Welcome, Guest. Please login or register.
May 22, 2012, 09:24:55 PM
Home | Help | Search | Calendar | Login | Register
News:

CyberGKI Forum  |  Kristen  |  Renungan  |  Topic: KHOTBAH SABTU SUNYI (Sabtu, 3 April 2010) « previous next »
Pages: [1] | Go Down Print
Author Topic: KHOTBAH SABTU SUNYI (Sabtu, 3 April 2010)  (Read 1511 times)
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
Administrator
GKI PERNIAGAAN JAKARTA
Full Member
*****
Offline

Posts: 247


Pdt. Yohanes Bambang Mulyono


View Profile WWW
KHOTBAH SABTU SUNYI (Sabtu, 3 April 2010)
« on: March 21, 2010, 12:33:11 AM »

Renungan, 3 April 2010
Tahun C: Sabtu Sunyi
Warna: Ungu

Allah Adalah Penolong Bagi Manusia Yang Rapuh
Ayb. 14:1-14; Mzm. 31:1-4, 15-16; I Petr. 4:1-8; Yoh. 19:38-42


Pengantar
Ucapan filsuf Friedrich Wilhelm Nietzsche tidak seluruhnya salah, saat dia menyatakan: “God is Dead” (Allah telah mati) dalam novelnya yang berjudul: “Thus Spoke Zarathustra” (Demikianlah Zarahustra Berkata). Karena secara faktual, umat manusia dalam sejarahnya pernah menyalibkan Kristus. Dalam iman Kristen, pribadi yang disalibkan bukan hanya seorang manusia belaka tetapi juga seorang pribadi yang menjadi wujud dari inkarnasi Allah. Pernyataan Kristus selaku inkarnasi Allah tentu bukan pemahaman teologis atau filosofis dari Nietzsche. Karena Nietzsche tentunya tidak mengakui Kristus sebagai Tuhan. Lebih tepat lagi Nietzsche tidak percaya akan Allah. Bagi Nietzsche, kepercayaan akan keberadaan Allah atau Tuhan pada hakikatnya hanya menghalangi manusia untuk memiliki hidup yang lebih utuh dan murni.  Karena manusia tergantung kepada pertolongan dan kuasa Allah, maka yang menyebabkan manusia memiliki mental seorang budak (“herden-moral”).  Untuk itu manusia harus memiliki “mental tuan” (“herren-moral”). Dengan demikian jelas bahwa dalam filsafat Nietzsche, manusia ditempatkan sebagai pribadi yang berkuasa dan memiliki kehendak untuk berkuasa (“will to power”). Konkretnya Nietzsche tidak pernah memandang  manusia itu rapuh. Sebaliknya keberadaan manusia dipahami sebagai keberadaan diri yang unggul dan memiliki kemampuan untuk meraih kemuliaan derajatnya dengan usahanya sendiri. Karena itu Nietzsche menolak kenyataan yang lebih berkuasa dari pada dirinya di mana dia mesti bergantung, termasuk kepada Allah. Jadi bilamana keberadaan Allah ternyata dianggap menghalangi upaya yang “mulia” itu, maka Nietzsche memproklamirkan dirinya sebagai “yang membunuh Tuhan”. Bukankah pernyataan Nietzsche tersebut telah terjadi dalam peristiwa kematian Kristus di atas kayu salib? Karena manusia merasa memiliki kuasa dan kebenaran,  maka manusia berani membunuh penyataan Allah di dalam Kristus.  Dalam konteks itulah Injil-Injil menyaksikan bagaimana Kristus, sang Anak Allah harus wafat dan menghadapi batas akhir. Penyebabnya adalah sikap kesombongan dan keyakinan manusia akan kebenarannya sendiri sehingga mendorong mereka untuk meniadakan Allah sang Pencipta yang sedang melawat dan menyelamatkan manusia.

