Welcome, Guest. Please login or register.
February 05, 2012, 01:08:22 AM
Home | Help | Search | Calendar | Login | Register
News:

CyberGKI Forum  |  Kristen  |  Renungan  |  Topic: KHOTBAH MINGGU, 21 MARET 2010 ("YANG TERBAIK MASIH AKAN DATANG") « previous next »
Pages: [1] | Go Down Print
Author Topic: KHOTBAH MINGGU, 21 MARET 2010 ("YANG TERBAIK MASIH AKAN DATANG")  (Read 914 times)
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
Administrator
GKI PERNIAGAAN JAKARTA
Full Member
*****
Offline

Posts: 247


Pdt. Yohanes Bambang Mulyono


View Profile WWW
KHOTBAH MINGGU, 21 MARET 2010 ("YANG TERBAIK MASIH AKAN DATANG")
« on: March 06, 2010, 04:02:10 PM »

Renungan Minggu, 21 Maret 2010
Tahun C: Pra-Paska V
Warna: Ungu

YANG TERBAIK MASIH AKAN DATANG
Yes. 43:16-21; Mzm. 126; Fil. 3:4b -14; Yoh. 12:1-8

Pengantar
Secara kodrati setiap orang memiliki hal yang dianggap utama dalam kehidupannya. Sehingga setiap orang memiliki nilai keutamaannya masing-masing. Karena dari nilai keutamaannya setiap orang membangun makna, tujuan hidup dan kebahagiaannya. Menurut Sokrates, filsuf Yunani, alat untuk mencapai “kebahagiaan” adalah dengan melakukan kebajikan atau keutamaan. Makna keutamaan ini disebut oleh Sokrates dengan sebutan “arête”. Bagi Sokrates sendiri, keutamaan yang tertinggi atau termulia adalah pengetahuan. Tepatnya setiap orang yang memaknai kehidupannya dengan pengetahuan yang benar, maka pastilah mereka akan berbahagia. Sebaliknya kehidupan kita akan gagal dan mengalami kesusahan apabila kita jauh dari pengetahuan yang benar. Dengan demikian menurut Sokrates, pengetahuan  merupakan keutamaan dalam kehidupan ini. Sebab inti dari pengetahuan adalah kebajikan. Sehingga barangsiapa yang mendasarkan kehidupannya kepada pengetahuan, maka hidupnya didasarkan kepada kebajikan dalam arti seluas-luasnya. Ini berarti keutamaan tertinggi yang disodorkan oleh Sokrates adalah kebajikan. Jadi bilamana kita mengikuti logika dari Sokrates tersebut, secara kodrati sebenarnya setiap orang telah menempatkan kebajikan sebagai keutamaan hidupnya. Yang terbaik bagi setiap orang adalah kebajikan secara menyeluruh, yaitu kebajikan secara etis moral, kebajikan secara sosial dan kebajikan dalam profesinya. Namun timbul pertanyaan, mengapa dalam realita kehidupannya, manusia sering tidak mampu melakukan keutamaan hidupnya yakni kebajikan jikalau dia telah berpengetahuan? Pada masa kini, para pelaku kejahatan atau pembuat masalah bagi sesamanya justru sering memiliki pengetahuan yang tinggi. Bahkan mereka bukan hanya memiliki pengetahuan yang tinggi, tetapi juga pemahaman dan penghayatan keagamaan yang baik.

