Samuel Adi Perdana
GKI Purwodadi-Grobogan
Newbie

Offline
Posts: 14
View Profile
|
Syalom, Pemuda GKI dimanapun Saudara, dan lagi apapun. kamis, 3 Mei 2007 saya mengikuti Doa Meditatif dengan lagu-lagu dari Taize di Gereja Katolik Kemetiran Yogyakarta. Sebenarnya kegiatan doa meditatif di Yogjakarta ini dipelopori oleh mahasiswa Fak Theologia UKDW dan Mahasiswa Theologia Sanata Darma di Kentungan, dan tahun 1998-1999 saya menjabat sebagai ketua di UKDW. Pertemuan doa ini semakin lama semakin berkembang, bahkan kami pernah mengadakan pertemuan pemuda di Wedi-Klaten tahun 1998 yang diikuti pemuda Yogyakarta dan Jateng sebanyak +/- 400 pemuda. Dalam pertemuan tersebut kami menginap di rumah-rumah penduduk umat Gereja Katolik di Wedi. Dalam pertemuan itu kami saling berbagi pengalaman hidup Pemuda baik di keluarga, Gereja dan peran pemuda di masyarakat ditempat masing-masing kami berada. Selain itu kami juga memahami Alkitab khususnya Injil, yang memberikan semangat kepada kaum muda untuk menyadari bahwa mereka adalah duta-duta perdamaian. Pemuda adalah sebuah semangat untuk menyatakan perdamaian dalam kehidupan ini. Pertemuan di Wedi memberi inspirasi pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Dari pertemuan di Gereja Katolik - Kemetiran menghasilkan untuk membuat pertemuan PEMUDA se-Jawa pada tanggal 23-24 November 2007 di Yogyakarta. Pada pertemuan tersebut Bruder Alois dari Taize (pengganti Bruder Roger) bersama beberapa Bruder akan datang. Untuk menyebarkan semangat pertemuan Pemuda-pemuda GKI yang akan saya koordinir (lihat "Hai Pemuda GKI...), saya berikan kepada Saudara Surat dari Pertemuan Pemuda se Asia di Kolkata pada Oktober 2006.
Stay with me, remain here with me, watching and praying…
Salam sam
[b][/b]SURAT DARI TAIZE Edisi Khusus Surat Dari Kolkata
Tiga puluh tahun yang lalu, Bruder Roger melewatkan waktu di Kolkata (Kalkuta) bersama beberapa bruder dan kaum muda dari berbagai benua. Mereka tinggal di daerah yang miskin dan ikut mengambil bagian dalam pekerjaan Ibu Teresa dengan anak-anak terlantar dan orang-orang yang sekarat. Ia menulis dan membawa pulang Surat kepada Umat Tuhan, yang diterbitkan pada saat pertemuan kaum muda di Katedral Notre Dame Paris. Kemudian ia menulis beberapa pesan dan tiga buah buku bersama dengan Ibu Teresa.
Kehadiran di tahun 1976 merupakan benih dari hubungan yang terus berlanjut antara komunitas Taize dengan umat Kristiani di India. Kunjungan-kunjungan di negara tersebut, dua pertemuan Internasional di Madras dan kehadiran kaum muda di India ke Taize yang berkesinambungan telah menandai tahapan-tahaapan hubungan ini. Kolkata terus memberikan makna bagi kami melalui kemalangan umat manusia maupun orang-orang yang memberikan hidup mereka kepada kaum papa—yang membuat mereka bercahaya.
Maka saya pikir menjadi penting untuk kembali ke Kolkata dan mempersiapkan pertemuan di sana. Pertemuan tersebut diadakan pada tanggal 5-9 Oktober 2006 yang mengumpulkan 6000 kaum muda, sebagian besar datang dari negara-negara Asia. Pertemuan tersebut merupakan upaya untuk memberi dimensi baru „ziarah iman kepercayaan“ : mendampingi kaum muda Asia di benua mereka sendiri, mendengarkan mereka dan mendukung harapan mereka. Surat dari Kolkata ditulis setelah pertemuan tersebut dan digunakan pada pertemuan pemuda rutin di Eropa di Zegreb.
ebagaimana kita melanjutkan ”ziarah iman kepercayaan di bumi“ yang mengumpulkan kaum muda dari berbagai negara, kami memahami lebih dalam lagi kenyataan ini: seluruh umat manusia pada dasarnya merupakan satu keluarga dan Tuhan tinggal di dalam setiap umat manusia tanpa kecuali.
