Welcome, Guest. Please login or register.
May 22, 2012, 09:23:34 PM
Home | Help | Search | Calendar | Login | Register
News:

CyberGKI Forum  |  Kristen  |  Renungan  |  Topic: MENJADI HAMBA BAGI SESAMA: MUNGKINKAH? (Pdt.Em Daud Adiprasetya) « previous next »
Pages: [1] | Go Down Print
Author Topic: MENJADI HAMBA BAGI SESAMA: MUNGKINKAH? (Pdt.Em Daud Adiprasetya)  (Read 838 times)
Daud Adiprasetya
GKI Coyudan
Newbie
*
Offline

Posts: 49


View Profile
MENJADI HAMBA BAGI SESAMA: MUNGKINKAH? (Pdt.Em Daud Adiprasetya)
« on: March 20, 2010, 12:10:55 AM »

Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya
Minggu 28 Maret 1020
Pra- Paska VI

MENJADI HAMBA BAGI SESAMA: MUNGKINKAH?
Yesaya 50:4-9a  Mazmur 118:1-2, 19-29  Filipi 2: 5-11  Lukas 19:28-40


Pada suatu hari, Konfusius, seorang filsuf yang terkenal, menempuh perjalanan jauh menyeberangi padang gurun bersama beberapa muridnya. Setelah menempuh perjalanan berhari-hari akhirnya persediaan air minum habis, mereka semua berjalan dengan lemah dan gontai. Suatu ketika salah seorang dari muridnya, menemukan ceruk kecil di bawah batu-batuan yang berisi genangan air yang dangkal. Dengan segera murid itu mengambil mangkuk nasinya, dan dengan susah payah  hanya mampu menyedok sebanyak setengah mangkuk saja.Ia mengantarkan air dalam mangkuk itu kepada gurunya. Ketika Konfusius menempelkan mangkuk itu ke bibirnya, ia merasa semua mata muridnya memandangnya. Ia tidak jadi meminum isi mangkuk itu, malahan menuangnya ke pasir gurun yang panas sambil berkata, “Air ini terlalu sedikit untuk kita semua, dan terlalu banyak untuk satu orang saja. Mari kita lanjutkan perjalanan ini.”  (Dari Buku Champion).

Keputusan yang diambil oleh Konfusius tadi sangat mengesankan, yaitu bahwa lebih baik mengabaikan air minum yang berharga demi kepeduliannya kepada orang banyak. Di sini kita melihat  keterbatasan manusiawi dari Konfusius, bahwa ia  tidak mampu menyediakan air minum untuk murid-muridnya. Saat itu terpaksa Konfusius tidak bisa menjadi hamba bagi sesama, walaupun ia sudah berhasil menampilkan satu contoh kepemimpinan yang sejati. Untuk bisa menjadi hamba bagi sesama, Yesus Kristus dengan leluasa, tanpa keterbatasan dapat melimpahkan berkat-berkatNya. Dalam pesta kawin di Kana Ia pernah memberikan minuman dari anggur nomer satu, ketika waktu itu persediaan anggur sudah hampir habis. Kristus  juga mengadakan roti dan ikan untuk 5000 orang lebih, yang memerlukan makan malam sesudah mendengarkan khotbahNya. Tapi sebaliknya dari segala peristiwa yang mulia itu, supaya dapat menjadi hamba bagi sesama, Yesus Kristus juga telah bersedia menempuh jalan hidup yang hina dan sengsara bahkan menuju kematian yang terkutuk! Kalau begitu Kristus memiliki  kelenturan hidup yang menyebabkan Dia dapat melayani kita dalam segala situasi.

Ada seorang ayah, ketika anaknya sedang menghadapi masalah yang berat, telah memberi nasehat dan dorongan demikian, “Bertahanlah dan atasi masalahmu itu sampai tuntas. Dengan demikian nanti kau akan berhasil pula menyelesaikan masalah-masalah lain, yang lebih ringan!” Bertindak sebagai wakil kita, Yesus Kristus dengan tekad yang bulat telah memasuki suatu lorong kehidupan yang sangat kelam untuk menghadapi satu tugas yang maha berat! Untuk  itu,  terlebih dahulu Ia justeru melepaskan kesetaraanNya dengan Allah. Sebab Dia tahu bahwa tidak mungkin bagiNya untuk berpegang terus pada identitas ilahi yang mulia, jika ingin menjadi wakil manusia seutuhnya. Ketika rencana mengosongkan diriNya telah menjadi fakta, maka Anak Allah benar-benar telah inkarnasi menjadi manusia seperti kita, bahkan menjadi seorang hamba. Dengan memilih identitas seorang hamba itulah  maka Yesus Kristus  justru semakin bisa meraih semua pihak, termasuk lapisan masyarakat yang paling bawah, tapi tetap dekat  pula dengan Tuan yang tak lain adalah BapaNya sendiri!

