Hai Pemuda GKI Mari Kita Berkarya,
Saya, Samuel Adi Perdana-Pendeta GKI Purwodadi yang masih muda.
Bagi saya, pemuda itu penuh dengan pergerakan (tak ada pergerakan berarti tidak ada pemuda) sebab mereka berada diusia produktif. Produktif dalam berkarya, berkreasi, berimajinasi, ide-ide dan seringkali diandalkan. Bahkan seringkali kita mendengar bahwa pemuda adalah tulang punggung negara dan Gereja pun menyadur ungkapan tersebut sehingga menjadi ungkapan: pemuda adalah tulang punggung Gereja, atau masa depan Gereja. Dari pendapat ini sangat pasti pemuda seharusnya mendapatkan perhatian atau pembinaan yang serius, agar nantinya atau dalam proses perhatian dan pembinaan mereka menunjukkan gejala-gejala bahwa mereka betul-betul masa depan, dan dapat diandalkan.
Pertanyaan sekarang, apakah pemuda-pemudi GKI sudah menunjukkan gejala-gejala bahwa mereka adalah masa depan dan dapat diandalkan sebagai tulang punggung Gereja? Jawaban bisa, belum, jauh sekali dari harapan, atau sudah tapi sedikit atau lesu dan lain sebagainya. Tentu jawaban harus punya dasarnya, mengapa bilang belum, jauh sekali dari harapan, atau sudah tapi sedikit atau lesu dan lain sebagainya. Saya sendiri agak bingung mencari dasarnya, apalagi menentukan salah satu jawaban seperti yang sudah dituliskan. Tetapi setidaknya, saya saat ini akan mengatakan bahwa keberadaan Pemuda-pemudi di GKI suam-suam kuku, tidak panas- tidak dingin, kurang kreatif, kurang berkarya, kurang produktif, dan belum ada pergerakan, ya… maaf sementara saya katakan belum menunjukkan gejala-gejala bahwa mereka dapat diandalkan dan masa depan Gereja.
Pemuda-Pemudi GKI ”In Action” Tempoe Doeloe
Sejarah mengatakan, bahwa pada 11 November 1970 di GKI Grogol, tercatat 10 utusan dari Komisi Pemuda GKI (KP GKI) ke tiga sinode mengadakan pertemuan untuk membahas adakah hal-hal yang dapat dilakukan bersama antara pemuda-pemuda dari tiga sinode GKI yang dipelopori oleh Titus K Kurniadi, Paulus Setiawan dan Frans Tumiwa. Dalam pertemuan tersebut dipertanyakan, adakah kegiatan yang lebih besar dan berarti, daripada sekedar kegiatan dalam batas tembok gedung gereja. Bukankah ciri khas pemuda untuk mempelopori keluar dari suasana beku. Dan akhirnya mereka merasa perlu untuk ambil bagian dalam usaha kesatuan GKI, maka terwujudlah kesepakatan diantara pimpinan pemuda ketiga sinode GKI:
1. Komisi Pemuda Sinode Am GKI diaktifkan kembali
2. Menetapkan tanggal 26 Juli adalah hari Pemuda GKI
3. Menyelenggarakan Pekan Olah Raga dan Kesenian GKI tahun 1972
4. Membentuk Laboratorium Pemuda GKI untuk studi bersama
5. Memberikan Memorandum kepada ke-3 Moderamen Sinode GKI.
Pemuda GKI dengan semangat kebersamaan untuk terwujudnya kesatuan GKI segera menyelenggarakan KOPORKES di Jabar, SIPORKES di Jateng dan PORKES di Jatim dan menuju puncaknya yaitu Pertemuan Raya Pemuda GKI 20-24 Agustus 1972 di Kaiurang, Yogyakarta, dihadiri 300 orang pemuda.
Dari pertemuan Raya Pemuda di Kaliurang, haruslah dicatat sebagai pertemuan penting dan strategis karena menghasilkan sebuah memorandum yang ‘memacu’ para pimpinan GKI untuk melanjutkan komitmen bersamanya, yaitu mewujudkan kesatuan GKI. Isi memorandum yang ditujukan ke tiga Sinode dan Sinode Am GKI, bahkan ditujukan juga kepada semua Majelis Jemaat GKI dan para Pendeta/ calon Pendeta GKI, adalah:
1. Masa depan Gereja dan Negara adalah pemuda yang sekarang. Karenanya masa depan adalah kepentingan pemuda dan pemuda yang paling berhak dan paling berkewajiban untuk membinanya. Kualitas pemuda sekarang menentukan kualitas Gereja dan Negara di masa depan, untuk itu dituntut pembinaan pemuda secara baik dan bertanggung jawab mulai dari sekarang. Dan sangat wajar bahkan merupakan tuntutan apabila diangkat seorang full time untuk pelayanan pemuda (Fulltimer Youth Worker) se sinode masing-masing
2. Pemuda berada dalam perkembangan kedewasaan dalam berbagai segi kehidupan. Karena itu kami menganggap haruslah dianggap wajar dan positif bila pemuda yang bersifat dinamis menentang “ketentraman beku” yang tradisionil dan senantiasa mendambakan dan menggugah hal-hal baru serta mengadakan eksperimen-eksperimen dalam aktivitas dan pelayanan Gereja.
