|
2
|
Kristen / Renungan / KHOTBAH MINGGU, 19 SEPTEMBER (TEMA: "BERPERILAKU ADIL DAN JUJUR")
|
on: September 03, 2010, 05:27:01 PM
|
|
Started by Pdt. Yohanes Bambang Mulyono | Last post by Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
|
Renungan Minggu, 19 September 2010 Tahun C: Minggu Biasa Warna: Hijau
BERPERILAKU ADIL DAN JUJUR Am. 8:4-7; Mzm. 113; I Tim. 2:1-7; Luk. 16:1-13
Pengantar Standard etis-moral iman Kristen mengacu kepada Sepuluh Firman Allah. Standard etis-moral tersebut sangat tepat. Karena melalui Sepuluh Firman tersebut kita dapat bercermin bagaimanakah kita harus mengasihi Allah dan sesama. Itulah hukum kasih yang utama. Namun ternyata melaksanakan Sepuluh Firman Allah tidak menjamin kita untuk melaksanakan kasih secara utuh. Sebab Sepuluh Firman merupakan hukum-hukum Allah yang hanya melarang kita untuk melakukan dosa-dosa yang kelihatan. Namun dosa-dosa yang tidak kelihatan namun potensial untuk kita lakukan tidak terakomodasikan kecuali hukum ke sepuluh, yaitu: “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu" (Kel. 20:17). Jenis dosa-dosa yang tidak kelihatan namun potensial untuk kita lakukan merupakan 7 dosa maut (“Seven deadly sin”), yaitu: kesombongan, iri-hati, amarah, serakah, nafsu-birahi, rakus, dan malas. Karena itu bisa terjadi umat tidak pernah melanggar Sepuluh Firman Allah secara formal dan ritual, tetapi mereka justru secara intensif melakukan 7 dosa maut tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu dari ketujuh dosa maut adalah sikap serakah atau loba. Yang mana sikap serakah atau loba tersebut dapat mendorong umat untuk menista hari-hari yang dikuduskan oleh Allah. Sebab hari-hari yang dikuduskan itu tidak direspon umat untuk mempermuliakan Allah tetapi justru dimanfaatkan untuk mencari keuntungan materi semata. Nafsu serakah juga akan mendorong umat untuk membengkokkan keadilan menjadi ketidakadilan, kejujuran menjadi dusta, kekuasaan menjadi sikap sewenang-wenang, dan tindakan mengeksploitasi sesama. Bahkan nafsu serakah juga akan mendorong umat untuk menutup hati-nurani dengan mengorbankan sesama. Kita dapat melihat sikap beberapa orang yang tanpa nurani dengan menjadikan sesamanya sebagai tumbal demi memuaskan nafsu serakahnya. Karena itu setiap umat dipanggil untuk berperilaku adil dan jujur agar mereka dapat mengendalikan nafsu serakah yang menguasainya. Sikap adil berarti kita mampu memperlakukan setiap sesama tanpa perbedaan. Sedang sikap jujur berarti kita tidak pernah berdusta, menipu dan berlaku licik. Sikap jujur mencerminkan suatu integritas diri dan jauh dari sikap yang munafik, sehingga setiap kita berlaku adil dan jujur, kita mempermuliakan nama Allah. Karena di balik sikap yang adil dan jujur, kita mengaku dengan iman bahwa Allah adalah Tuhan sebagai satu-satunya pemilik kehidupan ini. Seharusnya kita mengasihi Allah dengan mengasihi sesama di sekitar kita. Berita inilah yang disampaikan oleh nabi Amos
Allah Pemilik Kehidupan Kitab Amos bukan sekedar suatu berita tentang gerakan sosial yang membela keadilan bagi orang-orang yang tertindas. Walaupun berita kitab Amos menyampaikan perlawanan kepada ketidakadilan dan penindasan kepada sesama yang lemah. Namun kitab Amos tetap menempatkan Allah sebagai pemilik kehidupan dan pencipta seluruh umat manusia. Karena itu kitab Amos menyebut nama Allah sebagai Allah semesta alam (Am. 5:27). Prinsip keadilan dan kebenaran yang seharusnya terjadi dalam kehidupan ini ditempatkan dalam kerangka Allah semesta alam, sehingga seluruh umat manusia tanpa terkecuali adalah milik Allah. Apabila Allah adalah pemilik kehidupan, maka Allah menentang setiap umat yang menindas sesamanya. Di Am. 8:4 diawali dengan perkataan “Dengarlah ini”. Pernyataan ini mengingatkan kita ketika Allah berfirman di Ul. 6:4-5, yaitu: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”. Dengan ungkapan “dengarlah” (syema) di Ul. 6:4-5 menegaskan 2 prinsip utama, yaitu: prinsip pertama tentang pengakuan iman (kredo) bahwa Tuhan itu esa. Allah itu satu-satunya, dan tidak ada yang lain. Dan juga prinsip kedua adalah implementasi dari pengakuan iman, yaitu panggilan dan kewajiban etis-moral setiap umat untuk mengasihi Allah dengan segenap kedirian mereka. Sedang di Am. 8:4, kata “dengarlah” ditempatkan sebagai suatu teguran Allah kepada umat yang mengaku percaya dan beriman kepada Allah yang esa, namun mereka menginjak-injak orang miskin dan membinasakan orang sengsara. Jelas sikap ambigu atau mendua bukanlah sikap yang berkenan kepada Allah. Kita tidak mungin mempermuliakan Allah dengan menyengsarakan orang lain baik secara batin maupun secara fisik. Manipulasi Dan Mengeksploitasi Sikap umat Israel khususnya para pedagang dan orang-orang kaya yang berbisnis pada zaman Amos sedemikian loba untuk memperoleh keuntungan, sehingga mereka kurang mendukung umat Tuhan secara keseluruhan melaksanakan ibadah di bulan baru dan hari Sabat. Mereka berharap ibadah di bulan baru dan Sabat dapat cepat berlalu agar mereka dapat segera menjual gandum dan terigu. Mereka merasa waktu yang tersedia selama 6 hari tidaklah cukup untuk memperoleh keuntungan. Karena itu mereka berharap dapat memperoleh keuntungan juga pada hari ketujuh, yakni hari Sabat. Selain itu mereka berharap dapat menggunakan bulan baru yang mengawali setiap bulan sebagai kesempatan untuk memperoleh “keuntungan tambahan”. Karena setiap bulan baru umat Israel ke Bait Allah untuk mempersembahkan kurban ucapan syukur atau perayaan ibadah. Selama ibadah hari Sabat atau perayaan bulan baru mereka manfaatkan untuk mengkorup hari-hari yang dikuduskan bagi Tuhan. Dengan demikian para pedagang atau orang-orang yang kaya yang berbisnis itu telah bersikap serakah, loba atau tamak terhadap kekayaan. Walaupun mereka telah memperoleh kekayaan yang berlimpah, mereka masih menganggap belum mampu memenuhi keinginan yang diharapkan. Mereka kemudian memperlakukan orang-orang miskin dengan cara menindas, menginjak-injak dan membinasakan mereka. Hawa-nafsu serakah telah menutup hati-nurani, sehingga mereka berlaku kejam dan sewenang-wenang kepada sesamanya. Tepatnya sikap serakah akan membuat seseorang melihat sesama yang lebih lemah sebagai pihak yang dapat dijadikan korban sebagai pemuas hawa-nafsunya.
Selain sikap serakah telah mendorong mereka untuk mengkorup dan menistakan hari-hari yang dikuduskan oleh Allah dan berlaku kejam kepada sesama, sikap serakah juga akan mendorong mereka untuk menipu dan berlaku curang. Di Am. 8:5 para pedagang dan orang-orang kaya yang berbisnis itu menawarkan terigu dengan mengecilkan efa dan membesarkan syikal. Intinya mereka berbuat curang dengan neraca palsu. Mereka secara curang memalsukan ukuran neraca, sehingga melalui neraca sebagai alat ukur yang bertujuan untuk menjamin kejujuran diubah menjadi alat penipuan. Dengan cara itu mereka menyerahkan barang yang terlalu sedikit namun dengan keuntungan yang berlipat. Lebih celaka lagi terigu yang mereka jual dengan harga yang mahal itu adalah ternyata terigu rosokan, atau terigu yang tidak layak untuk dikonsumsi. Dengan cara yang demikian mereka berhasil meraup keuntungan yang sangat fantastis. Sikap mereka bagaikan seekor lintah yang menghisap darah sekenyang-kenyangnya. Sangatlah tepat bilamana mereka sering disebut dengan para lintah darat. Walaupun demikian kejahatan mereka tidak berhenti sampai di situ. Mereka tidak segan untuk membeli orang lemah dan orang miskin untuk ditukar dengan sepasang kasut. Artinya para pedagang atau orang-orang kaya yang berbisnis itu tidak segan menjadikan orang lemah dan orang miskin sebagai budak belian karena mereka tidak mampu membayar hutang untuk pinjaman sepasang kasut atau uang.
Respon Allah dilukiskan di Am. 8:7 yaitu: “TUHAN telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: "Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!” Artinya Allah tidak akan mengampuni setiap kesalahan dan kejahatan orang-orang yang telah menindas dan menghisap sesamanya yang lebih lemah. Kata “melupakan” merupakan kebalikkan dari sifat Allah yang “mengingat”. Bandingkan perkataan Allah di Yes. 43:25 yang mau untuk “mengingat” kembali, yaitu: “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu”. Selama Allah masih mau “mengingat” maka masih tersedia anugerah pengampunanNya. Allah yang mau “mengingat” adalah manifestasi dari dari kasih Allah yang melampaui seluruh pemikiran dan kemampuan manusiawi, walaupun saat itu umat sedang berdosa dan meninggalkan Allah. Tetapi ketika Allah mengambil keputusan dan bersumpah bahwa Dia tidak akan melupakan, berarti dosa dan kejahatan mereka telah begitu besar sehingga tidak akan tersedia pengampunan. Kristus Berpihak Kepada Ketidakjujuran? Tindakan untuk mengasihi dan berlaku setia kepada mereka yang tidak mengasihi dan tidak setia kepada kita membutuhkan enersi mental dan spiritutalitas yang tinggi. Untuk itu pertanyaan yang lebih mendasar lagi adalah sejauh mana kita telah memiliki enersi mental dan spiritualitas tersebut? Untuk maksud itulah Tuhan Yesus memberikan pengajaran dengan perumpamaan di Luk. 16:1-13 tentang bendahara yang tidak jujur. Hal yang aneh dalam perumpamaan Tuhan Yesus tersebut adalah sepertinya Tuhan Yesus memberi pujian kepada bendahara yang tidak jujur. Namun kita tidak boleh terlalu cepat menarik kesimpulan bahwa Tuhan Yesus menghargai dan memuji tindakan yang tidak jujur dari bendahara tersebut. Kita perlu memahami budaya zaman dahulu perihal pengelolaan uang yang dipercayakan kepada seorang bendahara. Si pemilik modal hanya menyediakan suatu dana agar manager yang diangkatnya tersebut mampu mengelola uang tersebut sehingga usaha tersebut menghasilkan keuntungan. Karena itu manager yang disebutnya sebagai bendahara yang menentukan tingkat besarnya suatu bunga. Sehingga risiko kerugian harus ditanggung penuh oleh bendahara; tetapi kalau dia berhasil, maka dia akan memperoleh keuntungan lebih.
Dalam perumpamaan tersebut akhirnya diketahui oleh si pemilik uang bahwa bendaharanya telah menghambur-hamburkan uang. Bendahara tersebut segera dipanggil oleh tuannya untuk mempertanggungjawabkan seluruh keuangan yang telah dikelolanya. Apa yang kemudian dilakukan oleh bendahara tersebut? Di Luk. 16:5-7, bendahara tersebut mengurangi jumlah hutang dari para krediturnya. Namun dengan mengurangi jumlah hutang dari para krediturnya, berarti pula sang bendahara kehilangan haknya untuk memperoleh keuntungan yang seharusnya. Jadi sebenarnya dia memotong hak keuntungan untuk dirinya dari pemotongan jumlah hutang dari para krediturnya. Sehingga pada akhirnya sang bendahara tersebut mampu mempertanggungjawabkan seluruh keuangan yang telah dipercayakan kepadanya. Sebab uang yang menjadi hak dari tuannya itu tidak berkurang sedikitpun, sehingga dia tidak jadi dipecat dari jabatannya sebagai seorang manajer.
Dari perumpamaan Tuhan Yesus ini, kita dapat belajar bagaimana sang bendahara memikirkan masa depannya secara cerdik. Walaupun dia pernah melakukan kesalahan besar, namun dia segera memperbaiki diri dengan memotong apa yang menjadi hak keuntungan pribadinya. Secara finansial sang bendahara itu tidak memperoleh banyak keuntungan dari hak yang seharusnya dia terima, tetapi secara moril dia mampu mempertanggungjawabkan sikapnya. Demikian pula dengan makna kesetiaan yang tanpa syarat. Seorang yang mampu tetap setia kepada orang yang tidak setia berarti dia bersedia mengurangi atau memotong apa yang menjadi haknya. Tetapi dengan bersikap demikian, sesungguhnya dia telah menyelamatkan dirinya dari orang yang tidak setia tersebut. Jadi tekanan utama dari makna perumpamaan bendahara di Luk. 16 bukanlah soal ketidakjujurannya, tetapi kerelaan dia untuk memotong apa yang menjadi hak keuntungannya. Ketidakjujuran bendahara tersebut terjadi ketika dia melakukan kesalahan dengan cara menghambur-hamburkan uang yang bukan miliknya, tetapi dia segera berbenah diri dan mampu mempertanggungjawabkan seluruh keuangan yang dikelolanya, sehingga dia akhirnya dapat menyelamatkan masa depan dan kariernya.
Rela Memotong Hak Pribadi Kita gagal untuk berlaku setia karena kita sering mempertahankan hak-hak kita sedemikian rupa, sehingga kita tidak mampu menyediakan ruang sedikitpun untuk memberi pengampunan kepada para musuh kita. Selain itu melalui perumpamaan di Luk. 16 Tuhan Yesus mengingatkan agar kita mau memberlakukan nilai-nilai kesetiaan dan kasih seperti kita menggunakan dan mengelola keuangan setiap hari. Bukankah tiap-tiap hari kita harus menggunakan dan mengelola keuangan? Uang menjadi sesuatu yang begitu akrab dalam kehidupan nyata kita. Tetapi apakah kita juga akrab dengan prinsip-prinsip kesetiaan yang tanpa syarat setiap hari? Apabila bendahara yang tidak jujur itu mampu memikirkan masa depannya, maka seharusnya kita juga serius memikirkan masa depan kita yaitu kehidupan kekal bersama dengan Kristus. Untuk itu demi hidup yang kekal, apakah kita bersedia untuk memotong atau mengurangi apa yang menjadi hak-hak kita, agar kita dapat menyelamatkan orang-orang yang jauh dan tidak peduli kepada Allah.
Jadi prinsip spiritualitas iman Kristen adalah umat dipanggil untuk bersedia dengan rela mengurangi dan memotong segala hak kita, agar umat memiliki ruang yang cukup lebar untuk mengasihi dan berlaku setia kepada mereka yang membenci dan mengkhianati kita. Sehingga kita dapat terus-menerus mendoakan mereka agar mereka terus diperbaharui oleh Roh Kudus. Dan pada saat yang buruk di mana para lawan kita mengalami kesusahan atau kemalangan, maka kita dengan tulus menolong mereka agar mereka dapat mengalami wujud dari kasih Allah yang sempurna.
