Author
|
Topic: KHOTBAH MINGGU, 29 AGUSTUS 2010 ("RENDAHKAN HATI, PEDULIKAN SESAMA") (Read 1715 times)
|
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
Administrator
GKI PERNIAGAAN JAKARTA
Full Member
    
Offline
Posts: 247
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
View Profile
WWW
|
Renungan Minggu, 29 Agustus 2010 Tahun C: Minggu Biasa Warna: Hijau
RENDAHKAN HATI, PEDULIKAN SESAMA Ams. 25:6-7; Mzm. 112; Ibr. 13:1-8, 15-16; Luk. 14:1, 7-14
Pengantar “Jangan berlagak di hadapan raja, atau berdiri di tempat para pembesar”, demikian ungkapan kitab Amsal 25:6. Nasihat tersebut mungkin kita anggap terlalu hiperbolis atau berlebihan. Masakan kita selaku rakyat biasa mau berlagak di hadapan raja. Faktualnya kita akan cenderung “menunduk-nunduk” hormat di hadapan raja, dan kalau perlu beberapa orang akan berupaya untuk menjilat untuk suatu kepentingan tertentu. Memang banyak orang cenderung mempertontonkan sikap yang “menunduk-nunduk” hormat, tetapi tidak berarti mereka tidak mampu mencari celah berlagak dan bersikap sombong dengan cara yang begitu sopan. Thomas Fuller berkata: “Kesombongan menganggap kerendahhatian amat terhormat, bahkan ia memakainya sebagai jubah”. Untuk berlagak dan bersikap sombong yang efektif, seseorang justru akan menutupinya dengan jubah kerendahan hati dan sikap yang sopan santun. Para pelaku kesombongan menyadari bahwa kesombongan yang ditampilkan secara vulgar dan kasar akan merugikan mereka, sehingga mereka akan berupaya menampilkan kesombongan secara simpatik dan dengan sikap yang tampaknya bijaksana. Tidak mengherankan jikalau dosa kesombongan merupakan jenis dosa maut nomor wahid alias nomor satu, karena kesombongan mampu menyelinap dalam berbagai hal yang tampaknya mulia dan suci. Untuk mencari dan menemukan orang-orang yang sombong, kita tidak perlu pergi ke pusat perbelanjaan atau mall. Justru kita akan mudah menemukan orang-orang yang berlaku sombong dan tidak peduli dengan sesama, saat kita berada di tempat ibadat dan pelayanan. Karena di tempat-tempat ibadah itulah umat akan berupaya untuk menyembunyikan kesombongannya dengan berlaku rendah-hati dan penuh simpati. Kesombongan Dan Citra Diri Kesombongan merupakan jenis dosa yang terbesar (the great sin) dan melahirkan dosa-dosa yang lain. Dari sikap sombong, kita mengembangkan menjadi dosa iri-hati karena kita menjumpai bahwa sesama ternyata memiliki suatu kelebihan yang tidak kita miliki. Kesombongan juga melahirkan sikap puas diri dan meremehkan orang lain sehingga dia enggan mengembangkan karunia dan talenta. Selain itu dosa kesombongan akan membentuk citra diri yang salah, sehingga dia menganggap dirinya sebagai orang yang terpenting. Sikap sombong secara prinsipial membutakan mata hati dan akal sehatnya, seakan-akan dia telah berhasil melampaui keterbatasan manusiawinya. Pernah dikisahkan tentang Muhammad Ali, seorang petinju legendaris, yang sedang bepergian dengan sebuah pesawat. Selama perjalanan udara itu, tiba-tiba pesawat yang ditumpanginya mengalami gangguan cuaca hingga berguncang-guncang. Dengan cepat pilot menginstruksikan seluruh penumpang untuk memasang sabuk pengaman. Dan semua penumpang mematuhi perintah pilot tersebut, kecuali Muhammad Ali. Ketika pramugari mendatanginya, Ali berkata dengan suara keras, “Superman tidak membutuhkan sabuk pengaman.” Tanpa berpikir lama pramugari itu segera berkata, “Benar, tapi Superman juga tidak membutuhkan pesawat terbang.” Kalau Muhammad Ali memang seorang superman, mengapa dia harus menumpang pesawat? Kemenangannya bertinju telah membutakan mata Muhammad Ali seakan-akan dia telah menjadi satu-satunya penghuni bumi yang paling jagoan dan bebas dari hukum gravitasi bumi. Dia mungkin jago di atas ring tinju, tetapi di dalam pesawat terbang yang sedang berguncang dan mungkin dapat jatuh, dia hanyalah seorang insan yang tidak berdaya apa-apa.