Di India, sebagaimana di berbagai bagian Asia lainnya, kami menemukan betapa besar perhatian, secara alamiah, yang ditujukan kepada kehadiran Tuhan di seluruh ciptaan; termasuk di dalamnya adalah penghargaan kepada orang lain dan hal yang suci menurut mereka. Hari ini, di masyarakat yang modern menjadi begitu penting untuk membangkitkan kembali perhatian kepada Tuhan dan penghargaan kepada harkat manusia. Setiap umat manusia adalah kudus bagi Tuha. Kristus merentangkan tanganNya di kayu salib untuk menghimpun semua umat manusia dalam Tuhan. Jika Dia mengutus kita hingga ke ujung bumi untuk mewartakan kasih Tuhan, pertama-tama melalui dialog kehidupan. Tuhan tidak pernah menempatkan kita pada keadaan hingga melakukan tindak kekerasan dengan mereka yang tidak mengenal-Nya. egitu banyak kaum muda di seluruh dunia siap sedia untuk membuat persatuan keluarga umat manusia lebih tampak. Mereka membiarkan diri mereka tertantang oleh pertanyaan: bagaimana kita dapat bertahan dari segala bentuk tindak kekerasan dan diskriminasi; bagaimana kita dapat melampaui tembok-tembok kebencian atau perrbedaan? Tembok-tembok ini ada di antara orang-orang, benua-benua; juga dekat dengan kita masing-masing hingga di kedalaman hati manusia. Maka terserah kita untuk menetapkan pilihan: memilih untuk mencintai, memilih harapan. Masalah-masalah yang begitu besar dari masyarakat dapat membuat kita menyerah. Dengan memilih untuk mencintai, kita menemukan ruang kebebasan untuk menciptakan masa depan bagi diri kita sendiri bagi mereka yang dipercayakan kepada kita. Sekalipun sumber-sumber yang ada terbatas, Tuhan juga menjadikan kita pencipta (creators) bersama dengan-Nya, bahkan ketika segala sesuatu tidak mendukung. Mengunjungi orang lain terkadang dengan tangan hampa, mendengarkan, mencoba untuk memahami… maka situasi yang buntu pun dapat berubah. Tuhan menantikan kita pada mereka yang lebih miskin daripada kita. ”Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari Saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk-Ku.”(Matius 25:40) Di dunia belahan Utara sebagaimana juga di belahan Selatan, ketidak-seimbangan yang sangat besar membuat rasa takut akan masa depan tetap ada. Beberapa orang dengan berani membaktikan tenaga mereka untuk merubah tatanan (struktur) ketidak-adilan. Kita semua perlu bertanya kepada diri sendiri tentang gaya hidup kita. Kita perlu menyederhanakan hidup kita. Maka kita akan memiliki kesediaan diri dan keterbukaan hati bagi orang lain. Hari ini ada berbagai langkah (inisiatif) yang bisa diambil bagi setiap orang untuk berperan serta. Mikro kredit atau terobosan baru perdagangan yang lebih adil telah menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan solidaritas dengan kaum miskin dapat berjalan beriringan. Ada orang-orang yang menginginkan agar uang mereka dapat digunakan untuk mendukung keadilan yang lebih merata. Memberikan waktu kita adalah sungguhlah berharga, supaya masyarakat kita memiliki wajah yang lebih manusiawi. Setiap orang dapat berusaha untuk mendengarkan dan mendukung sekalipun hanya kepada satu orang saja, misalnya: anak yang terlantar, kaum muda tanpa pekerjaan atau pun tiada harapan, seorang yang miskin, seorang yang lanjut usia. emilih mencintai, memilih berpengharapan. Dengan ketegaran ketika kita melangkah di jalan ini, kita dikejutkan saat menemukan Tuhan telah memilih kita—setiap pribadi—sebelum kita melakukan apapun: ”Janganlah takut, engkau berharga di mata-Ku dan Aku mengasimu.