Keutamaan Yang Utama
Kita semua tahu bahwa pengetahuan yang utuh dan mendalam sangat penting untuk membangun kehidupan ini. Selain itu kita sepakat bahwa pengetahuan yang utuh dan mendalam harus senantiasa didasarkan kepada penghayatan agama;  karena melalui kepercayaan/agama kita tidak hanya memperoleh pengetahuan secara kognitif saja tetapi juga pengetahuan dan pemahaman secara spiritual. Namun pertanyaannya adalah apakah dengan semua pengetahuan yang serba lengkap, utuh dan mendalam tersebut telah menjamin bahwa kehidupan kita telah menemukan keutamaan yang tertinggi? Meminjam istilah Sokrates tentang keutamaan yaitu “arête” maka “arête” kita bukan sekedar pengetahuan dan kebajikan belaka. Tetapi “arête” (keutamaan) kita yang paling mulia adalah Allah. Tanpa Allah, maka segala pengetahuan kita tentang seluruh rahasia kebenaran alam, sains, dan seluruh seluk beluk teknologi, serta kebajikan moral sebagaimana diatur oleh kitab suci akan menjadi tidak berarti sama sekali. Tanpa Allah, agama-agama yang memiliki kepercayaan tentang Allah juga akan menjadi suatu kesia-siaan belaka. Sebab agama-agama yang percaya kepada Allah tidak secara otomatis akan menjadi agama-agama yang hidup di bawah kedaulatan atau otoritas kasih dan kebenaran Allah. Sikap religi dari agama-agama tidak secara otomatis membuktikan bahwa yang terbaik adalah kepatuhan kepada kehendak Allah. Bahkan sikap religi dari agama-agama justru sering merupakan upaya manusia untuk memperalat kuasa Allah untuk melayani kehendak dan keinginan manusiawi. Melalui ritual-ritual religinya, manusia sering berupaya untuk memanipulasi kuasa Allah untuk memperkuat kepentingan egoisme dirinya. Sehingga dengan sikap religinya, manusia justru tidak mampu memperoleh pembebasan dan keselamatan dari Allah. Sebaliknya dengan sikap religinya, manusia berupaya mengurung kebenaran Allah, yang mana dengan sikapnya tersebut manusia kehilangan keutamaan yang utama, yaitu kasih-karunia dan pengampunan Allah.  Dengan kata lain, keutamaan yang utama bukan sekedar nilai-nilai etis-moral dan doktrin tentang Allah sebagaimana yang dimiliki oleh agama-agama, tetapi penyataan Allah dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Keutamaan yang utama yang telah dianugerahkan Allah dalam kehidupan umat manusia adalah Kristus.

Di Fil. 3:4-6, rasul Paulus menyaksikan bagaimana dia yang dahulu telah hidup tanpa cela menurut ukuran keagamaan, tunduk dan taat kepada hukum Taurat, status dan kedudukan yang terhormat sebagai seorang Farisi, dan dari kelahirannya dia adalah seorang Ibrani asli. Selain itu rasul Paulus memiliki semangat yang militan untuk menegakkan kebenaran agamanya, sehingga dia menganiaya jemaat Kristen. Dari pola ukuran Sokrates, apa yang dilakukan rasul Paulus sebelum dia bertobat sebenarnya telah memenuhi syarat. Sebab kehidupan rasul Paulus sebelum bertobat ditandai oleh keutamaan hidup seperti: pengetahuan yang lengkap tentang hukum-hukum agama, memiliki kebajikan yang terpuji selaku ahli Taurat dan orang Farisi, sadar akan identitas dirinya selaku orang Ibrani asli dan memiliki semangat untuk menegakkan kebenaran. Yang mana keutamaan-keutamaan atau kebajikan yang pernah dihayati oleh rasul Paulus tersebut sebenarnya merupakan representasi dari keutamaan (“arête”) yang dihayati oleh setiap agamawan dan setiap orang pada umumnya. Bukankah begitu banyak orang yang selalu bangga dengan identitas dirinya yang lahir tanpa darah campuran? Kita juga dapat menjumpai orang-orang yang hidup dengan bangga dengan doktrin kebenarannya dan mereka yang merasa lebih saleh dengan ketaatannya kepada hukum-hukum agama. Atau kita juga dapat menjumpai orang-orang yang bangga dengan kedudukan sosial dan gelar bangsawan, serta gelar akademis tertentu. Jika demikian bukankah status sosial dan gelar-gelar tersebut dianggap sebagai bagian dari keutamaan seseorang? Itu sebabnya status sosial dan gelar-gelar tersebut senantiasa dikejar dengan suatu pengorbanan tertentu. Suatu nilai keutamaan karena dianggap berharga dan mulia akan dikejar oleh seseorang dengan harga yang mahal. Bahkan kalau perlu keutamaan-keutamaan tersebut akan dipertaruhkan dengan nyawa dan hidupnya.  Namun pada sisi yang lain perlu dicermati, bahwa ternyata keutamaan-keutamaan tersebut bukanlah keutamaan yang sejati. Memang keutamaan-keutamaan tersebut sangat bermanfaat dalam kehidupan ini, tetapi bukanlah yang tertinggi dan termulia.  Realitas keutamaan-keutamaan tersebut justru sering bersifat semu dan fana.  Mungkin pada satu sisi keutamaan-keutamaan seperti status etnis, penguasaan seseorang  akan hukum agama, pola hidup salehnya, status sosial, dan semangatnya untuk menegakkan kebenaran –  dapat menghasilkan suatu kebanggaan diri dan pengakuan dari  publik. Tetapi pada sisi yang lain keutamaan-keutamaan tersebut  justru dapat menjauhkan diri kita dari kebenaran dan relasi dengan Allah yang hidup sebagaimana dinyatakan oleh Kristus. Jadi karena kita sering terlalu bangga dengan kebenaran dan kesalehan sendiri, maka mata rohani kita tertutup untuk melihat dan mentaati kebenaran Allah yang sesungguhnya.

