" KRISIS SEBAGAI PELUANG UNTUK BERUBAH “
Yesaya 1:10-18, Maz 32:1-7, II Tes 1:1-4,11-12, Luk 19:1-10.
Hari ini, 31 Oktober oleh gereja diperingati sebagai hari reformasi. Tepatnya 31 Oktober 1517 Marthin Luther mengeluarkan 95 dalil yang diletakkan di pintu gereja Kastil, Wittenberg, Jerman. Hal ini terjadi akibat krisis gereja yang menjual pengampunan dosa (indulgensia) umat oleh imam. Salah satu semboyan reformasi yang sangat penting adalah : ecclesia reformata, ecclesia semper reformanda artinya gereja harus secara terus menerus diperbaharui, termasuk orang-orangnya. Artinya apa saja dapat diubah (tentu lewat prosedur yang berlaku) : baik Tata Gerejanya, liturginya dsbnya, tapi satu hal tidak boleh diubah yaitu pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat. Itulah yang menjadi fondasi gereja. Kata Tuhan Yesus Mat 16:18 – Di atas batu karang ini yaitu di atas pengakuan Petrus : Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup, Aku akan mendirikan JemaatKu (Mat 16:18). Pengakuan inilah yang menjadi ciri khas gereja dan tidak boleh diubah.
Di Indonesia, kita juga pernah mengalami reformasi, 21 Mei 1998 saat Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden, akibat dari krisis ekonomi hebat yang terjadi di negeri ini dan demontrasi mahasiswa secara besar-besaran, tragedy Trisakti dan kasus Mei. Negara dalam keadaan kacau, maka sejak saat itulah gema reformasi dikumandangkan terus. Di sana-sini terjadi perubahan dalam menata negeri ini. Demo-demo terus menyuarakan pembaharuan dalam segala bidang kehidupan di negeri ini. PERUBAHAN dan PERUBAHAN. Dari 2 contoh di atas kita dapat menarik pelajaran. Yang pertama : Kita akan terus menerus menghadapi perubahan dalam hidup ini. Mari kita siapkan mental, hati dan pikiran kita, agar kita sendiri tidak mandeg/statis, lalu mengatakan pokoknya saya begini ya begini. Atau menjadi marah-marah : dulu tidak seperti ini, sekarang koq begini, aneh-aneh. Atau mungkin menjadi ngambek : dan mengatakan aku tidak cocok lagi lalu pindah bergereja yang bisa menerima dan menampung pendapat dan kemaun kita. Dimanapun pasti ada persoalan, Kita sendiri harus mau berubah kearah yang lebih baik. Ke dua : kalau tema kita mengatakan : Krisis sebagai peluang untuk berubah. Ah jangan sampai ada krisis baru kita mau berubah. Kita harus secara sengaja mengantisipasi perubahan dengan sikap kristis, antisipatip, inovatif dan kreatif (dapat membaca situasi). Gereja seharusnya menjadi tempat pengembangan pemikiran yang seperti itu agar tidak ketinggalan zaman dan hanya ikut-ikutan saja. Termasuk antisipasi bagaimana gereja mendiskusikan peraturan-peraturan pemerintah dan daerah, rencana rancangan undang-undang yang akan diundangkan. Kalau gereja tidak mengatisipasi seperti itu gereja bisa tergusur di negerinya sendiri. Gereja harus menjadi agen-agen pembaharuan.