3. Meminta agar hubungan Majelis Jemaat dengan Komisi Pemuda benar-benar merupakan sesama partner dalam pelayanan Gereja. Karenanya konsultasi Open Talk merupakan media utama untuk berkomunikasi dan berdialog. Dan bukan hubungan sebagai atasan dan bawahan dengan mengutamakan perintah dan meminta laporan-laporan belaka. Untuk itu kami menyerukan agar sikap otoriter dan sikap mengadili dihilangkan jauh-jauh dan diganti dengan sikap pengertian dengan segenap konsekuensi yang mengikutinya.
4. Mengingat kedudukan Pendeta dalam jemaat, juga peranan yang diharapkan daripadanya adalah sebagai seorang fungsionaris, maka kami anggap penting bila dalam konven Pendeta dibahas dan dilakukan pertukaran pikiran antara pendeta mengenai pelayanan komisi-komisi dan masalah stewarship anggota-anggota jemaat dalam bidang keuangan.
5. GKI yang satu harap segera terlearisir. (yang sekarang sudah satu).
Inilah pergerakan pemuda GKI atau pemuda GKI yang bergerak yang pernah ada dalam sejarah GKI. Gerakannya menunjukkan bahwa pemuda adalah tulang punggung Gereja dan Negara dan masa depan yang dapat diandalkan. Bukan lagi tanda-tanda dan sekedar harapan semu.
In Moment Like This
Saya yakin, tidak banyak pemuda GKI yang tahu adanya sejarah, dimana peran pemuda GKI sangat berpengaruh bagi kehidupan Gereja saat ini dan masa depan. Untuk itu pemuda GKI, harus tahu, dengan tujuan, supaya tahu siapa dirinya, atau bagaimana harusnya mereka berada di tengah keberadaannya saat ini.
dalam PMS GKI di Hotel Mercure Ancol Jakarta tahun 2006, saya sempat melontarkan hal kesatuan pemuda/ wadah kepemudaan diGKI, tanggapan dari PMS sangat mendukung dan juga sebelum pulang seorang Pendeta mengatakan kepada saya, "Ayo Sam lakukan saja sesuatu selagi U masih muda...entar keburu tua loh." dan sebelumnya saya juga mendapat semangat dari rekan-rekan muda beberapa jemaat untuk membuat Majalah Pemuda dengan nama "Pemuda Bicara" yang motonya: Berani-Jujur-Membawa Perubahan-dan Pemuda Sekali. namun majalah ini tertunda karena beberapa teman keluar negri dan dapat persoalan berat. mungkin saatnya ini waktu saya melakukan sesuatu lagi.....
saya menyerukan kepada kaum muda Pendeta atau anggota jemaat muda dan punya semangat muda dapat bergabung untuk melaksanakan kegiatan "Pertemuan Raya Pemuda" GKI. di sinode kita tidak punya wadah, [b]untuk itu siapa mau ikut berjuang untuk membentuk sebuah wadah kepemudaan GKI dapat mendaftarkan untuk acara:
PERTEMUAN RAYA PEMUDA GKI
Tujuan:
Terbentuknya wadah bagi Pemuda GKI untuk berkarya bagi GKI secara nyata.
Waktu Pelaksanaan: 25, 26,27 Juli 2007
Tempat: Gunung Lawu-Jawa Tengah
Camp dan Pendakian akan didampingi : GAPPALA Duta Wacana
Pendaftaran ke: Samuel Adi Perdana 0292-425027// 08157717910
atau email:
adiperdana@plasa.com atau melalui cyber gki ini.
dalam pendaftaran sebutkan nama, umur, asal jemaat, Pendidikan/ Pekerjaan dan harapan ikut kegiatan ini.
Biaya Pendaftaran: rp. 150.000,00 (selain untuk akomodasi dan biaya masuk pendakian peserta juga mendapatkan kaos dan topi gunung). biaya transport dari rumah - ke solo dan logistik dan obat-obatan bawa sendiri.
untuk acara, perlengkapan yang perlu dibawa dll. akan diinformasikan lagi.
syalom,
samuel a perdana