Oleh Pdt. Em Daud Adiprasetya
Minggu 27 Maret 2011 (Pra-Paska III)
MENEMBUS KARANG KERAGUAN, MERUNTUHKAN TEMBOK PEMISAH
Keluaran 17:1-7 Mazmur 95 Roma 5:1-11 Yohanes 4:5-42
Seorang lelaki mendekati seorang anak gembala yang sedang menggembalakan ternaknya. “Saya ingin membeli kambingmu, seekor saja,” katanya. “Tidak bisa, Tuan,” kata anak gembala itu, “kambing ini milik majikan saya. Ia akan marah kalau saya menjualnya.” “Tapi kambingmu kan ada banyak, ada ratusan ekor. Kalau kau ambil satu saja tentu majikanmu tak akan mengetahuinya. Lagi pula seandainya suatu ketika ia menyadari ada kambingnya yang hilang, bukankah engkau bisa mengatakan bahwa kambing itu hilang atau dimakan serigala?” Anak gembala itu terdiam.“Ayolah, kau akan mendapat uang dalam jumlah yang cukup banyak. Majikanmu kan sudah memercayaimu, tak mungkin ia akan curiga. Tak mungkin ia akan mengetahuinya.” Anak gembala itu berpikir sejenak lalu berkata dengan mantap,”Betul, majikan saya tidak akan mengetahui hal ini, tapi
bukankah Tuhan saat ini sedang memperhatikan saya?”
Di manakah Tuhan berada saat ini? Mengapa sang anak gembala tidak tergiur sedikit pun dengan tawaran lelaki tadi? Apa yang membedakan anak ini dengan kita? Di dunia ini banyak orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada. Mereka percaya mengenai keberadaan Tuhan karena memang bukti-bukti Tuhan ada itu tak dapat disangkal lagi. Akan tetapi, Tuhan yang diyakini banyak orang adalah
Tuhan yang jauh. Mereka tak bisa membayangkan bahwa Tuhan itu sesungguhnya begitu dekat, bahwa Tuhan itu senantiasa bersama kita setiap saat. ( Dari Buku: You Are Not Alone)
Karena Tuhan itu Roh dan tak dapat kita lihat dengan kasat-mata, maka hal itu membuat kita ragu apakah ia melihat kita. Juga anggapan bahwa Tuhan hanya berada di sorga saja, merupakan “Tembok Pemisah” kita dengan Tuhan. Dwi tunggal
meragukan dan
terpisah mengingatkan kita kepada permainan
cilup-ba. Pada saat
cilup anak kecil merasa tegang dan takut sebab kehilangan wajah orang tuanya, begitu
ba, surprise dan merasa lega karena mendapatkan kembali orang tua yang menjadi tumpuan hidupnya. Pada dasarnya Tuhan tidak mau meninggalkan kita, dan kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Tapi pada kondisi tertentu terpaksa Tuhan “meninggalkan” kita, tapi kadang juga kebodohan kita telah membuat kita kehilangan Tuhan.
Ketika penderitaan adalah segala-galanya. Jika mau realistis maka kita dapat mengerti kekecewaan umat Tuhan di Rafidim saat itu. Siapa saja yang kehausan tentu saja perlu minum. Kita juga dapat memahami kemarahan mereka kepada Musa, sebab dia sebagai pemimpin tidak dapat menyediakan air untuk diminum. Tapi ada beberapa kesalahan mereka yang fatal saat itu.
