Welcome, Guest. Please login or register.
May 22, 2012, 09:51:58 PM
Home | Help | Search | Calendar | Login | Register
News:

CyberGKI Forum  |  Kristen  |  Renungan  |  Topic: KHOTBAH MINGGU, 5 SEPTEMBER 2010 (TEMA: "MEMIILIH KEHIDUPAN" « previous next »
Pages: [1] | Go Down Print
Author Topic: KHOTBAH MINGGU, 5 SEPTEMBER 2010 (TEMA: "MEMIILIH KEHIDUPAN"  (Read 1379 times)
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
Administrator
GKI PERNIAGAAN JAKARTA
Full Member
*****
Offline

Posts: 247


Pdt. Yohanes Bambang Mulyono


View Profile WWW
KHOTBAH MINGGU, 5 SEPTEMBER 2010 (TEMA: "MEMIILIH KEHIDUPAN"
« on: August 24, 2010, 04:40:45 PM »

Renungan Minggu, 5 September 2010
Tahun C: Minggu Biasa
Warna: Hijau

MEMILIH KEHIDUPAN
Ul. 30:15-20; Mzm. 1; Filemon 1-21; Luk. 14:25-33

Pengantar
Hewan dengan segala jenisnya digerakkan oleh naluri atau instingnya, tetapi manusia digerakkan oleh pilihan etisnya. Naluri menggerakkan hewan kepada arah dan pola tertentu serta bersifat tetap, sehingga pola hidup suatu hewan selalu dapat diprediksi dengan tepat. Tetapi untuk memprediksi sikap seseorang tidaklah mudah. Karena tiap-tiap orang digerakkan oleh kehendak bebasnya sehingga pilihan etisnya dilakukan didasarkan nilai-nilai tertentu, keyakinan, karakter, dan situasi riel saat itu. Itu sebabnya pilihan etis setiap orang selalu bersifat unik dan personal. Mereka memiliki penafsiran tersendiri dengan apa yang dimaksud dengan “makna kehidupan”. Bagi beberapa orang makna kehidupan dihayati sebagai suatu kesempatan untuk menikmati segala sesuatu (hedonisme), beberapa orang makna kehidupan dihayati dengan sikap bertarak, sebagian lagi menghayati makna kehidupan dengan peduli (bela-rasa), dan yang lain menghayati makna kehidupan dengan bersikap egoistis, sebagian menghayati makna hidup dengan mengasihi Allah, dan yang lain mengabaikan dan menolak Allah, dan sebagainya. Yang jelas makna kehidupan yang dihayati oleh setiap orang mencerminkan arah dan tujuan hidupnya, sekaligus mencerminkan karakter, isi keyakinan dan spiritualitasnya. Semakin berkualitas makna kehidupan yang dijalani, maka semakin tinggi pula nilai-nilai dan kualitas karakter yang dimilikinya. Sebaliknya semakin dangkal makna kehidupan yang dijalani seseorang, maka akan tampak ketidakmampuan dia untuk melakukan pilihan etis secara benar.

Pengetahuan Etis Dan Kemampuan Memilih
Pengetahuan etis dan kemampuan memilih dapat saling melengkapi seseorang untuk mengambil keputusan etis yang tepat. Sebab melalui pengetahuan etis, kita dimampukan untuk membuat pertimbangan etis secara rasional. Pengetahuan etis dapat membantu kita untuk memperoleh pencerahan intelektual sehingga kita bersikap dan bertingkah-laku sesuai dengan nilai-nilai etis yang rasional. Tetapi pada pihak lain, kita juga harus ingat bahwa pengetahuan etis yang luas dan mendalam tidak menjamin kita untuk mampu membuat pilihan etis secara praktis. Misalnya kita dapat mengetahui secara mendalam tentang hukum dan kehendak Allah, tetapi realitanya kita tidak senantiasa mampu memberlakukan hukum Allah tersebut dalam kehidupan kita. Pengetahuan yang lengkap tentang moralitas tidak menjamin kita menjadi seorang yang memberlakukan kesusilaan secara konsisten. Dalam banyak kasus kita telah menjumpai orang-orang yang dianggap ahli etika dan tokoh moral, tetapi tiba-tiba dia terbukti terlibat dalam berbagai tindakan yang tidak senonoh. Demikian pula banyak orang terkecoh dengan kesalehan para pemuka agama yang begitu lantang menentang pornografi, tetapi kemudian terbukti mereka sendiri bertahun-tahun mempraktekkan pornografi. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa pada satu pihak pengetahuan etis dan moral sangat dibutuhkan sebagai media pendidikan dan pembinaan umat agar mereka dapat mampu memilih apa yang benar; tetapi pada pihak lain pengetahuan etis dapat menjadi media kemunafikan sebab dipakai untuk menyembunyikan hal-hal yang buruk dalam kehidupannya. Jika demikian kemampuan memilih apa yang benar dan baik dalam kehidupan ini merupakan suatu perjuangan yang eksistensial. Tidak dijamin kemampuan kita untuk memilih secara tepat pada suatu waktu, berarti  kita akan mampu memilih secara etis pada waktu yang lain. Karena pilihan-pilihan etis kita senantiasa berada dalam suatu kondisi yang tidak sama dan memiliki kerumitannya masing-masing.