Dahulu Sebagai Keuntungan, Sekarang Menjadi Kerugian
Nilai keutamaan sebagai nilai yang terbaik akan diperoleh seseorang ketika dia memperoleh pencerahan yang membebaskan.  Sering seseorang menganggap dirinya telah melakukan nilai-nilai keutamaan atau hal yang terbaik hanya karena kewajiban agamawi dan moral belaka. Seharusnya kewajiban dan tanggungjawab moral yang kita lakukan didasari oleh pencerahan rohani, sehingga menghasilkan perspektif yang baru. Karena melalui pencerahan rohani, kita dimampukan oleh melihat dan menilai setiap kewajiban dan tanggungjawab moral dari lingkup yang lebih luas dan kritis. Kita tidak sekedar melihat dan memaknai kewajiban dan tanggungjawab sekedar sesuatu yang harus dilakukan dengan setia. Tetapi kewajiban dan tanggungjawab moral kita tersebut secara bersengaja ditempatkan pada peristiwa penyataan Allah yang telah terjadi dalam sejarah hidup manusia.  Dengan demikian makna kewajiban dan tanggungjawab moral kita memiliki pondasi yang kokoh karena berada dalam jalinan karya keselamatan Allah. Kita melaksanakan kewajiban dan tanggungjawab moral sebagai kawan sekerja Allah, dan bukan sekedar suatu peran etis-moral yang individualistis. Sebab kewajiban dan tanggungjawab moral yang individualistis dengan berpusat kepada kebenaran dan egoisme diri telah menjadi sesuatu yang usang.  Mungkin dahulu kita bangga dengan segala bentuk kewajiban dan tanggungjawab moral yang sifatnya individualistis dan egosentrisme. Tetapi kemudian kita diperkenankan untuk mengalami suatu peristiwa pencerahan iman yang mengubah seluruh perspektif dan paradigma hidup kita. Yang mana peristiwa pencerahan tersebut bukan diperoleh dengan bermeditasi sebagaimana yang dialami oleh Sidharta Gautama. Tetapi peristiwa yang mencerahkan dan membebaskan itu terjadi melalui perjumpaan kita dengan Tuhan Yesus Kristus. Pengalaman yang mencerahkan dan membebaskan tersebut juga disaksikan oleh rasul Paulus setelah dia berjumpa dengan Kristus, sehingga dia berkata: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Fil. 3:4-5). Sehingga rasul Paulus melepaskan seluruh kebanggaan dan apa yang dimiliki, sebab dia menemukan yang lebih mulia, lebih kekal dan keselamatan yang tiada taranya.

