Oleh: Pdt Em. Daud Adiprasetya
Jumat 2 April 2010 (Jumat Agung)
KEMATIAN KRISTUS KEMENANGAN KITA
Yesaya 52:13-53:12 Mazmur 22 Ibrani 10:16-25 Yohanes 19:16b-37
Dua malaikat sedang mengadakan perjalanan ke sebuah desa, kemudian mereka berhenti di sebuah rumah mewah dan meminta untuk menumpang bermalam di rumah tersebut. Pemilik rumah sangat pelit sehingga mereka tidak diberi kesempatan untuk tidur di kamar tamu yang bagus melainkan diperbolehkan tidur di gudang yang terletak di lantai dasar rumah. Sambil merapikan alas untuk tidur, malaikat yang lebih senior menambal lubang yang terdapat di dinding basement rumah tersebut. Malaikat yang lebih muda kemudian bertanya, “Mengapa engkau membantu orang yang sangat pelit kepada kita?” Malaikat senior menjawab, “Sesuatu tidak selalu seperti apa yang terlihat.” Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan dan malamnya menginap di sebuah rumah petani yang amat miskin. Petani itu sangat menghargai kedua tamunya dan menghidangkan beberapa makanan yang ia miliki. Kemudian kedua tamu ini diberi tempat untuk tidur di kamar utama dengan kasur yang biasa dipakai pemilik rumah, sedangkan petani dan isterinya justru tidur di lantai. Pagi harinya, petani dan isterinya terdengar menangis histeris karena mendapati sapi satu-satunya yang menjadi sumber pendapatan mereka ternyata mati. Malaikat muda berkata marah kepada seniornya, “Mengapa engkau biarkan hal ini terjadi pada orang yang sangat baik kepada kita? Justru kemarin engkau malah membantu orang yang sangat pelit kepada kita?” Malaikat senior menjawab, “Sesuatu tidak selalu seperti apa yang terlihat.” Kemudian ia melanjutkan, “Kemarin waktu kita menginap di rumah mewah yang pemiliknya pelit itu, aku menambal lubang yang di dalamnya terdapat emas, sehingga mereka tidak bisa menemukan emas tersebut. Tadi malam, malaikat maut datang untuk mencabut nyawa isteri si petani, tetapi aku membujuknya agar mengganti dengan mencabut nyawa sapinya. Sesuatu tidak selalu seperti apa yang terlihat.” ( Dari Buku Fight Like A Tiger Win Like A Champion ).
Bagi orang dunia pada umumnya, kedengaran sangat janggal bahwa
Kematian Kristus Kemenangan Kita. Tapi sesuatu tidak selalu seperti apa yang terlihat. Kematian Kristus yang ditandai dengan salib itu ternyata justru merupakan kemenangan dan kebanggaan kita! Kita membaca I Korintus 1:18 demikian, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” Cerita di atas tadi mengajar kita supaya jangan tergesa menilai segala sesuatu yang terlihat, terlebih yang terjadi pada Yesus Kristus!
Hamba Tuhan yang tidak menarik! Tidak tampan, bahkan cenderung buruk muka, maka tidak masuk hitungan. Dia pantas dihina dan dijauhi orang sebab nasibnya jelek, hidup penuh sengsara dan kesakitan. Masyarakat luas mengira bahwa semua itu terjadi sebab dia sedang kena tulah, dipukul dan ditindas Allah untuk semua dosanya. Padahal dia sedang menanggung akibat dari pemberontakan dan kejahatan sesamanya (Yesaya 53). Sesuatu tidak seperti apa yang terlihat! Hamba Tuhan yang dihindari dan dibenci itu justru yang seharusnya dihargai sebab telah berjasa besar bagi sesamanya. Jika Hamba Tuhan dalam kitab Yesaya, sudah sedemikian menyentuh hati meski baru dalam bentuk gambar saja, terlebih lagi tokoh Yesus Kristus yang mewujud di dalam kenyataan hidup!