Kita tahu bahwa tidak semua pilihan dalam hidup ini dapat kita pilih dengan mudah. Kadang-kadang kita menghadapi situasi yang dilematis seperti: di saat dana kita terbatas, kita harus mengambil keputusan untuk pengobatan bagi mama yang sedang sakit keras ataukah untuk anak yang harus dioperasi. Atau sikap kita yang tidak mudah memilih untuk pengobatan anak yang gagal ginjal selama bertahun-tahun sehingga membutuhkan biaya untuk cuci darah setiap minggu dua kali, ataukah lebih baik kita memilih untuk biaya pendidikan bagi anak-anak kita yang lain. Kalau kita memilih masa depan dan pendidikan bagi anak-anak kita yang lain berarti kita akan mengambil keputusan untuk menghentikan perawatan medis bagi anak yang perlu cuci darah. Tentunya keputusan kita tersebut dapat menyebabkan kematian bagi anak yang sedang membutuhkan biaya untuk cuci darah.   Namun jika kita memilih dana tersebut untuk cuci darah, berarti kita akan menelantarkan masa depan dan kebutuhan pendidikan bagi anak-anak kita yang lain. Dalam hal ini kemampuan kita untuk memilih secara etis tidaklah cukup didukung dengan pengetahuan etis. Kemampuan etis kita perlu dilandasi oleh kualitas kasih dan relasi yang mendalam dengan Allah, sang sumber kehidupan. Kita mengimani bahwa Allah di dalam Kristus akan mengampuni kita ketika kita gagal untuk membuat pilihan dan keputusan yang tidak tepat dalam situasi yang dilematis. Kalau kita berpijak kepada pengetahuan etis, maka kita akan dirongrong oleh rasa bersalah. Sebaliknya ketika kita berpijak kepada anugerah dan rahmat Allah, kita dimampukan untuk melakukan pilihan dan keputusan yang sebaik-baiknya dengan kesadaran bahwa kita tidak mampu mengendalikan rahasia kehidupan ini.  Jadi pilihan yang terbaik adalah bilamana dilandasi oleh kasih Allah, sehingga kita mampu memilih secara bijaksana walaupun juga menyakitkan.

Pilihan Etis Untuk Peduli
Selaku jemaat Tuhan kita sering berdoa, membahas, dan mendiskusikan bahkan mengupayakan dalam berbagai program gerejawi agar terwujud kedatangan Kerajaan Allah di atas bumi ini, yaitu pemerintahan Allah yang membawa perubahan atau transformasi secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan umat manusia. Namun doa dan pembahasan teologis serta berbagai upaya yang dilakukan seringkali masih terhambat oleh sikap mental/spiritualitas kita dalam memperlakukan dan merespon sesama khususnya kepada orang  yang pernah melakukan kesalahan. Kita sering memilih untuk tidak memperlakukan sesama dengan kasih dan pengampunan Allah padahal dia sebenarnya sudah menunjukkan sikap pertobatan. Kegagalan tersebut terjadi karena kita lebih memilih untuk mengabaikan dan tidak mengasihi dia. Itu sebabnya sering sesama kita tidak dapat memulai hidup baru. Kita telah memberikan suatu stigma negatif yang abadi kepada dirinya. Dalam pengertian ini “stigma” diartikan sebagai: “sign of social unacceptability: the shame or disgrace attached to something regarded as socially unacceptable” (tanda penolakan sosial berupa rasa malu atau aib yang dikenakan kepada seseorang karena pernah melakukan suatu kesalahan). Sehingga dengan pemberian suatu stigma, seseorang atau sekelompok orang tidak pernah mampu membuktikan pertobatan dan kehidupan barunya. Tindakan yang mereka perbuat senantiasa dicurigai dan tidak dipercaya, sehingga seluruh itikad atau maksud baik mereka tidak diterima dengan hati yang tulus oleh anggota masyarakat. Dalam kondisi yang demikian, sebenarnya kita tidak akan pernah mampu mengalami datangnya kerajaan Allah di tengah-tengah kehidupan ini.

