Welcome, Guest. Please login or register.
February 05, 2012, 01:27:42 AM
Home | Help | Search | Calendar | Login | Register
News:

CyberGKI Forum  |  Kristen  |  Renungan  |  Topic: KHOTBAH MINGGU, 19 SEPTEMBER (TEMA: "BERPERILAKU ADIL DAN JUJUR") « previous next »
Pages: [1] | Go Down Print
Author Topic: KHOTBAH MINGGU, 19 SEPTEMBER (TEMA: "BERPERILAKU ADIL DAN JUJUR")  (Read 1589 times)
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
Administrator
GKI PERNIAGAAN JAKARTA
Full Member
*****
Offline

Posts: 247


Pdt. Yohanes Bambang Mulyono


View Profile WWW
KHOTBAH MINGGU, 19 SEPTEMBER (TEMA: "BERPERILAKU ADIL DAN JUJUR")
« on: September 03, 2010, 05:27:01 PM »

Renungan Minggu, 19 September 2010
Tahun C: Minggu Biasa
Warna: Hijau

BERPERILAKU ADIL DAN JUJUR
Am. 8:4-7; Mzm. 113; I Tim. 2:1-7; Luk. 16:1-13


Pengantar
Standard etis-moral iman Kristen mengacu kepada Sepuluh Firman Allah. Standard etis-moral tersebut sangat tepat. Karena melalui Sepuluh Firman tersebut kita dapat bercermin bagaimanakah kita harus mengasihi Allah dan sesama. Itulah hukum kasih yang utama. Namun ternyata melaksanakan Sepuluh Firman Allah tidak menjamin kita untuk melaksanakan kasih secara utuh. Sebab Sepuluh Firman merupakan hukum-hukum Allah yang hanya melarang kita untuk melakukan dosa-dosa yang kelihatan. Namun dosa-dosa yang tidak kelihatan namun potensial untuk kita lakukan tidak terakomodasikan kecuali hukum ke sepuluh, yaitu: “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu" (Kel. 20:17).  Jenis dosa-dosa yang tidak kelihatan namun potensial untuk kita lakukan merupakan 7 dosa maut (“Seven deadly sin”), yaitu: kesombongan, iri-hati, amarah, serakah, nafsu-birahi, rakus, dan malas. Karena itu bisa terjadi umat tidak pernah melanggar Sepuluh Firman Allah secara formal dan ritual, tetapi mereka justru secara intensif melakukan 7 dosa maut tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu dari ketujuh dosa maut adalah sikap serakah atau loba. Yang mana sikap serakah atau loba tersebut dapat mendorong umat untuk menista hari-hari yang dikuduskan oleh Allah. Sebab hari-hari yang dikuduskan itu tidak direspon umat untuk mempermuliakan Allah tetapi justru dimanfaatkan untuk mencari keuntungan materi semata. Nafsu serakah juga akan mendorong umat untuk membengkokkan keadilan menjadi ketidakadilan, kejujuran menjadi dusta, kekuasaan menjadi sikap sewenang-wenang, dan tindakan mengeksploitasi sesama. Bahkan nafsu serakah juga akan mendorong umat untuk menutup hati-nurani dengan mengorbankan sesama. Kita dapat melihat sikap beberapa orang yang tanpa nurani dengan menjadikan sesamanya sebagai tumbal demi memuaskan nafsu serakahnya. Karena itu setiap umat dipanggil untuk berperilaku adil dan jujur agar mereka dapat mengendalikan nafsu serakah yang menguasainya. Sikap adil berarti kita mampu memperlakukan setiap sesama tanpa perbedaan. Sedang sikap jujur berarti kita tidak pernah berdusta, menipu dan berlaku licik. Sikap jujur mencerminkan suatu integritas diri dan jauh dari sikap yang munafik, sehingga setiap kita berlaku adil dan jujur, kita mempermuliakan nama Allah. Karena di balik sikap yang adil dan jujur, kita mengaku dengan iman bahwa Allah adalah Tuhan sebagai satu-satunya pemilik kehidupan ini. Seharusnya kita mengasihi Allah dengan mengasihi sesama di sekitar kita. Berita inilah yang disampaikan oleh nabi Amos