Allah Yang Rapuh dan Tak Berdaya?
Peristiwa kematian Kristus di kayu salib bukan hanya mengejutkan dan menggoncangkan iman para murid atau gereja perdana. Tetapi juga kematian Kristus menimbulkan persoalan yang fundamental secara teologis. Sehingga asumsi dasar teologis manusia yang utama tentang Allah sebagai yang maha-kuasa dan penyebab utama (causa-prima) juga tergoyahkan. Kematian sebagai batas akhir di dalam kematian Kristus sepertinya telah mengakhiri era asumsi teologis bahwa Allah tidak tersentuh oleh kelemahan dan kerapuhan. Mengapa Allah tidak menolong dan menyelamatkan Kristus saat Dia akan ditangkap dan dibunuh? Apakah Allah membiarkan Kristus untuk menanggung dosa umat manusia, ataukah Allah tidak berdaya? Umumnya umat beriman lebih cenderung untuk memilih asumsi teologis bahwa Allah membiarkan Kristus untuk menanggung dosa umat manusia dari pada asumsi Allah tidak berdaya. Kita tidak mungkin menerima suatu asumsi teologis apalagi suatu sikap iman yang menyatakan Allah tidak berdaya dan rapuh.  Bagaimanapun juga Allah adalah pencipta yang maha-kuasa dan mampu melakukan segala hal yang Dia inginkan. Tetapi apabila Allah  memperlihatkan kekuasaanNya dengan meluputkan atau membebaskan Kristus dari kematian di kayu salib, bukankah berarti Allah telah melanggar konsistensi dari inkarnasiNya menjadi manusia? Arti inkarnasi Allah menjadi manusia berarti Allah di dalam Kristus harus konsisten tunduk dengan hukum alam termasuk pula dengan batas akhir dari kehidupan yaitu kematian. Jadi sikap Allah dalam peristiwa penyaliban dan kematian Kristus bukan hanya sekedar suatu sikap yang sengaja membiarkan Kristus untuk mengalami kematian agar Allah dapat menebus dosa umat manusia. Tetapi lebih tepat sebagai sikap konsistensi Kristus yang mau menerima kematian di kayu salib sebagai konsekuensi logis dari inkarnasiNya menjadi manusia. Yang mana sikap konsistensi Allah tersebut menempatkan diri Allah di dalam Kristus sebagai Allah yang tidak berdaya, lemah dan rapuh.  Dengan demikian dalam peristiwa salib di bukit Golgota, Allah bukan berpura-pura mengalami kesakitan atau kematian. Dia sungguh-sungguh mengalami penderitaan dan pengalaman eksistensial batas akhir dari kehidupan.

Kisah penyaliban dan kematian Kristus membuka perspektif iman yang baru bahwa Allah sang sumber hidup, yang transenden dan yang memiliki segala kuasa berkenan solider dengan kehidupan manusia secara total. Allah tidak hanya menjadi seorang pengamat pergumulan, penderitaan dan kematian manusia; tetapi juga Dia menjadi subyek yang mengalami secara langsung setiap pergumulan, penderitaan dan peristiwa kematian manusia. Di dalam kehidupan Kristus tampaklah hakikat ilahiNya yang sungguh Allah dan juga hakikat manusiawiNya yang sungguh-sungguh manusia. Karena itu melalui kematian Kristus di atas kayu salib terciptalah suatu titik temu yang menghubungkan keberadaan manusia dengan diri Allah. Di pusat titik temu tersebut manusia menjumpai diri Allah yang mengasihi secara total. Dengan demikian, di balik kerapuhan dan ketidakberdayaan Allah dalam kematian Kristus justru mengungkapkan rahasia kasih Allah yang paling dalam dan total. Namun bukankah dalam kehidupan sehari-hari makna kerapuhan dan ketidakberdayaan memiliki konotasi yang negatif dan destruktif? Penderitaan, sakit dan kematian justru sering dipandang sebagai penghalang utama bagi manusia untuk mengaktualisasikan dirinya. Bahkan peristiwa kematian dianggap sebagai batas akhir yang total sehingga sama sekali tidak tersedia suatu kehidupan kekal.  Saat Ayub bergumul dengan penderitaannya, dia menyadari realitas kerapuhan dan kefanaan manusia yang begitu semena-mena. Di Ayb. 14:10-12, Ayub berkata: “Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia?  Seperti air menguap dari dalam tasik, dan sungai surut dan menjadi kering, demikian juga manusia berbaring dan tidak bangkit lagi, sampai langit hilang lenyap, mereka tidak terjaga, dan tidak bangun dari tidurnya”.  Ungkapan Ayub mewakili sikap dan pandangan manusia pada umumnya yang melihat realitas kematian sebagai batas akhir yang sama sekali tidak menyediakan suatu harapan yang bermakna. Peristiwa kematian telah meniadakan segala-galanya sehingga tidak tersedia suatu kemungkinan bagi manusia untuk mengalami kebangkitan dan kontinuitas kehidupan.

