya (Mark. 4:32). Melalui perumpamaan tersebut Tuhan Yesus hendak menjelaskan bahwa keberadaan firman Allah seperti halnya biji moster yang sangat kecil itu. Dunia mungkin tidak akan menganggap biji moster tersebut sebagai sesuatu yang terlalu berarti atau penting. Demikian pula halnya dengan benih-benih firman Allah yang walaupun begitu kecil, tidak terpandang dan tanpa daya itu pada waktunya akan menjadi “pohon kehidupan” yang begitu besar sehingga mampu memberi perlindungan kepada umat yang mendengar dan mempercayaiNya. Ini akan terwujud jikalau kehidupan umat percaya senantiasa berelasi dengan firman Tuhan. Iman setiap umat akan tumbuh menjadi besar dan kokoh manakala senantiasa dihidupi oleh benih-benih firman Allah. Sehingga dapat dijelaskan mengapa iman seseorang yang semula tampak begitu hebat tiba-tiba suatu saat menjadi tidak berdaya dan mati. Penyebabnya karena iman tersebut tidak dilandasi oleh firman Allah yang tampaknya kecil dan tidak berarti itu. Padahal di balik bentuk dan ukurannya yang tergolong serba kecil atau sederhana itu sebenarnya “benih-biji moster” yakni firman Allah itu mengandung daya atau kekuatan ilahi yang membaharui dan membebaskan.
Karya penebusan Kristus yang mentransformasi kehidupan umat percaya menjadi ciptaan baru sering tidak berlanjut ke tingkat ideal sebagaimana yang dikehendaki oleh Alah. Karena mereka kurang menghargai pemberitaan firman Tuhan yang tampil serba sederhana. Banyak orang Kristen hanya mengharap dan menghargai suasana yang spektakuler dan kesaksian yang serba supra-natural. Sehingga pola spiritualitas umat yang demikian kurang menghargai pemberitaan firman yang meditatif dan reflektif. Mereka hanya mau mendengar khotbah-khotbah yang spektakuler dan dilengkapi oleh mukjizat-mukjizat penyembuhan yang “ajaib”. Itu sebabnya penilaian keberhasilan dari pelayanan gerejawi sering hanya ditentukan dari ukuran: jumlah anggota jemaat yang dibaptis, jumlah dana yang tersedia, jumlah investasi harta milik gereja, bagaimana canggihnya peralatan multi-media yang dimiliki, dan bagaimana mewahnya gedung gereja dibangun. Tetapi apakah semua kehebatan tersebut secara otomatis membangun dan membaharui kehidupan umat? Kita sering tidak mau terlalu pusing dengan spiritualitas jemaat dan efeknya dalam kehidupan masyarakat. Sebab kita merasa telah berhasil mendemonstrasikan berbagai kehebatan “rohaniah” yang sebenarnya hanyalah tipuan licik dari roh yang materialistis. Tanpa kesediaan diri untuk diproses oleh benih-benih firman Allah yang tampaknya kecil dan sederhana, maka roh kita akan semakin terampil untuk memanipulasi dan mengelabuhi dunia dengan penampilan yang serba “wah”. Sebaliknya hidup dalam firman Tuhan seharusnya mentransformasikan spiritualitas kita semakin merendah dan sederhana. Seperti biji moster, seharusnya hidup kekristenan kita dari luar tampak kecil tetapi sebenarnya memiliki daya potensi yang sangat dahsyat. Contoh kehidupan kekristenan seharusnya seperti “mikro-chip “ sebuah komputer pada zaman sekarang. Semakin kecil sebuah “mikro-chip” bukan berarti semakin lemah, justru mikro-chip tersebut semakin canggih dengan kapasitas yang luar biasa. Apa artinya kita selaku gereja mampu menampakkan kehebatan fisik, tetapi spiritualitas kita kosong-melompong alias sama sekali tidak berarti. Atau kita mampu membuat berbagai macam program pelayanan yang serba hebat, tetapi semua program pelayanan tersebut ternyata hanya membangun egoisme para pelayannya.
Jadi seharusnya ukuran keberhasilan kekristenan kita bukan ditentukan dari penampilan fisik yang serba keren seperti gedung dan program-program pelayanannya. Tetapi apakah semua pelayanan kita tersebut sungguh-sungguh fungsional untuk memberi keteduhan, rasa aman dan damai-sejahtera bagi setiap anggota jemaat dan masyarakat. Biji moster tersebut selain bermanfaat memberi kesehatan bila dikonsumsi, tetapi juga mampu menjadi seperti pohon yang memberi perlindungan kepada setiap yang berlindung di bawahnya. Demikian pula dengan kehidupan umat percaya. Apakah kehadiran mereka dapat memberi manfaat? Apakah spiritualitas yang kita bangun dalam iman kepada Kristus dapat menjadi spiritualitas yang memberi kesehatan bagi setiap orang yang bersentuhan dengan diri kita? Juga apakah kehadiran kita secara pribadi dan persekutuan jemaat mampu memberi keteduhan atau perlindungan bagi banyak orang? Lebih celaka lagi bila kita merasa diri serba “kecil” alias minoritas tetapi dalam praktek hidup tidak mampu memberi kontribusi dan peran yang berarti.
Panggilan Di tengah-tengah pola kehidupan yang sering menonjolkan materialisme dan penampilan diri, kita perlu memiliki roh yang jeli dan tajam terhadap kehendak Allah. Kita perlu menguji segala sesuatu baik yang tampil indah mempesona maupun yang hanya tampil apa adanya. Dalam hal ini kita merindukan terwujudnya realitas Kerajaan Allah yang memampukan setiap umat untuk mengalami kehidupan yang penuh makna dan kepedulian kasih yang semakin besar kepada setiap sesamanya. Sebab segala sesuatu yang tidak bermanfaat akan dipotong oleh Allah sebagaimana Allah telah memotong kekuasaan Saul sebagai raja. Demikian pula Allah akan memotong kehidupan setiap umat yang tidak hidup seperti biji moster. Sebaiknya mereka yang senantiasa mengandalkan Allah dalam iman kepada Kristus, spirituaitas iman mereka akan tumbuh seperti pohon yang semakin besar untuk memberi buah dan perlindungan kepada sesama di sekitarnya. Di Mzm. 92:13-15, menyaksikan: “Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar”. Bagaimana dengan kehidupan saudara? Amin.
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono http://www.yohanesbm.com
|
|
|
|
« Last Edit: June 12, 2009, 10:39:29 PM by Pdt. Yohanes Bambang Mulyono »
|
Logged
|
|
|
|
|
|