Welcome, Guest. Please login or register.
May 22, 2012, 09:34:23 PM
Home | Help | Search | Calendar | Login | Register
News:

CyberGKI Forum  |  Kristen  |  Kesaksian  |  Topic: GKI adalah Injili « previous next »
Pages: [1] | Go Down Print
Author Topic: GKI adalah Injili  (Read 5574 times)
Donny Adi Wiguna
GKI Tm. Cibunut Bandung
Newbie
*
Offline

Posts: 7


View Profile
GKI adalah Injili
« on: November 26, 2006, 01:01:44 AM »

Saya hari ini baru mengikuti seminar yang diadakan di gereja saya, GKI Tm. Cibunut. Sayang sekali, karena seminarnya dimulai sejak pagi hari, sedangkan saya bekerja, saya jadi tidak bisa mengikuti sedari awal mula, tetapi hanya di bagian akhir diskusi saja. Hanya, di bagian akhir ini saya sempat berdiskusi dengan pembicaranya, seorang pendeta GKI juga, dan beliau menyatakan bahwa GKI itu BUKAN Injili.

Dalam sekejap, saya seperti mengalami vertigo. Saya pernah berdiskusi dengan berbagai pendeta, termasuk yang tidak menyukai beberapa aspek dari ajaran GKI, tetapi tidak pernah ada yang menyatakan bahwa GKI itu bukan Injili. Mengapa bisa begini, ada seorang pendeta GKI mengatakan bahwa GKI itu bukan Injili? Apakah ada suatu ciri tertentu yang membedakan GKI dari banyak gereja Injili lainnya?

Oh, rupanya ada tertulis dalam makalah ringkas yang dibagikan. Di situ dikatakan, salah satu ciri Injili adalah paham inerransi Alkitab, sedang GKI dianggap tidak menerima paham inerransi. Apakah benar, bahwa GKI tidak menerima inerransi? Dalam makalah itu juga, ditulis bahwa GKI menerima paham pengajaran dari Karl Barth, yaitu pendekatan deduktif, yang disebut juga sebagai neo-ortodoksi. Tapi juga dikatakan bahwa GKI pun menerima pendekatan induktif dari Friedrich Schleirmacher, yang menekankan perasaan atau tepatnya pengalaman (?). Hal-hal ini, tentu saja, menurut beliau telah membedakan GKI dari gerakan Injili.

Yang menarik lagi, dalam makalah ringkas itu juga dijelaskan bagaimana dasar pertama dari GKI, sejak pertama didirikan. Ada tiga pokok pengakuan yang paling mendasar: Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Alkitab adalah Firman Tuhan, dan Pengakuan Iman (Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel, dan Pengakuan Iman Athanasius). Secara historis garis tradisi pengajaran GKI adalah tradisi Calvinisme, yang secara khusus diformulasikan dalam Katekismus Heidelberg. GKI sendiri muncul dari gerakan Hervormd dan Gereformeerd dari Belanda, yang memang bercorak Calvinist.

Jadi, saya menemukan paling sedikit ada tiga pokok: 1. GKI bukan Injili, 2. GKI menerima pendekatan deduktif-induktif, dan 3. Sejarah GKI berangkat dari tradisi Calvinisme.

Saya tidak tahu bagaimana beliau menafsirkan Injili --karena memang saya tidak hadir sebab harus bekerja-- tapi sedikit penyelidikan tentu akan mengungkapkan hal-hal yang bertentangan.

Yang pertama, gerakan Injili sesungguhnya adalah gerakan reform-Calvinis, yang berangkat dari tradisi Calvinisme juga. Pengakuan Iman yang mendasar dalam gerakan Injili adalah Yesus adalah Tuhan, Alkitab adalah Firman Allah, dan Pengakuan Iman. Ini persis dengan GKI. Jika kita mempelajari Katekismus Heidelberg, kita menemukan fondasi-fondasi utama dari gerakan Injili, menjadi sumber doktrin dari banyak gereja Injili. GKI dalam tradisi pengajarannya juga menerima 5 pokok Calvinisme yang akronimnya TULIP: Total Depravity, Unconditional Election, Limited Atonement, Irresistible Grace, dan Perseverance of the Saints. Kita bisa menemukan ini dalam sejarah GKI, terutama di awal abad ke-20.