Pertama, mengapa mereka bersikap kasar kepada Musa, mengajak bertengkar, sampai tempat itu dinamai Masa dan Meriba. Mereka boleb marah, tapi kepada pemimpinnya yang sudah menjalankan tugas dengan penuh ketulusan hati, seharusnya mereka bisa menahan diri, menaruh hormat dan sopan. Bukankah mereka itu umat Allah, orang-orang yang beriman? Ada satu kisah tentang seorang pemuda yang ingin menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah. Maka neneknya membuatkan sebuah pondok kecil baginya, dan setiap hari mengirim makanan supaya anaknya bisa beribadah dengan tenang. Setelah berjalan 20 tahun, si nenek ingin melihat kemajuan yang telah dicapainya. Sengaja ia mengutus seorang wanita cantik untuk masuk ke dalam pondok kecil itu menggodanya, sebagai upaya menguji imannya. Dengan sangat marah sang pemuda mengusirnya pakai sebuah sapu lidi yang kotor, dan bertindak kasar kepada sang penggoda tadi. Mengetahui hal itu si nenek merasa kecewa berat, sebab ternyata cucunya masih belum memiliki kebijaksanaan serta pemahaman terhadap sesamanya. Memang dia tidak perlu menyerah kepada napsunya, namun sekurang-kurangnya setelah sekian lama beribadah, seharusnya ia memiliki rasa kasih pada sesama. Yang menarik dalam cerita tadi, bahwa ternyata ada kesenjangan yang cukup besar antara taat beribadah dan memiliki budi pekerti yang luhur. Taat beragama ternyata sama sekali tak menjamin perilaku seseorang. ( Dari Buku: You Are Not Alone )
Kedua, ketika umat Tuhan itu diajak oleh Tuhan untuk meninggalkan tanah perbudakan Mesir, mereka telah menyambut dengan sukacita, setidaknya mereka tidak menolak ajakan yang disadari penuh dengan tantangan, namun sangat menjanjikan itu. Nah, kalau sudah begitu, mengapa tiap-tiap kali muncul problim dalam perjalanan, mereka mesti mengeluh, memaki-maki serta menyalahkan Musa? Hal itu sama seperti pasangan yang sudah mengambil keputusan menikah, sudah berjanji dalam kebaktian peneguhan dan pemberkatan nikah bahwa dalam segala hal akan ditanggung bersama, tapi dalam perjalanan hidup berumah tangga banyak mengeluh dan membanding-bandingkan sang partner dengan orang lain.
Ketiga, seharusnya mereka mengerti bahwa perjalanan yang sedang mereka tempuh itu adalah merupakan karya besar Tuhan, yang terencana bagi masa depan seluruh bangsa. Jika mau meraih sesuatu yang maha penting, maka harus ada pengorbanan! Meskipun demikian, pengorbanan dari pihak umat Tuhan tidak bakal melebihi kekuatan mereka, sebab sudah terbukti bahwa Tuhan selalu mau campur tangan.
Segala macam kesukaran memang dapat berubah menjadi tembok yang memisahkan kita dari Tuhan, tapi sebenarnya juga dapat semakin mempererat persekutuan kita yang lemah dengan Tuhan sang penolong yang sejati.
Kita senang membangun tembok, tapi Tuhan jembatan. Itulah rahasia keberhasilan dari persekutuan kita dengan Tuhan. Lihat saja tadi, kita bisa melemparkan tiga buah kritik kepada umat Tuhan, apalagi Tuhan pasti jauh lebih banyak lagi. Anehnya, tadi kita tidak membaca satu kritik pun dari pihak Tuhan. Sebagai Bapa surgawi Tuhan penuh dengan pemahaman terhadap anak-anakNya. Dalam kemelut pertengkaran itu Tuhan mencari solusi yang ada unsur upaya dari pihak manusia, tapi juga karya atau mujizat dari pihak Allah, lalu rasa kecewa pun berubah menjadi kepuasan! Cukup menarik bahwa Musa disuruh Tuhan agar memukul gunung batu dengan tongkatnya, supaya keluar air yang menyembuhkan dahaga mereka saat itu. Bukankah semua itu menunjuk kepada Kristus yang disebut sebagai Batu Hidup? ( I Petrus 2:4 ). Sesudah didera dan disalibkan, muncullah bagi umat manusia berdosa pertolongan-Nya, yaitu Air Kehidupan ( Yohanes 4:14 ).
Yesus meruntuhkan tembok yang bernama “walaupun”.
Walaupun wanita itu hanya seorang diri saja, tetap dilayani oleh-Nya, dan ternyata menghasilkan buah pertobatan banyak orang Samaria yang mendengar kesaksiannya.
Walaupun mengandung resiko, sebab berdialog dengan seorang wanita tunasusila dan berada di daerah musuh, sehingga sewaktu-waktu bisa digrebeg, tapi tetap dihadapi-Nya dengan tenang sebab semua itu dilakukan dengan hati yang bersih.