Selama kita belum menemukan sesuatu yang lebih berharga dan mulia, kita sering menganggap apa yang kita bangga-banggakan sebagai milik kita itu lebih dari segala-galanya. Namun saat seseorang berjumpa dan mengenal Kristus, barulah dia menyadari bahwa seluruh kebanggaan dan kemegahannya hanyalah suatu kesia-siaan belaka. Setelah dia berjumpa dan mengenal Kristus, maka yang dahulu dianggap sebagai suatu keuntungan ternyata suatu kerugian semata. Sikap ini seperti makna perumpamaan Tuhan Yesus tentang seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah dia menemukan mutiara yang sangat berharga, maka iapun pergi menjual seluruh miliknya agar dapat membeli mutiara yang berharga itu (Mat. 13:46). Namun dalam kehidupan kita sehari-hari justru sering mutiara yang berharga itu bukan lagi Kristus. Dahulu kita memang pernah menempatkan Kristus sebagai mutiara yang paling berharga, tetapi dalam perjalanan hidup kita kemudian ternyata penghayatan dan pemahaman kita tersebut luntur dan bergeser jauh. Justru beberapa orang menganggap Kristus sebagai suatu kesia-siaan, dan mereka menggantinya dengan “idol” atau berbagai “ilah” lain seperti: hawa-nafsu seks, sikap serakah, konsumtif, uang, kekayaan, kedudukan dan kekuasaan. Itu sebabnya mereka mengganti Kristus dengan kuasa dunia saat mereka membaca Fil. 3:7-8, yaitu: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena uang dan kekayaan. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan uang, tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena uanglah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh kekayaan”.  Kata-kata yang diberi garis tersebut dapat diganti, misalnya: kenikmatan seks, kekuasaan atau kedudukan. Kuasa dunia senantiasa berupaya menjungkir-balikkan mutiara kebenaran yang berharga dan kekal dengan hal-hal yang fana. Dengan sangat prihatin kita melihat bagaimana orang-orang yang semula mengasihi Kristus pada akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Dia, karena alasan yang duniawi. Kasih yang tidak dilandasi oleh keutamaan yang transformatif yaitu perjumpaannya dengan Kristus umumnya tidak pernah tahan lama. Sebaliknya kasih yang dilandasi oleh perjumpaan yang transformatif dan membebaskan akan mendorong seseorang untuk mengorbankan hal yang terbaik dan terindah kepada Kristus.

Yang Terbaik dan Terindah Dipersembahkan
Di Yoh. 12:1-12 mengisahkan bagaimana Tuhan Yesus datang ke Betania ke tempat tinggal Maria, Marta dan Lazarus yang telah dibangkitkan dari antara orang mati. Di tengah-tengah perjamuan makan yang khusus diadakan untuk Tuhan Yesus tersebut, disaksikan Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni untuk ditumpahkan ke kaki Tuhan Yesus. Menurut keterangan Yudas Iskariot yang keberatan dengan tindakan Maria yang meminyaki kaki Tuhan Yesus, minyak narwastu seharga 300 dinar. Yang mana nilai 1 dinar pada zaman Tuhan Yesus adalah setara dengan nilai upah bekerja sehari. Dengan demikian minyak narwastu yang ditumpahkan oleh Maria memiliki nilai yang setara dengan upah satu tahun bekerja. Seluruh hasil upah bekerja Maria selama satu tahun diwujudkan dalam bentuk satu botol minyak narwastu. Tujuan Maria membeli satu botol minyak narwastu yang mahal itu adalah untuk ditumpahkan di kaki Tuhan Yesus. Lalu Maria mengurai rambutnya yang panjang untuk  menyeka kaki Tuhan Yesus. Makna tindakan Maria tersebut mengungkapkan betapa dalamnya dia mengasihi Tuhan Yesus. Sehingga dia sama sekali tidak memperhitungkan nilai ekonomis dari minyak narwastu murni yang telah ditabungnya dalam waktu yang sangat lama, tetapi ditumpahkan sekejab mata di kaki Tuhan Yesus. Kemudian tanpa perasaan malu dia mau menyeka kaki Tuhan Yesus dengan rambutnya. Padahal bagi seorang wanita,  rambut kepalanya merupakan salah satu bagian tubuh yang tidak boleh tersentuh oleh siapapun; tetapi kini rambutnya digunakan oleh Maria untuk menyeka kaki Tuhan Yesus. Keutamaan yang dihadirkan oleh Maria adalah mengungkapkan suatu persembahan diri yang terbaik dan terindah bagi Tuhan Yesus. Perjumpaannya dengan Kristus bukan hanya menyadarkan dan membuka perspektif hidupnya, tetapi juga telah membaharui hidupnya sehingga dia dapat  memberikan yang terbaik bagi Dia. Sosok diri Maria merupakan representasi dari spiritualitas umat yang menempatkan Kristus sebagai yang termulia dari segala-galanya, sehingga mereka mampu merendahkan diri tanpa sedikitpun terselip perasaan bermegah diri. Bahkan mereka mampu meniadakan seluruh harga dirinya saat mempermuliakan dan menyembah kepada Kristus.