Sekarang mari kita melihat pengalaman umat yang dilayani oleh Yesaya. Disatu pihak kehidupan keagamaan umat begitu semarak : ay 11 korbanmu yang banyak-banyak, ay 12 umat datang menghadap hadirat Tuhan (beribadah), ay 13 merayakan hari-hari besar keagamaan, bulan baru dan sabat, ay 15 menadahkan tangannya untuk berdoa, doanya khusuk. Dengan kata lain kehidupan ritual – formal keagamaannya sangat khusuk dan semarak. Tetapi di lain pihak dikatakan : ay 10 kehidupan sehari-hari seperti Sodom dan gomora, ay 13 perayaanmu itu penuh kejahatan, ay 15 sebab tanganmu penuh dengan darah, ay 21 umat yang dahulu setia, sekarang sudah menjadi sundal, dulu penuh keadilan dan kebenaran sekarang penuh pembunuh. Wah mirip dengan Negara kita, keagamaannya semarak dan khusuk, tempat-tempat ibadah penuh dengan umat yang berbakti, tetapi Negara ini dikatakan Negara yang korupsinya nomer satu, hak-hak hidup rakyat kecil terabaikan dan diinjak-injak, keadilan dan kebenaran dibolak-balikan, yang benar disalahkan yang salah dibenarkan. Keadaan seperti itu pasti ada yang salah. Maka seruan bertobat oleh Yesaya layak kita perhatikan : INDONESIA BERTOBATLAH, ay 16-17 berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik, usahakanlah keadilan alias hukum ditegakkan, belalah anak-anak yatim dan para janda-janda. Kalau hak-hak hidup masyarakat atau nilai-nilai kemanusiaan dihargai dan dibela dan mau bertobat, maka kata Yesaya : ay 18 Tuhan akan mengampuni dosa-dosanya, seberapa besarpun dosa-dosa kita, dan kamu akan memakan hasil baik negeri ini. KEHIDUPAN BANGSA YANG DIBERKATI OLEH TUHAN. Sedang dalam kitab Mazmur, bila kita berani mengakui kesalahan kita dan bertobat, kita akan mengalami kebahagiaan dan Tuhan akan melindungi kita dari suka-cita. Rasul Paulus dalam II Tesalonika memberi motivasi : mengapa kita harus terus menerus memperbaharui hidup ini adalah supaya Allah menganggap kita makin layak dan makin berkenan kepadaNya, dan nama Tuhan semakin dimuliakan di dalam hidup kita. Hidup yang HARUS makin mendekati keadilan, kebenaran dan semakin mendekati hidup yang Tuhan kehendaki, karena itu kita harus terus berjuang memperbaharui kehidupan ini dalam segala bidang. Pengalaman Zakheus dalam Kitab Lukas menyadarkan kita bahwa dalam hidup ini dibutuhkan keberanian untuk jujur terhadap diri sendiri, berani mengakui kesalahan dan bahkan berani bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri. Berani berubah dan mengubah diri agar makin berkenan kepada Tuhan dan memuliakan namaNya.
Seorang wanita yang baru saja menikah datang pada ibunya dan mengeluh soal tingkah laku suaminya. Setelah menikah, baru ia tahu karakter asli sang suami. Keras kepala, suka bermalas-malasan dan boros. Ibu muda itu mengadu pada Ibunya, namun betapa kagetnya ternyata ibunya diam saja. Bahkan sang ibu malah masuk ke dapur, sementara putrinya terus bercerita dan mengikutinya. Sang ibu lalu memasak air. Setelah sekian lama air mendidih, sang ibu membagi dalam 3 tempat yang mendidih lalumasing-masing tempat dimasukkan wortel, telur dan kopi satu-persatu di tepat tersebut. Tempat pertama ia masukkan wortel. Di kedua ia masukkan telur. Dan di tempat ketiga ia masukkan bubuk kopi. Setelah menunggu beberapa saat, ia mengangkat isi masing-masing tempat tersebut. Wortel yang keras menjadi lunak, telur yang mudah pecah menjadi keras dan kopi memancarkan aroma harum. Lalu sang ibu menjelaskan : “Nak, masalah itu bagaikan air mendidik yang membuat krisis dalam hidup kita, namun bagaimana RESPON kita itulah yang akan menentukan dampaknya. Kita bisa menjadi lembek seperti wortel, mengeras seperti telur ataukah harum seperti kopi. Jadi wortel dan telur bukan mempengaruhi air ….. malah diubah oleh air, sementara kopi membuat air menjadi harum. Dalam tiap masalah atau krisis hidup sebenarnya tersimpan mutiara iman yang berharga. Sangat mudah untuk bersyukur saat keadaan baik-baik saja, kita mengatakan haleluya dan terima kasih Tuhan. Tetapi apakah kita dapat tetap percaya saat pertolongan Tuhan seolah tidak kunjung datang. Hari ini kita belajar ada 3 reaksi orang saat masalah atau krisis datang. Ada yang jadi lembek bagaikan wortel, suka mengeluh, meratap dan hanya mengasihi diri sendiri atau menyalahkan orang lain. Tetapi ada yang mengeras bagaikan telur : marah-marah, jengkel dan berontak kepada Tuhan. Tetapi ada juga justru makin harum bagaikan kopi, ia makin bijaksana, makin taat dan makin berserah percaya pada Tuhan. Ada kalanya Tuhan sengaja menunda pertolonganNya. Apa tujuannya ? Agar kita berubah, makin harum, makin bijaksana, makin taat dan berserah percaya padaNya agar namaNya dipermuliakan. Amin.