Selain itu karena seseorang menganggap dirinya terpenting, maka orang yang sombong akan cenderung untuk selalu merendahkan orang lain. Kesombongan menghasilkan sikap superioritas yang ingin selalu menundukkan sesama sehingga segala hal yang dilakukan oleh sesama tidak pernah dianggap berharga dan berkualitas. Sikap sombong yang demikian selalu memposisikan keberadaan dan kemampuan orang lain dalam kategori yang lebih rendah dan hina. Karena itu tidaklah mengherankan jikalau kesombongan selalu merusak semua hal yang bernilai dalam kehidupan ini. Kesombongan merupakan kanker spiritual yang menghancurkan ikatan dan nilai-nilai persahabatan dan persaudaraan dengan sesama sekaligus menghancurkan relasi kasih dengan Allah. Sebab siapakah yang bersedia bersahabat dengan seorang yang angkuh dan arogan, walaupun dia pandai dan menguasai berbagai ilmu pengetahuan? Siapakah yang tahan hidup bersama dengan seorang sombong, walaupun dia seorang yang rajin bekerja dan memiliki posisi yang tinggi? Kesombongan akan menjadikan sesama di sekitarnya sebagai para pribadi yang tidak berharga. Sikap sombong melahirkan sikap antipati. Selain itu kesombongan juga melahirkan sikap yang ingin meniadakan keberadaan sesama yang dianggap tidak berkualitas. Itu sebabnya dosa kesombongan kemudian melahirkan program “holocaust” yang membasmi etnis Yahudi karena Hitler menganggap bangsa Jerman sebagai satu-satunya etnis Arya yang unggul. Dosa kesombongan juga menyebabkan rasisme dalam berbagai bentuk yang berupaya untuk melumpuhkan etnis atau suku lain secara total. Jadi jelas bahwa kesombongan tidak mungkin mampu melahirkan sikap yang mau peduli sesama. Kesombongan akan melahirkan sikap ketidakpedulian dan ketidakmampuan menghargai sesama secara setara dan wajar. Karena itu Allah memanggil kita untuk mampu bersikap rendah-hati dengan tulus, maka kita akan dimampukan untuk menghargai dan mempedulikan sesama sebagaimana Kristus senantiasa mengasihi setiap umat.
Teologi Vertikalis Suatu sikap atau tingkah-laku senantiasa dilandasi oleh sistem nilai, prinsip spiritulitas dan teologi tertentu. Demikian pula sikap sombong yang meremehkan sesama bukanlah sekedar suatu perilaku yang spontan dan alamiah. Sikap sombong muncul karena pemahaman teologis tertentu yang diejahwantahkan menjadi pola hidup seseorang. Karena sikap sombong mendorong seseorang untuk menganggap dirinya lebih tinggi dan lebih baik dari pada sesamanya, itu sebabnya teologi orang-orang sombong sering disebut dengan teologi vertikalis. Dia menempatkan orang lain dalam hubungan “komando” dari atas ke bawah sehingga meniadakan hubungan yang horisontal dan setara dengan sesama. Dengan teologi vertikalis, seseorang menempatkan dirinya di puncak yang paling ujung dan menganggap dirinya hampir sejajar dengan Allah. Kesombongan menjadi dosa maut nomor satu karena dengan sikap angkuhnya seseorang tidak hanya mengangkat dirinya di atas sesama, tetapi juga suatu upaya untuk menempatkan dirinya sejajar dengan Allah. Ungkapan yang menarik hati bagi manusia pertama dengan godaan ular adalah: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat" (Kej. 3:4-5). Karena itu dosa kesombongan selalu memisahkan manusia dari kasih-karunia Allah. Mungkin seseorang yang sombong tetap mampu beribadat dan berdoa dengan khusuk, tetapi ibadah dan doanya bukanlah bertujuan untuk mempermuliakan Allah dan menghadirkan kasihNya. Jadi model teologi vertikalis pada prinsipnya merupakan suatu keyakinan dogmatis yang berupaya mengubah esensi iman yang mempermuliakan Allah dengan suatu tindakan yang melecehkan kemuliaan Allah. Model teologi vertikalis yang demikian dalam praktek hidup sering tidak segan untuk mencabut dan membinasakan sesama atau orang-orang yang dianggap kafir atau beda keyakinan. Dengan kata lain pemahaman teologi yang vertikalis menempatkan “keagungan Allah” dengan meniadakan “keagungan ciptaanNya” manakala ciptaanNya tersebut dianggap tidak mempermuliakan Allah menurut prinsip keyakinan agamanya. Sehingga tidak mengherankan agama-agama yang orientasi teologisnya hanya vertikalis dalam perjalanan sejarah umumnya mudah jatuh dalam berbagai tindakan kekerasan terhadap sesama yang dianggap berbeda keyakinan atau agama. Mereka sangat serius menegakkan keagungan Allah, tetapi mereka gagal untuk menegakkan kasihNya.