“ (Yesaya 43:1-4 Di dalam doa, kita menyerahkan diri kita dan mereka yang dipercayakan kepada kita di hadapan kerahiman Tuhan. Tuhan menyambut kita sebagaimana adanya, termasuk yang baik maupun pertentangan batin kita, bahkan kesalahan-kesalahan kita. Injil meyakinkan kita: kelemahan kita dapat menjadi pintu dimana Roh Kudus dapat memasuki hidup kita. Tiga puluh tahun yang lalu Bruder Roger menulis di Kolkata: ”Doa adalah sumber cinta bagimu. Serahkanlah jiwa dan ragamu ke dalam penyerahan diri yang tiada batas. Setiap hari, renungkan beberapa ayat Alkitab secara mendalam kemudian bawalah ke hadapan Dia, Tuhan yang bangkit. Dalam keheningan, biarkan sabda Kristus yang hidup lahir di dalam dirimu dan terapkanlah secara langsung.” Ketika meninggalkan Kolkata, ia menambahkan: “Sekarang kami pergi setelah menemukan daya hidup (vitalitas) yang menakjubkan dari suatu masyarakat yang hidup di tengah-tengah kesengsaraan dan bertemu dengan saksi-saksi dari satu masa depan yang berbeda, untuk semua orang. Sebagai sumbangan untuk masa depan ini, umat Tuhan memiliki kemampuan yang khas: mereka yang tersebar di seluruh dunia, dapat membangun suatu perumpamaan saling berbagi (parable of sharing) dalam keluarga umat manusia. Perumpamaan ini akan cukup kuat menyebar, hingga mampu menggoncangkan susunan yang tak tergoyahkan dan menciptakan persatuan di dalam keluarga umat manusia. Seruan Bruder Roger ini mempunyai makna yang baru hari ini. tersebar di seluruh dunia, umat Kristiani dapat menopang, harapan bagi semua orang dengan menghidupkan kabar yang menakjubkan ini: setelah kebangkitan Kristus, kemanusiaan kita tidak lagi tersekat-sekat lagi.
agaimana kita dapat menjadi saksi di bumi bahwa Tuhan adalah Kasih jika kita terus membiarkan berlanjutnya perpecahan di antara umat Kristiani? Beranilah maju ke depan menuju persatuan yang kelihatan! Ketika kita mengarahkan diri kita kepada Kristus bersama-sama, keyika kita bersama-sama datang untuk berdoa, Roh Kudus telah mempersatukan kita. Dalam doa, dengan rendah hati kita belajar secara terus-menerus bahwa kita merupakan satu bagian, antara sat dengan lainnya. Akankah kita memiliki keberanian untuk tidak lagi bertindak tanpa mengabaikan sesama? Semakin kita mendekatkan diri kepada Kristus dan Injil-Nya, semakin kita dekat satu dengan yang lain. Proses saling memberi dapat terjadi melalui sikap saling menyambut dan menerima. Semua pemberian ini diperlukan hari ini untuk membuat suara Injil semakin terdengar. Mereka yang telah mempercayakan diri mereka kepada Kristus dipanggil untuk menawarkan persatuan mereka kepada semua orang. Ini dapat membuat pujian syukur bagi Tuhan memancar. Maka keindahan perumpamaan Injil menjadi nyata: biji sesawi yang kecil menjadi pohon yang terbesar di kebun tanaman, sehingga burung-burung di udara dapat membuat sarangnya di sana. (Lukas 13:18-21) Dengan mengakarkan diri pada Kristus, kita menemukan kemampuan untuk terbuka kepada semua orang, juga kepada mereka yang tidak dapat percaya kepada-Nya atau mereka yang tidak perduli. Kristus menjadi pelayan bagi semua; Ia tidak merendahkan siapapun. Lebih terasa dari pada sebelumnya, hari ini kita memiliki peluang-peluang untuk hidup dalam persatuan, melewati batas-batas kebangsaan. Tuhan memberikan nafas-Nya, yaitu Roh-Nya, kepada kita. Maka kita dapat berdoa, “Bimbinglah langkah kami di sepanjang jalan perdamaian".
PURWODADI, 5 MEI 2007
|