Saat Tuhan Di Rahim Bumi
Bila peristiwa kematian merupakan batas akhir dari seluruh kehidupan, maka makam  atau kubur merupakan tempat yang menguraikan jasad manusia untuk kembali menjadi debu dan tanah. Singkatnya makam menjadi tempat memproses secara alamiah agar jasad manusia kembali kepada hakikatnya yang fana. Dari debu tanah manusia diciptakan, dan kembali menjadi debu tanah. Karena itu saat jenasah Tuhan Yesus dimakamkan berarti saat itu Dia juga diserahkan kepada proses alamiah agar jasadNya dihancurkan untuk kembali menjadi tanah. Rempah-rempah yang dibubuhkan kepada jenasah Tuhan Yesus sama sekali bukan bertujuan untuk menghalangi proses penguraian secara alamiah, tetapi dihayati sebagai suatu bentuk penghormatan dan kasih sesuai adat-istiadat Yahudi (Yoh. 19:40). Namun realitas pemakaman jenasah Kristus tetap menjadi suatu berita yang sempat menjungkir-balikkan iman para murid. Bagaimana mungkin tubuh Mesias dan Anak Allah, bahkan Tuhan dihancurkan di dalam rahim bumi? Kematian dan pemakaman Kristus telah memupus semua harapan iman yang pernah tumbuh dalam hati banyak orang waktu itu. Makam Kristus sepertinya menjadi suatu monumen yang mengukirkan karya keagungan Allah yang kini telah tiada. Allah telah almarhum. Dengan kata lain makam Kristus menjadi tugu peringatan yang memahat karya keselamatan Allah yang pernah terjadi di masa lampau, tetapi kini hanya menjadi suatu kenangan belaka. Konsekuensi logis bila Allah telah tiada adalah manusia kini boleh bertindak menurut standard nilai dan kebenarannya sendiri. Di dalam peristiwa salib dan pemakaman Kristus sepertinya manusia telah berhasil mematikan dan mengubur diri Tuhan di tengah-tengah realitas kehidupan.  Kalau Tuhan sudah mati dan dikuburkan, maka bukankah manusia merasa mampu untuk meraih derajat yang lebih mulia dengan kekuatan dan kemampuannya sendiri. Manusia merasa berkuasa untuk membuang semua firman dan hukum-hukum Allah untuk diganti dengan sistem nilai dan hukum atau filosofi menurut kehendaknya sendiri.

Kematian dan pemakaman Kristus ternyata dapat membawa suatu efek yang sangat riskan dan berbahaya. Umat percaya bukan hanya merasa berdukacita atas kematian Kristus, tetapi juga dapat membawa umat percaya kehilangan imannya yang otentik kepada Allah. Kalau peristiwa kematian manusia merupakan akhir dari segala-galanya, maka kematian dan pemakaman Kristus juga akan menjadi akhir kekuasaan dan keberadaan Allah selaku pencipta segala-galanya. Jikalau hidup Allah telah berakhir, bukankah berarti realitas iman manusia kepada Allah juga berakhir? Bagi sebagian umat percaya peristiwa kematian dan pemakaman Kristus dapat mendorong mereka kehilangan iman dan menjadi seorang “atheistis”. Sebab bagaimana mungkin manusia dapat tetap beriman jikalau pusat dan tujuan dari imannya, yaitu Allah telah berakhir. Tetapi apakah berita tentang kematian dan pemakaman Kristus sungguh-sungguh telah meniadakan sikap iman yang otentik? Ataukah justru sebaliknya! Sikap iman yang otentik seharusnya mampu berhadapan dengan “ketiadaan” Allah.  Iman yang otentik justru harus lahir dari situasi di mana kita pernah berjalan di dalam lembah kekelaman seorang diri dan tanpa “Allah” yang kita pahami secara kognitif. Namun pada saat tanpa “Allah” yang kita pahami itulah kita diperkenankan untuk menerima anugerah penyataan Allah yang otentik dan jauh melampaui seluruh pengertian, ide, teologi dan filosofi kita.  Sehingga seluruh pengetahuan teologi atau doktrin kita tentang Allah dibaharui dalam terang penyataan Allah yang riel. Jadi selama otak kita telah penuh sesak dengan berbagai ide, gagasan, teologi atau filsafat tentang Allah – maka dengan mudah membelenggu diri kita menjadi seorang “atheistis” seperti Nietzsche. Sebab kematian dan pemakaman Kristus  hanya dianggap sebagai batu sandungan yang meruntuhkan seluruh bangunan dan benteng kebenaran manusia tentang “Allah yang doktriner”. Jadi suatu perenungan umat yang hanya memiliki “iman yang doktriner” di hadapan makam Kristus akan menghasilkan suatu perenungan yang berkiblat ke masa lalu, namun realitas masa kini begitu jauh dan tanpa kehadiran dan karya Allah. Bagi mereka di masa kini Allah telah tiada dan absen dalam kehidupan umatNya. Sebaliknya bagi umat yang memiliki iman yang otentik, pengalaman akan ketiadaan Allah yang doktriner justru memampukan kita untuk mengalami kehadiran Allah yang hidup dan membebaskan.

