KETIKA SEORANG TIONGHOA MENGGANTI AGAMANYA
Ketika seorang Tionghoa mengganti agama leluhurnya dengan salib dalam genggaman,
telah dihitungnya semua konsekuensi dan resiko.
Curahan air mata, terpaan sumpah serapah papah-mamah, konflik dan perpisahan. “Ke mana nanti abuku kau simpan?!”
Tengoklah itu semua, di Batavia, di Jatibarang, di Cirebon, di Surabaya, di Malang, tunas-tunas
Kie Tok Kauw Hwee.
Tujuhpuluh tahun lebih kemudian, ketika zaman berganti.
Keturunannya dipikat-pikat sang
boksu modern, mencobai praktik-praktik agama lamanya, dengan sebuah dalih berbalut indah busana bernama
‘teologi kontekstual’.
Oh, hormatilah air mata leluhurnya …, hormatilah bilur-bilur di tubuh
kongco nya …!
Sementara sang kontekstual bergelar
‘semadi’, berdandan cantik dalam ruang hotel-hotel mewah, pusat perbelanjaan berAC, bersanding mesra dengan
fitness,
massage, lulur dan
spa.
Sang
semadi jadi gaya hidup! Sang
semadi jadi budaya pop!, budaya
instan yang mudah nian tergerus waktu.
Itukah arus zaman? (
posmo kah engkau?)
Jakarta, delapan desember 2009
ab