Yesus yang merendahkan diri, taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib! Ketika Yesus merendahkan diri, sikap hidupNya itu seperti seekor unta yang tinggi besar tetapi bersedia menekukkan kedua lututnya, pada saat ada orang akan mengendarainya. Jika kita melihat proses tersebut, tahulah kita bahwa untuk itu sang unta harus bersedia
untuk bersusah payah, sebab sebenarnya cukup sulit baginya untuk berlutut kemudian bangkit kembali, dengan menanggung beban. Unta yang sudah “merendahkan diri” itu tidak mengeluh, sebab biasanya  tidak menunjukkan sikap penolakan atau memberontak. John Bunyan (1628-1688) berkata, “Orang yang berada di bawah tidak perlu merasa takut terjatuh. Orang yang rendah hati tidak takabur atau arogan. Jika orang merendahkan diri, maka ia akan memperoleh Tuhan sebagai penuntun hidupnya!”

Ketika Yesus taat, bukan berarti mengalir begitu saja dengan mudah, akan tetapi disertai pergumulan batiniah yang sangat hebat, baik di Taman Getsemani, selama terjadi proses pengadilan, saat memikul salib di sepanjang jalan yang disebut via dolorosa, begitu pula  ketika berjam-jam tubuhNya tergantung pada tiang salib dengan tangan dan kaki yang terpaku sambil menanggung rasa lapar, haus, terik matahari dan pedihnya luka-luka di sekujur tubuh. Tak ada rasa sesal bahwa telah terlanjur menyanggupi satu tugas berat, apa lagi  terpikir untuk membalas perlakuan tidak adil dari banyak pihak.Bukankah Dia justru  mendoakan mereka yang telah menyalibkan Dia?  Bagi kita sekarang yang  berada dalam kondisi baik-baik saja, sebenarnya adalah mustahil untuk dapat membayangkan  betapa beratnya perasaan Yesus saat itu. Dia yang pada dasarnya tidak menyukai segala bentuk kekerasan, tetapi harus menjalani hukuman sekasar itu. Dia yang  sebenarnya setiap saat memiliki peluang untuk melepaskan diri dari hukuman, kalau mau, amatlah sulit bagiNya untuk bisa taat sampai akhir. Hanya oleh karena komitmen yang matang, tekadnya yang bulat, pemahaman yang kuat akan panggilanNya, serta kasih yang mendalam  semata, yang telah membuat Yesus Kristus sampai pada ketaatan yang sangat menakjubkan itu!

Murid atau hamba Tuhan dalam Yesaya 50 terwujud dalam sikap Yesus Kristus. Dengan lidah  seorang murid atau hamba Tuhan (ayat 4), Yesus Kristus selalu siap meluncurkan kata-kata indah yang dapat memberi semangat baru kepada yang sedang letih lesu. Meskipun kini Yesus sudah naik ke sorga, tetapi firman Tuhan dalam Alkitab merupakan karunia terbesar yang diwariskan kepada kita. “Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun ” Ibrani 4:12. Ada kisah menarik tentang kuasa Firman Allah, sebagai berikut: Ketika Jacob de Shazer pergi ke Jepang sebagai anak buah Jimmy Doolittle ( Ialah pilot Amerika yang melakukan pemboman Tokyo dan kota-kota lain di Jepang, April 1942). Jakob de Shazer dipenjarakan, waktu itu dia masih atheis, tapi di dalam penjara itu suatu hari timbul keinginan yang besar untuk membaca Alkitab, maka berulang kali iapun  meminta kepada petugas penjara agar dicarikan sebuah Alkitab. Akhirnya, oleh petugas penjara dipinjami sebuah Alkitab hanya untuk tiga minggu lamanya. Melalui pembacaan Firman Tuhan setiap hari, dan oleh pekerjaan Roh Kudus ia mengalami pertobatan. Sesudah dibebaskan, maka suatu hari pada tahun 1948, Jakob de Shazer mengajak isteri dan bayi laki-lakinya kembali ke Jepang sebagai seorang misionaris! (Dari The Teacher}. Siapa sangka orang seperti itu diam-diam juga dipersiapkan oleh Tuhan menjadi hamba bagi sesamanya. ”Alkitab adalah mata air semua kebenaran yang tidak pernah habis. Keberadaan Alkitab merupakan berkat terbesar yang pernah dialami manusia.” Immanuel Kant.