Jika dikatakan gerakan Injili berbeda karena doktrin inerransi Alkitab, maka perlu diketahui bahwa "doktrin inerransi" muncul karena adanya doktrin lain yang mengatakan bahwa Alkitab itu salah, bahkan tidak relevan lagi dengan keadaan manusia modern. Dipopulerkannya dari Schleiermacher yang mengatakan bahwa Alkitab adalah kumpulan pengalaman dan perasaan dari orang-orang percaya di abad pertama, yang dianggap penuh dengan berbagai kekeliruan serta mengalami banyak redaksi ulang. Dari paham teologi modern --Schleiermacher sendiri dikenal sebagai Bapak Teologia Modern-- ini muncul keraguan atas ketuhanan Yesus. Di akhir abad ke-19, sejumlah teolog tidak lagi mengakui keberadaan Yesus yang lahir dari seorang perawan, tidak mengakui mujizat yang dilakukan oleh Yesus (dimulai dari Spinoza, lalu David Hume, diteruskan Bultmann). Juga tidak mengakui kebangkitan Yesus dari kubur.

Kenapa tidak percaya? Karena mereka tidak percaya bahwa Alkitab benar dalam menuturkan sejarah. Alkitab mereka anggap keliru dalam mengungkapkan makna-makna, dan sebagai 'buktinya' mereka mengajukan kritik tinggi (higher criticism) terhadap Alkitab.

GKI tidak pernah menerima pendekatan Schleiermacher. Jika kita mempelajari Tata Gereja GKI, kita menemukan Lampiran 5, Pegangan Ajaran Mengenai Alkitab. Di situ dinyatakan bahwa Alkitab berisikan kesaksian menyeluruh mengenai Allah YANG MENYATAKAN DIRI-NYA, kehendak-Nya, serta karya penciptaan, pemeliharaan, penyelamatan, dan penggenapan-Nya kepada manusia dan dunia (butir 2)

Pernyataan ini secara eksplisit menunjukkan bahwa GKI mengakui bahwa Alkitab adalah wahyu khusus dari Allah, bukan sekedar ungkapan iman orang percaya di abad pertama. Kebenaran dari kesaksian ini sedemikian kuatnya, sehingga kebenaran dan kesaksian sentralnya tentang Kristus dan Kerajaan-Nya, melampaui batas-batas ruang dan waktu (butir Cool.

Ini adalah esensi dari doktrin inerransi Alkitab. Pernyataan-pernyataan dalam Tata Gereja GKI ini membuktikan bahwa GKI juga menganut doktrin inerransi, walaupun tidak secara khusus menyebutkan kata 'inerransi'. Kita memahami bahwa memang Alkitab dituliskan oleh tangan manusia, dalam bahasa manusia, dengan konteks dan kebiasaan manusia. Dalam keterbatasan dan kelemahan itu, ditambah kenyataan bahwa masa hidup kita terpisah dua millenium dari masa para penulis Alkitab, memunculkan masalah dalam membaca dan memahami Alkitab. Dalam banyak hal, Alkitab tidak dituliskan dengan sistematika dan urutan sesuai standar manusia modern. Baca saja Injil, misalnya; Injil Matius dituliskan dengan budaya Yahudi yang bertutur secara kronologis, sementara Injil Lukas dituliskan dengan budaya Yunani yang lebih mengedepankan topik. Tetapi hal-hal ini tidak menjadikan Alkitab salah, sebaliknya memperkaya Alkitab dengan menyajikan sudut pandang yang berbeda dari penulis yang berbeda. Bagaimanapun, Alkitab tidak bersalah sama sekali dalam setiap makna yang disampaikannya.

Jadi, bagaimana mungkin mengatakan bahwa GKI itu bukan Injili?