Yesus yang sering disalah mengerti. Begitu hadir sebagai seorang bayi, sudah disalah mengerti oleh
raja Herodes. Disangkanya kelak akan menyaingi dan menggulingkan kerajaannya, akibatnya terjadilah banjir darah para bayi sebayaNya yang tak berdosa! Ketika menunjukkan kuasaNya yang bisa mengusir setan dari orang-orang yang kerasukan, dituduh bersahabat dengan
Baal Zebul , musuh besarNya. Ketika membuat mujizat-mujizat untuk menguatkan iman umatNya, malah mau dipromosikan sebagai
raja dunia. Berjalan di permukaan air sebagai Tuhan, malah disangka
hantu. Menyampaikan ajaran benar, disebut
penyesat. Datang ke dunia untuk memenuhi Hukum Taurat, malah dikatakan mau
merombak Taurat. Bangkit dari kematian sebagai pemenang yang hebat dan jaya atas maut, malah disapa sebagai
tukang kebun. Dalam perjalanan ke Emaus, mau meluruskan pembicaraan yang melenceng, malah disebut
satu-satunya orang asing di Yerusalem yang tidak tahu menahu tentang berita besar.
Yesus yang tampak lemah tapi kuat ! Keadaan dan sikapNya cocok dengan Hamba Tuhan dalam Yesaya 53. Menurut dan pasrah seperti
anak domba yang dibawa ke pembantaian. Hal itu telah diungkap dalam Yohanes 19. Seperti
induk domba yang kelu ketika diguntingi bulunya. Yesus dipermalukan, hampir ditelanjangi, pakaianNya ditanggalkan lalu diundi di dekatNya. Kekuatan Yesus, adalah bahwa tetap tegar dan sadar menghadapi semuanya, sampai bisa menyerahkan Maria ibuNya kepada Yohanes. Juga sedikitpun Yesus tidak menunjukkan kekesalan hatiNya lalu mengutuk, tapi Dia malah mendoakan. Tanpa ada rasa menyesal bahwa telah menerima tugas yang begitu berat. Semua diterima dengan penuh kerelaan, sebab sudah dipergumulkan secara tuntas di Taman Getsemani, bahkan di sepanjang hidupNya. Tidak seperti yang terlihat dari luarnya, Yesus tidak minta dikasihani tapi justru merasa kasihan terhadap orang-orang di sekitar kesengsaraanNya. Dia tidak minta bantuan apapun dari manusia, tapi justru mendatangkan rasa kagum kepada orang yang menyaksikan kebesaran jiwaNya.
Yesus yang ditikam dengan tombak ! Ya, di bagian lambungNya seorang prajurit menikam Yesus, hingga mengalir darah bercampur air. Sudah wafat mengapa ditikam juga? Apakah mereka itu kliwat kejam dan tak berpri-kemanusiaan? Atau dilakukan secara iseng semata? Jawab yang tepat adalah, untuk memastikan kematian Yesus.Bapa di sorga tentunya dapat menyetujui prajurit itu, dan kita semua selaku pengikut Kristus seharusnya malah berterima kasih kepadanya, sebab dengan demikian kematian Kristus telah terbukti secara terang benderang. Hal ini sangat penting bagi masa depan Kerajaan Allah, agar kekuatan dan kemajuan kita nanti berdasarkan kebangkitanNya yang akurat.
