BERPERILAKU ADIL DAN JUJUR.
Amsal 8:4-7, Mzm 113:1-9, I Tim 2:1-7, Luk 16:1-13.
Latar-belakang.Wah zaman begini bicara tentang kejujuran, banyak orang yang sinis dan mengatakan : ”Jujur akan hancur”.
Kepada siapapun juga kita harus waspada, harus curiga dan jangan jujur-jujur amat, jangan polos-polos amat karena kita akan dimakan oleh kejahatan orang lain.
Dunia hipnotis telah merambah dan digunakan untuk kejahatan dengan memperdaya kurbannya dan hal itu akan mudah terjadi kepada mereka yang jujur dan polos, tahu-tahu harta yang dibawanya telah lenyap. Jadi sekali lagi jangan polos dan jangan jujur-jujur amat, katanya kita akan mudah kena gendam atau hipnotis. Apalagi
di dunia politik semboyannya : tidak ada musuh yang abadi. Akan menjadi musuh bila tidak sama dengan kepentingannya, karena itu gunakan semua cara untuk mencapai tujuan politiknya. Orang yang jujur akan mudah ditebak dan tidak akan langgeng di dunia politik alias akan tergusur. Ah kita tahu kan, perilaku para politikus sangat memprihatikan bukan ? yang benar bisa disalahkan, yang salah bisa dibenarkan. Semuanya bisa diatur, yang jujur akan hancur. Demikian juga di
dunia perdagangan : penuh dengan tipu daya dan kong kalikong. Rasanya di dunia nyata sudah putus asa untuk apa memperjuangkan kejujuran, karena seluruh segi kehidupan ini penuh dengan ketidak-jujuran, karena itu peringatannya : jangan jujur-jujur amat karena kita akan dimakan oleh kejahatan orang lain, dan kita sendiri akan hancur.
Isi.Di sinilah arti pentingnya kata-kata Tuhan Yesus yang terdapat dalam kitab Lukas 16:9 – ikatlah persahabatan dengan mempergunakan ”Mamon yang tidak jujur”. Apa yang dimaksud dengan ”mamon yang tidak jujur” ? Ay 8 menerangkan : Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang. Jadi Tuhan Yesus mau mengatakan kepada kita semua :
KEJUJURAN HARUS DISERTAI KECERDIKAN, bila tidak kita akan dimangsa oleh kejahatan orang lain. Ingat pesan Tuhan Yesus : hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Tapi sayang Bendahara yang tidak jujur itu telah menyalah-gunakan kecerdikannya dengan cara mengubah Bon surat hutang : beli 100 tempayan minyak ditulis 50 tempayan minyak, 100 pikul gandum ditulis 80 pikul gandum. Wah pungli, bon asli tapi palsu alias aspal. Kecerdikannya diubah menjadi kelicikan untuk memperdaya orang lain. Karena itu
GUNAKAN KECERDIKANNYA, dan JANGAN KELICIKANNYA. Ikatlah persahabatan dengan kecerdikannya, sedang kelicikannya jangan kita jadikan sahabat. Kitab Amos memperlihatkan dengan jelas akan kelicikan umat pada zamannya : menginjak-injak orang miskin dan membinasakan orang sengsara dengan cara mengecilkan efa membesarkan syikal (NB : efa = ukuran isi sebesar kurang lebih 36 liter, syikal = ukuran timbangan sebesar 11,4 gram artinya dikurangi tidak sesuai dengan ukurannya, sehingga merugikan pembeli) berbuat curang dengan neraca palsu, menjual terigu rosokan, orang miskin hanya dihargai dengan sepasang kasut. Amos 8:5-6. Mereka tidak memberlakukan keadilan bagi sesamanya. Sikap adil berarti memperlakukan sesamanya tanpa diskriminatif Karena itu Amos mau mengatakan :
KEJUJURAN SUPAYA TIDAK JATUH PADA KELICIKAN HARUS DISERTAI DENGAN KEADILAN. Keadilan dan kejujuran harus menjadi perilaku hidup orang beriman, supaya nama Tuhan dipermuliakan, agar hidupnya menjadi berkat bagi sesama. Itulah sebabnya R Paulus menasehatkan agar doa syafaat yang dinaikan bukan untuk kepentingan (sendiri, keluarga, gereja dan orang kristen saja), tetapi juga untuk kepentingan semua orang agar semua orang juga merasakan kebaikan Tuhan dan kebaikan Tuhan itu tidak boleh dimanipulasi. Ukuran itu tidak boleh dikurangi demi keuntungan sendiri. Sebab apa ukuran tidak boleh dikurangi ? Sebab Tuhanlah penguasa jagat ini, Pemilik segala sesuatu yang memperlakukan dengan sangat adil, yang hina ditegakkan, yang miskin diangkat, didudukan bersama bersama-sama dengan para bangsawan (Maz 113:7-8). Karena bagi mereka yang memperlakukan sesamanya dengan tidak adil pasti Tuhan tidak berkenan, karena perlakukan sesama dengan adil.
Relefansinya.Dokter Boenyamin Setiawan, pemilik sebuah perusahaan farmasi yang sangat terkenal, memberi kesaksian dalam sebuah majalah bulanan, ia mengatakan :
”DJITU” adalah akronim yang ia ciptakan sebagai budaya kerja dalam perusahaannya. DJITU artinya 1. Disiplin dan dedikasi. 2. Jujur dan jeli. 3. Inovatif dan inisiatif. 4. Tulus dan tanggung jawab. 5. Ulet dan unggul. Disiplin adalah kunci utama keberhasilan dalam hal apapun. Kalau memulai sesuatu, lakukanlah dengan penuh dedikasi. Jangan memulainya karena semata-mata ingin memperoleh uang banyak. DJITU juga berarti jeli menangkap peluang. ”Peluang itu kalau tidak ditangkap tidak bermakna apa-apa” Dokter Boen memberi contoh penemuan penisilin oleh Alexander Fleming yang terjadi karena kebetulan. Karena Fleming jeli menangkap peluang, peristiwa kebetulan itu bisa berubah menjadi sebuah penemuan sejarah.
”SEMUA ORANG SEBETULNYA DIHAMPIRI OLEH PELUANG DALAM JUMLAH YANG SAMA, ITULAH KEADILAN TUHAN BAGI SEMUA ORANG. YANG MEMBEDAKAN KEMUDIAN ADALAH KEJELIAN MASING-MASING ORANG MENANGKAP PELUANG ITU”. Agar peluang itu bisa dimanfaatkan dengan baik, diperlukan sifat inovatif dan kerja inisiatif. Jika kita melakukan sesuatu, lakukanlah dengan tulus, jujur dan penuh tanggung-jawab. Agar kita tetap fokus dalam mencapai satu tujuan, kita harus berusaha dengan ulet untuk terus menjadi yang paling unggul. Biarlah kita berperilaku adil dan jujur agar tetap menjadi manusia yang unggul. Ah tentu saja harus dengan cerdik bukan ?. Amin.