Kemudian, kita menemukan dua pendekatan yang diterima: Karl Barth (deduksi/neo-ortodoksi) dan Schleiermacher (induksi). Sebentar: bukankah kedua hal ini bertentangan? Barth memang mengembalikan Kristus ke tempat sentral dalam Gereja, tetapi yang dimaksudkannya bukanlah Kristus seperti yang dinyatakan dalam sejarah, melainkan dalam dialektika. Barth menerima pandangan liberal yang tidak mengakui kebenaran Alkitab, namun ia juga percaya bahwa Allah dapat memakai Alkitab yang penuh kesalahan itu untuk melakukan suatu "perjumpaan" dengan manusia. Untuk itu yang dibutuhkan manusia adalah suatu "lompatan iman" (leap of faith), yang mengesampingkan rasio demi iman. Mungkin saja dalam sejarah Kristus tidak bangkit dari kubur, tetapi yang kita percayai adalah Kristus iman, yang tidak dapat dipahami oleh rasio; membahas sejarah faktual Kristus menjadi tidak relevan bagi Barth.

Hal ini mematahkan teologia liberal sebelumnya, dan Barth menentang dosen-dosennya sendiri. Ia lantas dikenal sebagai "teolog terbesar abad ke-20" -- teologia neo-ortodoksinya diterima secara luas. Apakah GKI menerima pandangan Barth? Beberapa pendeta, bahkan yang sangat senior seperti Alm. Pdt. Eka menerima Barth; tetapi hal ini tidak serta merta dapat dianggap bahwa GKI menerima teologia neo-ortodoksi. GKI tetap menerima peran Roh Kudus yang bekerja secara terus menerus dalam kehidupan orang percaya.

Dalam Lampiran 6, Pegangan Ajaran Mengenai Gereja, di butir pertama disebutkan:

Kami percaya bahwa Allah Roh Kudus menghimpunkan umat-Nya ... Untuk itu gereja senantiasa memerlukan bimbingan, pemeliharan, dan teguran Roh Kudus yang terus menerus membaharui, membangun, dan mempersatukannya...

Pegangan ini benar. GKI tidak masuk dalam wacana "leap of faith" atau "encounters with God", melainkan Gereja yang berrelasi secara terus menerus dengan Allah Roh Kudus yang berkarya. GKI tidak menganut paham neo-ortodoksi! Lagipula, melihat bagaimana Karl Barth JUSTRU menjungkirbalikkan teologia modern dari Schleiermacher, maka mustahillah GKI menerima kedua pendekatan deduktif dan induktif ini dalam saat yang sama. Bagaimana GKI bisa menyerap dua pendekatan yang pada hakekatnya saling bertentangan?

Ini juga membawa kita pada kenyataan bahwa GKI memiliki tradisi Calvinisme, yang justru ditolak oleh banyak teolog modern saat ini. Paham liberal dan neo-ortodoksi tidak mengakui Calvinisme sebagai hal yang masih relevan saat ini. Beberapa teolog/Pendeta modern malah telah menolak untuk mengajarkan kembali Katekismus Heidelberg. Tetapi GKI jelas-jelas menerima Katekismus ini, yang masih dinyatakan dalam Tata Gereja GKI.

Jadi, saya menyayangkan pandangan dari beliau yang seolah-olah telah mengatasnamakan GKI menyatakan bahwa GKI bukan Injili, tidak mengakui inerransi, dan sebagainya. Menurut hemat saya, seorang pendeta --apalagi yang cukup senior seperti beliau-- lebih banyak kembali kepada tradisi yang menjadi akar dari GKI,  yang telah membawa GKI menjadi besar seperti saat ini. Kita mempunyai Tata Gereja yang telah tertulis dan tercetak rapi, inilah yang seharusnya menjadi dasar pegangan ajaran, bukan pandangan-pandangan kontemporer yang bisa menyesatkan dari luar.