Apa arti sebuah kematian ? Apa arti kematian Yesus Kristus ? Bagi
kaum Rohaniwan waktu itu, berarti cita-cita mereka sudah tercapai. Kekuasaan atas umat Allah sepenuhnya ada di dalam tangan mereka. Sekarang tak akan ada lagi saingan atau pihak oposisi yang suka menyerang dan bikin risih. Bagi
Pontius Pilatus dan Herodes, sepertinya Yesus orang Nasaret itu tidak begitu penting. Kadang memang bisa bikin repot, maka kematian Yesus lebih cepat lebih baik. Bagi
para Rasul dan rakyat jelata, kematian Yesus adalah kematiannya sebuah pengharapan dan masa depan. Jika Tuhan dan Guru mereka mati, maka tak ada lagi yang sungguh-sungguh memperhatikan, mendampingi dengan kasih yang besar, serta mengarahkan jiwa mereka ke jalan Allah yang lurus dan benar. Lalu apa makna kematian Yesus bagi
kita sekarang ? Kematian Kristus kemenangan kita! Yesus mati
demi kasih kepada Bapa yang telah mengutusNya, dan sesama manusia yang akan diselamatkanNya, berarti kita yang terwakili olehNya ikut memperoleh kemenangan kasih yang diperjuangkan itu. Maka tidak seharusnya kita masih tinggal di dalam dan menyukai kebencian, dendam, iri dan yang sejenisnya yang bertentangan dengan kasih. Yesus mati untuk
menebus dosa, yaitu dosa semua umat manusia. Dia telah berhasil sebagai penebus, ditandai dengan hembusan nafasNya yang terakhir. Maka dosa tidak boleh menggila lagi, dan kita jangan menjadi sponsornya yang mengembangkan terus dosa dalam hidup ini. Kematian Yesus berarti kekalahan bagi
iblis, sebab selamanya iblis merintangi Yesus menuju ke kayu salib. Sekarang kita semakin percaya diri untuk berdiri di belakang Yesus, dalam memerangi kuasa kegelapan dan semua anteknya. Akhirnya, setelah Yesus berhasil turun ke dalam Kerajaan Maut dan akan bangkit pada hari yang ketiga, berarti kita sudah ikut mengalahkan
maut ngeri serta semua yang berbau maut. Jika kuasa maut yang selama ini paling kita takuti sudah dikalahkanNya, apalagi segala persoalan hidup yang tak seberapa menakutkan, pasti lebih mudah dikalahkanNya!
Darah Yesus memunculkan keberanian kita ! Kita menapak jalan yang baru melalui diri-Nya ( Ibrani 10:20 ). Setiap anak Tuhan, di dalam dan melalui Yesus Kristus harus bisa melewati masa lalunya yang kelam, memulai lembar hidup baru yang cerah. Jangan lagi hidup dalam keraguan dan ketakutan. Dengan menyebut Nama Yesus dan berpegang pada karya penebusanNya kita mempunyai keberanian untuk menghadap Bapa. Derita keterpisahan dengan Bapa Sorgawi sudah ditanggung oleh Kristus ( Mazmur 22:2 }. Maka kini semua doa yang kita panjatkan, ibadah yang kita lakukan, macam-macam karya di semua aspek kehidupan ini kita masuki bersama Kristus yang telah menjadi penebus dan sekali gus Imam Besar kita yang sudah mempersembahkan diri, sebagai korban yang satu kali untuk selamanya. Perubahan besar ini, mendatangkan sukacita dan rasa syukur. Suasana hati ini kita jaga agar menetap, dan menggerakkan semangat kebersamaan kita. Mari kita saling memperhatikan, saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan yang baik. Mengutamakan pertemuan-pertemuan ibadah dan saling menasehati. Jangan ada yang ketinggalan, ayo kita rayakan hidup baru nan indah ini!
Ada tiga tipe anak Tuhan yang kita jumpai. Tipe pertama seperti
Bola Billiard. Untuk menikmati hidup baru yang indah kita harus mau pro aktif dalam setiap kegiatan gereja. Tapi sayang masih saja ada orang-orang yang harus didorong dan “
disodok” seperti bola billiard. Awas, yang namanya sodokan itu menyakitkan! Apa kita menunggu hentakan yang menyakitkan dari Tuhan, baru mau bertobat dan maju? Tipe kedua seperti
Kapal Layar. Orang yang selalu lihat-lihat dulu, jika bisa menguntungkan dan menyenangkan baru mau kerja bagi Tuhan.. Padahal kita upayakan melayani Tuhan dalam segala situasi ( II Tim 4:2 ). Tipe ketiga seperti
Jam Rolex. Melangkah pasti tanpa henti. Menghayati hidup ini sebagai anugerah besar. Jika Tuhan Yesus sudah mengorbankan segalanya, mari kita jawab dengan mempersembahkan hidup yang berkemenangan bagiNya!