Di surat rasul Paulus kepada Filemon, kita dapat melihat bagaimana karya keselamatan Allah dinyatakan melalui rasul Paulus kepada seorang budak bernama Onesimus. Tampaknya Onesimus pernah melakukan kesalahan yang fatal kepada tuannya yang bernama Filemon. Kemungkinan Onesimus pernah mencuri atau berhutang dalam jumlah yang sangat besar. Karena Onesimus merasa tidak sanggup atau merasa sangat bersalah,  dia kemudian melarikan diri dari tuannya. Tentunya tindakan Onesiumus tersebut sangat merugikan Filemon, tuannya. Tetapi dalam pelariannya itu Onesimus tertangkap sehingga dia dipenjara. Di penjara itu dia berjumpa dengan rasul Paulus. Perjumpaan Onesimus dengan rasul Paulus ternyata membawa suatu perubahan besar dalam kehidupan pribadi Onesimus. Karena disaksikan Onesimus  akhirnya dapat mengenal dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juru-selamatnya. Bahkan di ayat 10, rasul Paulus menyebut Onesimus sebagai “anaknya”. Lalu di ayat 12 rasul Paulus menyebut Onesimus sebagai “buah hatinya”. Walaupun demikian, rasul Paulus tidak menahan Onesimus untuk dirinya sendiri. Sebaliknya rasul Paulus menyuruh Onesimus kembali pulang kepada tuannya.  Lebih dari pada itu agar kredibilitas Onesimus pulih kembali, maka di ayat 18-19 rasul Paulus dengan rela bersedia memberikan jaminan dan ganti rugi kepada Filemon, yaitu: “Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku – aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri: Aku akan membayarnya”. Bahkan rasul Paulus dalam suratnya kepada Filemon menyampaikan suatu permohonan: “Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya, bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan” (Filemon 1:15-16). Sikap kasih dari rasul Paulus tersebut tentunya berhasil untuk menghapus berbagai stigma negatif yang melekat di dalam diri Onesimus. Karena kini selain Onesimus telah menampakkan sikap pertobatannya,  rasul Paulus juga telah memberikan suatu jaminan dan sebutan Onesimus sebagai “buah hati” dan “anaknya”.

Seringkali kita selaku umat percaya dengan mantap berdoa “ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Tetapi dalam praktek kita ternyata lebih cenderung dan terampil untuk memberikan stigma negatif kepada banyak orang yang kita anggap bersalah. Sangat berbeda sikap rasul Paulus ketika dia menghadapi orang yang sedang bermasalah dan melakukan kesalahan. Rasul Paulus tidak bersikap menghakimi Onesimus, melainkan dia memilih untuk membimbing dengan penuh kasih sehingga akhirnya Onesimus dapat percaya dan menerima Kristus. Rasul Paulus juga mengasihi Onesimus sedemikian rupa sampai dia menyebut Onesimus sebagai buah hati dan anaknya sendiri. Secara khusus pula rasul Paulus meminta kepada Filemon selaku tuannya agar mau menerima Onesimus bukan lagi sebagai seorang budak, tetapi sebagai saudara yang kekasih. Padahal rasul Paulus sebenarnya juga dapat membuat pilihan etis untuk tidak berupaya membimbing dan membela Onesimus.  Tetapi kepedulian rasul Paulus begitu besar untuk membimbing Onesimus, sehingga Onesimus yang dahulu harus lari karena melakukan kejahatan kini hidupnya benar-benar dipulihkan. Onesimus akhirnya dapat menjadi seorang yang dapat  kembali pulang dengan predikat yang baru di dalam kasih Kristus. Pilihan etis yang mau peduli dengan masalah yang dihadapi oleh sesama terbukti mampu membawa perubahan hidup yang berarti.

