Naomi HS
Barker Road Methodist Church Singapura
Jr. Member
 
Offline
Posts: 77
View Profile
|
Melihat jalanan di singapore sungguh berbeda dengan jalanan di indonesia. Jalanan disini selain mulus tanpa lubang, garis-garis pembatas dan semua rambu-rambu sangat jelas dan terpelihara. Jadi semuanya diharapkan bisa teratur, meskipun terkadang ada juga yang melanggar. Tapi setidaknya bisa diminimumkan, mengingat tidak adanya alasan yang bisa digunakan mengingat semuanya sudah tersedia dan jelas.
Saya mempunyai seorang teman (orang singapore) yang termasuk orang yang sangat disiplin dalam mematuhi rambu-rambu tersebut. Tetapi setelah beberapa lama saya amati, kedisiplinan teman saya tadi sangat kaku dan cenderung tidak mau tahu. Dia sering kali marah-marah sendiri dan selalu membunyikan klakson keras-keras ketika berjumpa dengan mobil lain, yang tidak di dalam jalur. Padahal kalau mau diperhatikan lebih jauh, mungkin saja mobil lain tadi tidak sengaja atau sedang lengah saja.
Kemarahan lainnya timbul bila ia mendapati bus-bus yang mengambil jalur di luar jalur yang sudah disediakan khusus. Teman saya akan menggerutu, dengan gerutuan yang selalu di ulang-ulang dan sama, mengapa bus bisa seenaknya mamakai jalur lain sedangkan kita tidak boleh masuk di jalur bus. Saya pribadi tidak pernah terpikir atau memperkarakan hal ini.
Kemarahan lain lagi akan timbul, jika di trafic light, lampu sudah menyala kuning akan ke merah dan mobilnya terhalang mobil di depan yang bersiap-siap mau berhenti sehingga menghalangi jalannya. Karena biasanya, dia akan mempercepat laju mobilnya untuk menghindari lampu merah. Saya pernah mengatakan, kalau setahu saya lampu kuning kan untuk siap-siap, baik mau berhenti ataupun akan berjalan. Dia bilang bukan begitu, selama belum merah boleh-boleh saja kita berjalan.
Saya masih bisa menerima (meskipun tidak setuju) alasan teman saya tersebut. Tetapi ada satu kasus yang tidak bisa saya terima. Waktu itu, kebetulan ada mobil yang ragu-ragu untuk masuk di jalur kami, dan kita sudah melihatnya dari jauh. Melihat hal itu teman saya bukannya melambatkan laju mobil malah mempercepat. Dan setelah dekat ternyata mobil yang ragu-ragu tadi sudah terlanjur masuk sehingga teman saya harus mengerem kuat-kuat untuk menghindari tabrakan. Dan ini bukanlah kebetulan, tetapi memang beginilah gaya mengemudi teman saya. Dia merasa sudah benar mengemudi di jalur yang benar. Sehingga maunya dia, mobil lain harus menunggu dia.
Dan seperti biasanya dia akan marah sekali dan mengatakan betapa cerobohnya pengemudi itu dan sebagainya. Saya menegur teman saya, bukankah kita sudah melihat dari jauh kalau mobil itu mau masuk... mengapa dia malahan ngebut? Bukankah kita seharusnya memperlambat dan memberi kesempatan pada mereka untuk masuk. Mengapa harus marah-marah, sedangkan sebenarnya kita tahu dan bisa mencegah masalah tersebut. Mengapa mengotori hati padahal seharusnya kita bisa menikmati perjalanan dengan damai di dalam jalur yang benar.
Mungkinkah seperti ini juga kehidupan kekristenan kita. Terkadang ada orang yang tidak suka memberi kesempatan kepada orang lain yang belum berada di jalan yang benar. Kita yang sudah merasa aman, di jalur yang benar, bisa seenaknya bertingkah laku kepada mereka yang kita anggap kurang dan bahkan tidak benar. Kita merasa sah-sah saja membicarakan keburukan orang lain, mengecam, ataupun membuka kesalahan orang lain. Kita menjadi kaku, seakan-akan keselamatan bisa di dapat hanya dengan mematuhi 'rambu-rambu' yang benar dan melupakan kasih kita kepada sesama.
Dengan sudah ke gereja setiap Minggu, perpuluhan yang teratur, ikut pelayanan bahkan mempunyai jabatan, sebagai donatur tetap barangkali, kita lantas berhak berbicara keras dan menyakiti orang lain demi menjaga kebenaran yang kita kerjakan. Dan bahkan ada yang merasa mempunyai hak untuk mengatur gereja sampai pendetapun sungkan kepadanya. Kita seakan-akan sedang berlomba untuk menjadi nomor satu dengan menjaga perbuatan kita setaat mungkin, tetapi kita melupakan banyak hal lainnya, yang terkadang muncul secara tiba-tiba jauh dari keteraturan atau kerutinan.
Philip Yancey dalam salah satu bukunya menceritakan ketika dia memperhatikan seorang anak kecil yang melenggak-lenggok di gereja dengan senyum di wajahnya, menjadi harus menangis karena dipukul oleh ibunya karena dianggap mengganggu saja. Dan sesudah memukul, si ibu dengan tenangnya kembali berdoa.
Ada seorang wanita yang suaminya ketahuan berjinah, datang ke gereja dengan anaknya. Akan sangat menderita jika di dalam satu rumah tangga ada perselingkuhan, tetapi apa yang mereka dapatkan di gereja, bukannya dukungan atau simpati, malahan mereka dijauhi seakan-akan mereka yang bersalah dan patut dikucilkan. Jemaat yang seharusnya bisa meringankan luka hati dan bahkan membalut malah menorehkan racun di hati orang yang sedang terluka.
Lain lagi pengalaman teman saya di gereja, yang khusus untuk orang Indonesia. Memang rata-rata anggota jemaat kami adalah para TKW dari Indonesia. Pada satu hari, ada orang indonesia, yang sangat terkejut ketika mengetahui bahwa teman saya melayani di gereja yang jemaatnya para tkw. Beberapa hari kemudian, orang itu mengundang teman saya untuk pindah dari gereja dengan mengajak untuk membentuk kebaktian Indonesia sendiri yang jemaatnya sama dengan 'kita-kita' (status mereka yang bukan tkw). Teman saya dengan bergurau menolak tawaran itu dan dengan heran berpikir, bagaimana kita bisa menyebut diri kita ini pengikut Kristus? tetapi tindakan kita sama sekali tidak mencerminkan ajaran Kristus yang menjunjung cinta kasih kepada sesama.
Hendaknya kita harus selalu ingat, bahwa keselamatan bukan ditentukan oleh kebenaran yang sudah kita upayakan saja, berjalan di jalur yang benar saja, mentaati segala rambu-rambu saja, tetapi kita melupakan satu hal yang utama, yaitu kasih. Allah memberikan jalan dan rambu untuk dipakai tetapi dengan landasan kasih. Karena Allah adalah kasih, sudah selayaknya kitapun juga demikian.
Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. (1 Korintus13:1-3)
|