Doa Untuk Keadilan Dan Kesejahteraan Umat Nasihat rasul Paulus di I Tim. 2:1-7 pada prinsipnya mengingatkan umat percaya untuk menempatkan doa syafaat agar tidak terarah kepada kepentingan pribadi mereka sendiri saja. Dalam kehidupan umat percaya sering muncul kecenderungan yang memperoleh kenikmatan rohani dalam menaikkan doa-doa mereka. Mereka sering menaikkan doa hanya untuk kesejahteraan dan kemakmuran keluarga, kesuksesan dalam bekerja, kemudahan memperoleh fasilitas, dan berkat-berkat tambahan lainnya. Padahal suatu doa seharusnya lahir dari sikap iman dan kasih yang terarah kepada kemuliaan dan karya Allah. Yang mana kemuliaan dan karya Allah secara utuh juga dinyatakan dalam lingkup yang lebih luas dari pada sekedar kepentingan diri sendiri atau keluarga. Kemuliaan dan karya Allah dinyatakan dalam kesejahteraan seluruh umat, yaitu terciptanya keadilan dan kebenaran yang diemban oleh para pemerintah sesuai wewenang Allah. Bilamana tercipta suatu kondisi ketidakadilan, sikap yang sewenang-wenang, kekerasaan, ketidakamanan (kerusuhan) dan lemahnya penegakan hukum – pastilah bukan kehendak Allah. Dalam kondisi yang demikian, nama Allah tidaklah mungkin dipermuliakan. Lebih buruk lagi jikalau umat kemudian menaikkan doa syafaat yang melegitimasikan sikap egoisme dan pembenaran terhadap seluruh kejahatan dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan dan kesejahteraan. Doa syafaat dimanipulasi untuk meraih tujuan yang duniawi. Karena itu tidak mengherankan mereka memberlakukan ketidakadilan dan sikap yang mengeksploitasi sesama tanpa perasaan bersalah.
Sebaliknya doa syafaat seharusnya ditujukan untuk kesejahteraan setiap umat sehingga melahirkan suatu transformasi sosial. Yang mana dalam proses transformasi sosial tersebut setiap umat semakin mampu hidup sejahtera, aman, bahagia, memiliki jaminan keadilan, hukum ditegakkan dan relasi antar umat harmonis. Tentunya dengan kondisi demikian nama Allah akan dipermuliakan. Spiritualitas doa yang demikianlah yang disebut oleh rasul Paulus sebagai: “Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (I Tim. 2:3-4). Dasar teologisnya adalah karena setiap umat dan pemerintah pada hakikatnya telah ditebus oleh Kristus. Sehingga doa umat percaya seharusnya menjadi sikap spiritualitas yang terus-menerus menghadirkan karakter Kristus dalam setiap aspek kehidupan. Karena Kristus adalah Tuhan, penguasa, dan satu-satunya sang pengantara yang telah menyerahkan diriNya sebagai tebusan bagi setiap manusia (I Tim. 2:5-6).
Panggilan Hampir semua umat beragama dengan penuh antusias menyatakan pengakuan bahwa Allah adalah pemilik kehidupan. Demikian pula umat Kristen mengaku Allah di dalam Kristus adalah Allah yang menguasai dan memiliki seluruh kehidupan ini. Namun dalam praktek hidup, pengakuan tersebut tidak diberlakukan secara konsisten dalam sikap etis-moral kepada sesama manusia. Sesama sering dijadikan korban. Ungkapan “homo homini lupus” (manusia menjadi serigala bagi sesamanya) yang dinyatakan oleh Thomas Hobbes menyelimuti kehidupan kita sehari-hari. Homo homini lupus dapat berbentuk riba yang tinggi, merebut secara licik milik sesama, perdagangan manusia, gaji yang di bawah standard atau kelayakan hidup, jam kerja yang melampaui batas kemampuan, dan sebagainya. Secara tegas, Allah berpihak kepada korban dan melawan setiap penindas sesamanya.
Gambaran kehidupan yang jauh dari keadilan terlihat dari kisah “Saudagar dari Venesia” (Merchant of Venice) yang ditulis oleh William Shakespeare dapat membantu kita untuk memahami panggilan iman secara konkrit. Demi meminang Portia (gadis bangsawan), Bassanio meminjam uang tiga ribu dukat pada sahabatnya, Antonio. Namun Antonio sedang tidak punya uang, sehingga dia meminjam uang dari saudagar musuhnya yang suka membuat riba yang tinggi, yaitu Shylock. Sebenarnya Shylock tak sudi menolong musuhnya, tapi akhirnya ia menolong musuhnya asalkan Antonio mau menandatangani perjanjian. Perjanjiannya adalah bila Antonio tak sanggup membayar hutang pada waktu yang ditentukan, maka Shylock boleh memotong daging Antonio sekati beratnya. Akhirnya Antonio setuju, Bassanio pun menikahi Portia. Tetapi terdengar kabar bahwa kapal barang Antonio karam, sehingga ia tak bisa membayar hutang tepat waktu. Akibatnya Antonio dipenjara. Mendengar ini, Bassanio merasa bersalah dan mengatakan semuanya pada Portia. Portia kemudian menyuruh suaminya pergi membawa uang yang jumlahnya beberapa kali lipat dari tiga ribu dukat untuk melunasi hutangnya. Ternyata di pengadilan, Shylock enggan menerima uang pembayaran itu dan dia tetap bersikukuh pada isi perjanjian yang telah dibuat dengan Antonio. Pengacara Antonio, Doktor Balthasar, juga taat pada aturan, atau isi perjanjian itu. Doktor Balthasar yang tak lain adalah Portia yang menyamar, seolah-olah sedang memihak Shylock. Namun dengan kehati-hatiannya dalam berbicara, Doktor Balthasar mampu membalikkan isi perjanjian itu. Shylock diperbolehkan untuk memotong daging Antonio asalkan dia tidak boleh menumpahkan darah setetespun. Karena isi perjanjian hanya menyatakan “boleh memotong daging Antonio seberat 1 kati saja” tetapi tidak tertulis “darah yang tertumpah”. Karena itu Shylock justru yang dihukum karena dia telah merencanakan untuk menganiaya dan membunuh seorang warga Venezia.
Apakah kita berlaku seperti Shylock yang kikir dan kejam, ataukah kita mau berlaku seperti doctor Balthasar yang tulus dan cerdik untuk membela sesama yang teraniaya. Bagaimanakah sikap saudara? Amin.
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono www.yohanesbm.com
|
|
|
3
|
Kristen / Renungan / kotbah minggu, tgl 5 September 2010
|
on: September 02, 2010, 06:34:45 PM
|
|
Started by yusak santoso | Last post by yusak santoso
|
|
[/center][u][/u]Memilih hidup. [center] Ul 30:15-40, Maz 1:1-6, Filimon 1-21, Luk 14:25-33.
Dalam sebuah reklame, ada ungkapan yang menarik : Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu sebuah pilihan. Artinya menjadi tua itu dapat terjadi dengan sendirinya, tanpa usaha dan tanpa upaya apapun kita akan tetap menjadi tua dengan sendirinya, tetapi menjadi dewasa itu harus diupayakan dan diperjuangkan dan tidak jarang kadang harus kita paksakan dengan sebuah pilihan yang kita ambil. Aku ingin menjadi dewasa, dan aku tidak ingin kekanak-kanakan terus. Aku ingin rumahku bersih, dan pilihan itu memaksa kita untuk menyapu dan mengepelnya. Aku ingin pandai, dan itu berarti harus memaksa aku untuk membuka buku membacanya dan membuat rangkuman-rangkuman dsb. dsb. Karena itu kita dapat katakan : Hidup ini sebuah pilihan dan bahkan banyak pilihan-pilihan yang harus kita ambil setiap hari, sederet pilihan yang menguras perhatian dan pikiran kita. Kadang pilihan itu sulit dan bahkan menyakitkan namun tetap kita harus ambil pilihan, kearah mana hidup ini akan kita bawa, kitalah yang harus menentukannya. Memang kita tidak dapat memilih orang tua yang melahirkan kita, kita tidak dapat memilih dari suku, golongan dan bangsa mana kita dilahirkan, tetapi siapapun juga kita dan dari mana latar-belakang kita, harus memilih dan menentukan hidup yang bagaimanakah yang kita inginkan. Seluruh bacaan kita hari ini berbicara tetang : memilih atau lebih tepat memilih hidup.
Kitab ulangan, saat Musa sudah lanjut usia dalam pasal 29:2 – Musa memanggil seluruh orang Israel berkumpul, memberikan banyak nasehat-nasehat untuk umat Tuhan. Salah satu nasehatnya dalam bacaan kita Ul 30:15 – ingatlah, aku menghadapkan kepadamu hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan. Pilihlah Tuhan, berpegang pada perintahNya, menuruti jalan yang ditunjukkanNya maka kamu akan hidup dan diberkati oleh Tuhan. Tetapi apabila engkau memilih allah lain, maka pastilah kamu akan binasa dan tidak beruntung. Sebagai hamba Tuhan, hari ini sayapun bertanya kepada Bp/Ibu/Sdr semua : Tetap setia kepada Tuhan, atau tidak setia kepada Tuhan, sadarlah itu punya resikonya masing-masing. Kitab Mazmur mengajak umat untuk memilih Kebenaran atau kejahatan. Memilih kebenaran berarti berbahagia karena hidupnya pasti bermakna dan punya arah. Tetapi memilih kejahatan berarti hidup kita limbung tanpa arah seperti sekam yang ditiup angin dan pasti tidak akan tenang hidupnya. Dalam kitab Filemon, Paulus ketika dalam penjara, Onesimus sudah menerima Injil dan bertobat karena pembinaan Paulus dan sekarang Onesimus akan dibebaskan, Paulus minta kepada Filemon untuk menerima Onesimus, memberi pekerjaan, memberi kesempatan agar Onesimus dapat menjalani hidup dengan lebih baik lagi. Dan Paulus memberi jaminan pasti Onesimus tidak akan mengecewakan. Wah kalau kita berani menerima narapidana yang sudah dibebaskan dan memperkerjakan serta mantan narapidana dapat memberi jaminan bahwa ia akan sungguh-sungguh bertobat dan berdedikasi dengan baik, pasti pilihan itu membanggakan dan menyenangkan. Yang agak aneh dalam kitab Lukas, ketika orang banyak berduyun-duyun mau mengikut Tuhan Yesus, Tuhan Yesus mengatakan : jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci Bapanya, ibunya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, dan bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu. Jangan ekstrim tentunya, karena kita mengikuti Tuhan Yesus, mari sekarang kita membenci mereka semua yang tidak percaya kepada Tuhan. Tentu tidak seperti itu, tetapi Tuhan mau menyadarkan kita bahwa mengikut Tuhan Yesus itu resiko dan konsekwensi berat. Tuhan Yesus katakan : harus pikul salib, harus menyangkal diri – tidak boleh mengumbar hawa nafsu, harus penuh perhitungan tidak boleh gegabah. Seperti Orang mau membangun rumah : harus memperhitungkan dengan matang anggarannya. Atau seperti Raja yang mau berperang memperhitungkan kekuatannya apakah mampu mengalahkannya atau tidak.
Hari ini Firman Tuhan menyadarkan kita semua tentang arti sebuah pilihan. Suatu ketika istri John Maxwell (pembicara motivator top) Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang “kebahagiaan”. Maxwell sang suami duduk di bangku paling depan dan mendengarkan. Di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan dan tibalah sesi tanya jawab. Setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya : “ Miss Margareth, apakah suami anda membuat anda berbahagia ? “ Seluruh peserta langsung sunyi. Satu pertanyaan yang bagus. Margareth menjawab dengan tenang, Tidak suamiku Maxwell tidak membuatku bahagia. Seluruh mata langsung tertuju ke Maxwell, karena bukankah ia seorang motivator yang membuat semua orang bahagia, ternyata dengan istrinya sendiri tidak. Margaretha melanjutkan jawabannya : John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik sekali. Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, main serong, Ia setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi tetap dia tidak bisa membuatku bahagia. Mengapa ? Karena tidak ada seorangpun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri. Tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, hobbimu. Semuanya itu tidak bisa membuatmu bahagia, Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri. Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri ! Kalau kamu merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, kamu tidak akan merasa sedih. Sesungguhnya pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan factor dari luar. Bahagia atau tidaknya hidup kita bukan ditentukan oleh seberapa kaya dirimu, cakapnya suamimu, atau sesukses apa hidupmu. Bahagia adalah pilihanmu sendiri !. Memilih hidup bahagia berarti memilih Tuhan, taat pada kehendakNya, kata Kitab Ulangan. Sedang menurut Mazmur berarti kita harus memilih yang benar, jalan orang benar. Kata Tuhan Yesus : dalam memilih harus diperhitungkan dengan matang, sadar akan resiko dan konsekwensinya, supaya kita tidak kecewa dikemudian hari. Dan menurut Paulus kepada Filemon adalah pilihlah dengan hati yang penuh kasih, harus diperjuangkan dengan penuh dedikasi dan pengabdian diri : Supaya kita hidup bahagia. Amin.
|
|
|
4
|
Kristen / Renungan / DOSA DAN PENGAMPUNAN ALLAH YANG BESAR (Pdt. Em. Daud Adiprasetya)
|
on: September 02, 2010, 03:14:44 PM
|
|
Started by Joas Adiprasetya | Last post by Joas Adiprasetya
|
Oleh: Pdt Em. Daud Adiprasetya Minggu 12 September 2010 (Minggu Biasa)
DOSA DAN PENGAMPUNAN ALLAH YANG BESAR Keluaran 32:7-14 Mazmur 51:1-10 I Timotius 1:12-17 Lukas 15:1-10
Pada suatu malam di tahun 1861, saat Jendral Garibaldi pulang ke rumah, dia bertemu dengan seorang gembala Sardinia yang sedang meratapi seekor dombanya yang hilang. Garibaldi segera menoleh kepada staf dan mengumumkan keinginannya untuk menjelajahi gunung itu guna mencari domba yang hilang. Sebuah tim pencarian yang besar diorganisir. Lentera-lentera dibawa, dan jendral yang sudah malang melintang di banyak pertempuran itu dengan penuh semangat ikut mencari domba yang lari dari kelompoknya. Tetapi domba itu tidak kunjung ditemukan sehingga para prajurit diperintahkan kembali ke tenda mereka masing-masing dan tidur. Keesokan harinya, pembantu Jendral mendapati tuannya masih berada di ranjangnya dan tertidur dengan lelap. Pelayannya terkejut karena tuannya tidak biasa bangun siang, tetapi selalu bangun lebih dulu daripada orang lain. Pelayan itu meninggalkan tuannya yang sedang tidur lelap dengan pelan-pelan agar tidak membangunkannya dan kembali setengah jam kemudian. Garibaldi masih tidur nyenyak, Setelah beberapa saat tuannya tetap tidak bangun juga, pelayan itu membangunkan Garibaldi, Jenderal itu mengusap matanya, dan begitu juga pelayannya ketika melihat jenderal tua itu mengeluarkan domba yang hilang itu dari selimutnya. Rupanya, jenderal itu terus mencari domba itu semalaman sampai berhasil menemukannya. Demikian juga dengan Gembala Agung Yesus Kristus yang mencari domba-Nya yang hilang sampai Dia menemukannya. (The Preacher’s Monthly).