Mendengar seperti seorang murid,  dengan pendengaran yang tajam sebab Allah telah membuka  telingaNya. Hal itu membuat kita untuk berani mengungkap isi hati kita, tapi di dalam perkembangannya juga membuat kita untuk semakin bisa berserah kepadaNya! Saya baru saja membaca dari Majalah Reflecta dengan judul Papa Sedang Mengemudi. Pengalaman Dr Wan sekeluarga yang tinggal di Eropa, suatu hari mengadakan perjalanan tiga hari lamanya dengan mobil ke Jerman. Anak perempuannya yang berusia tiga tahun,  banyak bertanya kepada ayahnya tentang macam-macam hal pada hari yang pertama dan kedua. Agaknya dia merasa takut, sebab itulah perjalanan pertamanya yang menempuh jarak sangat jauh. Tapi pada hari ketiga gadis cilik itu tidak lagi bertanya-tanya, bahkan cenderung tutup mulut. Ketika ditanya oleh ayahnya mengapa sekarang dia diam saja, jawabnya sebab Papa sedang mengemudi. Jawaban dari anaknya ini kemudian menjadi kekuatan dan pertolongan bagi Dr Wan selama bertahun-tahun, ketika dia mempunyai pertanyaan-pertanyaan dan ketakutan-ketakutan dalam perjalanan hidupnya bersama Tuhan. Dalam pergaulan dengan Tuhan, kita tentu saja boleh mempergumulkan banyak hal mengenai macam-macam kemungkinan yang bisa menimpa diri kita. Namun sebagai anak yang memiliki iman dewasa,  kita akan mempercayai Tuhan yang  pendengaranNya tajam, sehingga dapat memahami segala kebutuhan, dan sekaligus akan menolong kita!

Memberi punggung supaya dipukul, memberi pipi supaya dicabuti  janggutnya (ayat 6). Semua itu bicara tentang kesediaan Tuhan menanggung derita dan penghinaan hebat di seluruh hidupNya demi keselamatan kita. Semua ini merupakan bagian yang paling pahit bagi setiap orang, yang bersedia menjadi pelayan bagi sesamanya. Mungkinkah itu? Mungkinkah hal serendah itu kita lakukan? Hanya Yesus Kristus yang dapat melakukan dengan kesadaran penuh, dan dengan hati yang tetap mengasihi! Kita patut berbangga  sebab memiliki Yesus Kristus yang hatiNya mulia. Bapa Sorgawi juga berbangga telah mengutus AnakNya yang berhati mulia. Maka kita membaca di Lukas 19 bahwa sebagai utusan yang akan dikorbankan, Ia patut dan harus dimuliakan sebagai seorang raja! Lihatlah bahwa tanpa halangan bagi Yesus Kristus untuk memperoleh seekor keledai muda, sebab sesungguhNya segala sesuatu adalah milikNya. Lihatlah betapa secara spontan mereka telah membantu Yesus untuk mengendarai keledai itu, dan mereka semua menghamparkan pakaian di jalan, kemudian berteriak: “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” Semua yang diucapkan tentang Dia sungguh sangat indah penuh kebenaran, yaitu: Yesus Kristus yang diberkati, adalah Raja karena Tuhan yang mengangkatNya, bukan karena dunia, Raja yang membawa damai sejahtera dari sorga, keberadaanNya hanya bagi kemuliaan Bapa yang mahatinggi! Semua itu terjadi, karena  kedatanganNya ke dalam dunia ini hanya untuk menjadi hamba bagi sesama!

Dalam Kristus dan karena Kristus, kita bersyukur terus! Bahwa Tuhan itu baik, kasih setiaNya untuk selamanya. Dari zaman purbakala hingga sekarang, dan masih akan berlanjut terus sampai generasi mendatang. Bersyukur untuk pintu gerbang kebenaran, yang terbuka lebar. Jiwa kita tidak perlu mengembara dalam pencarian yang sia-sia, tapi dengan kelegaan telah dirangkul oleh Tangan KasihNya yang menyelamatkan (Mazmur 118), Tangan yang pernah melekat di kayu salib itu, adalah tangan yang teruji dan terpuji.

The cross is a way of life; the way of love meeting all hate with love,
all evil with good all negatives with positives. Rufus Moseley.
Logged
Pages: [1] | Go Up Print 
CyberGKI Forum  |  Kristen  |  Renungan  |  Topic: MENJADI HAMBA BAGI SESAMA: MUNGKINKAH? (Pdt.Em Daud Adiprasetya) « previous next »
Jump to:  



Login with username, password and session length

Copyright 2006 - 2009 by Simple Machines LLC
Page created in 0.404 seconds with 18 queries.
http://www.gki.or.id/wap Penggunaan
RSS