Sebenarnya para penganut teologi vertikalis juga mengenal dan mempraktekkan “kasih persaudaraan”. Tetapi kasih persaudaraan yang mereka maksudkan hanyalah sebatas persaudaraan di lingkungan internal mereka saja. Kasih yang mereka maksudkan bukanlah kasih yang universal, yaitu kasih yang tertuju kepada setiap orang tanpa memandang keyakinan, agama dan suku atau bangsa. Di tengah-tengah situasi yang demikian, penulis surat Ibrani memberi nasihat: “Peliharalah kasih persaudaraan!” (Ibr. 13:1). Tetapi kasih persaudaraan yang dimaksudkan oleh penulis surat Ibrani ternyata tidak eksklusif dan terbatas hanya kepada suatu lingkungan internal jemaat Kristen saja. Sebab di Ibr. 13:2 firman Tuhan berkata: “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat”. Pemberian tumpangan yang dimaksudkan dalam Ibr. 13:2 ternyata bukan hanya ditujukan kepada orang-orang yang kita telah kenal, tetapi justru diingatkan agar kita mau peduli dengan orang-orang asing yang membutuhkan pertolongan. Di Kej. 18:1-15 disaksikan bagaimana sikap Abraham yang menunjukkan kemurahan hati dan keramahannya saat dia menyambut 3 orang tamu asing di kemahnya. Abraham segera menyediakan makanan dan minuman kepada para tamunya serta membasuh kaki mereka. Akhirnya diketahui oleh Abraham bahwa ketiga orang tamunya itu sesungguhnya adalah para malaikat Tuhan. Tradisi dari kisah Abraham ini menyampaikan suatu pesan teologis bahwa Allah kadang-kadang menyatakan diriNya sebagai tamu-tamu asing yang hadir di tengah-tengah kehidupan kita. Allah tidak hanya tampil dalam keagunganNya saja, tetapi juga Dia kadang-kadang menyatakan diriNya melalui sesama yaitu orang-orang asing (the strangers) yang mungkin tidak satu suku, satu keyakinan dan satu agama dengan kita. Allah kita adalah Allah yang transenden (melampaui segala hal dan sangat agung), tetapi sekaligus Dia imanen (hadir) di tengah-tengah realita kehidupan kita.