Allah Pemilik Kehidupan
Kitab Amos bukan sekedar suatu berita tentang gerakan sosial yang membela keadilan bagi orang-orang yang tertindas. Walaupun berita kitab Amos menyampaikan perlawanan kepada ketidakadilan dan penindasan kepada sesama yang lemah. Namun kitab Amos tetap menempatkan Allah sebagai pemilik kehidupan dan pencipta seluruh umat manusia. Karena itu kitab Amos menyebut nama Allah sebagai Allah semesta alam (Am. 5:27). Prinsip keadilan dan kebenaran yang seharusnya terjadi dalam kehidupan ini ditempatkan dalam kerangka Allah semesta alam, sehingga seluruh umat manusia tanpa terkecuali adalah milik Allah. Apabila Allah adalah pemilik kehidupan, maka Allah menentang setiap umat yang menindas sesamanya. Di Am. 8:4 diawali dengan perkataan “Dengarlah ini”. Pernyataan ini mengingatkan kita ketika Allah berfirman di Ul. 6:4-5, yaitu: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”. Dengan ungkapan “dengarlah” (syema) di Ul. 6:4-5 menegaskan 2 prinsip utama, yaitu: prinsip pertama tentang pengakuan iman (kredo) bahwa Tuhan itu esa. Allah itu satu-satunya, dan tidak ada yang lain. Dan juga prinsip kedua adalah implementasi dari pengakuan iman, yaitu panggilan dan kewajiban etis-moral setiap umat untuk mengasihi Allah dengan segenap kedirian mereka. Sedang di Am. 8:4, kata “dengarlah” ditempatkan sebagai suatu teguran Allah kepada umat yang mengaku percaya dan beriman kepada Allah yang esa, namun mereka menginjak-injak orang miskin dan membinasakan orang sengsara. Jelas sikap ambigu atau mendua bukanlah sikap yang berkenan kepada Allah. Kita tidak mungin mempermuliakan Allah dengan menyengsarakan orang lain baik secara batin maupun secara fisik.

Manipulasi Dan Mengeksploitasi
Sikap umat Israel khususnya para pedagang dan orang-orang kaya yang berbisnis pada zaman Amos sedemikian loba untuk memperoleh keuntungan, sehingga mereka kurang mendukung umat Tuhan secara keseluruhan melaksanakan ibadah di bulan baru dan hari Sabat. Mereka berharap ibadah di bulan baru dan Sabat dapat cepat berlalu agar mereka dapat segera menjual gandum dan terigu. Mereka merasa waktu yang tersedia selama 6 hari tidaklah cukup untuk memperoleh keuntungan. Karena itu mereka berharap dapat memperoleh keuntungan juga pada hari ketujuh, yakni hari Sabat. Selain itu mereka berharap dapat menggunakan bulan baru yang mengawali setiap bulan sebagai kesempatan untuk memperoleh “keuntungan tambahan”. Karena setiap bulan baru umat Israel ke Bait Allah untuk mempersembahkan kurban ucapan syukur atau perayaan ibadah. Selama ibadah hari Sabat atau perayaan bulan baru mereka manfaatkan untuk mengkorup hari-hari yang dikuduskan bagi Tuhan.  Dengan demikian para pedagang atau orang-orang yang kaya yang berbisnis itu telah bersikap serakah, loba atau tamak terhadap kekayaan. Walaupun mereka telah memperoleh kekayaan yang berlimpah, mereka masih menganggap belum mampu memenuhi keinginan yang diharapkan. Mereka kemudian memperlakukan orang-orang miskin dengan cara menindas, menginjak-injak dan membinasakan mereka. Hawa-nafsu serakah telah menutup hati-nurani, sehingga mereka berlaku kejam dan sewenang-wenang kepada sesamanya.  Tepatnya sikap serakah akan membuat seseorang melihat sesama yang lebih lemah sebagai pihak yang dapat dijadikan korban sebagai pemuas hawa-nafsunya.