Namun tidaklah demikian sikap Yudas Iskariot. Di hadapan orang banyak, dia menampilkan diri sebagai pembela orang-orang miskin. Untuk itu Yudas Iskariot menilai tindakan Maria sebagai suatu perbuatan yang tidak ekonomis. Sebab Yudas Iskariot menganggap lebih baik jika minyak narwastu yang nilainya setara dengan satu tahun bekerja itu dibagi-bagikan kepada orang-orang yang menderita dan kekurangan. Dari perspektif Yudas Iskariot, yang terbaik dan terindah untuk dipersembahkan adalah jika kita mau peduli dengan orang-orang miskin. Tentu bagi para pembela orang-orang miskin di gereja, filosofi Yudas Iskariot tentu akan segera memperoleh sambutan yang meriah. Sehingga mereka beranggapan bahwa dana persembahan yang dimiliki oleh gereja seharusnya sebagian besar digunakan untuk kepentingan orang-orang miskin seperti: membantu perumahan, pengobatan dan makanan yang bergizi. Bukankah Tuhan Yesus juga berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40)?  Namun sayangnya paradigma yang mulia tersebut lahir dari suatu pemahaman teologis yang mempertentangkan antara ungkapan hati mengasihi Kristus dengan kepedulian kepada orang miskin. Seharusnya jikalau kita memang peduli dan mengasihi dengan orang-orang miskin, kita tidak perlu mempertentangkannya antara ungkapan hati kita untuk mengasihi dan melayani Kristus selaku Tuhan dan Juru-selamat kita dengan tindakan peduli kepada orang miskin. Pada satu pihak memang benar Kristus mengidentifikasikan diriNya dengan sesama yang lemah dan menderita. Namun pada pihak lain tidaklah benar bahwa sosok diri Kristus diidentikkan dengan setiap orang yang lemah dan menderita. Bagaimanapun juga Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat. Dia bukan  sekedar manusia. Hakikat Kristus juga bukan sekedar simbolisasi dari orang-orang yang miskin. Sebenarnya bila kita selaku umat Tuhan peduli dengan orang-orang miskin, maka kita akan menyisihkan suatu persembahan khusus. Sehingga persembahan gereja Tuhan dapat dialokasikan untuk mendukung seluruh misi Tuhan yang lebih luas.  Dengan kata lain, jika kita memang peduli dengan orang-orang miskin, kita akan secara khusus menyisihkan uang pribadi kita dan tidak perlu menghakimi dan menilai orang lain yang mengungkapkan kasihnya kepada Tuhan dengan cara yang beda. Jadi seharusnya Yudas Iskariot lebih belajar menyisihkan uang persembahannya untuk dibagi-bagikan kepada orang miskin dari pada dia menghakimi sikap Maria yang mengurapi kaki Tuhan Yesus.  Apalagi ternyata motif utama Yudas Iskariot bukan karena dia ingin membela dan mengasihi orang-orang miskin, tetapi karena dia menginginkan uang yang masuk di kas yang dipercayakan untuk kepentingan pribadinya. Dalam hal ini kita harus kritis dan  tidak boleh terkecoh dengan orang-orang yang sering terlalu vokal mengatas-namakan “orang miskin” atau “rakyat yang tertindas” – namun ujung-ujungnya dia sedang membela dan memperjuangkan kepentingan dirinya sendiri. Yang dibutuhkan oleh dunia bukanlah orang-orang yang vokal membela orang-orang miskin, tetapi mereka yang mampu menjadi teladan dan saudara bagi sesamanya yang menderita.   
 