Jenderal kawakan yang lembut hatinya. Sepertinya itu adalah julukan yang pantas untuk seorang Garibaldi. Siapa sudi tidur bersama domba! Hal itu hanya dimungkinkan setelah terjadi suatu pencarian yang teramat sulit dan berat. Setelah terjadi penemuan yang mendatangkan sukacita besar. Juga karena tubuh yang terlanjur kotor dan sangat lelah, malam yang sudah larut, domba kecil yang sangat memperihatinkan keadaannya dan segala sesuatu yang serba luar biasa. Tapi di atas semuanya itu adalah karena sang jenderal memang memiliki hati yang penuh kasih sayang.
Apakah Tuhan masih sanggup mengasihi umat-Nya? Tema khotbah kita, “Dosa Dan Pengampunan Allah Yang Besar.” Tema seperti itu dapat menimbulkan pertanyaan: Siapa sebenarnya yang besar, Allah atau pengampunan-Nya? Kalau bikin bingung, maka katakan saja: Pengampunan yang besar dari Allah yang besar. Karena Allah itu besar, maka pengampunanNya juga pasti besar, sehingga akan sanggup mengampuni dosa yang besar! Kita harus merasa kagum terhadap kebesaran hati Tuhan dengan cara begini: Lihatlah Musa sebelum turun dari gunung Sinai, ia sudah diberitahu sepintas oleh Tuhan bahwa umat-Nya akan dibinasakan karena dosa mereka yang besar. Menanggapi rencana Tuhan itu maka Musa segera memohonkan ampun bagi umat Tuhan dengan segala daya dan upaya. Tapi, sesudah Musa turun dari gunung dan menyaksikan sendiri dosa seperti apa yang mereka lakukan, maka ia menjadi sangat geram dan langsung menyuruh bani Lewi untuk membunuh sejumlah besar pendosa-pendosa itu. Dan lagi, meskipun umat Israel sudah melakukan pelecehan terhadap pribadi dan segala kebaikan-Nya selama ini, namun Tuhan sempat menyesal juga bahwa Ia telah merencanakan hukuman atas mereka, “Dan menyesallah Tuhan karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya.” Keluaran 32:14 Timbul pertanyaan penting sekarang, mengapa Tuhan tidak menegur Musa yang menyuruh bani Lewi membunuh tiga ribu pendosa itu? Pertanyaan itu harus dijawab demikian: Karena Musa adalah pemimpin bangsa yang sudah diberi hak oleh Tuhan untuk melakukan tindakan tegas, yang sejalan dengan kehendak dan keadilan-Nya. Maka ketika Musa menunjukkan toleransinya dengan bersedia dihapus namanya dari Kitab Tuhan sekiranya Tuhan tetap akan membinasakan umat Tuhan yang lainnya, dengan tegas Tuhan menyatakan tidak setuju! Dalam Keluaran 32:33 Tuhan menekankan keadilanNya bahwa yang berdosa yang harus menanggung akibatnya. Selanjutnya Tuhan bersedia menunda hukuman untuk umat-Nya. Kita lihat di sini bahwa dalam kasih-Nya, tetap terdapat kesucian dan keadilan-Nya. Jadi, bersama umat Tuhan pada zaman dahulu kita semua berhadapan dengan Tuhan yang kasih-Nya utuh, yaitu kasih yang selalu terkait dengan sifat-sifat Tuhan yang lain. Ternyata Tuhan juga bukanlah Allah yang mau mengobral kasih dan pengampunan-Nya. Karena apa? Karena kasih dan pengampunan-Nya yang besar itu harus dibayar dengan harga yang sangat mahal, yaitu darah Anak Domba Allah yang kudus, Putera Tunggal Allah yang terkasih, yang sudah inkarnasi menjadi manusia Yesus Kristus Juru Selamat dunia.
Saat Kristus merangkul orang-orang berdosa. Reaksi yang keras segera muncul dari pihak orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka menjadi gusar sebab menilai sikap Tuhan Yesus berlebihan. Penerimaan Yesus yang disertai dengan makan bersama dengan mereka itu dianggap tidak pas dan “memanjakan” sampah masyarakat, yang sebaiknya diabaikan atau dibuang saja. Mereka berpendapat bahwa para pemungut cukai dan orang-orang berdosa yang hidupnya cemar itu sudah sepantasnya kalau di hukum dengan cara dikucilkan, direndahkan, terlebih oleh Yesus yang diakui masyarakat sebagai seorang Guru. Dengan kecaman terhadap sikap Tuhan Yesus itu, mereka mau menunjukkan bahwa taraf kerohanian mereka masih lebih di atas Tuhan Yesus. Tapi sikap mereka juga menunjukkan bahwa sama sekali tidak mengasihi orang berdosa, mereka merasa jijik dan menutup pintu bagi pertobatan umat tersesat yang dipercayakan Tuhan kepada mereka. Dari sini kita mengetahui bahwa sikap Yesus bisa menjadi ukuran dalam hidup kita. Bila kita sampai tidak bisa menyetujui tindakan Nya, maka hal itu menunjukkan bahwa pasti ada yang tidak beres dalam hati kita. Bila tiap-tiap kali ada kecocokan di antara kita dengan sikap Tuhan Yesus, berarti iman kita sehat dan moral kita selaras dengan kehidupanNya yang selalu kita teladani itu.
Satu di antara seratus. Jumlah yang besar ditinggalkan hanya untuk bisa menemukan kembali jumlah yang sangat kecil. Bukan karena jumlah yang kecil itu lebih berharga dan istimewa, tapi karena memikirkan nasib mereka yang tersesat dan terhilang itu. Karena membiarkannya, berarti menyetujui kebinasaannya, hal itu menjadi pantangan terbesar dalam hidup ini. Demikianlah setiap manusia berdosa di mata Yesus, dan di dalam hati sang Gembala Agung itu. Yesus memiliki hati yang berbelas kasihan, sehingga tidak menjadi masalah bagi-Nya, sejelek apakah domba yang terhilang itu. Yesus memiliki hati yang ingin mencari terus sampai dapat, tak peduli sesulit apakah medan yang dihadapi-Nya. Yesus memiliki hati yang rela berkorban, demi keselamatan domba kesayanagan-Nya. Dan akhirnya, pada Yesus juga ada sukacita sorgawi, saat berhasil memeluk permata hati yang diketemukan kembali.
Kalau begitu kasih Yesus adalah kasih yang istimewa, kasih satu di antara seratus, bahkan lebih, dan satu-satunya di muka bumi ini. KasihNya yang sangat besar itu patut dikenalkan kepada setiap orang berdosa, sebab mampu mengampuni dosa sebesar apapun yang di miliki pendosa kaliber kakap. Di sini ada satu cerita menarik yang dapat mendorong kita untuk memperkenalkan kasih Yesus:
Kazainak adalah seorang kepala suku yang tinggal di pegunungan Greenland. Suatu hari dia memasuki pondok di mana seorang misionaris sedang menterjemahkan Injil Yohanes. Dia ingin tahu apa yang misionaris itu sedang kerjakan; dan ketika misionaris itu memberitahukannya bahwa tanda-tanda dan kata-kata yang dia buat itu dapat berbicara, kepala suku itu ingin tahu apa isinya. Missionaris itu membacakan kisah penderitaan Kristus. Tiba-tiba kepala suku itu bertanya, “Apa yang dilakukan orang ini? Apakah dia merampok? Apakah dia membunuh seseorang?” “Tidak,” jawab misionaris itu. “ Dia tidak merampok siapa pun, tidak membunuh siapa pun, Dia tidak pernah melakukan kesalahan apa pun.” Kalau begitu, mengapa Dia harus menderita? Mengapa Dia harus mati?” “ Dengarkan,” ujar misionaris itu. “Orang ini tidak berbuat salah; tetapi Kazainak membunuh saudaranya. Kazainak membunuh anaknya, Orang ini menderita; Dia mati agar Kazainak tidak mati.” “Katakanlah kepadaku cerita itu lagi,” ujar kepala suku yang keheranan itu, dan saat misionaris itu menceritakan kasih Tuhan Yesus baginya, seorang pendosa, dia memberikan hatinya kepada Allah. Darah Yesus telah menghapus dosa-dosa nya dan dosa setiap pendosa. (Gospel Herald).
Paling berdosa di antara orang berdosa. Itulah pernyataan Paulus tentang dirinya sendiri. Menjadi menarik sebab pernyataannya itu berdasarkan pengalaman masa lalunya. Bahwa tadinya dia itu seorang penghujat, penganiaya, seorang yang ganas. Ada satu hal lagi yang membuat Paulus bukan apa-apa di dalam persekutuan umat Tuhan, yaitu bahwa dia tidak beriman, maka tidak mengasihi Tuhan Yesus. Iman dan kasih adalah pasangan yang sangat penting untuk kita miliki. Saya baru terima kata-kata indah tentang iman dan kasih. Iman membawa hidup kita ke sorga. Kasih membawa sorga ke dalam hidup kita. Iman memberi kita kekuatan. Kasih mendorong kita menguatan banyak hati yang lelah. Paulus yang kemudian menjadi orang beriman yang mengasihi Kristus, tentu saja sudah beroleh pengampunan yang besar dari Allah yang besar. Buktinya apa? Dia dianggap setia oleh Tuhan, sehingga diberi kepercayaan untuk melayani pekerjaan Tuhan. Akhirnya, kita diperbolehkan untuk mengetahui rahasia sukses Paulus sebagai hamba Tuhan, yaitu kesabaran Allah yang tampak nyata di dalam hidup Paulus, bahwa dia tidak dibuang Allah seperti pakaian compang-camping, tetapi telah diampuni, dan dibarui. Pemuda sombong yang semula membenci Yesus itu telah diubah menjadi hamba-Nya yang setia.
Pengakuan dosa Daud mengungkap pengampunan Allah yang besar. Daud terkenal karena kesalehan dan kesalahannya, kuasa dan dosanya. Daud memperkenalkan Allah yang memberi kemenangan dan pengampunan. Kebejatan Daud mengisyaratkan bahwa setiap orang berpotensi menjadi pelaku dosa yang menjijikan di depan mata Tuhan, yang melihat lebih jelas dari pelakunya. Tapi yang kita sangka jalan buntu, di dalam Tuhan sering hanya sebuah belokan saja. Kaca depan sebuah mobil selalu lebih besar dari kaca spion, karena di dalam Tuhan masa lalu tidak pernah sepenting masa depan !
|
|
|
5
|
Kristen / Renungan / KHOTBAH MINGGU, 12 SEPTEMBER 2010 (TEMA:: DOSA DAN PENGAMPUNAN ALLAH YANG BESAR
|
on: September 01, 2010, 05:41:21 PM
|
|
Started by Pdt. Yohanes Bambang Mulyono | Last post by Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
|
Renungan Minggu, 12 September 2010 Tahun C: Minggu Biasa Warna: Hijau
DOSA DAN PENGAMPUNAN ALLAH YANG BESAR Kel. 32:7-14; Mzm. 51:1-10; I Tim. 1:12-17; Luk. 15:1-10
Pengantar “To err is human, and to forgive is divine”. Kesalahan adalah watak manusia, dan pengampunan adalah sifat Allah. Ungkapan ini mau menyatakan hakikat hidup manusia yang nyata sebagai mahluk yang sering berbuat kesalahan. Namun di sisi lain hidup manusia yang penuh dengan kesalahan tersedia suatu pengharapan, yaitu Allah yang maha rahim. Apapun kesalahan manusia, Allah bagaikan seorang ibu yang menyayangi dan mengampuni umatNya. Tetapi paradoksnya, kasih dan pengampunan Allah tersebut sering tidak diberlakukan dalam kehidupan manusia bersama sesama. Saat seseorang berbuat dosa, mereka berteriak dan mohon pengampunan Allah; tetapi saat sesama berbuat kesalahan, mereka berteriak untuk menghukum dan membalas dendam. Manusia cenderung mengharap belas-kasihan dan kemurahan hati Allah saat mereka bersalah, tetapi mereka menuntut balas saat sesama melukai dan menyakiti hati mereka. Belas-kasihan dan kemurahan hati Allah yang telah mengampuni kesalahan mereka tidak dipancarkan kepada sesama yang bersalah. Dengan kata lain, belas-kasihan dan kemurahan hati Allah hanya ditampung di dalam khasanah rohani mereka, tetapi tidak disalurkan kepada sesama. Khasanah rohani yang berisi belas-kasihan dan kemurahan hati Allah yang berlimpah disumbat untuk kepentingan diri sendiri sehingga tidak tersedia sedikitpun belas-kasihan dan kemurahan hati kepada sesama. Tidaklah keliru jikalau manusia cenderung menjadi penampung rahmat dan kasih-karunia Allah sekaligus sebagai penyumbatnya. Manusia mengiba-iba dikasihani dan diampuni Allah, tetapi hatinya selalu kikir untuk mengampuni orang lain. Kita mau menerima banyak kemurahan Allah, tetapi kita enggan untuk berbelas-kasihan kepada sesama. Inti dosa manusia yang terdalam adalah egoisme (penonjolan kepentingan diri) dan egosentrisme (pemusatan kepada diri sendiri).
Terhadap kecenderungan manusia yang egoistis dan egosentrisme tersebut, tidaklah mungkin manusia mampu menyelamatkan diri dan hidup benar di hadapan Allah. Peraturan agama, hukum-hukum Allah, nilai-nilai etika dan moral tidak akan mampu meniadakan inti dasar dosa manusia yang terdalam itu. Secara positif peraturan agama, hukum-hukum Allah, nilai-nilai etika dan moral hanya mampu “memperlunak” sikap egoistis dan egosentrisme manusia tetapi tidak mampu meniadakan untuk murni dan hidup benar di hadapan Allah. Di saat-saat tertentu kecenderungan dosa tersebut akan selalu muncul dan mencari celah untuk menampilkan dirinya. Karena itu tidak mengherankan jikalau kita menjumpai seseorang yang tampak begitu bijaksana dan saleh, tetapi beberapa jam lagi kita menjumpai dia begitu mementingkan diri sendiri dan tidak peka dengan sesamanya. Tanpa Kristus, kita tidak mungkin mampu mengalami pembaruan hidup sebagai anak-anak Allah. Kita membutuhkan seorang manusia yang sekaligus ilahi, yang mana karakterNya bukanlah “to err is His humanity” (kesalahan adalah kemanusiaanNya). Tetapi yang kita butuhkan seorang manusia dan Allah sejati yang hakikatnya mengasihi (“to love is His character”). Dialah Yesus Kristus, sang Anak Allah. Melalui Dia, Allah menyatakan kasihNya yang besar. Itu sebabnya Dia datang untuk mencari umat yang terhilang dan berdosa.
Solider Dengan Umat Yang Berdosa Salah satu sikap Tuhan Yesus yang sangat menonjol adalah sikap dan cara pendekatanNya dalam memperlakukan orang-orang yang dianggap rendah, hina, miskin, lemah dan berdosa. Di Luk. 15:1-2 menyaksikan demikian: “Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka". Injil menyaksikan bagaimana Tuhan Yesus memperlakukan orang-orang yang dianggap rendah dan berdosa sedemikian rupa, sehingga mereka bersedia untuk selalu ingin datang dan mendengarkan pengajaran Tuhan Yesus. Lebih dari pada itu Tuhan Yesus juga bersedia untuk makan bersama-sama dengan mereka. Padahal dalam tradisi orang Yahudi, seorang yang saleh tidak dibenarkan untuk makan bersama dengan orang yang buruk kelakuannya. Sebab makna dari tindakan makan bersama merupakan bentuk empati dan persekutuan yang intim dengan orang-orang yang duduk di sekitarnya. Karena itu ketika Tuhan Yesus bersedia duduk untuk makan bersama dengan para pemungut cukai dan orang berdosa, Dia dianggap oleh orang-orang Farisi dan ahli Taurat telah memposisikan diriNya sebagai bagian dari kehidupan dari para pemungut cukai dan orang berdosa. Orang Farisi dan ahli-ahli Taurat segera menunjukkan sikap ketidaksetujuan bahkan mereka memperlihatkan sikap protes yang bernada marah ketika Tuhan Yesus ternyata mau makan bersama dengan para pemungut cukai dan orang berdosa. Di sini letak perbedaan sikap antara Tuhan Yesus dengan para pemimpin agama Yahudi pada waktu itu. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat lebih cenderung menjaga kesucian dan kesalehan mereka dengan cara menjauhi orang-orang yang dianggap berdosa, rendah dan hina. Sedangkan Tuhan Yesus berkenan menjadi sahabat mereka agar mereka mengalami kasih dan pengampunan Allah.
