Welcome, Guest. Please login or register.
May 22, 2012, 09:46:33 PM
Home | Help | Search | Calendar | Login | Register
News:

CyberGKI Forum  |  Kristen  |  Renungan  |  Topic: KHOTBAH MINGGU, 15 AGUSTUS 2010 (TEMA: "KRISTUS DATANG MEMBAWA DAMAI ATAU KRISIS « previous next »
Pages: [1] | Go Down Print
Author Topic: KHOTBAH MINGGU, 15 AGUSTUS 2010 (TEMA: "KRISTUS DATANG MEMBAWA DAMAI ATAU KRISIS  (Read 734 times)
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
Administrator
GKI PERNIAGAAN JAKARTA
Full Member
*****
Offline

Posts: 247


Pdt. Yohanes Bambang Mulyono


View Profile WWW
KHOTBAH MINGGU, 15 AGUSTUS 2010 (TEMA: "KRISTUS DATANG MEMBAWA DAMAI ATAU KRISIS
« on: July 31, 2010, 11:04:43 PM »

Renungan Minggu, 15 Agustus 2010
Tahun C: Minggu Biasa
Warna: Hijau

KRISTUS DATANG MEMBAWA DAMAI ATAU KRISIS?
Yer. 23:23-29; Mzm. 82; Ibr. 11:29 – 12:2; Luk. 12:49-56


Pengantar
Potret Yesus sebagai Tuhan yang membawa damai bukanlah sesuatu yang asing untuk dibahas dan dihayati dalam kehidupan umat percaya dan relasinya dengan masyarakat. Apalagi dunia masa kini mengharapkan suatu keadaan damai setelah mereka menyadari bahwa agama-agama sering menghadirkan kekerasan dalam berbagai bentuk. Untuk merespon kebutuhan akan damai dalam kehidupan bersama itulah, potret Yesus selaku Juru-damai menjadi suatu acuan utama umat Kristen. Itu sebabnya dengan penuh antuasias, umat percaya terdorong untuk memberitakan Kristus yang membawa damai dalam kehidupan umat manusia. Antuasisme dan keyakinan akan Kristus sebagai pembawa damai adalah sesuatu yang wajar dan logis, karena Kristus mampu membuktikan bahwa diriNya tidak pernah menggunakan kekerasan yang mengakibatkan sesama terluka dan terbunuh. Bahkan Kristus lebih memilih untuk mengorbankan diriNya bagi keselamatan umat manusia melalui kematianNya di atas kayu salib. Tetapi pada sisi lain, umat percaya menjadi tersentak saat Tuhan Yesus menyatakan bahwa Dia datang bukan untuk membawa damai, tetapi pertentangan. Di Luk. 12:49, 51 Tuhan Yesus berkata: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan api itu telah menyala! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kataKu kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan”. Saya yakin, setiap orang yang membaca atau mendengar perkataan Tuhan Yesus tersebut akan timbul perasaan bingung dan tanda-tanya. Mereka bertanya dalam hati, apakah ayat-ayat di Luk. 12:49-50 tersebut tidak keliru, atau mungkin salah cetak sebab perkataan Kristus tersebut terasa asing dari apa yang mereka biasa dengar dan baca tentang karakter diri Yesus Kristus.

