Wah ini topik favoritnya remaja/pemuda GKI nih..

Share pengalaman aja ya, jangan ditiru.. Di kami gak ada kelas pra-remaja, dari sekolah minggu langsung ke remaja, lalu ke pemuda. Dulu saya mulai jadi pengurus remaja dari kelas 1 SMA sampai kuliah tingkat 3 (umur 20-21thn), itu pun dengan agak terpaksa. Setelah masa2 itu lewat, saya baru bisa merenung kenapa saya & teman2 "awet" banget di remaja:
1. Di remaja kita pengurus, dipandang, dihargai, dibutuhkan.. Sedangkan kalau pindah ke pemuda gak jadi apa2.
Nah disinilah peran komisi pemuda harus menyediakan "ladang pelayanan" bagi remaja2 yg terbiasa jadi pengurus dst supaya gak ngalamin post-power syndrome

2. Saya mau pindah ke komisi pemuda bareng teman2, gak berani sendiri. Mungkin mental anak remaja ya begitu itu, beraninya kalo rame2..

3. Ada gap/jarak antara jemaat remaja dan pemuda. Yg pemuda merasa lebih tua (emang pasti), lebih hebat, lebih pinter, lebih asik dari remaja. Jadi males gabung dengan mereka. Padahal itu adalah tantangan supaya kita juga makin berani dan makin pinter berorganisasi maupun bergaul dengan yg lebih tua2.
Dulu menurut saya batasan umur itu gak penting, yang penting kesiapan dan panggilan untuk pindah (dari remaja ke pemuda). Tapi nyatanya saya pikir sebaliknya yaitu bahwa batasan umur itu tetap perlu ada supaya kita bisa maju ke jenjang berikutnya, istilahnya "naik kelas". Nanti dari pemuda, bisa naik kelas ke Penatua, atau ke Pengurus Wilayah, dst. Kalo enggak, kita akan stuck di tempat kita berada, tempat kita merasa nyaman, gak mau keluar dari comfort zone.