Mungkin banyak orang mengenal Tuhan Yesus sebagai pribadi yang berkuasa dan mampu membuat berbagai mukjizat, tetapi juga umat percaya mengenal dan mengalami kehadiran Tuhan Yesus sebagai seorang sahabat karib yang setia. Joseph Scriven (1819–1886) yang menulis nyanyian yang sangat terkenal dan syairnya tercantum di Kidung Jemaat 453, dengan judul: “Yesus Kawan Sejati” mengungkapkan pengalaman pribadinya dengan Tuhan Yesus. Judul asli nyanyian dari Joseph Medlicott Scriven tersebut adalah “What A Friend We Have In Jesus”. Joseph Scriven berasal dari Irlandia, yang mana dia menulis syair “What a Friend We Have In Jesus” dilatar-belakangi oleh pengalaman pahitnya karena kekasihnya mati tenggelam satu hari menjelang perkawinan mereka. Dengan tragedi itu Joseph Scriven memutuskan untuk hidup seorang diri. Tetapi sesungguhnya dia tidak pernah hidup seorang diri, karena dia hidup bersama dengan Kristus yang adalah sahabat karibnya. Pada saat itulah dia tergerak untuk membuat syair dalam lagu “What A Friend We Have In Jesus” untuk dikirim ke mamanya. Tetapi waktu itu dia tidak mempunyai uang untuk mengirimkan syair lagu tersebut, sebab dia hidup begitu miskin. Di tengah-tengah kesendirian, kesedihan, kemiskinan dan penderitaannya, Joseph Scriven justru mengalami secara mendalam kasih Kristus.
Demikian pula halnya dengan para pemungut cukai dan orang berdosa yang datang kepada Tuhan Yesus. Mereka mau datang karena mereka merasa diterima, dihargai dan dikasihi oleh Tuhan Yesus. Dalam hal ini Tuhan Yesus mampu menyentuh kebutuhan rohani manusia yang terdalam yaitu kebutuhan untuk diterima, dihargai dan dikasihi serta diampuni walaupun mereka berdosa. Bagi Joseph Scriven, Kristus dialami sebagai pribadi ilahi yang setia mendampingi dan menguatkan dirinya ketika dia kehilangan orang yang dicintainya. Jadi bagi para pemungut cukai dan orang-orang berdosa serta orang-orang yang mengalami penderitaan, Tuhan Yesus dihayati sebagai sahabat yang sempurna, yaitu sahabat yang mau peduli untuk menolong dan menyelamatkan mereka. Kepada mereka, Tuhan Yesus bersedia menyatakan empati dan solidaritas kasihNya dengan bersedia untuk duduk makan bersama sebagai wujud persekutuan yang memulihkan. Pengajaran firman Tuhan ini tidak bermaksud menyatakan bahwa Tuhan Yesus mau solider dengan keberdosaan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, tetapi Dia solider agar mereka dapat menemukan dan mengalami kasih Allah yang menyelamatkan. Kepada Joseph Scriven, Tuhan Yesus menyatakan solideritasNya dengan penderitaan yang dialaminya agar Joseph Scriven tetap mampu hidup secara berarti dan memiliki pengharapan kepada Allah. Karena solidaritas kasih dan empati Kristus senantiasa bersifat memulihkan, menyembuhkan, menyelamatkan dan memberikan pengharapan baru. Kristus berkenan solider dengan kita saat kita gagal untuk hidup benar khususnya kepada kita yang rindu untuk bertobat dan hidup yang baru. Allah di dalam Kristus berpihak kepada hati umat yang hancur dan remuk-redam, sehingga Dia berkenan mencurahkan rahmatNya yang mengampuni dan menyelematkan.
Pancaran Akar Pahit Sikap orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dalam konteks ini dinyatakan dengan sikap bersungut-sungut. Pengertian “bersungut-sungut” di sini berarti: “suatu pernyataan yang mengungkapkan perasaan tidak puas dan tidak bahagia terhadap suatu situasi” (a statement expressing discontent or unhappiness about a situation). Jadi dengan kata lain orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tidak puas dan hati mereka tidak bahagia ketika mereka menyaksikan Tuhan Yesus bergaul dan duduk semeja dengan orang-orang yang dianggap hina, rendah, dan berdosa. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tampaknya lebih “bahagia” dan “puas” manakala mereka dapat menyaksikan Tuhan Yesus mau menjauhi dan tidak bergaul dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Mereka memahami makna “hidup suci” dan “berkenan” kepada Allah dengan cara memutuskan segala kemungkinan komunikasi dengan orang-orang yang dianggap fasik. Dalam hal ini orang Farisi dan ahli-ahli Taurat beranggapan bahwa orang-orang berdosa hanya layak untuk menerima hukuman dan murka Allah, sehingga mereka harus menjauhi orang-orang yang dianggap berdosa agar mereka tidak menerima hukuman dan murka Allah. Dengan pola berpikir demikian, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tidak merasa bertanggungjawab untuk peduli atau menolong orang-orang yang dianggap berdosa dan buruk kelakuannya. Mereka sudah merasa puas dengan “kesucian” dan “hidup benar” yang telah mereka tempuh. Ternyata Tuhan Yesus mempunyai sikap dan pemahaman yang sangat berbeda dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Justru Tuhan Yesus dalam kesalehan, kesucian dan kasihNya; Dia terpanggil untuk peduli dan menolong setiap orang yang berdosa dan hina.
Akar pahit bukan hanya menyakitkan orang lain, tetapi juga menyakitkan setiap orang yang memilikinya. Tetapi anehnya para pelaku umumnya memelihara akar pahit bertahun-tahun dalam kehidupannya. Mereka merawat dan membiarkan akar pahit menjadi bagian dalam kepribadiannya. Keadaan tersebut semakin memburuk ketika kita merasa telah hidup benar dan suci. Sebab kita tidak lagi mampu melihat akar pahit yang berada di dalam diri kita. Sebaliknya dengan anggapan diri sebagai orang yang telah hidup benar dan suci tersebut justru membuat kita semakin jeli melihat akar pahit dalam diri sesama. Akar pahit bermuara dari hati yang belum menerima pengampunan dari Allah. Tepatnya orang-orang yang hidup dalam akar pahit dipenuhi oleh kemarahan dan kebencian terhadap diri sendiri, sehingga mereka tidak mampu melihat sesama dengan pandangan yang positif. Kita senantiasa memproyeksikan (memantulkan) apa yang kita miliki. Jika yang kita miliki suatu pandangan yang negatif, maka kita akan memantulkan kepada orang lain. Demikian pula sebaliknya. Jika kita memiliki pandangan yang positif di mana kita dipenuhi oleh damai-sejahtera dan pengampunan, maka kita juga akan memantulkan kepada sesama. Kita akan mudah menjadi seorang pemaaf dan berlapang dada menerima perlakuan yang kurang berkenan. Karena Kristus adalah Anak Allah yang kudus, maka hatiNya dipenuhi oleh kasih dan pengampunan yang selalu terpancar. Dia bukan menunggu orang berdosa datang kepadaNya. Sebaliknya Tuhan Yesus datang mencari dan menyelamatkan mereka yang terhilang.
Allah Mencari Yang Terhilang Untuk menjelaskan bagaimana sikap Allah yang mengasihi setiap orang yang berdosa, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang gembala yang mau mencari seekor anak domba dengan meninggalkan 99 ekor dombanya. Perumpamaan Tuhan Yesus tersebut merupakan gambaran dari kehidupan para gembala domba pada zamannya. Tetapi sebenarnya pola kebiasaan para gembala tersebut ternyata tetap bertahan sampai sekarang. Sebab pada tahun 1957 seorang gembala bernama Muhammad ed-Dib di dekat Laut Mati yang memiliki 55 ekor kambing kehilangan salah satu kambingnya. Ketika dia mencari kambingnya yang hilang, dia justru secara kebetulan menemukan gua yang menyimpan “naskah-naskah Qumran” yang kemudian dikenal dengan penemuan “Dead Sea Scrolls” yang menggemparkan dunia. Para gembala Israel ataupun penemu tempat penyimpanan naskah-naskah Qumran pada hakikatnya menunjukkan bagaimana kesungguhan mereka untuk mencari kambing atau dombanya yang hilang. Mereka bersedia mencari di tempat-tempat yang cukup jauh dan sulit. Mereka hanya mau pulang apabila mereka telah berhasil membawa kambing atau dombanya yang hilang. Sikap para gembala tersebut dipakai oleh Tuhan Yesus untuk menggambarkan sikap kasih Allah yang terus-menerus mencari setiap umatNya yang hilang dan tersesat. Sehingga Allah di dalam Kristus berkenan mempertaruhkan “nyawaNya” ketika Dia harus mencari dan menolong umatNya yang mungkin sedang terperosok dalam sebuah jurang yang sangat terjal dan dalam. Jadi di hadapan Allah, Kristus mau menunjukkan betapa berharga dan pentingnya manusia walaupun dia hina, lemah dan berdosa.
Makna perumpamaan Tuhan Yesus pada prinsipnya mau menyatakan bahwa di dalam kasih dan kerahimanNya, Allah memandang semua umatNya begitu berharga. Bbahkan manakala umatNya jatuh di dalam dosa, Allah tetap memandang berharga sehingga Dia akan tetap mencari dan menyelamatkan mereka. Tetapi sayang sekali, makna perumpamaan Tuhan Yesus tersebut sering diaplikasikan secara kurang bertanggungjawab. Karena gembala dalam perumpamaan Tuhan Yesus pergi untuk mencari seekor dombanya yang hilang dengan meninggalkan 99 ekor domba yang lain; maka kemudian ditarik kesimpulan, bahwa tugas gereja yang utama adalah mencari seorang anggota jemaat yang hilang karena mereka tidak ke gereja, dengan meninggalkan semua anggota jemaat yang tetap setia. Dengan penekanan ini maka gereja Tuhan sering mengabaikan tanggungjawabnya untuk terus memelihara rohani dan iman kepada anggota jemaat yang tetap setia. Padahal maksud perumpamaan Tuhan Yesus pada prinsipnya mau menyatakan bahwa Allah sangat peduli dan mengasihi umatNya walau mereka berdosa dan tersesat, sehingga gereja Tuhan tidak dibenarkan mengabaikan dan meninggalkan sebagian besar anggota jemaatnya hanya untuk mencari seseorang atau beberapa orang yang terhilang. Sebaliknya gereja Tuhan wajib bertanggungjawab dan mengasihi setiap anggota jemaatnya tanpa terkecuali. Sebab mereka semua telah ditebus dengan darah salib Kristus, sehingga setiap anggota jemaat dapat mengalami secara personal kasih Allah yang bersedia berkorban. Selain itu setiap umat percaya juga dipanggil untuk mengasihi setiap sesama yang tersingkir dalam pergaulan akibat kelakuan mereka yang buruk dan belum mengenal Kristus. Manakala kita telah disentuh oleh kasih Allah, maka kita juga akan terdorong untuk mengasihi setiap orang yang lemah dan berdosa, karena kita yang lemah dan berdosa juga telah dicintai oleh Allah dengan pengorbanan Kristus.
Kesabaran Dan Pengampunan Kristus Kasih Allah yang mau mencari dan menyelamatkan yang hilang dialami secara pribadi oleh rasul Paulus. Di I Tim. 1:15-16 rasul Paulus menyaksikan pengalaman hidupnya, yaitu: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal”. Dalam pengakuan dan kesaksiannya, rasul Paulus menyatakan bahwa dirinya sebagai pribadi yang paling berdosa tetapi ternyata Kristus begitu mengasihi dia agar melalui kehidupan rasul Paulus Kristus dapat menunjukkan seluruh kesabaran dan pengampunanNya. Hal yang sama juga dialami oleh para pemungut cukai dan orang-orang berdosa yang saat itu berada di dekat Tuhan Yesus. Mereka sadar akan kekurangan dan keberdosaan mereka, tetapi pada sisi yang lain saat mereka mengenal pribadi Kristus, mereka juga mengetahui bahwa mereka tidak dibuang oleh Allah. Justru melalui Kristus, mereka dapat mengalami kasih Allah yang setia untuk mencari dan menyelamatkan setiap orang berdosa. Di Rom. 5:8 rasul Paulus berkata: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”. Allah mengasihi kita, bukan ketika kita baik, benar dan saleh. Tetapi sebaliknya Allah di dalam Kristus sangat mengasihi kita justru ketika kita berdosa dan lemah. Allah di dalam Kristus adalah Allah yang penuh anugerah dan maha rahim. Dia mencintai orang berdosa agar mereka selamat dan memperoleh hidup yang kekal. Kasih Kristus bukan untuk melegitimasi situasi keberdosaan mereka. Itu sebabnya mereka yang telah diampuni oleh Allah seharusnya terpanggil pula untuk mengkomunikasikan kasih dan pengampunan Allah kepada sesamanya yang masih terhilang.
Dalam praktek hidup ternyata tidaklah mudah untuk mengaplikasikan tindakan kasih Allah yang mau mencari dan menyelamatkan sesama yang hilang atau tersesat. Karena ketika kita bergaul, berempati dan bersekutu dengan sesama yang tersesat, kita juga dapat jatuh dalam sikap yang kompromistis dengan membenarkan tindakan-tindakan mereka yang tidak terpuji. Dalam solidaritas kasih kita kepada mereka, kita wajib menjaga kemurnian dan integritas diri. Sebab bilamana kita lupa diri, maka kita dapat terlalu mengidentifikasikan diri dengan mereka sehingga kita dapat terjatuh dalam dosa, yang mana akhirnya kita juga bersikap dan bertindak seperti mereka. Itu sebabnya di I Kor. 15:33 rasul Paulus berkata: “Jangan kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”. Ini berarti untuk mencari dan menyelamatkan sesama yang hilang kita membutuhkan kemurnian dan integritas diri sedemikian rupa sehingga spiritualitas kita tersebut tetap mampu hidup kudus dan tak bercela. Tuhan Yesus dihormati dan sangat berwibawa bagi orang-orang berdosa yang berada di dekatNya karena mereka melihat kesucian dan kasihNya yang tulus sehingga mereka ingin terus belajar dan mendengarkan setiap pengajaranNya. Tetapi ketika kita hanya ingin menyenangkan hati orang banyak atau orang-orang di sekitar kita, sesungguhnya kita telah kehilangan otoritas dan kuasa kasih Allah di hadapan mereka. Mungkin tujuan kita semula adalah berusaha akrab dan dapat diterima, tetapi kita tidak memiliki prinsip dan wibawa rohani, sehingga mereka berani memperlihatkan segala perbuatan dan tingkah-lakunya yang buruk di depan kita. Mereka bersikap demikian karena beranggapan bahwa kita memiliki watak dan kelemahan yang sama dengan diri mereka. Dalam kondisi yang demikian, kita telah gagal total memberikan perubahan spiritual kepada mereka; bahkan sebaliknya kita sendiri telah diubah menurut standar dan nilai-nilai dunia ini.