Membawa Pertentangan Dan Pedang?
Jika memang ayat-ayat di Luk. 12:49-50 tersebut benar dan asli, bukankah berarti kedatangan Kristus di dunia ini mengandung aspek yang negatif dan destruktif. Logisnya Kristus datang ke dalam dunia tidak sepenuhnya membawa damai, tetapi malahan Dia membawa krisis. Bahkan dari Mat. 10:34-35 yang dianggap sejajar dengan Luk. 12:49-50, kita menjumpai pernyataan yang lebih tajam, yaitu:  “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya”. Di Mat. 10:34-35 tersebut Yesus Kristus menyatakan bahwa Dia datang ke dalam dunia bukan untuk membawa damai, tetapi justru pedang! Kita semua tahu bersama bahwa kata “pedang” dipakai untuk membunuh atau berperang. Melalui sebilah pedang, seorang prajurit atau si pengguna akan memakainya untuk menumpahkan darah lawan. Jadi kesimpulan logisnya adalah Kristus datang ke dunia bukan untuk menciptakan perdamaian, tetapi peperangan dan pertumpahan darah. Jelas kesimpulan tersebut memukul secara telak iman atau kepercayaan umat Kristen, sebab dalam hati umat Kristen begitu menghormati dan mempermuliakan Yesus Kristus sebagai pribadi ilahi yang paling sempurna. Tepatnya setiap umat Kristen telah menempatkan Yesus Kristus sebagai Tuhan yang sehakikat atau esa dengan Allah. Itu sebabnya dengan kutipan ayat-ayat tersebut umat percaya dapat kehilangan imannya kepada Yesus Kristus. Apalagi bagi musuh-musuh iman Kristen, ayat-ayat ini sering dipakai untuk membuktikan bahwa Yesus tidak layak dipermuliakan dan disembah sebagai Tuhan.  Dalam kasus ini kita seharusnya semakin disadarkan bahwa kutipan dan potongan ayat-ayat dari Alkitab sangat berbahaya. Kutipan ayat yang lepas dari seluruh konteks dapat membawa umat atau para pendengar kepada suatu pemahaman yang terlalu jauh dan menyimpang, sehingga menimbulkan keragu-raguan dan ketidakpercayaan kepada Kristus. Selama kita memiliki suatu pondasi yang rapuh atau sikap bimbang kepada Kristus, maka potongan ayat-ayat ini dapat menjadi dinamit yang meruntuhkan seluruh bangunan iman kita kepadaNya. Seperti dinamit yang memiliki ukuran kecil untuk meruntuhkan suatu bangunan yang besar, demikian pula potongan ayat dapat meniadakan seluruh ayat Alkitab yang positif dan mulia tentang keilahian Kristus. 

Pengajaran Yang Bersifat Rahasia
Sebagaimana diketahui bahwa ajaran Tuhan Yesus pada zaman itu telah dikenal oleh publik umat Israel sebagai ajaran ilahi yang berkuasa, luar biasa, menyentuh hati dan sangat jelas serta aplikatif dalam kehidupan umat sehari-hari, sehingga mereka menjadi takjub untuk mengikuti Dia ke manapun Yesus pergi. Tetapi juga tidak jarang ajaran atau perkataan Tuhan Yesus sering mengandung “rahasia” sehingga perkataanNya tidak mudah dimengerti oleh semua orang. Di Luk. 8:10, Tuhan Yesus berkata para muridNya: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti”. Ajaran “rahasia Kerajaan Allah” tersebut secara khusus hanya disampaikan oleh Tuhan Yesus kepada para muridNya, sehingga ajaran Tuhan Yesus tersebut  tersembunyi dan tidak mudah dipahami bagi orang banyak. Demikian pula ajaran Tuhan Yesus di Luk. 12:49-56 sebenarnya ditempatkan dalam konteks percakapan yang khusus antara Tuhan Yesus dengan para muridNya (Luk. 12:22). Sehingga dapat dipahami seandainya yang mendengar pengajaran Tuhan Yesus tersebut adalah  orang banyak, maka pastilah pengajaran tersebut akan menimbulkan kebingungan dan kesalahpahaman.  Mereka pasti akan bertanya-tanya tentang “kredibilitas” dan “keMesiasan” Yesus. Walaupun tidak tertutup kemungkinan sebagian orang banyak tersebut justru bertambah senang sebab dengan pernyataan Tuhan Yesus tersebut mereka memperoleh legitimasi untuk melakukan perlawanan dan pemberontakan kepada kerajaan Romawi. Tetapi bagi umat Israel yang saleh dan menempatkan Yesus selaku Mesias yang dijanjikan, pernyataan Yesus Kristus tersebut akan menjadi batu sandungan yang serius. Mereka akan segera menolak dan meninggalkan Tuhan Yesus.