Mati Bersama Kristus

Kita sering mudah menerima Kristus sebagai manusia, tetapi tergoncang saat Dia mati dan dimakamkan. Padahal dengan kematian dan pemakamanNya berarti Kristus menjadi satu dengan kerapuhan dan kefanaan kita. Umat manusia tidak lagi menanggung kerapuhan dan kefanaannya seorang diri, tetapi menanggungnya bersama dengan Kristus. Tanpa Kristus, maka kehidupan kita tidak lagi memiliki pengharapan dan jaminan keselamatan. Kondisi kefanaan manusia inilah yang dikeluh-kesahkan oleh Ayub. Yang mana kondisi kefanaan manusia tersebut ternyata lebih buruk dibandingkan dengan keberadaan sebuah pohon. Sebab saat suatu pohon batangnya ditebang, pohon masih mampu bertunas dan hidup kembali dengan segar. Tetapi ketika manusia ditebang, maka yang dialaminya hanyalah suatu kematian.  Untuk itu Ayub menyatakan dengan ungkapan: “Karena bagi pohon masih ada harapan: apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh.  Apabila akarnya menjadi tua di dalam tanah, dan tunggulnya mati di dalam debu, maka bersemilah ia, setelah diciumnya air, dan dikeluarkannyalah ranting seperti semai” (Ayb. 14:7-9).  Untuk menghibur diri banyak orang berpandangan bahwa roh manusia akan tetap hidup “kekal” walaupun tubuhnya mati. Peristiwa kematian justru sering dianggap mampu membebaskan roh manusia untuk mengalami pemurnian dan menuju kepada kekekalan. Pandangan tentang roh yang bersifat kekal tersebut perlu dicermati secara kritis, yaitu: benarkah roh manusia bersifat kekal? Menurut pemahaman Alkitab sebenarnya yang kekal hanyalah Allah. Hakikat manusia dalam pandangan Alkitab dipahami secara utuh, yang terdiri dari: tubuh, jiwa dan roh. Sehingga peristiwa kematian berarti juga telah meniadakan keseluruhan hidup manusia. Apabila roh manusia masih bisa berlangsung di alam baka adalah karena kesempatan yang dianugerahkan Allah untuk eksis dalam suatu periode tertentu. Tetapi bukan berarti hakikat roh manusia akan kekal selama-lamanya. Dengan demikian hidup kekal yang dialami oleh roh manusia bukan sesuatu yang terjadi secara otomatis. Hidup kekal hanya terjadi karena dianugerahkan Allah berdasarkan rahmatNya. Secara khusus anugerah hidup kekal tersebut dinyatakan Allah melalui pengorbanan dan kematian Kristus. Sehingga melalui pemakaman Kristus – maka kerapuhan dan kefanaan manusia diintegrasikan dalam kerapuhan kemanusiaan Kristus.

Integrasi atau persekutuan umat percaya secara eksistensial dengan kerapuhan Kristus yang dimakamkan  itulah yang menjadi dasar bagi umat percaya untuk mengalami kemuliaan dan hidup kekal saat Kristus dibangkitkan. Sehingga bilamana umat menolak terintegrasi dalam persekutuan dengan kerapuhan Kristus, maka mereka akan kehilangan anugerah untuk mengalami kebangkitan bersama dengan Kristus. Tanpa mati bersama Kristus, tidaklah mungkin umat mengalami hidup kekal dalam kebangkitan Kristus. Dengan demikian sikap umat yang mau mengintegrasikan diri dalam kerapuhan dan pemakaman Kristus justru akan menjadi titik awal yang memampukan mereka untuk melompati kuasa maut bersama dengan Kristus yang bangkit. Sebab bersekutu atau terintegrasi dengan kematian dan pemakaman Kristus berarti kita bersedia pula untuk memakamkan atau menguburkan berbagai rupa dan kecenderungan manusiawi kita yang berdosa. Dengan sangat jelas Di I Petr. 4:4-5, rasul Paulus berkata: “Sebab itu mereka heran, bahwa kamu tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama, dan mereka memfitnah kamu. Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati”. Menghayati persekutuan dengan Kristus yang dimakamkan berarti kita secara bersengaja menolak untuk mencemplungkan diri bersama-sama dengan dunia yang hidup dalam kubangan ketidaksenonohan.  Penolakan kita tersebut didasarkan kepada kesadaran akan kekudusan Kristus dalam jasadNya yang tergolek tanpa daya, tetapi yang kelak bangkit dalam kemuliaan.