Panggilan Solidaritas kasih yang tidak didasari oleh integritas diri, yaitu yang ditandai oleh kesalehan dan kemurnian hidup menjadi suatu malapetaka dalam pelayanan. Kita dapat melihat dalam beberapa contoh yang terjadi dalam pelayanan gerejawi. Saya pernah menjumpai seorang gadis yang begitu berantusias untuk memberitakan Injil kepada teman yang tidak seiman, tetapi akhirnya terjadi hal yang sebaliknya. Dia kemudian memilih untuk meninggalkan iman Kristen dan menyangkal Kristus karena dia lebih mengikuti perasaan hatinya untuk hidup bersama dengan pria tersebut. Juga kasus seseorang yang pernah tergerak oleh kasih Kristus sehingga dia ingin melayani dengan mencari dan menyelamatkan para pemabuk dan pengguna narkoba, justru dia sendiri akhirnya jatuh menjadi pemabuk dan penjual narkoba. Padahal makna tindakan kasih Allah yang mencari dan menyelamatkan yang hilang pada hakikatnya tidak pernah sedikitpun mengubah jati diri Allah untuk berkompromi dengan dosa dan kejahatan manusia. Demikian pula yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, kasihNya tetap dinyatakan beriringan dengan kekudusanNya.
Jika demikian, bagaimana dengan kehidupan kita selaku jemaat Tuhan yang juga dipanggil untuk mencari dan menyelamatkan sesama yang tersesat? Apakah kita tetap mampu mempertahankan integritas iman dan kasih kita di tengah-tengah situasi yang buruk dan penuh godaan? Marilah kita seperti Kristus yang memiliki kasih dengan mau peduli mencari dan menyelamatkan sesama di sekitar kita yang tersesat dengan tetap menjaga integritas dan kesetiaan iman kita. Amin.
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono www.yohanesbm.com
|
|
|
6
|
Kristen / Renungan / KHOTBAH MINGGU, 5 SEPTEMBER 2010 (TEMA: "MEMIILIH KEHIDUPAN"
|
on: August 24, 2010, 04:40:45 PM
|
|
Started by Pdt. Yohanes Bambang Mulyono | Last post by Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
|
Renungan Minggu, 5 September 2010 Tahun C: Minggu Biasa Warna: Hijau
MEMILIH KEHIDUPAN Ul. 30:15-20; Mzm. 1; Filemon 1-21; Luk. 14:25-33
Pengantar Hewan dengan segala jenisnya digerakkan oleh naluri atau instingnya, tetapi manusia digerakkan oleh pilihan etisnya. Naluri menggerakkan hewan kepada arah dan pola tertentu serta bersifat tetap, sehingga pola hidup suatu hewan selalu dapat diprediksi dengan tepat. Tetapi untuk memprediksi sikap seseorang tidaklah mudah. Karena tiap-tiap orang digerakkan oleh kehendak bebasnya sehingga pilihan etisnya dilakukan didasarkan nilai-nilai tertentu, keyakinan, karakter, dan situasi riel saat itu. Itu sebabnya pilihan etis setiap orang selalu bersifat unik dan personal. Mereka memiliki penafsiran tersendiri dengan apa yang dimaksud dengan “makna kehidupan”. Bagi beberapa orang makna kehidupan dihayati sebagai suatu kesempatan untuk menikmati segala sesuatu (hedonisme), beberapa orang makna kehidupan dihayati dengan sikap bertarak, sebagian lagi menghayati makna kehidupan dengan peduli (bela-rasa), dan yang lain menghayati makna kehidupan dengan bersikap egoistis, sebagian menghayati makna hidup dengan mengasihi Allah, dan yang lain mengabaikan dan menolak Allah, dan sebagainya. Yang jelas makna kehidupan yang dihayati oleh setiap orang mencerminkan arah dan tujuan hidupnya, sekaligus mencerminkan karakter, isi keyakinan dan spiritualitasnya. Semakin berkualitas makna kehidupan yang dijalani, maka semakin tinggi pula nilai-nilai dan kualitas karakter yang dimilikinya. Sebaliknya semakin dangkal makna kehidupan yang dijalani seseorang, maka akan tampak ketidakmampuan dia untuk melakukan pilihan etis secara benar.
Pengetahuan Etis Dan Kemampuan Memilih Pengetahuan etis dan kemampuan memilih dapat saling melengkapi seseorang untuk mengambil keputusan etis yang tepat. Sebab melalui pengetahuan etis, kita dimampukan untuk membuat pertimbangan etis secara rasional. Pengetahuan etis dapat membantu kita untuk memperoleh pencerahan intelektual sehingga kita bersikap dan bertingkah-laku sesuai dengan nilai-nilai etis yang rasional. Tetapi pada pihak lain, kita juga harus ingat bahwa pengetahuan etis yang luas dan mendalam tidak menjamin kita untuk mampu membuat pilihan etis secara praktis. Misalnya kita dapat mengetahui secara mendalam tentang hukum dan kehendak Allah, tetapi realitanya kita tidak senantiasa mampu memberlakukan hukum Allah tersebut dalam kehidupan kita. Pengetahuan yang lengkap tentang moralitas tidak menjamin kita menjadi seorang yang memberlakukan kesusilaan secara konsisten. Dalam banyak kasus kita telah menjumpai orang-orang yang dianggap ahli etika dan tokoh moral, tetapi tiba-tiba dia terbukti terlibat dalam berbagai tindakan yang tidak senonoh. Demikian pula banyak orang terkecoh dengan kesalehan para pemuka agama yang begitu lantang menentang pornografi, tetapi kemudian terbukti mereka sendiri bertahun-tahun mempraktekkan pornografi. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa pada satu pihak pengetahuan etis dan moral sangat dibutuhkan sebagai media pendidikan dan pembinaan umat agar mereka dapat mampu memilih apa yang benar; tetapi pada pihak lain pengetahuan etis dapat menjadi media kemunafikan sebab dipakai untuk menyembunyikan hal-hal yang buruk dalam kehidupannya. Jika demikian kemampuan memilih apa yang benar dan baik dalam kehidupan ini merupakan suatu perjuangan yang eksistensial. Tidak dijamin kemampuan kita untuk memilih secara tepat pada suatu waktu, berarti kita akan mampu memilih secara etis pada waktu yang lain. Karena pilihan-pilihan etis kita senantiasa berada dalam suatu kondisi yang tidak sama dan memiliki kerumitannya masing-masing.
Kita tahu bahwa tidak semua pilihan dalam hidup ini dapat kita pilih dengan mudah. Kadang-kadang kita menghadapi situasi yang dilematis seperti: di saat dana kita terbatas, kita harus mengambil keputusan untuk pengobatan bagi mama yang sedang sakit keras ataukah untuk anak yang harus dioperasi. Atau sikap kita yang tidak mudah memilih untuk pengobatan anak yang gagal ginjal selama bertahun-tahun sehingga membutuhkan biaya untuk cuci darah setiap minggu dua kali, ataukah lebih baik kita memilih untuk biaya pendidikan bagi anak-anak kita yang lain. Kalau kita memilih masa depan dan pendidikan bagi anak-anak kita yang lain berarti kita akan mengambil keputusan untuk menghentikan perawatan medis bagi anak yang perlu cuci darah. Tentunya keputusan kita tersebut dapat menyebabkan kematian bagi anak yang sedang membutuhkan biaya untuk cuci darah. Namun jika kita memilih dana tersebut untuk cuci darah, berarti kita akan menelantarkan masa depan dan kebutuhan pendidikan bagi anak-anak kita yang lain. Dalam hal ini kemampuan kita untuk memilih secara etis tidaklah cukup didukung dengan pengetahuan etis. Kemampuan etis kita perlu dilandasi oleh kualitas kasih dan relasi yang mendalam dengan Allah, sang sumber kehidupan. Kita mengimani bahwa Allah di dalam Kristus akan mengampuni kita ketika kita gagal untuk membuat pilihan dan keputusan yang tidak tepat dalam situasi yang dilematis. Kalau kita berpijak kepada pengetahuan etis, maka kita akan dirongrong oleh rasa bersalah. Sebaliknya ketika kita berpijak kepada anugerah dan rahmat Allah, kita dimampukan untuk melakukan pilihan dan keputusan yang sebaik-baiknya dengan kesadaran bahwa kita tidak mampu mengendalikan rahasia kehidupan ini. Jadi pilihan yang terbaik adalah bilamana dilandasi oleh kasih Allah, sehingga kita mampu memilih secara bijaksana walaupun juga menyakitkan.
Pilihan Etis Untuk Peduli Selaku jemaat Tuhan kita sering berdoa, membahas, dan mendiskusikan bahkan mengupayakan dalam berbagai program gerejawi agar terwujud kedatangan Kerajaan Allah di atas bumi ini, yaitu pemerintahan Allah yang membawa perubahan atau transformasi secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan umat manusia. Namun doa dan pembahasan teologis serta berbagai upaya yang dilakukan seringkali masih terhambat oleh sikap mental/spiritualitas kita dalam memperlakukan dan merespon sesama khususnya kepada orang yang pernah melakukan kesalahan. Kita sering memilih untuk tidak memperlakukan sesama dengan kasih dan pengampunan Allah padahal dia sebenarnya sudah menunjukkan sikap pertobatan. Kegagalan tersebut terjadi karena kita lebih memilih untuk mengabaikan dan tidak mengasihi dia. Itu sebabnya sering sesama kita tidak dapat memulai hidup baru. Kita telah memberikan suatu stigma negatif yang abadi kepada dirinya. Dalam pengertian ini “stigma” diartikan sebagai: “sign of social unacceptability: the shame or disgrace attached to something regarded as socially unacceptable” (tanda penolakan sosial berupa rasa malu atau aib yang dikenakan kepada seseorang karena pernah melakukan suatu kesalahan). Sehingga dengan pemberian suatu stigma, seseorang atau sekelompok orang tidak pernah mampu membuktikan pertobatan dan kehidupan barunya. Tindakan yang mereka perbuat senantiasa dicurigai dan tidak dipercaya, sehingga seluruh itikad atau maksud baik mereka tidak diterima dengan hati yang tulus oleh anggota masyarakat. Dalam kondisi yang demikian, sebenarnya kita tidak akan pernah mampu mengalami datangnya kerajaan Allah di tengah-tengah kehidupan ini.
Di surat rasul Paulus kepada Filemon, kita dapat melihat bagaimana karya keselamatan Allah dinyatakan melalui rasul Paulus kepada seorang budak bernama Onesimus. Tampaknya Onesimus pernah melakukan kesalahan yang fatal kepada tuannya yang bernama Filemon. Kemungkinan Onesimus pernah mencuri atau berhutang dalam jumlah yang sangat besar. Karena Onesimus merasa tidak sanggup atau merasa sangat bersalah, dia kemudian melarikan diri dari tuannya. Tentunya tindakan Onesiumus tersebut sangat merugikan Filemon, tuannya. Tetapi dalam pelariannya itu Onesimus tertangkap sehingga dia dipenjara. Di penjara itu dia berjumpa dengan rasul Paulus. Perjumpaan Onesimus dengan rasul Paulus ternyata membawa suatu perubahan besar dalam kehidupan pribadi Onesimus. Karena disaksikan Onesimus akhirnya dapat mengenal dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juru-selamatnya. Bahkan di ayat 10, rasul Paulus menyebut Onesimus sebagai “anaknya”. Lalu di ayat 12 rasul Paulus menyebut Onesimus sebagai “buah hatinya”. Walaupun demikian, rasul Paulus tidak menahan Onesimus untuk dirinya sendiri. Sebaliknya rasul Paulus menyuruh Onesimus kembali pulang kepada tuannya. Lebih dari pada itu agar kredibilitas Onesimus pulih kembali, maka di ayat 18-19 rasul Paulus dengan rela bersedia memberikan jaminan dan ganti rugi kepada Filemon, yaitu: “Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku – aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri: Aku akan membayarnya”. Bahkan rasul Paulus dalam suratnya kepada Filemon menyampaikan suatu permohonan: “Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya, bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan” (Filemon 1:15-16). Sikap kasih dari rasul Paulus tersebut tentunya berhasil untuk menghapus berbagai stigma negatif yang melekat di dalam diri Onesimus. Karena kini selain Onesimus telah menampakkan sikap pertobatannya, rasul Paulus juga telah memberikan suatu jaminan dan sebutan Onesimus sebagai “buah hati” dan “anaknya”.
Seringkali kita selaku umat percaya dengan mantap berdoa “ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Tetapi dalam praktek kita ternyata lebih cenderung dan terampil untuk memberikan stigma negatif kepada banyak orang yang kita anggap bersalah. Sangat berbeda sikap rasul Paulus ketika dia menghadapi orang yang sedang bermasalah dan melakukan kesalahan. Rasul Paulus tidak bersikap menghakimi Onesimus, melainkan dia memilih untuk membimbing dengan penuh kasih sehingga akhirnya Onesimus dapat percaya dan menerima Kristus. Rasul Paulus juga mengasihi Onesimus sedemikian rupa sampai dia menyebut Onesimus sebagai buah hati dan anaknya sendiri. Secara khusus pula rasul Paulus meminta kepada Filemon selaku tuannya agar mau menerima Onesimus bukan lagi sebagai seorang budak, tetapi sebagai saudara yang kekasih. Padahal rasul Paulus sebenarnya juga dapat membuat pilihan etis untuk tidak berupaya membimbing dan membela Onesimus. Tetapi kepedulian rasul Paulus begitu besar untuk membimbing Onesimus, sehingga Onesimus yang dahulu harus lari karena melakukan kejahatan kini hidupnya benar-benar dipulihkan. Onesimus akhirnya dapat menjadi seorang yang dapat kembali pulang dengan predikat yang baru di dalam kasih Kristus. Pilihan etis yang mau peduli dengan masalah yang dihadapi oleh sesama terbukti mampu membawa perubahan hidup yang berarti.
Pilihan Etis Untuk Lepas Dari Kelekatan Makna “lekat” kepada yang duniawi berarti orientasi dan pilihan etis hidup kita menempatkan segala hal yang duniawi sebagai yang paling menentukan. Sikap yang “lekat” dengan keinginan duniawi akan cenderung mengabaikan kehendak Allah dan firmanNya. Karena kita lekat kepada kuasa duniawi, maka kita juga tidak mampu membuat pilihan etis secara bebas. Itu sebabnya kehidupan kita lebih banyak dipengaruhi, diwarnai, dan didominasi oleh segala hal yang duniawi sehingga kehidupan kita tidak lagi memancarkan sebagai gambar dan rupa Allah. Kita tidak hidup sebagai anak-anak Allah, tetapi sebaliknya sebagai anak-anak dari kuasa dunia ini. Akibatnya kehidupan kita menjadi semakin rusak dan jauh dari kemuliaan Allah. Spiritualitas kita tidak menjadi tanah liat yang lentur dan mudah dibentuk tetapi spiritualitas kita menjadi tanah yang keras sehingga tidak mungkin lagi dapat dibentuk menjadi sebuah bejana sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Jadi kekerasan hati dan kelekatan roh kita kepada hal-hal yang duniawi menyebabkan kita kehilangan kemampuan untuk merespon keselamatan dan proses pembaharuan yang dikerjakan oleh Allah. Itu sebabnya Tuhan Yesus memanggil kita untuk memahami dan mempraktekkan makna memikul salib. Di Luk. 14:27, Tuhan Yesus berkata: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi muridKu”. Makna memikul salib di sini jelas menunjuk kepada kesediaan untuk menerima beban dari Kristus, dan bukan menerima dan memikul berbagai beban dosa. Dalam hidup sehari-hari kita sering menghadapi kerancuan untuk membedakan antara memikul salib Kristus dengan memikul beban dosa. Padahal makna memikul beban dosa terjadi karena kita memilih untuk mengikuti hawa nafsu duniawi. Sebaliknya memikul salib Kristus, kita menerima tugas dan kondisi yang menempatkan kita dalam suatu situasi yang sulit. Memang saat kita menerima dan memikul beban dari Tuhan sangat berat tetapi pada pihak lain juga membebaskan dan menyelamatkan. Sebaliknya ketika kita memikul beban dosa, beban tersebut umumnya ringan dan menyenangkan tetapi membawa kita kepada kebinasaan dan hukuman Allah. Jadi jikalau kita mampu membuat pilihan etis yang lepas dari kelekatan kuasa dunia, kita akan memperoleh anugerah keselamatan yang membebaskan diri kita.