Pilihan Etis Untuk Lepas Dari Kelekatan
Makna “lekat” kepada yang duniawi berarti orientasi dan pilihan etis hidup kita menempatkan segala hal yang duniawi sebagai yang paling menentukan. Sikap yang “lekat” dengan keinginan duniawi akan cenderung mengabaikan kehendak Allah dan firmanNya. Karena kita lekat kepada kuasa duniawi, maka kita juga tidak mampu membuat pilihan etis secara bebas. Itu sebabnya kehidupan kita lebih banyak dipengaruhi, diwarnai, dan didominasi oleh segala hal yang duniawi sehingga kehidupan kita tidak lagi memancarkan sebagai gambar dan rupa Allah. Kita tidak hidup sebagai anak-anak Allah, tetapi sebaliknya sebagai anak-anak dari kuasa dunia ini. Akibatnya kehidupan kita menjadi semakin rusak dan jauh dari kemuliaan Allah. Spiritualitas kita tidak menjadi tanah liat yang lentur dan mudah dibentuk tetapi spiritualitas kita menjadi tanah yang keras sehingga tidak mungkin lagi dapat dibentuk menjadi sebuah bejana sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Jadi kekerasan hati dan kelekatan roh kita kepada hal-hal yang duniawi menyebabkan kita kehilangan kemampuan untuk merespon keselamatan dan proses pembaharuan yang dikerjakan oleh Allah.  Itu sebabnya Tuhan Yesus memanggil kita untuk memahami dan mempraktekkan makna memikul salib. Di Luk. 14:27, Tuhan Yesus berkata: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi muridKu”. Makna memikul salib di sini jelas menunjuk kepada kesediaan untuk menerima beban dari Kristus, dan bukan menerima dan memikul berbagai beban dosa. Dalam hidup sehari-hari kita sering menghadapi  kerancuan untuk membedakan antara memikul salib Kristus dengan memikul beban dosa. Padahal makna memikul beban dosa terjadi karena kita memilih untuk mengikuti hawa nafsu duniawi. Sebaliknya memikul salib Kristus, kita menerima tugas dan kondisi yang menempatkan kita dalam suatu situasi yang sulit. Memang saat kita menerima dan memikul beban dari Tuhan sangat berat tetapi pada pihak lain juga membebaskan dan menyelamatkan. Sebaliknya ketika kita memikul beban dosa, beban tersebut umumnya ringan dan menyenangkan tetapi membawa kita kepada kebinasaan dan hukuman Allah. Jadi jikalau kita mampu membuat pilihan etis yang lepas dari kelekatan kuasa dunia, kita akan memperoleh anugerah keselamatan yang membebaskan diri kita.

Salah satu bentuk kelekatan yang menghalangi kita kepada proses pembentukan Allah adalah cinta diri yang berlebihan kepada para anggota keluarga, nyawa dan harta milik kita. Kita sering menempatkan keluarga, nyawa dan milik kita sedemikian penting, sehingga mereka sering menjadi “penguasa” atas hidup kita. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Jikalau seorang datang kepadaKu, dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudara laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu” (Luk. 14:26). Tentu perkataan ucapan Tuhan Yesus dengan ungkapan “membenci” di sini bukanlah dalam pengertian yang sebenarnya. Lebih tepat makna kata “membenci” di sini justru lebih menunjuk kepada pengertian “mengasihi lebih dari pada apapun”. Sehingga barangsiapa yang mengasihi ayah, ibu, isteri, anak-anak, saudara-saudara laki-laki atau perempuan dan nyawanya sendiri lebih dari apapun juga, maka dia tidak layak untuk mengikut Tuhan Yesus. Sebab seseorang yang mengasihi para anggota keluarga, nyawa dan harta miliknya lebih dari pada apapun juga pastilah seorang yang tidak ingin menaklukkan diri di bawah kehendak Allah. Dia akan lebih cenderung ingin memberlakukan keinginan dan orientasi hidupnya sebagai yang paling utama. Kita dapat melihat dalam banyak contoh ketika seseorang menempatkan para anggota keluarganya sebagai yang paling utama, maka akan muncul sikap nepotisme. Atau seseorang yang terlalu mencintai nyawanya sendiri sehingga melahirkan sikap egoisme diri, dan rasa cinta yang berlebihan kepada etnisnya sendiri akan melahirkan sikap rasialisme; rasa cinta yang berlebihan kepada bangsanya sendiri melahirkan sikap chauvinisme.  Demikian pula rasa cinta kepada uang dan materi yanga berlebihan akan melahirkan sikap materialisme. Semua sikap tersebut terwujud dalam realita kehidupan manusia karena kita tidak  menempatkan Allah sebagai satu-satunya pusat kehidupan kita.

