Welcome, Guest. Please login or register.
May 22, 2012, 09:47:36 PM
Home | Help | Search | Calendar | Login | Register
News:

CyberGKI Forum  |  Kristen  |  Renungan  |  Topic: RENDAHKAN HATI RENDAHKAN DIRI (P)dt. Em. Daud Adiprasetya) « previous next »
Pages: [1] | Go Down Print
Author Topic: RENDAHKAN HATI RENDAHKAN DIRI (P)dt. Em. Daud Adiprasetya)  (Read 818 times)
Joas Adiprasetya
Administrator
GKI Pondok Indah
Newbie
*****
Offline

Posts: 22


View Profile
RENDAHKAN HATI RENDAHKAN DIRI (P)dt. Em. Daud Adiprasetya)
« on: August 10, 2010, 09:16:36 PM »

Oleh: Pdt Em. Daud Adiprasetya
Minggu -29 Agustus 2019 (Minggu Biasa).

RENDAHKAN HATI RENDAHKAN DIRI
Amsal 25:6-7  Mazmur 112  Ibrani 13:1-8, 15-16  Lukas 14:1, 7-14


Pada suatu saat seorang CEO (Chief Executive Officer} atau Pejabat Executive Tertinggi perusahaan besar yang sangat sukses bepergian bersama isterinya dengan mengendarai sebuah mobil mewah. Biasanya ia menggunakan supir, tapi kali ini tidak, karena ia ingin menikmati perjalanan bersama isterinya. Di tengah perjalanan, parameter bahan bakar menunjukkan  bahwa persediaan bahan bakar menipis, maka ia segera masuk ke salah satu SPBU yang ditemuinya dan kemudian memesan kepada petugas untuk diisikan bahan bakar. Sambil menunggu tangki bahan bakarnya diisi, CEO sukses ini berjalan-jalan sejenak menuju taman di tengah SPBU tersebut. Ketika kembali dari taman menuju mobilnya, ia melihat sang istri sedang asyiknya berbicara dengan petugas SPBU, dan ketika melihatnya datang, mereka langsung berhenti. Sambil melanjutkan perjalanan, CEO sukses ini bertanya kepada istrinya, “Kelihatannya, kamu tadi asyik sekali bicaranya dengan petugas SPBU? Bicara apa sih?” Sang istri menjawab, “Oh, orang itu adalah mantan pacarku waktu di SMU. Kami pernah pacaran selama satu tahun.

Kemudian CEO itu dengan bangga mengatakan, “Untung kamu menikah dengan aku, sehingga sekarang kamu menjadi istri seorang CEO hebat dan sukses, coba kalau kamu menikah dengannya, mungkin sekarang kau telah menjadi istri seorang petugas SPBU.” Sang istri lantas menimpali, “Oh sayang, jika saya menikah dengannya maka ia akan menjadi CEO hebat dan sukses, sedangkan kamu akan menjadi petugas SPBU!”  (Dari Buku Fight Like A Tiger Win Like A Champion).

Belajar merendahkan diri itu sukar tapi hasilnya indah. Ada dua hal yang sering   bergandengan erat, yaitu meninggikan diri dengan cara merendahkan orang lain. Maka  biasanya ada yang dijadikan korban, untuk memperoleh kepuasan hati! Tuhan Yesus mengajarkan dan melakukan sikap rendah hati dan merendah, agar supaya sebagai para pengikutNya kita dapat memancarkannya dalam seluruh kehidupan kita. Dia bukan sedang mengajarkan sikap yang lemah kepada kita, tapi sebaliknya justeru sangat kuat, menarik dan dapat memberkati orang-orang di sekeliling kita. Ketika Naaman panglima perang Aram yang mempunyai sakit kusta itu, mau merendah dengan mendengarkan nasehat para pembantunya, dan mengikuti perintah Elisa melalui budaknya, untuk mau mandi di sungai Yordan, apa yang terjadi saat itu? Ia telah menjadikan orang-orang yang rendah derajatnya terangkat dan bersemangat sebab merasa dihargai dan berguna, sedangkan Naaman sendiri, dia beroleh berkat kesembuhan dari Tuhan! Seorang yang bernama Thomas Washbourne mengatakan, “Walaupun sorga tinggi, gerbangnya rendah. Dan siapa yang datang harus menunduk.”  Ada seorang ayah dan anak kecilnya berjalan di Chicago, melewati tempat di mana sebuah gedung pencakar langit sedang dibangun. Ketika menengadah ke atas, mereka melihat orang-orang sedang bekerja di lantai atas gedung itu. “Ayah,” kata anak itu, “Apa yang dilakukan anak-anak kecil di atas sana?”
“Mereka bukanlah anak kecil, mereka orang dewasa, Nak.”
“Tetapi mengapa mereka terlihat kecil?”
“Karena mereka sangat tinggi,” jawab ayahnya.
Setelah diam sejenak, anak itu bertanya lagi, “Lalu, Ayah, ketika mereka sampai di sorga, maka mereka tidak akan kelihatan lagi, benar bukan?”
Ya benar. Makin kita dekat pada Kristus, makin kecil orang melihat kita, dan makin besar melihat Kristus. (Dari Buku Melakukan Buah Roh).