Salah satu bentuk kelekatan yang menghalangi kita kepada proses pembentukan Allah adalah cinta diri yang berlebihan kepada para anggota keluarga, nyawa dan harta milik kita. Kita sering menempatkan keluarga, nyawa dan milik kita sedemikian penting, sehingga mereka sering menjadi “penguasa” atas hidup kita. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Jikalau seorang datang kepadaKu, dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudara laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu” (Luk. 14:26). Tentu perkataan ucapan Tuhan Yesus dengan ungkapan “membenci” di sini bukanlah dalam pengertian yang sebenarnya. Lebih tepat makna kata “membenci” di sini justru lebih menunjuk kepada pengertian “mengasihi lebih dari pada apapun”. Sehingga barangsiapa yang mengasihi ayah, ibu, isteri, anak-anak, saudara-saudara laki-laki atau perempuan dan nyawanya sendiri lebih dari apapun juga, maka dia tidak layak untuk mengikut Tuhan Yesus. Sebab seseorang yang mengasihi para anggota keluarga, nyawa dan harta miliknya lebih dari pada apapun juga pastilah seorang yang tidak ingin menaklukkan diri di bawah kehendak Allah. Dia akan lebih cenderung ingin memberlakukan keinginan dan orientasi hidupnya sebagai yang paling utama. Kita dapat melihat dalam banyak contoh ketika seseorang menempatkan para anggota keluarganya sebagai yang paling utama, maka akan muncul sikap nepotisme. Atau seseorang yang terlalu mencintai nyawanya sendiri sehingga melahirkan sikap egoisme diri, dan rasa cinta yang berlebihan kepada etnisnya sendiri akan melahirkan sikap rasialisme; rasa cinta yang berlebihan kepada bangsanya sendiri melahirkan sikap chauvinisme. Demikian pula rasa cinta kepada uang dan materi yanga berlebihan akan melahirkan sikap materialisme. Semua sikap tersebut terwujud dalam realita kehidupan manusia karena kita tidak menempatkan Allah sebagai satu-satunya pusat kehidupan kita.
Onesimus sebelumnya sempat menjadikan harta milik atau uang sebagai yang paling utama sehingga dia berani melakukan tindakan yang merugikan tuannya. Tetapi ketika dia berjumpa dengan rasul Paulus, dia mengenal kasih Allah di dalam Kristus, Onesimus kemudian bersedia bertobat dan mengalami kehidupan yang baru. Dia tidak memilih untuk mengeraskan hati, tetapi dia lebih memilih untuk membiarkan kuasa kasih Kristus bekerja mentransformasikan kehidupannya. Keadaan akan berbeda manakala Onesimus waktu itu tetap mengeraskan hati dan tidak mau bertobat. Proses pemulihan yang dilakukan Allah kepadanya mungkin menjadi sangat panjang dan berliku. Lebih dari pada itu proses pemulihan yang dikerjakan Allah di dalam hidup Onesimus mungkin sangat menyakitkan dan memalukan. Tetapi syukurlah Onesimus bersedia membuka hatinya dan bertobat. Sehingga dia kini bukan hanya dapat kembali ke rumah Filemon; tetapi juga dia dianggap sebagai buah hati dan anak dari rasul Paulus, bahkan Onesimus tidak lagi dianggap oleh Filemon sebagai seorang budak, tetapi dia diangkat menjadi saudara kekasih di dalam Kristus. Onesimus bersedia membuka seluruh hatinya terhadap pekerjaan Roh Kudus, dan dia bersedia untuk melepaskan segala kelekatan duniawi agar dia dapat mengikut Kristus dengan paradigma yang baru.
Pilihan Etis Yang Bertanggungjawab Kita sering menjumpai seseorang yang bersaksi tentang pertobatan dan hidup barunya, tetapi dalam waktu yang tidak terlalu lama kita kemudian mendengar dia kembali ke dunia lamanya. Pilihan etisnya untuk hidup baru di dalam Kristus ternyata tidak bertahan lama. Dia kembali lekat dengan keinginan dan hawa-nafsunya dan sikap egoismenya yang tidak peduli dengan kondisi sesama. Sikap yang tidak konsisten ini terjadi karena kita sering tidak mengambil keputusan etis yang didasari oleh pertimbangan yang masak. Keputusan etis kita sering didasari oleh motif yang cenderung praktis, emosional dan kurang menyadari konsekuensinya. Akibatnya kita tidak mampu mempertahankan keputusan etis untuk mengikuti Kristus dengan seluruh risiko yang seharusnya kita tanggung. Di Luk. 14:28-30, Tuhan Yesus mengingatkan agar setiap orang yang mengambil keputusan etis untuk mengikut Dia haruslah memperhitungkan segala sesuatu dengan masak, seperti orang yang mau mendirikan menara; yaitu: “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya”. Pilihan etis yang bertanggungjawab selalu memperhitungkan secara cermat apa artinya mengikut Kristus, dan dengan jujur dia membuat komitmen iman. Kalau kita senantiasa cermat dan jujur, maka kita tidak akan pernah menyesal mengikut Kristus khususnya saat doa-doa kita tidak terjawab atau saat harapan-harapan kita kandas. Pilihan etis yang bertanggungjawab senantiasa melibatkan sikap yang rasional dan sikap kritis, sehingga kita mengetahui dengan pasti mengapa kita memilih untuk mengikut Kristus dan bukan kepada yang lain. Dengan demikian pilihan etis yang bertanggungjawab akan mencegah kita untuk menyesal dan kecewa mengikut Kristus.
Pilihan etis yang bertanggungjawab pada akhirnya harus mampu memberikan arah yang baru dan pasti sebab kita telah menggumulinya dengan cermat dan sepenuh hati. Kita tidak lagi terlalu bergumul dengan kecenderungan dan hawa-nafsu manusia lama kita, sebab kita telah berhasil mengubur dalam-dalam semua hal yang najis dan tidak berkenan kepada Allah. Sebab bukankah dalam hidup sehari-hari kita masih menjumpai umat percaya yang terus bergumul dan gagal melawan kecenderungan manusia lamanya, sehingga dia tidak pernah mampu bertumbuh secara sehat. Memang, selama kita masih hidup di dalam dunia ini kita akan terus-menerus bergumul dengan kelemahan dan keberdosaan diri kita. Tetapi tidak berarti pergumulan tersebut harus menyita seluruh kekuatan, kemampuan dan kesempatan yang telah dianugerahkan Allah. Bilamana hal ini yang terjadi, maka dapat dipastikan kita tidak akan mampu menjadi garam dan terang dunia. Kekristenan kita tidak akan efektif dan berwibawa sebab kita harus terus-menerus mengurus kelemahan dan kekurangan diri sendiri. Tepatnya kita akan gagal memancarkan kehidupan yang seharusnya membawa berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Pilihan etis yang bertanggungjawab karena telah memperhitungkan semua konsekuensinya dalam mengikut Kristus akan menjadi pilihan etis yang lebih stabil dan mantap dalam menghadapi gelombang kehidupan ini.
Panggilan Allah telah memprogram kehidupan umat manusia dengan kebebasan kehendak, sehingga seharusnya kita mampu membuat pilihan-pilihan etis yang tepat di saat kondisi yang sering tidak tepat. Pilihan-pilihan etis yang tepat akan memampukan kita untuk menjadi seorang pribadi yang kuat secara karakter dan bijaksana dalam bersikap. Karena itu pilihan-pilihan etis yang tepat membutuhkan kesediaan diri untuk dibentuk oleh Allah, ditebus oleh darah salib Kristus dan diterangi oleh Roh Kudus. Karena keberadaan dan karakter kita telah dirusakkan oleh kuasa dosa. Itu sebabnya pilihan-pilihan etis yang berkualitas hanya mungkin terjadi jikalau kita mau merendahkan hati untuk diproses dalam karya keselamatan Allah. Yang mana karya keselamatan Allah secara paripurna terjadi dalam penebusan Kristus. Itu sebabnya mengapa kita memilih secara sadar dengan segala konsekuensinya untuk mengikut Kristus, dan tidak kepada yang lain. Karena Kristus adalah sang wahyu Allah. Tepatnya Kristus adalah penyataan sang Firman Allah yang pada hakikatnya adalah Allah itu sendiri. Kita memilih Kristus dan menempatkan Dia sebagai Tuhan karena kualitas dan karakter ilahi yang dimilikiNya. Selain itu melalui kehidupan Kristus, kita dapat melihat karya kasihNya yang mengungkapkan seluruh kemurahan, anugerah dan kerahiman Allah. Karena itu suatu pilihan etis yang tidak mencerminkan karakter Kristus, bukanlah pilihan etis yang berkualitas.
Jika demikian, pilihan etis kita untuk peduli kepada sesama yang bersalah adalah karena mereka dikasihi oleh Kristus. Bila Kristus berkenan menerima umat yang berdosa, maka selayaknya kita membimbing dan menolong mereka ke arah yang benar. Demikian pula bilamana kita memilih tidak lekat kepada kuasa duniawi adalah karena kita tahu telah ditebus dengan darah Anak Allah. Melalui karya penebusan Kristus, kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah sehingga kita tidak lagi tertarik dengan tawaran dan godaan dunia ini. Bagaimanakah dengan kehidupan saudara? Apakah kehidupan kita ditandai oleh kehidupan yang bermakna, yaitu kehidupan yang konsisten dengan nilai-nilai Kristus dan kerajaanNya? Ataukah kita lebih memilih untuk mengambil keputusan etis yang menjauhkan diri kita dari kasih-karunia Allah? Amin.
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono www.yohanesbm.com
|
|
|
7
|
Kristen / Renungan / MEMILIH HIDUP (Pdt. Em. Daud Adiprasetya)
|
on: August 24, 2010, 03:10:47 PM
|
|
Started by Joas Adiprasetya | Last post by Joas Adiprasetya
|
Oleh: Pdt Em Daud Adiprasetya Minggu 5 September 2010 (Minggu Biasa).
MEMILIH HIDUP Ulangan 30:15-40 Mazmur 1 Filemon 1-21 Lukas 14:25-33
Dikisahkan tentang sebuah desa kecil di kaki gunung, para penduduknya sebagian besar merupakan petani yang mencari penghasilan mereka dengan menanam padi. Daerah tersebut dikenal sangat subur sehingga kebanyakan warganya menjadi kaya raya. Satu tahun belakangan ini, desa tersebut dilanda wabah tikus yang sangat hebat yang mengakibatkan panen padi di desa itu terganggu. Hampir seluruh pelosok desa dipenuhi oleh kawanan tikus yang senang memakan dan merusak hasil panen petani. Oleh karena kewalahan menangani masalah ini, Kepala Desa membuat sayembara untuk seluruh penduduk desa. Sayembara itu sangat menarik karena bagi mereka yang berhasil menangkap seekor tikus akan diberikan uang sebesar 1000 rupiah. Tiga bulan setelah program dikeluarkan, populasi tikus dengan serta merta menurun. Warga kegirangan dan keasyikan memburu tikus, bukan hanya karena tikus merupakan musuh bebuyutan mereka, namun mereka juga mendapatkan hasil yang sangat lumayan. Bahkan, banyak keluarga yang mengerahkan seluruh anak-anaknya untuk menangkap tikus. Penghasilan warga meningkat dengan cepat setelah penangkapan tikus-tikus tersebut. Celakanya, sebagian warga merasa bahwa uang dari hasil menangkap tikus jauh lebih besar dan lebih mudah didapat daripada ketika mereka bekerja di sawah. Hari demi hari populasi tikus mulai berkurang dan warga merasa gusar hati karena penghasilan mereka dari menangkap tikus menjadi berkurang. Dua bulan kemudian, Kepala Desa kembali melakukan survei, dan alangkah kagetnya ia ketika menemukan informasi bahwa jumlah tikus pada saat ini lebih banyak daripada jumlah tikus sebelum diadakan sayembara. Selidik punya selidik, ternyata ada beberapa oknum penduduk desa yang mengembangkan tikus untuk dapat ditukarkan dengan uang. Alhasil sayembara yang bermaksud memberikan insentif bagi para penduduk untuk mengurangi populasi tikus, disalahgunakan segelintir oknum yang menginginkan sesuatu yang lebih mudah. (Dari buku Fight Like A Tiger Win Like A Champion).
Oh, memilih selalu bikin pusing kepala! Pada saat wabah tikus menggila mengapa mereka tidak segera memilih jalan yang terpuji, yaitu ramai-ramai memerangi tikus? Hal itu akan dapat memupuk persatuan warga, dapat mengatasi kerugian secara finansial, dan menghadirkan kepuasan batiniah. Tapi apa yang telah terjadi? Dalam kisah di atas kita menemukan hal-hal yang mengecewakan dan semuanya berhubungan dengan pilihan dalam hidup ini.
Pertama, Mengapa penduduk desa tidak memilih untuk menolak dengan tegas ketika ditawari insentif, sebab memerangi tikus adalah untuk kepentingan mereka sendiri? Kedua, Mengapa Kepala Desa tidak memilih cara yang sehat, yaitu menyadarkan penduduk dan memberi dorongan kepada mereka untuk melestarikan kemakmuran desa? Ketiga, Dalam keadaan yang sangat memperihatinkan itu bagaimana mungkin bisa muncul segelintir orang yang memilih untuk beternak tikus daripada menanam padi? Mereka yang malas, egois dan rakus seperti tikus itu patut ditegur keras atau dihukum.