Selain sikap serakah telah mendorong mereka untuk mengkorup dan menistakan hari-hari yang dikuduskan oleh Allah dan berlaku kejam kepada sesama, sikap serakah juga akan mendorong mereka untuk menipu dan berlaku curang. Di Am. 8:5 para pedagang dan orang-orang kaya yang berbisnis itu menawarkan terigu dengan mengecilkan efa dan membesarkan syikal. Intinya mereka berbuat curang dengan neraca palsu. Mereka secara curang memalsukan ukuran neraca, sehingga melalui neraca sebagai alat ukur yang bertujuan untuk menjamin kejujuran diubah menjadi alat penipuan. Dengan cara itu mereka menyerahkan barang yang terlalu sedikit namun dengan keuntungan yang berlipat. Lebih celaka lagi terigu yang mereka jual dengan harga yang mahal itu adalah ternyata terigu rosokan, atau terigu yang tidak layak untuk dikonsumsi.  Dengan cara yang demikian mereka berhasil meraup keuntungan yang sangat fantastis. Sikap mereka bagaikan seekor lintah yang menghisap darah sekenyang-kenyangnya. Sangatlah tepat bilamana mereka sering disebut dengan para lintah darat. Walaupun demikian kejahatan mereka tidak berhenti sampai di situ. Mereka tidak segan untuk membeli orang lemah dan orang miskin untuk ditukar dengan sepasang kasut. Artinya para pedagang atau orang-orang kaya yang berbisnis itu tidak segan menjadikan orang lemah dan orang miskin sebagai budak belian karena mereka tidak mampu membayar hutang untuk pinjaman sepasang kasut atau uang.

Respon Allah dilukiskan di Am. 8:7 yaitu: “TUHAN telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: "Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!” Artinya Allah tidak akan mengampuni setiap kesalahan dan kejahatan orang-orang yang telah menindas dan menghisap sesamanya yang lebih lemah. Kata “melupakan” merupakan kebalikkan dari sifat Allah yang “mengingat”.  Bandingkan perkataan Allah  di Yes. 43:25 yang mau untuk “mengingat” kembali, yaitu: “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu”. Selama Allah masih mau “mengingat” maka masih tersedia anugerah pengampunanNya. Allah yang mau “mengingat” adalah manifestasi dari dari kasih Allah yang melampaui seluruh pemikiran dan kemampuan manusiawi, walaupun saat itu umat sedang berdosa dan meninggalkan Allah. Tetapi ketika Allah mengambil keputusan dan bersumpah bahwa Dia tidak akan melupakan, berarti dosa dan kejahatan mereka telah begitu besar sehingga tidak akan tersedia pengampunan.

Kristus Berpihak Kepada Ketidakjujuran?
Tindakan untuk mengasihi dan berlaku setia kepada mereka yang tidak mengasihi dan tidak setia kepada kita membutuhkan enersi mental dan spiritutalitas yang tinggi.  Untuk itu pertanyaan yang lebih mendasar lagi adalah sejauh mana kita telah memiliki enersi mental dan spiritualitas tersebut? Untuk maksud itulah Tuhan Yesus memberikan pengajaran dengan perumpamaan di Luk. 16:1-13 tentang bendahara yang tidak jujur. Hal yang aneh dalam perumpamaan Tuhan Yesus tersebut adalah sepertinya Tuhan Yesus memberi pujian kepada bendahara yang tidak jujur. Namun kita tidak boleh terlalu cepat menarik kesimpulan bahwa Tuhan Yesus menghargai dan memuji tindakan yang tidak jujur dari bendahara tersebut. Kita perlu memahami budaya zaman dahulu perihal pengelolaan uang yang dipercayakan kepada seorang bendahara.  Si pemilik modal hanya menyediakan suatu dana agar manager yang diangkatnya tersebut mampu mengelola uang tersebut sehingga usaha tersebut menghasilkan keuntungan. Karena itu manager yang disebutnya sebagai bendahara yang menentukan tingkat besarnya suatu bunga. Sehingga risiko kerugian harus ditanggung penuh oleh bendahara; tetapi kalau dia berhasil, maka dia akan memperoleh keuntungan lebih.