Menghadirkan Kebaikan Allah Sebagaimana Abraham memperlihatkan kebaikan Allah kepada orang-orang asing, demikian pula kita dipanggil untuk menyatakan kebaikan Allah kepada orang-orang asing di sekitar kita. Orang-orang asing yang perlu kita bela dan lindungi dalam kehidupan sehari-hari mungkin tampil sebagai orang-orang hukuman dan orang-orang yang diperlakukan secara sewenang-wenang oleh kuasa dunia ini. Tentunya kita mengetahui apa artinya keadaan dan status dari orang-orang hukuman karena mereka umumnya tidak berdaya dan sering diperlakukan secara sewenang-wenang. Orang-orang asing di sini adalah setiap sesama yang masuk dalam kelompok minoritas. Namun sayangnya makna “minoritas” sering hanya dimengerti secara terbatas seperti minoritas agama dan minoritas suku. Padahal “minoritas” dapat berupa situasi keberadaan seseorang yang lemah secara ekonomis, tingkat pendidikan yang tidak memadai, dan sikap inferior dalam berbagai sikap. Mereka semua membutuhkan kemurahan hati dan kasih kita agar mereka memperoleh sedikit kelegaan dan keringanan dari beban hidup yang sangat berat, sehingga mereka dapat merasakan kebaikan Allah yang luar biasa ketika mereka memperoleh segelas air dan sesuap makanan serta keramahan kita yang tulus. Dalam hal ini betapa sering wajah kita tidak ramah dan tangan kita tidak menunjukkan kemurahan kepada sesama yang sedang terbeban dan menanggung persoalan yang begitu berat. Manakala kita tidak ramah dan bermurah hati untuk hal-hal yang sederhana, maka kita tidak mungkin memberikan kemurahan hati untuk membela kasus mereka d depan hukum. Bagaimana kita bersedia membela mereka di depan hukum, apabila kita tidak mau peduli dengan hal-hal yang sebenarnya sederhana untuk dilakukan. Bagaimana kita mau peduli dengan sesama apabila kita memiliki tabiat yang sombong dan angkuh? Saya sangat terkesan dengan seorang pengacara dari Pakistan yaitu Parvez Aslam yang memiliki komitmen untuk membela setiap orang yang tertindas di negaranya. Karena umat Kristen di Pakistan banyak ditindas, diteror dan difitnah, dia beberapa kali menunjukkan komitmen pembelaannya di depan hukum. Untuk itu dia membentuk suatu asosiasi pengacara pengadilan tinggi (advocate high court) agar pembelaannya dapat lebih efektif dan keadilan ditegakkan bagi orang-orang yang tertindas dan tidak berdaya.
Model teologi/agama yang vertikalistis sering gagal melihat kehadiran Allah dalam diri sesama yang ada di sekitarnya. Mereka terus-menerus mencari dan menyembah Allah yang di atas, tetapi mereka mengabaikan kehadiran Allah di tengah-tengah kehidupan bersama sesamanya. Tepatnya teologi yang vertikalistis sering memisahkan secara tajam diri Allah dengan eksistensi dan hidup sesama. Mereka merasa lebih beriman dan melakukan hal-hal yang berkenan kepada Allah dengan berbagai ritual ibadah dan hukum-hukum agama, tetapi mereka tidak peduli dan mengasihi sesamanya yang berbeda. Martin Buber seorang filsuf Yahudi dalam bukunya yang berjudul “I and Thou” mengulas secara mendalam tentang kehadiran Allah yang ditampilkan dalam wajah sesama. Sebab kecenderungan manusia pada umumnya memiliki relasi “I-It” (aku dan benda) yang mana sesama hanya dijadikan obyek, sehingga nilai dan martabat kemanusiaannya tidak dipedulikan dan dihargai sebagaimana yang seharusnya. Karena sesama hanya dijadikan obyek, maka sesama sering dieksploitasi, disiksa dan dibunuh. Kita dapat melihat berbagai kasus seperti pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan kepada para tenaga kerja Indonesia, ekploitasi sebagai budak dan gaji yang tidak manusiawi. Dalam relasi “I-It” agama banyak berbicara tentang Allah, tetapi mereka gagal memahami Allah sebagai pribadi (“religion means talking to God, not about God”). Itu sebabnya Buber mengajak agar kita berbicara kepada Allah secara personal melalui kehadiran dari pribadi-pribadi sesama. Bahkan manusia menjadi lebih sadar akan keberadaan Allah dalam setiap perjumpaan dengan sesama jika dia mau tetap terbuka dan siap memberi respon dengan seluruh keberadaannya (“man becomes aware of being addressed by God in every encounter if he remains open to that address and ready to respond with his whole being”). Makna “kasih persaudaraan” tidak lagi dipahami bahwa sesama yang dikasihi hanya karena dia sepaham, sesuku, seiman atau seagama; tetapi karena melalui sesama tersebut, Allah berkenan menyatakan wajahNya. Itu sebabnya di Mat. 25:40, Tuhan Yesus berkata: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”.