Yesus datang, Dia merendahkan diri. Di dalam Lukas 14:1 kita melihat Yesus yang datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan. KedatanganNya pasti bukan hanya karena Ia merasa lapar atau menginginkan makanan yang  enak. Jangan lupa apa yang dikatakan-Nya dalam Markus 10:45, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”  Ini adalah merendahkan diri yang paling hebat yang pernah dilakukan di dunia ini, dan tidak akan  ada yang menyamai. Yesus paling mengetahui apakah itu makna merendahkan hati dan merendahkan diri. Setiap kehadiran-Nya berkaitan dengan pelayanan dan penebusan, yang dilakukan dengan kerendahan hati seperti yang dilakukan-Nya hari itu. Sebab di rumah itu pasti sudah berkumpul banyak orang Farisi yang memusuhi-Nya. Dalam kesempatan lain, kita baca Lukas 16:14, “Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia.” Juga di Matius 12:14  “Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia.” Jadi, ketika merendahkan diri-Nya Yesus seperti sedang memasuki kandang singa, maka dikatakan dalam ayat1 bahwa semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Mereka itu penuh curiga dan mencari kesalahan yang sekiranya akan dilakukan oleh Yesus. Namun demikian sikap Yesus tetap wajar, tak ada rasa takut terhadap siapapun, dan hati-Nya tergerak untuk menyembuhkan orang yang sakit busung air meskipun hari itu adalah sabat. Sesudah merendahkan diri dalam pelayanan yang beresiko tinggi itu,  selanjutnya Tuhan Yesus juga memberikan pelajaran tentang bagaimana seharusnya kita membawa diri dalam pergaulan di tengah masyarakat, supaya di manapun tetap dapat menjadi terang dunia dan tidak menjadi batu sandungan.

Pelajaran penting apakah yang disampaikan Tuhan Yesus kepada kita?
Pertama, Jadilah orang yang dapat menempatkan dan membawa diri di manapun juga. Dalam hal ini lebih baik merendah, yang kemudian ditinggikan, daripada meninggikan diri yang akan direndahkan. Dalam Amsal 25:6,7 ada nasehat supaya kita jangan berlagak di hadapan raja atau para pembesar, bisa berabe. Tapi di Amsal 22:29 kita membaca yang sebaliknya, “Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” Kalau begitu menempatkan diri dan membawa diri adalah yang utama di dalam pergaulan dengan semua lapisan masyarakat. Kesan pertama, dalam suatu penampilan dan perjumpaan kita dengan siapa saja akan berdampak luas. Dalam pelajaran-Nya Tuhan Yesus mencela kecenderungan manusia yang mengejar kehormatan bagi dirinya. Dampak negatipnya adalah haus sanjungan, merasa bangga jika sampai dikagumi, dan terbius oleh kemuliaan semu. Kalau sudah begitu, sebagai orang yang gila hormat tidak lagi dapat menghargai sesamanya, dan tidak mempunyai rasa takut kepada Tuhan.

Kedua, Adalah sangat baik jika kita membiasakan untuk tidak menonjolkan diri, serta merasa rela berada di tempat yang rendah. Bukankah Tuhan dan Guru kita juga telah memberikan teladan-Nya yang sangat mengesankan? Biarlah orang lain yang menilai diri kita, sebab siapa tahu bahwa kita hanya dipandang dengan sebelah mata.