Musa seperti Kepala Desa yang menghadapi wabah tikus? Memang sama-sama sebagai pemimpin, tapi kepemimpinan Musa jauh lebih mantap tentunya. Dia memimpin sebuah bangsa yang besar, umat yang dibebaskan Allah dari perbudakan Mesir menuju Tanah Perjanjian melalui perjalanan panjang 40 tahun lamanya. Jika Kepala Desa tadi kebingungan menghadapi tikus-tikus ganas yang tersebar ke segala pelosok desa, maka Musa lain lagi. Dalam matanya Musa melihat nasib bangsanya yang penuh teka-teki, bangsa besar yang belum mempunyai sejengkal tanah untuk dihuni itu, akan hidup atau mati? Musa sendiri sudah tahu bahwa ajalnya tak lama lagi, tapi dia akan hidup bersama Tuhan di sorga, bagaimana dengan umat dan bangsa yang ia kasihi seperti anaknya sendiri ini? Jika ditinggal pergi nanti, akankah mereka itu bertahan sebagai umat Tuhan? Sebab begitu seringnya mereka itu berpaling dari Tuhan dan terpikat kepada ilah lain. Jika Kepala Desa tadi menawarkan solusi-insentif sebagai pilihan untuk mengubah nasib, maka Musa memerintahkan bangsanya untuk mengasihi Tuhan dan menolak allah lain. Keduanya berhubungan dengan hidup, tapi bobotnya berbeda jauh seperti bumi dan langit. Permasalahan tikus itu memang bisa saja mempengaruhi kehidupan di dunia ini, tetapi tidak secara langsung berhubungan dengan ibadah kita kepada Tuhan. Hal inilah yang membuat Musa menjadi panik, kiranya dapat disebut kepanikan-rohani. Jelas sekali Musa merasa sangat tidak nyaman hatinya saat berhadapan dengan umat Tuhan saat itu. - Musa memerintahkan umat Tuhan mengasihi Tuhan, supaya hidup. - Musa memperingatkan jika umat Tuhan menyembah allah lain akan binasa - Musa memberitahukan, memanggil langit dan bumi sebagai saksi, memperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. - Akhirnya Musa menghimbau agar umat Tuhan memilih kehidupan, supaya mereka dan keturunannya hidup. Di sini kita melihat Musa sedemikian mengharapkan keselamatan umat Israel. Penekanan kata-katanya begitu terasa supaya mereka jangan sampai salah memilih di antara hidup dan mati. Jika Kepala Desa, dan para pemimpin dunia pada umumnya hanya sekedar menjalankan tugas, maka Musa begitu menyatu dengan seluruh bangsanya. Meski sudah ulangkali dikecewakan oleh bangsa yang diasuhnya, tapi Musa tetap mengasihi mereka. Dengan demikian Musa dapat menggambarkan sikap Yesus Kristus yang penuh kasih sayang, terhadap umat manusia yang sudah dirusak oleh dosa.
Pelajaran apa yang dapat kita ambil? Pertama, Jika kita menjadi seorang pemimpin; dalam keluarga, dalam jemaat, kantor dan di manapun, upayakan untuk dapat menyatu dengan mereka yang kita pimpin serta memperjuangkan kepentingan mereka dengan penuh ketulusan hati. Kedua, Tingkatkan terus kecerdasan memilih yang memberi “hidup” daripada yang membawa “kematian”. Ingat, kalau-pun kita tidak mau memilih, maka itu sudah berarti memilih, yaitu memilih untuk tidak memilih.
Tetap masih harus memilih, meski sudah memilih. Orang banyak yang berduyun-duyun mengikuti Yesus saat itu tidak secara otomatis sudah menjadi murid-Nya. Jika ingin menjadi murid-Nya maka mereka harus membenci keluarga dekatnya bahkan nyawanya sendiri. Sudah jelas bahwa di sini, Tuhan Yesus tidak sedang menganjurkan untuk menjadi orang yang tidak bertanggung jawab, terhadap keluarga dan hidup kita. Dia hanya mau menekankan bahwa murid-Nya harus memiliki kasih yang kuat kepada Yesus Kristus. Barang siapa mau menjadi murid-Nya maka ia harus mengutamakan persekutuan secara pribadi dengan Yesus, melebihi apa dan siapapun dalam hidupnya. Karena di dalam Yesus Kristuslah terdapat segala sesuatu yang terbaik. Termasuk pelajaran-Nya mengenai bagaimana seharusnya sikap kita terhadap anggota keluarga, yang menjadi sesama terdekat dan terhadap diri sendiri. Setiap kali diperdengarkan Firman-Nya ini berarti panggilan-Nya sedang ditujukan kepada yang mendengarnya. Panggilan Tuhan Yesus untuk menjadi murid-Nya ini seharusnya kita tanggapi dengan penuh rasa syukur, sebab merupakan peluang emas untuk ditindaklanjuti, misalnya dengan mengikuti kateksasi lalu menerima sakramen Baptis Kudus. Mengikuti Pemahaman Alkitab, terjun dalam kegiatan gerejawi dan seterusnya.
Jika seorang memilih untuk menjadi murid Yesus, maka ia harus: Siap menghadapi kesulitan. Di dalam hidupnya, setiap murid Yesus pasti mempunyai salib yang harus dipikulnya. Itulah penghalang yang dapat menjauhkan kita dari Tuhan. Bentuknya berbeda-beda, tapi selalu ada. Maka jangan minta untuk dibebaskan dari salib, tetapi mohonlah kekuatan supaya mampu memikul dan mengatasinya. Sebenarnya,Salib dapat membuat kita menjadi semakin bersandar kepada Tuhan Yesus. Semakin akrab dengan Kristus, dengan demikian kita akan menjadi semakin kuat.
Siap mewujudkan niat hatinya. Seperti orang yang mau membangun sebuah menara, atau seorang raja yang akan berperang. Tuhan memang tidak melarang kita mengadakan perhitungan , pertimbangan dari segala segi, bahkan pergumulan secara besar-besaran, tapi pada akhirnya kita harus mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan yang tegas untuk menjadi murid Tuhan yang setia.
Siap berkarya sebagai garam. Seperti garam yang rela dikorbankan demi kesuburan dan kelezatan, menjadi murid Kristus yang melayani dunia ladang-Nya itu adalah merupakan komitmen kita. Murid Tuhan tidak mengejar kedudukan dan nama besarnya sendiri, tapi mengutamakan integritas.
Siap menyatakan kasih kepada yang mengecewakan hati. Sebagai murid Tuhan Yesus sebenarnya kita dipanggil untuk sering melakukan perbuatan-perbuatan “kecil” dalam hidup kita, yang dapat menggambarkan perbuatan besar Guru kita Yesus Kristus. Seperti yang sedang dilakukan Paulus ketika memperjuangkan masa-depan Onesimus, agar bisa diterima kembali oleh mantan majikannya. Untuk itu Paulus telah mempertaruhkan nama baik, hubungan baiknya dengan Filemon, dan sejumlah uang sekiranya Onesimus pernah merugikan Filemon. Di pihak lain bila Filemon bersedia menerima kembali Onesimus maka ia akan mengajarkan kasih dan pengampunan Kristus dalam praktik kepada Onesimus dan masyarakat luas. Meskipun Paulus telah mengharap dengan sangat dalam suratnya, namun Filemon tetap bisa memilih untuk menolak permintaan Paulus. Memang untuk berbuat baik, kita harus melewati pintu-pilihan yang sempit dan sulit!
Siap menolak kejahatan, menyambut kebenaran Tuhan. Hal itu diungkap dalam Mazmur 1:1 yang sangat terkenal itu. Murid Tuhan dengan tegas harus menolak sikap, pola hidup dan pergaulan jahat yang dapat merusak hidupnya, dan menggemari Firman Allah yang indah dan benar.
|
|
|
10
|
Kristen / Renungan / KHOTBAH MINGGU, 29 AGUSTUS 2010 ("RENDAHKAN HATI, PEDULIKAN SESAMA")
|
on: August 11, 2010, 04:16:14 AM
|
|
Started by Pdt. Yohanes Bambang Mulyono | Last post by Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
|
Renungan Minggu, 29 Agustus 2010 Tahun C: Minggu Biasa Warna: Hijau
RENDAHKAN HATI, PEDULIKAN SESAMA Ams. 25:6-7; Mzm. 112; Ibr. 13:1-8, 15-16; Luk. 14:1, 7-14
Pengantar “Jangan berlagak di hadapan raja, atau berdiri di tempat para pembesar”, demikian ungkapan kitab Amsal 25:6. Nasihat tersebut mungkin kita anggap terlalu hiperbolis atau berlebihan. Masakan kita selaku rakyat biasa mau berlagak di hadapan raja. Faktualnya kita akan cenderung “menunduk-nunduk” hormat di hadapan raja, dan kalau perlu beberapa orang akan berupaya untuk menjilat untuk suatu kepentingan tertentu. Memang banyak orang cenderung mempertontonkan sikap yang “menunduk-nunduk” hormat, tetapi tidak berarti mereka tidak mampu mencari celah berlagak dan bersikap sombong dengan cara yang begitu sopan. Thomas Fuller berkata: “Kesombongan menganggap kerendahhatian amat terhormat, bahkan ia memakainya sebagai jubah”. Untuk berlagak dan bersikap sombong yang efektif, seseorang justru akan menutupinya dengan jubah kerendahan hati dan sikap yang sopan santun. Para pelaku kesombongan menyadari bahwa kesombongan yang ditampilkan secara vulgar dan kasar akan merugikan mereka, sehingga mereka akan berupaya menampilkan kesombongan secara simpatik dan dengan sikap yang tampaknya bijaksana. Tidak mengherankan jikalau dosa kesombongan merupakan jenis dosa maut nomor wahid alias nomor satu, karena kesombongan mampu menyelinap dalam berbagai hal yang tampaknya mulia dan suci. Untuk mencari dan menemukan orang-orang yang sombong, kita tidak perlu pergi ke pusat perbelanjaan atau mall. Justru kita akan mudah menemukan orang-orang yang berlaku sombong dan tidak peduli dengan sesama, saat kita berada di tempat ibadat dan pelayanan. Karena di tempat-tempat ibadah itulah umat akan berupaya untuk menyembunyikan kesombongannya dengan berlaku rendah-hati dan penuh simpati. Kesombongan Dan Citra Diri Kesombongan merupakan jenis dosa yang terbesar (the great sin) dan melahirkan dosa-dosa yang lain. Dari sikap sombong, kita mengembangkan menjadi dosa iri-hati karena kita menjumpai bahwa sesama ternyata memiliki suatu kelebihan yang tidak kita miliki. Kesombongan juga melahirkan sikap puas diri dan meremehkan orang lain sehingga dia enggan mengembangkan karunia dan talenta. Selain itu dosa kesombongan akan membentuk citra diri yang salah, sehingga dia menganggap dirinya sebagai orang yang terpenting. Sikap sombong secara prinsipial membutakan mata hati dan akal sehatnya, seakan-akan dia telah berhasil melampaui keterbatasan manusiawinya. Pernah dikisahkan tentang Muhammad Ali, seorang petinju legendaris, yang sedang bepergian dengan sebuah pesawat. Selama perjalanan udara itu, tiba-tiba pesawat yang ditumpanginya mengalami gangguan cuaca hingga berguncang-guncang. Dengan cepat pilot menginstruksikan seluruh penumpang untuk memasang sabuk pengaman. Dan semua penumpang mematuhi perintah pilot tersebut, kecuali Muhammad Ali. Ketika pramugari mendatanginya, Ali berkata dengan suara keras, “Superman tidak membutuhkan sabuk pengaman.” Tanpa berpikir lama pramugari itu segera berkata, “Benar, tapi Superman juga tidak membutuhkan pesawat terbang.” Kalau Muhammad Ali memang seorang superman, mengapa dia harus menumpang pesawat? Kemenangannya bertinju telah membutakan mata Muhammad Ali seakan-akan dia telah menjadi satu-satunya penghuni bumi yang paling jagoan dan bebas dari hukum gravitasi bumi. Dia mungkin jago di atas ring tinju, tetapi di dalam pesawat terbang yang sedang berguncang dan mungkin dapat jatuh, dia hanyalah seorang insan yang tidak berdaya apa-apa.
Selain itu karena seseorang menganggap dirinya terpenting, maka orang yang sombong akan cenderung untuk selalu merendahkan orang lain. Kesombongan menghasilkan sikap superioritas yang ingin selalu menundukkan sesama sehingga segala hal yang dilakukan oleh sesama tidak pernah dianggap berharga dan berkualitas. Sikap sombong yang demikian selalu memposisikan keberadaan dan kemampuan orang lain dalam kategori yang lebih rendah dan hina. Karena itu tidaklah mengherankan jikalau kesombongan selalu merusak semua hal yang bernilai dalam kehidupan ini. Kesombongan merupakan kanker spiritual yang menghancurkan ikatan dan nilai-nilai persahabatan dan persaudaraan dengan sesama sekaligus menghancurkan relasi kasih dengan Allah. Sebab siapakah yang bersedia bersahabat dengan seorang yang angkuh dan arogan, walaupun dia pandai dan menguasai berbagai ilmu pengetahuan? Siapakah yang tahan hidup bersama dengan seorang sombong, walaupun dia seorang yang rajin bekerja dan memiliki posisi yang tinggi? Kesombongan akan menjadikan sesama di sekitarnya sebagai para pribadi yang tidak berharga. Sikap sombong melahirkan sikap antipati. Selain itu kesombongan juga melahirkan sikap yang ingin meniadakan keberadaan sesama yang dianggap tidak berkualitas. Itu sebabnya dosa kesombongan kemudian melahirkan program “holocaust” yang membasmi etnis Yahudi karena Hitler menganggap bangsa Jerman sebagai satu-satunya etnis Arya yang unggul. Dosa kesombongan juga menyebabkan rasisme dalam berbagai bentuk yang berupaya untuk melumpuhkan etnis atau suku lain secara total. Jadi jelas bahwa kesombongan tidak mungkin mampu melahirkan sikap yang mau peduli sesama. Kesombongan akan melahirkan sikap ketidakpedulian dan ketidakmampuan menghargai sesama secara setara dan wajar. Karena itu Allah memanggil kita untuk mampu bersikap rendah-hati dengan tulus, maka kita akan dimampukan untuk menghargai dan mempedulikan sesama sebagaimana Kristus senantiasa mengasihi setiap umat.
Teologi Vertikalis Suatu sikap atau tingkah-laku senantiasa dilandasi oleh sistem nilai, prinsip spiritulitas dan teologi tertentu. Demikian pula sikap sombong yang meremehkan sesama bukanlah sekedar suatu perilaku yang spontan dan alamiah. Sikap sombong muncul karena pemahaman teologis tertentu yang diejahwantahkan menjadi pola hidup seseorang. Karena sikap sombong mendorong seseorang untuk menganggap dirinya lebih tinggi dan lebih baik dari pada sesamanya, itu sebabnya teologi orang-orang sombong sering disebut dengan teologi vertikalis. Dia menempatkan orang lain dalam hubungan “komando” dari atas ke bawah sehingga meniadakan hubungan yang horisontal dan setara dengan sesama. Dengan teologi vertikalis, seseorang menempatkan dirinya di puncak yang paling ujung dan menganggap dirinya hampir sejajar dengan Allah. Kesombongan menjadi dosa maut nomor satu karena dengan sikap angkuhnya seseorang tidak hanya mengangkat dirinya di atas sesama, tetapi juga suatu upaya untuk menempatkan dirinya sejajar dengan Allah. Ungkapan yang menarik hati bagi manusia pertama dengan godaan ular adalah: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat" (Kej. 3:4-5). Karena itu dosa kesombongan selalu memisahkan manusia dari kasih-karunia Allah. Mungkin seseorang yang sombong tetap mampu beribadat dan berdoa dengan khusuk, tetapi ibadah dan doanya bukanlah bertujuan untuk mempermuliakan Allah dan menghadirkan kasihNya. Jadi model teologi vertikalis pada prinsipnya merupakan suatu keyakinan dogmatis yang berupaya mengubah esensi iman yang mempermuliakan Allah dengan suatu tindakan yang melecehkan kemuliaan Allah. Model teologi vertikalis yang demikian dalam praktek hidup sering tidak segan untuk mencabut dan membinasakan sesama atau orang-orang yang dianggap kafir atau beda keyakinan. Dengan kata lain pemahaman teologi yang vertikalis menempatkan “keagungan Allah” dengan meniadakan “keagungan ciptaanNya” manakala ciptaanNya tersebut dianggap tidak mempermuliakan Allah menurut prinsip keyakinan agamanya. Sehingga tidak mengherankan agama-agama yang orientasi teologisnya hanya vertikalis dalam perjalanan sejarah umumnya mudah jatuh dalam berbagai tindakan kekerasan terhadap sesama yang dianggap berbeda keyakinan atau agama. Mereka sangat serius menegakkan keagungan Allah, tetapi mereka gagal untuk menegakkan kasihNya.