Pemisahan Dalam KedatanganNya Yang Pertama?

Jika perkataan Tuhan Yesus di Luk. 12:49-50 merupakan suatu percakapan yang khusus dan eksklusif dengan para muridNya, maka makna dari ayat tersebut perlu dipahami secara lebih utuh konteks atau latar-belakangnya. Ucapan Tuhan Yesus di Luk. 12:49-50 yang berkata: “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” perlu dipahami makna kedatanganNya ke dunia sebagai manusia dan kedatanganNya dalam kemuliaan ilahi. Dalam kedatangan Kristus sebagai manusia, sangat jelas bertujuan untuk membawa damai-sejahtera (syalom). Perhatikan pernyataan Injil Yohanes, yaitu: “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh. 3:17). Itu sebabnya kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia adalah untuk mengaruniakan damai-sejahtera yang tidak dapat diberikan oleh dunia: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh. 14:27). Nasihat dan peringatan Tuhan Yesus kepada Petrus yang menghunus pedangnya untuk membela diriNya, yaitu: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang” (Mat. 26:52).  Tetapi dalam kedatanganNya yang kedua kelak, Tuhan Yesus sebagai Hakim dan Raja akan membawa pemisahan. Di Mat. 25:31-32 menyaksikan gambaran eskatologis akan kedatangan Kristus dalam kemuliaan Allah untuk membuat pemisahan, yaitu: "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing”. Sangat jelas bahwa dalam kedatanganNya kelak, Kristus akan membawa pemisahan. Yang mana kata “pemisahan” ini berasal dari: aphorizō (ἀφορίζω) yang berarti: exclude, appoint, divide, separate (mengecualikan, menunjuk, membagi, memisahkan. Di sini arti kata “aphorizō” mengandung 2 arti yaitu dalam arti yang negatif, yaitu: untuk mengecualikan dan membuang setiap hal yang jahat atau buruk. Dalam arti  yang positif, yaitu: untuk memisahkan hal yang kudus agar tidak tercemar. Jadi dalam kedatangan Kristus yang kedua, Dia akan menghakimi dan memotong setiap hal yang jahat, dan memisahkan hal yang kudus dan benar. Pedang Kristus akan membinasakan orang yang berdosa dan tidak bertobat, tetapi pedangNya juga akan melindungi orang yang hidup benar dan berkenan di hadapan Allah.

Sangat menarik ucapan Tuhan Yesus yang paling disalahpahami di Mat. 10:34-35, yaitu: “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” ternyata juga ditempatkan dalam konteks percakapan Yesus secara khusus dengan murid-muridNya. Jadi jelaslah bahwa pengajaran Tuhan Yesus di Mat. 10:34-45 ditempatkan dalam panggilan dan pemilihan kepada muridNya (Mat. 10:1). Perhatikan pula informasi tersebut sebelumnya telah diperjelas di Mat. 10:5, yaitu: “Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria”. Informasi yang hendak ditekankan di sini bahwa Tuhan Yesus berbicara dan mengajar hanya kepada kedua belas muridNya saja saat itu. Dengan pula halnya perkataan Tuhan Yesus di Mat. 10:34-35 yang menyatakan bahwa Dia datang bukan untuk membawa damai tetapi pedang ternyata juga ditempatkan dalam pengajaran khusus kepada kedua belas muridNya. Tujuan pengajaran khusus tersebut adalah untuk mengingatkan dan meneruskan pengajaran tersebut kepada umat percaya apabila Kristus datang kelak dalam kemuliaanNya. Saat kedatanganNya yang kedua ini Kristus akan memisahkan umat manusia dengan pedangNya, sehingga akan terbagi menjadi 2 kelompok  seperti gembala memisahkan domba dan kambing.
 