Kasih Persaudaraan Di Mat. 25:40 justru Tuhan Yesus menegaskan bahwa kehadiran diriNya dinyatakan melalui setiap sesama yang hina-dina. Sehingga perlakuan kita kepada setiap orang yang hina-dina pada hakikatnya merupakan perlakuan kita secara langsung kepada Tuhan Yesus. Ini berarti betapa seriusnya Tuhan Yesus menempatkan masalah hubungan kita dengan sesama sebagai bentuk hubungan kualitatif iman kita dengan Allah. Dalam konteks ini kita dianggap tidak beriman oleh Tuhan Yesus, ketika kita gagal untuk peduli dan mengasihi sesama. Manakala kita tidak mengasihi sesama, maka kita akan ditolak untuk masuk ke dalam kerajaan Allah. Dalam pandangan Tuhan Yesus sesama yang menderita dan hina tidak pernah boleh dianggap sebagai kelompok yang boleh dimarginalisasi dan dieksploitasi oleh karena ketidakberdayaannya. Justru umat percaya dipanggil untuk memberi prioritas dan perhatian kasih kepada sesama yang hina dan menderita. Di Luk. 14:13-14, Tuhan Yesus berkata: “Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar”. Nasihat Tuhan Yesus tersebut ditempatkan secara kontras dengan kecenderungan dan pola berpikir dunia pada umumnya. Sikap dunia pada umumnya lebih cenderung untuk memberi perhatian dan kasih hanya kepada sesama yang dianggap setara, seperti: sama-sama kaya, sepaham dan yang mampu membalas kebaikan. Dalam hal ini kasih persaudaraan dipahami oleh dunia sebagai bentuk kasih dan kepeduliaan kita kepada teman-teman, saudara-saudara, orang-orang yang berada, orang-orang yang sesuku dan seagama. Mengapa kita lebih peduli dan mengasihi mereka? Di Luk. 14:12b, Tuhan Yesus berkata: “karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasan”. Betapa sering motif kita memberi dan melakukan kasih kepada sesama atau orang-orang tertentu, karena sebenarnya kita ingin memperoleh balasan dan pujian dari mereka. Tepatnya kita mau memberlakukan kasih dan kepedulian kepada sesama jikalau mereka dapat menguntungkan dan memperkokoh sikap angkuh atau kesombongan rohani kita. Itu sebabnya kita menjadi kurang peduli dan berlaku kurang ramah serta tidak bermurah hati kepada orang-orang yang miskin, hina dan menderita; karena mereka tidak mampu membalas kebaikan dan kemurahan hati kita.
Hubungan ayat-ayat di Ibr. 13:1-2 dan Luk. 14:13-14 memperlihatkan suatu pola hubungan yang sinergis dan saling melengkapi. Ketika kita memperlakukan sesama yang hina, miskin dan menderita dengan penuh kasih, maka sesungguhnya kita diingatkan telah menjamu para malaikat Tuhan. Kehadiran Allah bukan hanya di sorga, tetapi di bumi ini yaitu realita hidup kita. Kasih persaudaraan terwujud ketika kehadiran Allah dialami melalui kehadiran dari setiap sesama khususnya mereka yang miskin, cacat, lumpuh dan orang-orang buta. Mereka tidak lagi ditempatkan berada di luar wilayah hidup kita, tetapi sebaliknya mereka berada secara riel di dalam pusat hidup kita. Kita tidak sekedar bersimpati dengan penderitaan dan kesusahan mereka, tetapi lebih dari pada itu kita terpanggil untuk berempati dan berbela-rasa dengan mereka. Sehingga penderitaan dan kesusahan mereka menjadi pijakan yang integral dengan spiritualitas iman kita kepada Tuhan. Ini berarti penderitaan dan kesusahan mereka bukan sekedar sasaran dari spiritualitas iman kita, tetapi lebih dari pada itu penderitaan dan kesusahan mereka kini dapat terintegrasi secara penuh dengan spiritualitas kita. Namun sayangnya kita cenderung menjadikan orang-orang yang menderita dan tidak berdaya sebagai suatu obyek agar kita dapat meningkatkan spiritualitas yang lebih tinggi dan berkenan kepada Allah. Penderitaan yang dialami oleh sesama sering kita gunakan sebagai media “penyempurnaan” diri kita. Sikap dan teologi yang demikian tentunya tidak akan mampu membawa kita kepada makna kasih persaudaraan dalam arti yang sesungguhnya. Jadi selaku umat percaya, penderitaan dan kesusahan yang dialami oleh umat bukan dijadikan sebagai media “penyempurnaan” diri, tetapi sebaliknya penderitaan setiap sesama merupakan pengejahwantahan dari penderitaan Kristus. Kita mengasihi dan peduli dengan sesama yang menderita karena Kristus mengasihi mereka dengan mengorbankan hidupNya. Dalam tahap spiritualitas yang demikian, kita dimampukan untuk menghayati dan mengalami kembali makna penderitaan Kristus yang telah mengasihi setiap orang yang menderita dan menjadi korban ketidakadilan.