Ketiga, Menjaga diri untuk tidak dipermalukan, dan memiliki rasa-malu menjadi sangat penting, dalam upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia. Lukas 14:9 “ …..Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.”  Ternyata Tuhan telah mengaruniakan rasa-malu kepada kita dengan multi maksud. Bayangkan andai kita tidak lagi memiliki rasa malu dalam segala hal. Hidup ini akan teramat kacau balau dalam segala aspeknya, termasuk dalam bidang ibadah. Perlu terus dipupuk rasa malu yang pada tempatnya, supaya kita jera melakukan kebodohan-kebodohan. Rasa malu juga akan dapat memacu kita untuk lebih bersungguh-sungguh dalam berprestasi, terutama  juga dapat menjadi tali kekang yang kuat pada saat kita tergerak untuk menyombongkan diri, kekayaan dan kepandaian kita.

Keempat, Belajar menghargai sesama yang kurang beruntung dan hina, Lukas 14:13. Membagi sukacita dan kebahagiaan  kepada mereka yang tidak mungkin dapat membalas. Merendahkan hati dan diri bukan hanya secara teori tetapi di dalam praktik hidup yang senyatanya. Jangan pernah berpikir bahwa aku lebih saleh, lebih suci, lebih baik dibanding orang hina dan kotor itu. Sebab Tuhanlah yang menilai. Ada sebuah cerita  menarik tentang seorang pertapa yang sombong. Suatu hari datang menghadap kepadanya seorang pendosa mengungkap isi hatinya yang penuh dengan penyesalan dan kerinduan untuk beroleh pengampunan dari Tuhan. Maka pertapa itu menanggapinya dengan sangat sinis sambil berkata“Anda mengharapkan pengampunan, engkau seorang pendosa kelas kakap? Mawar akan lebih cepat tumbuh pada tongkat ini, daripada Allah akan memberikan pengampunan atas semua dosamu.” Sesudah berkata begitu, pertapa itu berbalik meninggalkan pendosa itu  dalam keputus-asaannya. Tetapi tiba-tiba ujung tongkat milik pertapa itu, masuk ke dalam tanah dan berakar sehingga  tidak bisa dicabut lagi. Muncullah batang dan daun-daun melingkar pada tangkatnya, juga bunga yang mekar indah. Saat itu terdengar suara Tuhan kepada pertapa itu, “ Sebelum mawar ini mekar pada tangkai yang kering, Aku sudah lebih dahulu mengampuni si pendosa yang bertobat dan menolak orang yang sombong.” Setelah mendengar suara Tuhan maka sang pertapa segera menemui si pendosa yang bertobat itu untuk berdamai.

Merendahkan diri di dalam praktik hidup[/i]  (Ibrani 13:1-8. 15-16)
* Bersedia menjadi repot, karena menerima orang menumpang di rumah kita..
* Peduli kepada orang-orang hukuman serta mereka yang diperlakukan tidak adil.
* Menghormati perkawinan kita yang sudah ditetapkan oleh Tuhan.
* Selalu menjadi hamba Allah dan bukan hamba uang.
* Memperhatikan kebutuhan hidup para pemimpin yang sudah menyampaikan Firman Tuhan.
* Dengan rendah hati mempersembahkan korban syukur kepada Allah, melalui berbagai macam cara di sepanjang hidup kita.
* Semakin hari semakin menyadari dan meyakini bahwa Allah berkenan kepada korban-korban yang bukan hanya secara ritual semata, maka berbuat baik dan memberi bantuan lalu menjadi kegiatan yang tidak mencari pujian bagi diri sendiri, melainkan hanya untuk kemuliaan Yesus Kristus yang tidak berubah.

Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan, anak cucunya akan perkasa di bumi. Di dalam gelap akan terbit terang bagi orang benar! Mazmur 112.
Logged
Pages: [1] | Go Up Print 
CyberGKI Forum  |  Kristen  |  Renungan  |  Topic: RENDAHKAN HATI RENDAHKAN DIRI (P)dt. Em. Daud Adiprasetya) « previous next »
Jump to:  



Login with username, password and session length

Copyright 2006 - 2009 by Simple Machines LLC
Page created in 0.702 seconds with 18 queries.
http://www.gki.or.id/wap Penggunaan
RSS