Dalam perumpamaan tersebut akhirnya diketahui oleh si pemilik uang bahwa bendaharanya telah menghambur-hamburkan uang. Bendahara tersebut segera dipanggil oleh tuannya untuk mempertanggungjawabkan  seluruh keuangan yang telah dikelolanya. Apa yang kemudian dilakukan oleh bendahara tersebut? Di Luk. 16:5-7, bendahara tersebut mengurangi jumlah hutang dari para debiturnya. Namun dengan mengurangi jumlah hutang dari para krediturnya, berarti pula sang bendahara kehilangan haknya untuk memperoleh keuntungan yang seharusnya. Jadi sebenarnya dia memotong hak keuntungan untuk dirinya dari pemotongan jumlah hutang dari para krediturnya. Sehingga pada akhirnya sang bendahara tersebut mampu mempertanggungjawabkan seluruh keuangan yang telah dipercayakan kepadanya. Sebab uang yang menjadi hak dari tuannya itu tidak berkurang sedikitpun, sehingga dia tidak jadi dipecat dari jabatannya sebagai seorang manajer.

Dari perumpamaan Tuhan Yesus ini, kita dapat belajar bagaimana sang bendahara memikirkan masa depannya secara cerdik. Walaupun dia pernah melakukan kesalahan besar, namun dia segera memperbaiki diri dengan memotong apa yang menjadi hak keuntungan pribadinya. Secara finansial sang bendahara itu tidak memperoleh banyak keuntungan dari hak yang seharusnya dia terima, tetapi secara moril dia mampu mempertanggungjawabkan sikapnya. Demikian pula dengan makna kesetiaan yang tanpa syarat. Seorang yang mampu tetap setia kepada orang yang tidak setia berarti dia bersedia mengurangi atau memotong apa yang menjadi haknya. Tetapi dengan bersikap demikian, sesungguhnya dia telah menyelamatkan dirinya dari orang yang tidak setia tersebut. Jadi tekanan utama dari makna perumpamaan bendahara di Luk. 16 bukanlah soal ketidakjujurannya, tetapi kerelaan dia untuk memotong apa yang menjadi hak keuntungannya. Ketidakjujuran bendahara tersebut terjadi ketika dia melakukan kesalahan dengan cara menghambur-hamburkan uang yang bukan miliknya, tetapi dia segera berbenah diri dan mampu mempertanggungjawabkan seluruh keuangan yang dikelolanya, sehingga dia akhirnya dapat menyelamatkan masa depan dan kariernya.

Rela Memotong Hak Pribadi
Kita gagal untuk berlaku setia karena kita sering mempertahankan hak-hak kita sedemikian rupa, sehingga kita tidak mampu menyediakan ruang sedikitpun untuk memberi pengampunan kepada para  musuh kita. Selain itu melalui perumpamaan di Luk. 16 Tuhan Yesus mengingatkan agar kita mau memberlakukan nilai-nilai kesetiaan dan kasih seperti kita menggunakan dan mengelola keuangan setiap hari. Bukankah tiap-tiap hari kita harus menggunakan dan mengelola keuangan? Uang menjadi sesuatu yang begitu akrab dalam kehidupan nyata kita. Tetapi apakah kita juga akrab dengan prinsip-prinsip kesetiaan yang tanpa syarat setiap hari? Apabila bendahara yang tidak jujur itu mampu memikirkan masa depannya, maka seharusnya kita juga serius memikirkan masa depan kita yaitu kehidupan kekal bersama dengan Kristus. Untuk itu demi hidup yang kekal, apakah kita bersedia untuk memotong atau mengurangi apa yang menjadi hak-hak kita, agar kita dapat menyelamatkan orang-orang yang jauh dan tidak peduli kepada Allah.