Kesunyian Yang Bermakna

Bagi umat yang tergoncang karena kematian dan pemakaman Kristus, maka kesunyian makam Kristus semakin memperteguh kegelisahan dan kekecewaaan serta ketidakpercayaan mereka. Namun bagi umat yang mau menghayati persekutuan atau integrasi dengan Kristus, kesunyian makam Kristus akan  menjadi saat yang terindah untuk mengawali pembaharuan hidup yang menyeluruh. Kesunyian makam Kristus justru berfungsi sebagai pintu pencerahan iman yang menyadarkan kefanaan hidup secara total sekaligus membuka pengharapan akan janji Allah untuk hidup yang kekal.  Pencerahan iman yang demikian akan memampukan manusia untuk menyambut peristiwa kebangkitan Kristus dari alam maut. Sehingga makam Kristus tidak lagi dihayati sekedar suatu tugu peringatan yang pernah mengukir karya keselamatan Allah di masa lampau saja, tetapi sebaliknya menjadi pintu gerbang kerajaan Allah yang terbuka bagi setiap umat yang percaya. Dalam kehidupan sehari-hari betapa sering kita mengalami kesunyian yang mencekam dan tanpa makna. Kita sering hidup di tengah-tengah keramaian orang banyak, tetapi merasa anonim dan hampa. Tetapi saat hati kita terbuka dengan duduk terpekur di depan makam Kristus, kita mengalami kehadiranNya yang begitu tenang dan meneguhkan. Sehingga melalui persekutuan jemaat, kita semakin diteguhkan oleh kasih Allah. Dengan perkataan lain makna persekutuan dan pelayanan gereja semakin kita  hayati sebagai suatu pintu gerbang keselamatan yang siap menyambut dengan hangat kedatangan setiap orang. Di Nyanyikanlah Kidung Baru (NKB) no. 18 dengan judul: “Pintu Gerbang Terbukalah” karya dari L. Baxter (“The Gate Ajar for Me) mengungkapkan harapan umat percaya di hadapan kematian Kristus, yaitu:

Pintu gerbang terbukalah,
Sehingga tampak cahya,
yang dari salib asalnya,
Besarlah kasih Allah
.

  Kalau batu penutup di makam Kristus pada akhirnya terguling sebab Kristus bangkit, justru membuktikan bahwa iman kita kepada Kristus yang wafat dan dimakamkan bukanlah sikap iman yang kosong tanpa isi. Kebangkitan Kristus menyingkapkan bahwa di balik kerapuhan dan kematian Kristus tersembunyi kuasa Allah yang membebaskan dan menyelamatkan setiap umat percaya. Esensi iman kita kepada Kristus sungguh-sungguh merupakan suatu sikap yang mampu kita pertanggungjawabkan di pengadilan Allah pada zaman akhir. Surat I Petr. 4:5 berkata: “Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati”. Jika demikian, bagaimanakah respon saudara dalam menghayati peristiwa pemakaman Kristus? Apakah kita menghadapi peristiwa pemakaman Kristus dengan sikap pesimistis, kecewa dan kehilangan iman kepada Allah? Ataukah sebaliknya kita justru mampu melihat makna peristiwa pemakaman Kristus sebagai suatu pintu gerbang keselamatan yang saat kita masuki, justru akan membawa kita kepada kekayaan kasih-karunia Allah yang tanpa batas. Di dalam makam tersebut terletak jenasah Anak Allah yang bersama dengan Allah dan Roh Kudus telah menciptakan seluruh alam, tetapi kini dengan rela tergolek mati untuk menyatakan solidaritas kasihNya yang tanpa batas. Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com

Logged
Pages: [1] | Go Up Print 
CyberGKI Forum  |  Kristen  |  Renungan  |  Topic: KHOTBAH SABTU SUNYI (Sabtu, 3 April 2010) « previous next »
Jump to:  



Login with username, password and session length

Copyright 2006 - 2009 by Simple Machines LLC
Page created in 0.923 seconds with 18 queries.
http://www.gki.or.id/wap Penggunaan
RSS