Walaupun menyentuh “borok” sang wanita yang bejad moralnya, tetapi wanita itu tidak marah sebab Yesus mengasihinya.
Walaupun dosanya sangat besar dan sudah menjadi sampah masyarakat, namun tetap ditangani secara prima dan diperhadapkan pada pintu pertobatan sehingga hari itu juga dia memiliki keberanian menjadi Pemberita Injil Tuhan.
Walaupun pada umumnya orang-orang Yahudi menghindar dari Samaria, tapi Tuhan Yesus bersedia tinggal dua hari di sana untuk memberi bimbingan lanjutan.
Mengapa selamanya Tuhan Yesus berani menentang arus? Di sini ada cerita menarik:
Pada suatu ketika di negeri katak diadakan sebuah sayembara. Barang siapa mampu memanjat sebuah menara yang tinggi di tengah kota akan mendapatkan sekantong uang emas. Semua katak muda di negeri itu begitu antusias dengan sayembara tersebut, termasuk seekor katak kecil yang hidup di pinggiran negeri itu. Baru beberapa meter menanjak, beberapa ekor katak jatuh ke bawah. Mereka baru sadar, bahwa kemampuan mereka sebagai katak adalah melompat, bukan memanjat. Satu per satu katak mulai berjatuhan, hingga akhirnya tinggal tiga katak yang tersisa. Saat itu penonton berteriak-teriak, “Puncak menara itu terlalu tinggi. Mustahil kalian dapat mencapainya.” Katak yang telah jatuh pun ikut berteriak,”Dari ketinggian tiga meter saja badanku sudah sakit semua, apalagi jika jatuh dari ketinggian 15 meter. Pasti mengerikan! Tulang-tulangmu bisa remuk!” Katak yang yang masih memanjat mulai khawatir. Akhirnya mereka pun mengundurkan diri. Tinggal dua katak lagi termasuk si katak kecil. “Hati-hati, di atas sana licin, kamu bisa terpleset,” lagi-lagi teriakan dari bawah. Akhirnya saingan si katak kecil mengundurkan diri, tinggal katak kecil seorang diri. “Hai katak kecil, di atas licin, kamu bisa jatuh,” suara lain menimpali,” iya, menyerah saja. Angin di atas berembus sangat kencang, kamu bisa terbang terbawa angin.” Katak kecil tak peduli dan terus memanjat. Akhirnya, ia berhasil! Saat katak kecil turun, penonton mengerubutinya dan bertanya-tanya, bagaimana bisa katak kecil berhasil. Ketika katak kecil diam saja, barulah mereka sadar bahwa katak kecil itu tuli, sehingga tidak bisa mendengar peringatan mereka. Ibu katak kecil akhirnya menimpali,”Katak kecil dapat sampai di puncak karena ia tidak dapat mendengar ucapan-ucapan kalian yang melemahkan semangatnya. Ia bisa terus sampai di atas karena ia hanya mendengarkan suara hatinya dan konsisten pada tujuan yang ingin dicapainya.” ( Dari Buku Success Journey ). Semua ini mengingatkan kita kepada Tuhan Yesus yang berpegang teguh pada komitmen-Nya. Telinga, mata dan hati-Nya terbuka lebar penuh kepekaan, namun jiwa-Nya menyatu dengan Bapa dalam perjuangan yang kudus untuk menyelamatkan umat manusia yang berdosa!
Kasih karunia Tuhan lengkap dan utuh. Ketika umat-Nya cuma bisa bersungut-sungat dan bertengkar, Tuhan membasahi mereka dengan kelimpahan air sejuk. Ketika sebutan “penyakit masyarakat” masih disandangnya, di dalam keterasingannya yang memalukan itu,Tuhan hadir memancarkan pengharapan untuk bisa hidup layak dan bermakna. Ketika kita berada didalam keraguan sebab sebutan sebagai anak-Nya serasa berlebihan, maka Dia datang menembus karang keraguan itu. Ketika kita mulai membangun tembok tebal untuk menjauhkan diri, Kristus meruntuhkan dengan kasih, senjata-Nya yang ampuh itu.
“Biarlah kita menghadap wajahNya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagiNya dengan nyanyian mazmur “ Mazmur 95:2