Zaman Akhir Yang Telah Dimulai
Perkataan Tuhan Yesus bahwa Dia datang untuk melemparkan api di Luk. 12:49 sama sekali bukan dimaksudkan untuk menunjuk peristiwa pencurahan Roh Kudus sebagaimana ditafsirkan oleh beberapa orang. Tetapi makna Tuhan Yesus datang untuk melemparkan api dalam pengertian Luk. 12:49 lebih menunjuk kepada keadaan yang kritis, yaitu situasi pemisahan dan hukuman saat kedatanganNya yang kedua kelak akan tiba. Itu sebabnya di Luk. 12:51 Tuhan Yesus berkata: “Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kataKu kepadamu, bukan damai melainkan pertentangan”.  Keadaan kritis yang menimbulkan pemisahan itu akan terjadi di masa yang akan datang atau akhir zaman. Namun pada sisi lain akhir zaman itu secara faktual sebenarnya telah dimulai pada masa sekarang. Melalui kedatangan Kristus di dunia, Allah telah memulai proses penghakiman yang kelak akan berpuncak dalam  kedatangan Kristus yang kedua. Di Luk. 12:52, Tuhan Yesus berkata: “Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki, dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya”. Arti kata “sekarang” di sini berasal dari kata: “nun” (νῦν) yang dapat berarti: now, present (sekarang), tetapi juga dapat berarti: immediate, henceforth, hereafter, of late, soon (segera, mulai sekarang, akhirat, akhir-akhir ini, segera). Dengan perkataan lain menjelang kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia, yaitu perkataan atau ajaran-ajaranNya, perbuatan atau karyaNya, terutama kematian dan kemuliaanNya akan menimbulkan suatu krisis bagi umat manusia. Keputusan iman tersebut dapat membawa seseorang kepada keadaan krisis sebab kemungkinan besar dia akan mendapat perlawanan, dibenci, dimusuhi dan dianiaya dari anggota keluarganya karena keputusannya untuk percaya dan mengikut Kristus. Demikian pula para pengikut Kristus dari zaman ke zaman akan dibenci, dimusuhi dan dianiaya oleh orang-orang duniawi karena nilai-nilai kehidupan mereka dianggap tidak sama dengan apa yang dilakukan oleh dunia ini. Nilai-nilai kehidupan yang diperoleh oleh umat percaya dari Kristus adalah nilai-nilai kasih, pengampunan, keadilan dan kebenaran Allah. Jadi dunia memusuhi dan membenci para pengikut Kristus karena mereka tidak menghendaki terwujudnya kerajaan kasih, keselamatan, keadilan dan damai-sejahtera dari Allah. Bukankah kuasa dunia senantiasa menolak kehadiran dan kedatangan Kerajaan Allah yaitu kerajaan keselamatan, kasih, keadilan dan damai-sejahtera dalam sejarah umat manusia? Sebab yang  dikehendaki dan diperjuangkan oleh kuasa dunia adalah terwujudnya kuasa kegelapan, bukan kehadiran kerajaan Allah yang menyelamatkan umat manusia.