Panggilan Melalui kehidupan Kristus, model teologi vertikalis yang cenderung meninggikan diri telah diubahNya menjadi teologi horisontal, di mana Allah berkenan menjadi sahabat bagi setiap orang dan mau peduli dengan sesama yang menderita. Karena itu sesama yang menderita dalam prinsip teologi yang horisontal, bukan lagi menjadi obyek bagi kita untuk “menyempurnakan” diri. Hakikat penyempurnaan diri kita selaku anak-anak Allah telah terjadi dalam karya penebusan Kristus di atas kayu salib. Sesama yang menderita dan direndahkan oleh kuasa dunia ini adalah wujud dari kehidupan Kristus yang membutuhkan kasih dan solidaritas kita. Kita Prinsip teologi horisontal juga tidak terlalu menekankan kepada prestige atau gengsi. Karena itu umat percaya yang mempraktekkan kerendahan hati Kristus tidak terlalu mengutamakan posisi atau suatu “tempat terhormat”, tetapi mereka lebih mengutamakan isi yang berkualitas. Apa artinya kita mampu duduk di tempat yang sangat terhormat tetapi tidak didukung oleh kemampuan mental dan moral yang seharusnya. Kita dapat melihat banyak orang yang antusias untuk duduk di tempat yang terhormat sebagai “wakil-wakil rakyat”, namun sayang sekali pernyataan dan ungkapan-ungkapan mereka tampak begitu kerdil dan memalukan. Dalam kehidupan sehari-hari kita ingin memperoleh perhatian dan sanjungan dari orang-orang di sekitar kita, tetapi kehidupan kita sendiri jauh dari prinsip spiritualitas kerendahan hati dan kualitas mental. Sikap mental tersebut akhirnya mendorong diri kita untuk menonjolkan diri, tetapi dengan isi atau kualitas diri yang kosong. Sebaliknya isi spiritualitas hidup kita yang kosong akan semakin terisi penuh saat kita mulai peduli dengan sesama di sekitar kita. Sebab saat kita lebih mengutamakan kepedulian kepada sesama, spiritualitas kita akan diisi oleh Roh Kudus sehingga kehidupan kita dapat menjadi berkat bagi banyak orang.
Jika demikian, dari pada kita suka berlagak dan mencari perhatian serta ambisi menduduki tempat yang terhormat bukanlah lebih baik jika kita terus-menerus mengutamakan peningkatan kualitas dan isi spiritualitas yang bertumbuh menurut ukuran Kristus. Kalau seandainya kita dapat menduduki tempat yang terhomat, maka posisi tersebut merupakan anugerah Allah yang telah menyiapkan dan memampukan diri kita untuk berperan secara efektif. Semakin spiritualitas dan kemampuan kita berisi atau berkualitas, maka semakin terbuka bagi kita untuk berperan dalam lingkup yang lebih luas khususnya untuk mempedulikan kesejahteraan sesama. Sebaliknya semakin spiritualitas dan kemampuan kita kosong alias tidak bermutu, maka upaya kita untuk menduduki tempat-tempat yang terhormat hanyalah akan mempermalukan diri kita sendiri. Jadi bagaimanakah sikap saudara? Amin.
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono www.yohanesbm.com
|
|
|
|
|
Logged
|
|
|
|
|
|