Langkah Progresif Bersama Kristus
Tindakan Maria yang meminyaki kaki Tuhan Yesus dengan minyak narwastu murni selain sebagai ungkapan hatinya yang sangat mengasihi Kristus juga dipahami sebagai simbolisasi akan pengurapannya untuk pemakaman Kristus kelak. Dengan demikian kita dapat melihat suatu tindakan kasih yang murni senantiasa mengandung nilai perspektif yang lebih luas dari pada sekedar suatu peristiwa “kekinian”. Saat kita menabur kasih di situlah kita sedang menabur nilai kekekalan yang terbebas dari pusaran waktu setempat. Perhatikan pernyataan Tuhan Yesus di Mat. 26:12-13, yaitu: “Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia".   Dari pandangan Tuhan Yesus, tindakan Maria tersebut dimaknai sebagai sesuatu yang akan terus diingat atau dikenang oleh umat manusia sepanjang zaman. Jadi tindakan kasih yang terjadi di suatu tempat dan waktu tertentu memiliki daya aura yang mampu menembus dan terpancar ke masa yang akan datang. Kasih Maria telah menyingkapkan bahwa kelak Kristus akan wafat, dan dialah yang pertama kali memahami sehingga dia meminyaki kaki Kristus  saat Dia masih bersama-sama dengan dia. Dengan demikian langkah iman kita akan menjadi progresif bersama Kristus jikalau hidup kita dilandasi oleh kasih yang murni dan kerinduan yang begitu besar untuk melayani dan mempermuliakan namaNya. Sebaliknya langkah iman kita menjadi stagnan atau jalan di tempat manakala kita mulai memperhitungkan egoisme atau kepentingan diri kita sendiri.  Sebab egoisme merupakan dinding benteng yang dibangun untuk membuat seseorang merasa aman, tetapi pada sisi yang lain justru memenjarakan dirinya sendiri. Dari luar tampak megah, tetapi perspektif iman kita terpenjara sehingga daya spiritualitas kita terbungkam. Akibatnya kita tidak mampu mengayunkan langkah progresif dalam karya keselamatan Allah.