Apabila di Luk. 12:49-53 menunjuk kepada percakapan dan pengajaran yang khusus antara Tuhan Yesus dengan kedua belas muridNya, maka tidaklah demikian konteks Luk. 12:54-59. Sebab konteks Luk. 12:54 jelas menunjuk kepada orang banyak, bukan kepada para muridNya yaitu: “Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi” (Luk. 12:54). Konsekuensinya, pengajaran Tuhan Yesus tersebut adalah agar mereka tidak hanya mampu menilai cuaca dan musim, tetapi tanda-tanda zaman yang sedang terjadi. Dari zaman ke zaman, umat manusia cenderung untuk jeli melihat hal-hal yang kasat mata, tetapi mereka mengabaikan sikap kritis terhadap pola kerja kuasa dari para ilah zaman.   Karena itu sikap umat percaya pada masa kini tidaklah cukup hanya mampu membuat analisa dan interpretasi yang cukup akurat tentang keadaan zaman secara lahiriah belaka; tetapi mereka juga harus mampu menganalisa dan bersikap kritis terhadap berbagai aspek atau dimensi zaman secara mendalam, yaitu mampu menguji kualitas dari spirit zaman yang sedang terjadi. Jadi orang percaya dipanggil untuk bersikap kritis dengan berpegang teguh kepada kebenaran untuk menilai semua bentuk dan substansi dari spiritualitas yang ditawarkan oleh dunia ini, yaitu apakah spiritualitas yang ditawarkan oleh dunia tersebut sungguh-sungguh mendukung terwujudnya kerajaan damai-sejahtera, keselamatan, keadilan dan kasih dari Allah. Ataukah sebaliknya, ternyata berbagai bentuk dan substansi dari spiritualitas duniawi tersebut semakin menjauhkan manusia dari nilai-nilai cinta-kasih, perdamaian, keadilan dan keselamatan secara vertikal dengan Allah maupun hubungan secara horisontal dengan sesama manusia. Di Luk. 12:56, Tuhan Yesus berkata: “Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?” Untuk itu setiap orang yang percaya kepada Kristus tidak boleh mudah terkecoh dengan tawaran, iming-iming, godaan, kemasan yang menarik dan isi yang sangat meyakinkan tetapi malahan membawa orang percaya secara perlahan-lahan menjauh dari terwujudnynya kerajaan keselamatan, damai-sejahtera, keadilan dan kasih Allah sebagaimana yang telah dilakukan oleh Kristus. Sebaliknya bagi setiap orang yang percaya dan mengasihi kepada Kristus, mereka  harus semakin giat dan pantang menyerah untuk mewujudkan kehadiran kerajaan Allah dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Menguji Para Ilah Zaman

Bagi Tuhan Yesus, sikap jeli dan kritis untuk menilai zaman sangat diperlukan. Kita tidak hidup karena fator-faktor manusia belaka, tetapi juga karena  pengaruh “teologis” dan “spiritisme” dari berbagai faktor.   Sebagaimana dipahami bahwa dalam  setiap zaman bukan sekedar suatu gerak manusiawi belaka. Di Luk. 10:18, Tuhan Yesus berkata: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit”. Perkataan Tuhan Yesus tersebut menunjuk bahwa melalui kedatangan diriNya selaku Messias, Iblis akan ditaklukkan sehingga tidak lagi berkuasa penuh atas hidup manusia.  Kemudian di Luk. 11:18, Tuhan Yesus juga berkata: “Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul”. Ayat ini juga mau menyatakan bahwa Iblis memiliki kerajaan yang kokoh dan tidak mudah untuk terpecah-pecah. Sebaliknya Iblis dengan sistem kerajaanNya sangatlah berkuasa (powerful) dalam menentukan perjalanan hidup manusia. Sangat menarik di Mzm. 82:1 menyaksikan adegan Allah di sorga yang sedang menghakimi para illah, yaitu: “Allah berdiri dalam sidang ilahi, di antara para allah Ia menghakimi”. Sebenarnya pandangan sidang ilahi (biasa disebut dengan “pantheon”) merupakan kepercayaan umum di Timur Tengah. Beberapa kali Alkitab juga mencatat sidang ilahi tersebut yaitu: I Raj. 22:19-23; Ayb. 1:6, 2:1; Yes. 6). Namun pernyataan di Mzm. 82:1 tersebut mengejutkan, karena hanya di Mzm. 82:1 menyatakan bahwa para illah diadili oleh Allah sebagai hakim tertinggi hanya terdapat di Alkitab. Kepercayaan umum di Timur Tengah tidak pernah memikirkan kemungkinan para illah (para dewa) diadili oleh Allah yang Maha-tinggi (disebut dengan nama “Elyon”). Pengadilan Allah terhadap para illah tersebut terjadi karena dalam tindakan yang lalim dan memihak, mereka menindas orang fasik (Mzm. 82:2). Sehingga jelas para illah (para dewa) tersebut walau termasuk mahluk ilahi tidak bebas dari kejahatan dan dosa seperti yang pernah dilakukan oleh malaikat Lucifer yang memberontak kepada Allah. Itu sebabnya di Mzm. 82:2 dimulai dengan pertanyaan Allah yang mengandung “ketidaksabaran”, yaitu: "Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik?” Karena para illah (para dewa) ini telah lama bertindak sewenang-wenang kepada umat yang hidup benar. Mereka menggunakan kekuasaaannya untuk menciptakan sistem yang memperdaya orang-orang lemah secara ekonomi, sosial dan politik.