Onesimus sebelumnya sempat menjadikan harta milik atau uang sebagai yang paling utama sehingga dia berani melakukan tindakan yang merugikan tuannya. Tetapi ketika dia berjumpa dengan rasul Paulus, dia mengenal kasih Allah di dalam Kristus, Onesimus kemudian bersedia bertobat dan mengalami kehidupan yang baru. Dia tidak memilih untuk mengeraskan hati, tetapi dia lebih memilih untuk membiarkan kuasa kasih Kristus bekerja mentransformasikan kehidupannya. Keadaan akan berbeda manakala Onesimus waktu itu tetap mengeraskan hati dan tidak mau bertobat. Proses pemulihan yang dilakukan Allah kepadanya mungkin menjadi sangat panjang dan berliku. Lebih dari pada itu proses pemulihan yang dikerjakan Allah di dalam hidup Onesimus mungkin sangat menyakitkan dan memalukan. Tetapi syukurlah Onesimus bersedia membuka hatinya dan bertobat. Sehingga  dia kini bukan hanya dapat kembali ke rumah Filemon; tetapi juga dia dianggap sebagai buah hati dan anak dari rasul Paulus, bahkan Onesimus tidak lagi dianggap oleh Filemon sebagai seorang budak, tetapi dia diangkat menjadi  saudara kekasih di dalam Kristus.  Onesimus bersedia membuka seluruh hatinya terhadap pekerjaan Roh Kudus, dan dia bersedia untuk melepaskan segala kelekatan duniawi agar dia dapat mengikut Kristus dengan paradigma yang baru.

Pilihan Etis Yang Bertanggungjawab
Kita sering menjumpai seseorang yang bersaksi tentang pertobatan dan hidup barunya, tetapi dalam waktu yang tidak terlalu lama kita kemudian mendengar dia kembali ke dunia lamanya. Pilihan etisnya untuk hidup baru di dalam Kristus ternyata tidak bertahan lama. Dia kembali lekat dengan keinginan dan hawa-nafsunya dan sikap egoismenya yang tidak peduli dengan kondisi sesama. Sikap yang tidak konsisten ini terjadi karena kita sering tidak mengambil keputusan etis yang didasari oleh pertimbangan yang masak. Keputusan etis kita sering didasari oleh motif yang cenderung praktis, emosional dan kurang menyadari konsekuensinya. Akibatnya kita tidak mampu mempertahankan keputusan etis untuk mengikuti Kristus dengan seluruh risiko yang seharusnya kita tanggung. Di Luk. 14:28-30, Tuhan Yesus mengingatkan agar setiap orang yang mengambil keputusan etis untuk mengikut Dia haruslah memperhitungkan segala sesuatu dengan masak, seperti orang yang mau mendirikan menara; yaitu: “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?  Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia,  sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya”.  Pilihan etis yang bertanggungjawab selalu memperhitungkan secara cermat apa artinya mengikut Kristus, dan dengan jujur dia membuat komitmen iman. Kalau kita senantiasa cermat dan jujur, maka kita tidak akan pernah menyesal mengikut Kristus khususnya saat doa-doa kita tidak terjawab atau saat harapan-harapan kita kandas. Pilihan etis yang bertanggungjawab senantiasa melibatkan sikap yang rasional dan sikap kritis, sehingga kita mengetahui dengan pasti mengapa kita memilih untuk mengikut Kristus dan bukan kepada yang lain. Dengan demikian pilihan etis yang bertanggungjawab akan mencegah kita untuk menyesal dan kecewa mengikut Kristus.