Jadi prinsip spiritualitas iman Kristen adalah umat dipanggil untuk bersedia dengan rela mengurangi dan memotong segala hak kita, agar umat memiliki ruang yang cukup lebar untuk mengasihi dan berlaku setia kepada mereka yang membenci dan mengkhianati kita. Sehingga kita dapat terus-menerus mendoakan mereka agar mereka terus diperbaharui oleh Roh Kudus. Dan pada saat yang buruk di mana para lawan kita mengalami kesusahan atau kemalangan, maka  kita dengan tulus menolong mereka agar  mereka dapat mengalami wujud dari kasih Allah yang sempurna.


Doa Untuk Keadilan Dan Kesejahteraan Umat

  Nasihat  rasul Paulus di I Tim. 2:1-7 pada prinsipnya mengingatkan umat percaya untuk menempatkan doa syafaat agar tidak terarah kepada kepentingan pribadi mereka sendiri saja. Dalam kehidupan umat percaya sering muncul kecenderungan yang memperoleh kenikmatan rohani dalam menaikkan doa-doa mereka. Mereka sering menaikkan doa hanya untuk kesejahteraan dan kemakmuran keluarga, kesuksesan dalam bekerja, kemudahan memperoleh fasilitas, dan berkat-berkat tambahan lainnya. Padahal suatu doa seharusnya lahir dari sikap iman dan kasih yang terarah kepada kemuliaan dan karya Allah. Yang mana kemuliaan dan karya Allah secara utuh juga dinyatakan dalam lingkup yang lebih luas dari pada sekedar kepentingan diri sendiri atau keluarga. Kemuliaan dan karya Allah dinyatakan dalam kesejahteraan seluruh umat, yaitu terciptanya keadilan dan kebenaran yang diemban oleh para pemerintah sesuai wewenang Allah. Bilamana tercipta suatu kondisi ketidakadilan, sikap yang sewenang-wenang, kekerasaan, ketidakamanan (kerusuhan) dan lemahnya penegakan hukum – pastilah bukan kehendak Allah.  Dalam kondisi yang demikian, nama Allah tidaklah mungkin dipermuliakan. Lebih buruk lagi jikalau umat kemudian menaikkan doa syafaat yang melegitimasikan  sikap egoisme dan pembenaran terhadap seluruh kejahatan dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan dan kesejahteraan. Doa syafaat dimanipulasi untuk meraih tujuan yang duniawi. Karena itu tidak mengherankan mereka memberlakukan ketidakadilan dan sikap yang mengeksploitasi sesama tanpa perasaan bersalah.

Sebaliknya  doa syafaat seharusnya ditujukan untuk kesejahteraan setiap umat sehingga melahirkan suatu transformasi sosial. Yang mana dalam proses transformasi sosial tersebut setiap umat semakin mampu hidup sejahtera, aman, bahagia, memiliki jaminan keadilan, hukum ditegakkan dan relasi antar umat harmonis. Tentunya dengan kondisi demikian nama Allah akan dipermuliakan. Spiritualitas doa yang demikianlah yang disebut oleh rasul Paulus sebagai: “Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (I Tim. 2:3-4). Dasar teologisnya adalah karena setiap umat dan pemerintah pada hakikatnya telah ditebus oleh Kristus. Sehingga doa umat percaya seharusnya menjadi sikap spiritualitas yang terus-menerus menghadirkan karakter Kristus dalam setiap aspek kehidupan. Karena Kristus adalah Tuhan, penguasa, dan satu-satunya sang pengantara yang telah menyerahkan diriNya sebagai tebusan bagi setiap manusia (I Tim. 2:5-6). 