Ini berarti pola-pola kehidupan dari setiap zaman sebagian merupakan hasil dari strategi dari para illah atau para dewa yang dikepalai oleh Iblis. Bila umat percaya tidak jeli dan kritis, maka mereka akan terlibat menjadi agen-agen kuasa kegelapan. Akibatnya umat percaya akan cenderung mendukung kelaliman dan membenarkan ketidakadilan. Mereka akan bangga menggunakan pedang atau kekerasan untuk menganiaya dan membunuh sesama yang lemah. Sehingga kehidupan mereka tidak mampu menciptakan damai-sejahtera, tetapi yang akan terjadi adalah krisis yang destruktif. Fenomena inilah yang sedang dikampanyekan dan dipraktekkan oleh umat yang merasa dirinya beribadah dan menghormati Allah yang esa.  Di sisi lain selaku umat percaya perkataan, tindakan dan pikiran kita juga belum mendukung sepenuhnya kehadiran kerajaan Allah secara nyata. Malahan kehidupan kita mendatangkan situasi krisis yang destruktif; bukan situasi “krisis” seperti yang telah dilakukan oleh Kristus , yaitu untuk membuat  pemisahan antara yang benar dan jahat, antara yang baik dan yang buruk. Apabila api yang dilemparkan Kristus adalah api yang kudus, maka betapa sering kehidupan kita justru melemparkan api kebencian, api permusuhan, api ketidakadilan dan berbagai tindakan yang sewenang-wenang. Padahal selaku umat percaya, kita dipanggil oleh Tuhan Yesus untuk senantiasa melemparkan api cinta-kasihNya, api pengampunanNya, api damai-sejahteraNya, api semangat hidup, api pengharapan dan api yang menghangatkan hubungan persaudaraan antar manusia, serta api yang mendorong sesama untuk mengasihi dan melayani Allah.

Menguji Roh Zaman Dengan Mata Yang Tertuju Kepada Yesus
Pada masa kini umat manusia semakin mampu bersikap kritis. Mata rohani umat manusia akan semakin terbuka dan jeli untuk memperhatikan tanda-tanda zaman. Kita dapat melihat perhatian dan kepedulian orang terhadap fenomena kebangkitan agama. Sehingga kualitas agama tidak lagi ditentukan oleh “klaim” terhadap kebenaran dirinya. Yang terpenting adalah hasil atau buahnya. Apakah iman yang dihayati oleh umat atau para pengikutnya mampu membawa kesejahteraan kepada kehidupan bersama, ataukah justru membawa kerusakan dan malapetaka.  Untuk itu umat percaya tidak boleh mengandalkan kepada kekuatan dan kemampuannya sendiri. Kita perlu memiliki spiritualitas yang bersandar dan tertuju kepada Kristus agar kita dipengaruhi dan dikendalikan oleh para illah zaman. Di Ibr. 12:1 firman Tuhan berkata: “Karena itu kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita”. Sebelumnya penulis surat Ibrani mengingatkan bahwa kita mempunyai banyak saksi iman. Yang mana di Ibr. 11:36-37 disebutkan bahwa para saksi iman itu pernah mengalami berbagai hal yang buruk, yaitu: mereka pernah diejek, didera, dibelenggu, dipenjarakan, dilempari dengan batu,  digergaji, dibunuh dengan pedang, mereka juga terpaksa harus mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan demi membela kebenaran Allah dan karyaNya yang menyelamatkan. Para saksi iman di kitab Perjanjian Lama itu telah membuktikan bahwa mereka mampu untuk memilih hidup menurut kebenaran Allah dari pada hidup menurut pola dunia ini. Dengan sikap iman dan kuasa anugerah Allah, para saksi iman itu akhirnya dapat menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi, sehingga mereka dapat berkarya secara efektif untuk pekerjaan Allah. Apalagi kehidupan kita selaku umat yang telah ditebus oleh Kristus dengan darahNya. Selain kita telah didukung dan diteguhkan oleh keteladanan dari para saksi iman, kita juga diberi anugerah oleh Kristus untuk mengalahkan kuasa kegelapan dan kuasa dosa yang selalu merongrong kehidupan kita. Karena itu kita sekarang dipanggil untuk mengukur segala sesuatu menurut ukuran Kristus. Karena kita tahu hanya Kristus saja yang layak dijadikan “kanon” untuk menilai setiap fenomena dan pola zaman, apakah telah sesuai dengan kehendak Allah ataukah dipengaruhi oleh kuasa dunia atau para illah zaman ini. Maka pastilah hidup kekristenan kita akan menghasilkan buah keselamatan dan kesejahteraan dalam hidup bersama dengan sesama yang belum percaya.