Pilihan etis yang bertanggungjawab pada akhirnya harus mampu memberikan arah yang baru dan pasti sebab kita telah menggumulinya dengan cermat dan sepenuh hati. Kita tidak lagi terlalu bergumul dengan kecenderungan dan hawa-nafsu manusia lama kita, sebab kita telah berhasil mengubur dalam-dalam semua hal yang najis dan tidak berkenan kepada Allah. Sebab bukankah dalam hidup sehari-hari kita masih menjumpai umat percaya yang terus bergumul dan gagal melawan kecenderungan manusia lamanya, sehingga dia tidak pernah mampu bertumbuh secara sehat. Memang, selama kita masih hidup di dalam dunia ini kita akan terus-menerus bergumul dengan kelemahan dan keberdosaan diri kita. Tetapi tidak berarti pergumulan tersebut harus menyita seluruh kekuatan,  kemampuan dan kesempatan yang telah dianugerahkan Allah. Bilamana hal ini yang terjadi, maka dapat dipastikan kita tidak akan mampu menjadi garam dan terang dunia. Kekristenan kita tidak akan efektif dan berwibawa sebab kita harus terus-menerus mengurus kelemahan dan kekurangan diri sendiri. Tepatnya kita akan gagal memancarkan kehidupan yang seharusnya membawa berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Pilihan etis yang bertanggungjawab karena telah memperhitungkan semua konsekuensinya dalam mengikut Kristus akan menjadi  pilihan etis yang lebih stabil dan mantap dalam menghadapi gelombang kehidupan ini.

Panggilan
Allah telah memprogram kehidupan umat manusia dengan kebebasan kehendak, sehingga seharusnya kita mampu membuat pilihan-pilihan etis yang tepat di saat kondisi yang sering tidak tepat. Pilihan-pilihan etis yang tepat akan memampukan kita untuk menjadi seorang pribadi yang kuat secara karakter dan bijaksana dalam bersikap. Karena itu pilihan-pilihan etis yang tepat membutuhkan kesediaan diri untuk dibentuk oleh Allah, ditebus oleh darah salib Kristus dan diterangi oleh Roh Kudus. Karena keberadaan dan karakter kita telah dirusakkan oleh kuasa dosa. Itu sebabnya pilihan-pilihan etis yang berkualitas hanya mungkin terjadi jikalau kita mau merendahkan hati untuk diproses dalam karya keselamatan Allah. Yang mana karya keselamatan Allah secara paripurna terjadi dalam penebusan Kristus. Itu sebabnya mengapa kita memilih secara sadar dengan segala konsekuensinya untuk mengikut Kristus, dan tidak kepada yang lain. Karena Kristus adalah sang wahyu Allah. Tepatnya Kristus adalah penyataan sang Firman Allah yang pada hakikatnya adalah Allah itu sendiri. Kita memilih Kristus dan menempatkan Dia sebagai Tuhan karena kualitas dan karakter ilahi yang dimilikiNya. Selain itu melalui kehidupan Kristus, kita dapat melihat karya kasihNya yang mengungkapkan seluruh kemurahan, anugerah dan kerahiman Allah. Karena itu suatu pilihan etis yang tidak mencerminkan karakter Kristus, bukanlah pilihan etis yang berkualitas.

Jika demikian, pilihan etis kita untuk peduli kepada sesama yang bersalah adalah karena mereka dikasihi oleh Kristus. Bila Kristus berkenan menerima umat yang berdosa, maka selayaknya kita membimbing dan menolong mereka ke arah yang benar. Demikian pula bilamana kita memilih tidak lekat kepada kuasa duniawi adalah karena kita tahu telah ditebus dengan darah Anak Allah. Melalui karya penebusan Kristus, kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah sehingga kita tidak lagi tertarik dengan tawaran dan godaan dunia ini. Bagaimanakah dengan kehidupan saudara? Apakah kehidupan kita ditandai oleh kehidupan yang bermakna, yaitu kehidupan yang konsisten dengan nilai-nilai Kristus dan kerajaanNya? Ataukah kita lebih memilih untuk mengambil keputusan etis yang menjauhkan diri kita dari kasih-karunia Allah? Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com
Logged
Pages: [1] | Go Up Print 
CyberGKI Forum  |  Kristen  |  Renungan  |  Topic: KHOTBAH MINGGU, 5 SEPTEMBER 2010 (TEMA: "MEMIILIH KEHIDUPAN" « previous next »
Jump to:  



Login with username, password and session length

Copyright 2006 - 2009 by Simple Machines LLC
Page created in 1.037 seconds with 19 queries.
http://www.gki.or.id/wap Penggunaan
RSS