Panggilan
Hampir semua umat beragama dengan penuh antusias menyatakan pengakuan bahwa Allah adalah pemilik kehidupan. Demikian pula umat Kristen mengaku Allah di dalam Kristus adalah Allah yang menguasai dan memiliki seluruh kehidupan ini. Namun dalam praktek hidup, pengakuan tersebut tidak diberlakukan secara konsisten dalam sikap etis-moral kepada sesama manusia. Sesama sering dijadikan korban. Ungkapan “homo homini lupus” (manusia menjadi serigala bagi sesamanya) yang dinyatakan oleh Thomas Hobbes menyelimuti kehidupan kita sehari-hari. Homo homini lupus dapat berbentuk riba yang tinggi, merebut secara licik milik sesama, perdagangan manusia, gaji yang di bawah standard atau kelayakan hidup, jam kerja yang melampaui batas kemampuan, dan sebagainya. Secara tegas, Allah berpihak kepada korban dan melawan setiap penindas sesamanya.

Gambaran kehidupan yang jauh dari keadilan terlihat dari kisah “Saudagar dari Venesia” (Merchant of Venice) yang ditulis oleh William Shakespeare dapat membantu kita untuk memahami panggilan iman secara konkrit. Demi meminang Portia (gadis bangsawan), Bassanio meminjam uang tiga ribu dukat pada sahabatnya, Antonio. Namun Antonio sedang tidak punya uang, sehingga dia meminjam uang  dari saudagar musuhnya yang suka membuat riba yang tinggi, yaitu Shylock. Sebenarnya Shylock tak sudi menolong musuhnya, tapi akhirnya ia menolong musuhnya asalkan Antonio mau menandatangani perjanjian. Perjanjiannya adalah bila Antonio tak sanggup membayar hutang pada waktu yang ditentukan, maka Shylock boleh memotong daging Antonio sekati beratnya. Akhirnya Antonio setuju, Bassanio pun menikahi Portia. Tetapi terdengar kabar bahwa kapal barang Antonio karam, sehingga ia tak bisa membayar hutang tepat waktu. Akibatnya Antonio dipenjara. Mendengar ini, Bassanio merasa bersalah dan mengatakan semuanya pada Portia. Portia kemudian menyuruh suaminya pergi membawa uang yang jumlahnya beberapa kali lipat dari tiga ribu dukat untuk melunasi hutangnya. Ternyata di pengadilan, Shylock enggan menerima uang pembayaran itu dan dia tetap bersikukuh pada isi perjanjian yang telah dibuat dengan Antonio. Pengacara Antonio, Doktor Balthasar, juga taat pada aturan, atau isi perjanjian itu. Doktor Balthasar yang tak lain adalah Portia yang menyamar, seolah-olah sedang memihak Shylock. Namun dengan kehati-hatiannya dalam berbicara, Doktor Balthasar mampu membalikkan isi perjanjian itu. Shylock diperbolehkan untuk memotong daging Antonio asalkan dia tidak boleh menumpahkan darah setetespun. Karena isi perjanjian hanya menyatakan “boleh memotong daging Antonio seberat 1 kati saja” tetapi tidak tertulis “darah yang tertumpah”.  Karena itu Shylock justru yang dihukum karena dia telah merencanakan untuk menganiaya dan membunuh seorang warga Venezia.

Apakah kita berlaku seperti Shylock yang kikir dan kejam, ataukah kita mau berlaku seperti doctor Balthasar yang tulus dan cerdik untuk membela sesama yang teraniaya. Bagaimanakah sikap saudara? Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com
 


« Last Edit: September 20, 2010, 07:43:08 PM by Pdt. Yohanes Bambang Mulyono » Logged
Pages: [1] | Go Up Print 
CyberGKI Forum  |  Kristen  |  Renungan  |  Topic: KHOTBAH MINGGU, 19 SEPTEMBER (TEMA: "BERPERILAKU ADIL DAN JUJUR") « previous next »
Jump to:  



Login with username, password and session length

Copyright 2006 - 2009 by Simple Machines LLC
Page created in 0.924 seconds with 18 queries.
http://www.gki.or.id/wap Penggunaan
RSS