Bahkan lebih jauh lagi, kita harus kembali kepada Pengakuan Iman kita. GKI menerima pengakuan Iman Athanasius dan Nicea-Konstantinopel, yang pada dasarnya merupakan pengakuan eksplisit akan Allah Tritunggal. Maka, semua orang yang hendak melayani di GKI sudah seharusnya memegang ajaran ini. Saya sendiri masih menemukan keberadaan pendeta yang meragukan Tritunggal. Tapi, bagaimana hendak menjadi pendeta di GKI jika tidak lagi percaya pada pengakuan iman gerejanya sendiri?

Soal percaya atau tidak percaya Allah Tritunggal memang hak setiap orang -- tidak ada yang dapat memaksa percaya atau tidak percaya. Tetapi, jabatan Pendeta di GKI seharusnya hanya dipegang oleh orang-orang yang memiliki pengakuan iman seperti yang diakui oleh GKI. Jika memang tidak percaya, lebih baik mundur saja dengan terhormat dari jabatan kependetaannya. Demikian pula dengan STT yang mengajarkan mahasiswa, boleh saja mengajarkan apa saja secara akademik. Tetapi STT yang tidak lagi mengakui dan mengajarkan pengakuan iman GKI seharusnya tidak lagi memberikan lulusannya untuk menjadi pendeta di GKI.

Jika hal-hal ini tidak dijaga, saya khawatir GKI akan semakin kehilangan arahnya, mengalami kemunduran anggota-anggotanya. Gereja ini besar bukan karena organisasi yang baik, atau orang-orang yang baik, melainkan karena Tuhan berkenan dan Firman-Nya menjadi pedoman GKI.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny
Logged
Andronikus Rony Susaka
GKI Ambarawa
Newbie
*
Offline

Posts: 19


Only By Grace


View Profile WWW
Re: GKI adalah Injili
« Reply #1 on: July 03, 2007, 12:40:34 PM »

Saya setuju dengan tulisan  saudara  Cheesy
Logged

Hanya pingin jadi garam, altruis, philantrophis.
http://ronysusaka.blogspot.com
Yahya Djuanda
GKI Diponegoro Surabaya
Newbie
*
Offline

Posts: 2


View Profile
Re: GKI adalah Injili
« Reply #2 on: March 05, 2008, 12:38:23 AM »

BUku dr stephen tong yg sy baca juga mengungkapkan bahwa ciri memberitakan Injil adalah ciri gereja2 Calvin, lupa judulnya, ttg Gereja Reformasi.
Yg perlu dievaluasi sekarang adalah dukungan2 dana jemaat GKI (harus) terhadap sekolah2 theologia tertentu, atau fakultas teologia dari univ. ttt. Apa yg harus dievaluasi:
Penyataan Iman dari Sekolah Teologia tresebut, atau dari penyataan iman Universitas yg ada fakultas teologia-nya. Apakah mereka punya penyataan iman? dan apakah penyataan iman-nya sesuai dengan GKI? atau visi dan misi sekolah/ fakultas teologia tsb, punya kah? kalau punya apakah sejalan dengan pengakuan iman GKI.
Kalau ternyata memang penyataan iman atau visi misi mereka ternyata tidak punya, atau tidak sesuai dengan iman GKI, saatnyalah dana dukungan tidak dialirkan ke sana. Cari sekolah /fakultas teologia lain yg masih punya penyataan iman atau visi misi nya cocok dengan iman GKI.
hai jemaat2 GKI, siapa mau mulai meng-evaluasi? Wink
Logged
Peter Simon Sebastian
GKI Residen Sudirman
Newbie
*
Offline

Posts: 2


View Profile
Re: GKI adalah Injili
« Reply #3 on: March 18, 2008, 11:06:59 AM »

setuju dengan tulisan anda.
Logged

Soli Deo Gloria
Pages: [1] | Go Up Print 
CyberGKI Forum  |  Kristen  |  Kesaksian  |  Topic: GKI adalah Injili « previous next »
Jump to:  



Login with username, password and session length

Copyright 2006 - 2009 by Simple Machines LLC
Page created in 0.544 seconds with 18 queries.
http://www.gki.or.id/wap Penggunaan
RSS