Sebenarnya para penganut teologi vertikalis juga mengenal dan mempraktekkan “kasih persaudaraan”. Tetapi kasih persaudaraan yang mereka maksudkan hanyalah sebatas persaudaraan di lingkungan internal mereka saja. Kasih yang mereka maksudkan bukanlah kasih yang universal, yaitu kasih yang tertuju kepada setiap orang tanpa memandang keyakinan, agama dan suku atau bangsa. Di tengah-tengah situasi yang demikian, penulis surat Ibrani memberi nasihat: “Peliharalah kasih persaudaraan!” (Ibr. 13:1). Tetapi kasih persaudaraan yang dimaksudkan oleh penulis surat Ibrani ternyata tidak eksklusif dan terbatas hanya kepada suatu lingkungan internal jemaat Kristen saja. Sebab di Ibr. 13:2 firman Tuhan berkata: “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat”. Pemberian tumpangan yang dimaksudkan dalam Ibr. 13:2 ternyata bukan hanya ditujukan kepada orang-orang yang kita telah kenal, tetapi justru diingatkan agar kita mau peduli dengan orang-orang asing yang membutuhkan pertolongan. Di Kej. 18:1-15 disaksikan bagaimana sikap Abraham yang menunjukkan kemurahan hati dan keramahannya saat dia menyambut 3 orang tamu asing di kemahnya. Abraham segera menyediakan makanan dan minuman kepada para tamunya serta membasuh kaki mereka. Akhirnya diketahui oleh Abraham bahwa ketiga orang tamunya itu sesungguhnya adalah para malaikat Tuhan. Tradisi dari kisah Abraham ini menyampaikan suatu pesan teologis bahwa Allah kadang-kadang menyatakan diriNya sebagai tamu-tamu asing yang hadir di tengah-tengah kehidupan kita. Allah tidak hanya tampil dalam keagunganNya saja, tetapi juga Dia kadang-kadang menyatakan diriNya melalui sesama yaitu orang-orang asing (the strangers) yang mungkin tidak satu suku, satu keyakinan dan satu agama dengan kita. Allah kita adalah Allah yang transenden (melampaui segala hal dan sangat agung), tetapi sekaligus Dia imanen (hadir) di tengah-tengah realita kehidupan kita.
Menghadirkan Kebaikan Allah Sebagaimana Abraham memperlihatkan kebaikan Allah kepada orang-orang asing, demikian pula kita dipanggil untuk menyatakan kebaikan Allah kepada orang-orang asing di sekitar kita. Orang-orang asing yang perlu kita bela dan lindungi dalam kehidupan sehari-hari mungkin tampil sebagai orang-orang hukuman dan orang-orang yang diperlakukan secara sewenang-wenang oleh kuasa dunia ini. Tentunya kita mengetahui apa artinya keadaan dan status dari orang-orang hukuman karena mereka umumnya tidak berdaya dan sering diperlakukan secara sewenang-wenang. Orang-orang asing di sini adalah setiap sesama yang masuk dalam kelompok minoritas. Namun sayangnya makna “minoritas” sering hanya dimengerti secara terbatas seperti minoritas agama dan minoritas suku. Padahal “minoritas” dapat berupa situasi keberadaan seseorang yang lemah secara ekonomis, tingkat pendidikan yang tidak memadai, dan sikap inferior dalam berbagai sikap. Mereka semua membutuhkan kemurahan hati dan kasih kita agar mereka memperoleh sedikit kelegaan dan keringanan dari beban hidup yang sangat berat, sehingga mereka dapat merasakan kebaikan Allah yang luar biasa ketika mereka memperoleh segelas air dan sesuap makanan serta keramahan kita yang tulus. Dalam hal ini betapa sering wajah kita tidak ramah dan tangan kita tidak menunjukkan kemurahan kepada sesama yang sedang terbeban dan menanggung persoalan yang begitu berat. Manakala kita tidak ramah dan bermurah hati untuk hal-hal yang sederhana, maka kita tidak mungkin memberikan kemurahan hati untuk membela kasus mereka d depan hukum. Bagaimana kita bersedia membela mereka di depan hukum, apabila kita tidak mau peduli dengan hal-hal yang sebenarnya sederhana untuk dilakukan. Bagaimana kita mau peduli dengan sesama apabila kita memiliki tabiat yang sombong dan angkuh? Saya sangat terkesan dengan seorang pengacara dari Pakistan yaitu Parvez Aslam yang memiliki komitmen untuk membela setiap orang yang tertindas di negaranya. Karena umat Kristen di Pakistan banyak ditindas, diteror dan difitnah, dia beberapa kali menunjukkan komitmen pembelaannya di depan hukum. Untuk itu dia membentuk suatu asosiasi pengacara pengadilan tinggi (advocate high court) agar pembelaannya dapat lebih efektif dan keadilan ditegakkan bagi orang-orang yang tertindas dan tidak berdaya.
Model teologi/agama yang vertikalistis sering gagal melihat kehadiran Allah dalam diri sesama yang ada di sekitarnya. Mereka terus-menerus mencari dan menyembah Allah yang di atas, tetapi mereka mengabaikan kehadiran Allah di tengah-tengah kehidupan bersama sesamanya. Tepatnya teologi yang vertikalistis sering memisahkan secara tajam diri Allah dengan eksistensi dan hidup sesama. Mereka merasa lebih beriman dan melakukan hal-hal yang berkenan kepada Allah dengan berbagai ritual ibadah dan hukum-hukum agama, tetapi mereka tidak peduli dan mengasihi sesamanya yang berbeda. Martin Buber seorang filsuf Yahudi dalam bukunya yang berjudul “I and Thou” mengulas secara mendalam tentang kehadiran Allah yang ditampilkan dalam wajah sesama. Sebab kecenderungan manusia pada umumnya memiliki relasi “I-It” (aku dan benda) yang mana sesama hanya dijadikan obyek, sehingga nilai dan martabat kemanusiaannya tidak dipedulikan dan dihargai sebagaimana yang seharusnya. Karena sesama hanya dijadikan obyek, maka sesama sering dieksploitasi, disiksa dan dibunuh. Kita dapat melihat berbagai kasus seperti pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan kepada para tenaga kerja Indonesia, ekploitasi sebagai budak dan gaji yang tidak manusiawi. Dalam relasi “I-It” agama banyak berbicara tentang Allah, tetapi mereka gagal memahami Allah sebagai pribadi (“religion means talking to God, not about God”). Itu sebabnya Buber mengajak agar kita berbicara kepada Allah secara personal melalui kehadiran dari pribadi-pribadi sesama. Bahkan manusia menjadi lebih sadar akan keberadaan Allah dalam setiap perjumpaan dengan sesama jika dia mau tetap terbuka dan siap memberi respon dengan seluruh keberadaannya (“man becomes aware of being addressed by God in every encounter if he remains open to that address and ready to respond with his whole being”). Makna “kasih persaudaraan” tidak lagi dipahami bahwa sesama yang dikasihi hanya karena dia sepaham, sesuku, seiman atau seagama; tetapi karena melalui sesama tersebut, Allah berkenan menyatakan wajahNya. Itu sebabnya di Mat. 25:40, Tuhan Yesus berkata: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”.
Kasih Persaudaraan Di Mat. 25:40 justru Tuhan Yesus menegaskan bahwa kehadiran diriNya dinyatakan melalui setiap sesama yang hina-dina. Sehingga perlakuan kita kepada setiap orang yang hina-dina pada hakikatnya merupakan perlakuan kita secara langsung kepada Tuhan Yesus. Ini berarti betapa seriusnya Tuhan Yesus menempatkan masalah hubungan kita dengan sesama sebagai bentuk hubungan kualitatif iman kita dengan Allah. Dalam konteks ini kita dianggap tidak beriman oleh Tuhan Yesus, ketika kita gagal untuk peduli dan mengasihi sesama. Manakala kita tidak mengasihi sesama, maka kita akan ditolak untuk masuk ke dalam kerajaan Allah. Dalam pandangan Tuhan Yesus sesama yang menderita dan hina tidak pernah boleh dianggap sebagai kelompok yang boleh dimarginalisasi dan dieksploitasi oleh karena ketidakberdayaannya. Justru umat percaya dipanggil untuk memberi prioritas dan perhatian kasih kepada sesama yang hina dan menderita. Di Luk. 14:13-14, Tuhan Yesus berkata: “Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar”. Nasihat Tuhan Yesus tersebut ditempatkan secara kontras dengan kecenderungan dan pola berpikir dunia pada umumnya. Sikap dunia pada umumnya lebih cenderung untuk memberi perhatian dan kasih hanya kepada sesama yang dianggap setara, seperti: sama-sama kaya, sepaham dan yang mampu membalas kebaikan. Dalam hal ini kasih persaudaraan dipahami oleh dunia sebagai bentuk kasih dan kepeduliaan kita kepada teman-teman, saudara-saudara, orang-orang yang berada, orang-orang yang sesuku dan seagama. Mengapa kita lebih peduli dan mengasihi mereka? Di Luk. 14:12b, Tuhan Yesus berkata: “karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasan”. Betapa sering motif kita memberi dan melakukan kasih kepada sesama atau orang-orang tertentu, karena sebenarnya kita ingin memperoleh balasan dan pujian dari mereka. Tepatnya kita mau memberlakukan kasih dan kepedulian kepada sesama jikalau mereka dapat menguntungkan dan memperkokoh sikap angkuh atau kesombongan rohani kita. Itu sebabnya kita menjadi kurang peduli dan berlaku kurang ramah serta tidak bermurah hati kepada orang-orang yang miskin, hina dan menderita; karena mereka tidak mampu membalas kebaikan dan kemurahan hati kita.
Hubungan ayat-ayat di Ibr. 13:1-2 dan Luk. 14:13-14 memperlihatkan suatu pola hubungan yang sinergis dan saling melengkapi. Ketika kita memperlakukan sesama yang hina, miskin dan menderita dengan penuh kasih, maka sesungguhnya kita diingatkan telah menjamu para malaikat Tuhan. Kehadiran Allah bukan hanya di sorga, tetapi di bumi ini yaitu realita hidup kita. Kasih persaudaraan terwujud ketika kehadiran Allah dialami melalui kehadiran dari setiap sesama khususnya mereka yang miskin, cacat, lumpuh dan orang-orang buta. Mereka tidak lagi ditempatkan berada di luar wilayah hidup kita, tetapi sebaliknya mereka berada secara riel di dalam pusat hidup kita. Kita tidak sekedar bersimpati dengan penderitaan dan kesusahan mereka, tetapi lebih dari pada itu kita terpanggil untuk berempati dan berbela-rasa dengan mereka. Sehingga penderitaan dan kesusahan mereka menjadi pijakan yang integral dengan spiritualitas iman kita kepada Tuhan. Ini berarti penderitaan dan kesusahan mereka bukan sekedar sasaran dari spiritualitas iman kita, tetapi lebih dari pada itu penderitaan dan kesusahan mereka kini dapat terintegrasi secara penuh dengan spiritualitas kita. Namun sayangnya kita cenderung menjadikan orang-orang yang menderita dan tidak berdaya sebagai suatu obyek agar kita dapat meningkatkan spiritualitas yang lebih tinggi dan berkenan kepada Allah. Penderitaan yang dialami oleh sesama sering kita gunakan sebagai media “penyempurnaan” diri kita. Sikap dan teologi yang demikian tentunya tidak akan mampu membawa kita kepada makna kasih persaudaraan dalam arti yang sesungguhnya. Jadi selaku umat percaya, penderitaan dan kesusahan yang dialami oleh umat bukan dijadikan sebagai media “penyempurnaan” diri, tetapi sebaliknya penderitaan setiap sesama merupakan pengejahwantahan dari penderitaan Kristus. Kita mengasihi dan peduli dengan sesama yang menderita karena Kristus mengasihi mereka dengan mengorbankan hidupNya. Dalam tahap spiritualitas yang demikian, kita dimampukan untuk menghayati dan mengalami kembali makna penderitaan Kristus yang telah mengasihi setiap orang yang menderita dan menjadi korban ketidakadilan.
Panggilan Melalui kehidupan Kristus, model teologi vertikalis yang cenderung meninggikan diri telah diubahNya menjadi teologi horisontal, di mana Allah berkenan menjadi sahabat bagi setiap orang dan mau peduli dengan sesama yang menderita. Karena itu sesama yang menderita dalam prinsip teologi yang horisontal, bukan lagi menjadi obyek bagi kita untuk “menyempurnakan” diri. Hakikat penyempurnaan diri kita selaku anak-anak Allah telah terjadi dalam karya penebusan Kristus di atas kayu salib. Sesama yang menderita dan direndahkan oleh kuasa dunia ini adalah wujud dari kehidupan Kristus yang membutuhkan kasih dan solidaritas kita. Kita Prinsip teologi horisontal juga tidak terlalu menekankan kepada prestige atau gengsi. Karena itu umat percaya yang mempraktekkan kerendahan hati Kristus tidak terlalu mengutamakan posisi atau suatu “tempat terhormat”, tetapi mereka lebih mengutamakan isi yang berkualitas. Apa artinya kita mampu duduk di tempat yang sangat terhormat tetapi tidak didukung oleh kemampuan mental dan moral yang seharusnya. Kita dapat melihat banyak orang yang antusias untuk duduk di tempat yang terhormat sebagai “wakil-wakil rakyat”, namun sayang sekali pernyataan dan ungkapan-ungkapan mereka tampak begitu kerdil dan memalukan. Dalam kehidupan sehari-hari kita ingin memperoleh perhatian dan sanjungan dari orang-orang di sekitar kita, tetapi kehidupan kita sendiri jauh dari prinsip spiritualitas kerendahan hati dan kualitas mental. Sikap mental tersebut akhirnya mendorong diri kita untuk menonjolkan diri, tetapi dengan isi atau kualitas diri yang kosong. Sebaliknya isi spiritualitas hidup kita yang kosong akan semakin terisi penuh saat kita mulai peduli dengan sesama di sekitar kita. Sebab saat kita lebih mengutamakan kepedulian kepada sesama, spiritualitas kita akan diisi oleh Roh Kudus sehingga kehidupan kita dapat menjadi berkat bagi banyak orang.
Jika demikian, dari pada kita suka berlagak dan mencari perhatian serta ambisi menduduki tempat yang terhormat bukanlah lebih baik jika kita terus-menerus mengutamakan peningkatan kualitas dan isi spiritualitas yang bertumbuh menurut ukuran Kristus. Kalau seandainya kita dapat menduduki tempat yang terhomat, maka posisi tersebut merupakan anugerah Allah yang telah menyiapkan dan memampukan diri kita untuk berperan secara efektif. Semakin spiritualitas dan kemampuan kita berisi atau berkualitas, maka semakin terbuka bagi kita untuk berperan dalam lingkup yang lebih luas khususnya untuk mempedulikan kesejahteraan sesama. Sebaliknya semakin spiritualitas dan kemampuan kita kosong alias tidak bermutu, maka upaya kita untuk menduduki tempat-tempat yang terhormat hanyalah akan mempermalukan diri kita sendiri. Jadi bagaimanakah sikap saudara? Amin.
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono www.yohanesbm.com
|
|
Return to the board index.
|