Di Yes. 43:16 menyaksikan bagaimana Allah berkarya dengan membuat jalan melalui laut atau melalui air yang hebat. Bagi umat Israel, lautan merupakan wilayah yang berbahaya dan tempat kuasa-kuasa kegelapan tinggal. Itu sebabnya mereka menghayati peristiwa keluaran dari Mesir sebagai tindakan pertolongan dan karya keselamatan Allah yang mampu membebaskan mereka dari kuasa Firaun, sekaligus dari cengkeraman kuasa kegelapan. Pada masa kini ide Allah tersebut direalisasikan dengan jembatan yang panjang namun kokoh untuk melintasi lautan. Bandingkan dengan pembangunan jembatan Surabaya – Madura. Tujuannya agar kehidupan umat manusia tidak lagi terhalang oleh lautan, sehingga mereka dapat lebih efesien dalam waktu, efektif dalam kualitas kerja dan progresif merancang karya. Dengan demikian pola  pelayanan dan kasih kita yang terbaik tidak boleh berhenti hanya dalam satu periode tertentu. Pola pelayanan dan kasih kita yang terbaik harus merupakan langkah yang terus progresif bersama Kristus. Karena itu kita harus selalu mawas diri untuk menganggap masa lalu yang serba gemilang dan penuh kejayaan. Umumnya sikap tersebut dinyatakan dengan suatu penilaian dan evaluasi yang negatif dengan situasi masa kini. Sehingga mereka menganggap apa yang terjadi di masa kini selalu serba buruk, gagal dan tidak bernilai sedikitpun dibandingkan dengan apa yang dahulu pernah terjadi. Di Yes. 43: 18-19, Allah berfirman: "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala!  Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara”. Jadi yang dikehendaki Allah adalah agar kita memiliki perspektif luas ke depan dan yang mampu secara kreatif mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi kenyataan seperti seseorang yang mampu mengubah padang gurun menjadi jalan, dan padang gurun yang kering memiliki aliran sungai.  Saat hidup kita dilandasi kasih yang murni, kita akan dimampukan oleh Allah untuk melakukan hal-hal yang transformatif dan kreatif sehingga karya dan pelayanan kita dapat menjadi berkat yang tidak pernah lekang oleh waktu dan perubahan zaman. Karena tujuan utama dari seluruh pelayanan kita pada hakikatnya adalah untuk kemasyhuran atau kemuliaan nama Kristus (bdk. Yes. 43:21). Tepatnya nilai keutamaan hidup kita adalah memuliakan nama Allah dan Kristus yang dinyatakan melalui tindakan yang transformatif dan kreatif sesuai dengan karunia hikmatNya.

Panggilan
Nilai keutamaan atau yang terbaik dan kekal bagi umat percaya hanyalah Kristus. Untuk itu setiap nilai keutamaan yang lain harus ditundukkan di bawah kuasa namaNya. Sehingga seluruh nilai keutamaan lain menjadi relatif dan hanya kuasa Kristus yang mutlak. Dengan demikian seluruh hidup umat percaya selalu berfokus kepada pemashyuran dan pemuliaan nama Kristus. Yang mana panggilan pemashyuran nama Kristus tersebut tidak boleh terjebak dalam pusaran waktu masa lalu saja. Kita tidak boleh cenderung mengingat karya keselamatan Allah yang gemilang hanya di masa lampau, tetapi perlu senantiasa menghadirkannya di masa kini dan terus bergerak secara progresif ke masa depan. Rasul Paulus berkata: “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Fil. 3:13-14).  Semakin hidup kita dikuasai oleh kasih yang murni, hidup kita akan dipenuhi oleh aura kasih Kristus yang mampu menembus batas waktu dan tempat. Sehingga nilai-nilai keutamaan kita bukan sekedar suatu tindakan kasih yang sifatnya karitatif atau bagi-bagi kebutuhan pokok dan uang, tetapi menjadi suatu tindakan kasih yang transformatif dan reformatif. Dalam tindakan kasih yang transformatif dan reformatif sesungguhnya kita sedang memberlakukan dan menghadirkan karya pemulihan Allah yang menyeluruh dalam kehidupan di dunia ini. Jadi bagaimanakah saudara menghayati nilai keutamaan dalam kehidupan ini? Apakah nilai keutamaan tersebut sekedar pengetahuan seperti yang dikatakan oleh Sokrates, atau barang-barang yang fana dan duniawi? Ataukah Kristus sebagai nilai keutamaan kita dan tidak ada yang dapat menandingiNya? Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com



Logged
Pages: [1] | Go Up Print 
CyberGKI Forum  |  Kristen  |  Renungan  |  Topic: KHOTBAH MINGGU, 21 MARET 2010 ("YANG TERBAIK MASIH AKAN DATANG") « previous next »
Jump to:  



Login with username, password and session length

Copyright 2006 - 2009 by Simple Machines LLC
Page created in 0.946 seconds with 17 queries.
http://www.gki.or.id/wap Penggunaan
RSS