Panggilan
Kristus datang untuk membawa damai, dan Dia telah berhasil membuktikan prinsip dan pengajaranNya tersebut dalam seluruh kehidupanNya. Namun damai yang dibawa oleh Kristus bukanlah damai yang pasif, tetapi damai yang transformatif. Damai yang harus diisi oleh sistem nilai Kerajaan Allah. Tanpa ketaatan dan kesediaan untuk menerapkan secara konsekuen sistem nilai Kerajaan Allah yang dilandasi oleh kasih Allah, maka tidaklah mungkin tercipta damai-sejahtera dalam arti yang sesungguhnya. Ketaatan dan kesediaan untuk memberlakukan sistem nilai Kerajaan Allah sebagaimana dihadirkan oleh Kristus dalam praktek hidup sering membawa krisis,  sebab berbenturan dengan sistem nilai kerajaan duniawi. Pola hidup umat percaya berbenturan dengan pola hidup umat yang menolak Kristus. Situasi krisis dan konflik ini tidak boleh membawa umat untuk bereaksi secara impulsif dan reaktif. Sebab yang kita hadapi bukanlah manusia pada dirinya, tetapi juga terdapat pengaruh dan strategi para illah zaman. Untuk itu kita dipanggil secara jeli dan kritis menyikapi pola kerja dan strategi dari para illah zaman, lalu menempatkan dalam sikap iman kepada Kristus. Selama mata hati dan spiritualitas kita tertuju kepada Kristus, niscaya kuasa para illah zaman tersebut dapat kita tundukkan.

Jika demikian, bagaimanakah sikap kita dalam menghayati diri sebagai umat yang percaya kepada Kristus? Apakah kehidupan kita menghadirkan damai sebagaimana yang telah dilakukan oleh Kristus? Kita harus menyadari bahwa pada akhir zaman, yaitu dalam kedatangan Kristus yang kedua setiap umat manusia akan diadili. Selaku Raja dan Hakim akhir zaman, Kristus akan memisahkan apakah kita termasuk umat yang berkenan di hadirat Allah ataukah umat yang menjadi pengikut para illah zaman ini. Bagaimanakah sekarang sikap saudara? Amin.
 

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com


Logged
Pages: [1] | Go Up Print 
CyberGKI Forum  |  Kristen  |  Renungan  |  Topic: KHOTBAH MINGGU, 15 AGUSTUS 2010 (TEMA: "KRISTUS DATANG MEMBAWA DAMAI ATAU KRISIS « previous next »
Jump to:  



Login with username, password and session length

Copyright 2006 - 2009 by Simple Machines LLC
Page created in 1.312 seconds with 19 queries.
http://www.gki.or.id/wap Penggunaan
RSS