“Integritas : Renungan tentang Makna Bekerja (2)”

Renungan 27 November 2012

“Lebih baik orang miskin yang lurus hidupnya, daripada orang bodoh yang suka berdusta.” (Ams 19:1, terjemahan BIS)

 

Hari ini kita ingin menggali perihal integritas di dalam bekerja. Di Alkitab TB maupun BIS tidak ada kata integritas. Tapi kata ini: integrity [integritas], cukup mudah ditemukan dalam Alkitab bahasa Inggris (KJV, NIV, NRS). Kata integritas berasal dari kata Ibrani: tom yang arti sederhananya: sempurna, utuh. Yang menarik, di dalam Alkitab kata ini biasanya dipakai untuk menggambarkan suatu kondisi yang berhubungan erat dengan hidup benar di mata Allah, ketulusan hati, dan kejujuran, seperti:

  1. 1 Raj 9:4: “Kalau engkau mengabdi kepada-Ku dengan tulus hati (integrity of heart) dan jujur seperti ayahmu Daud, …  maka Aku akan menepati janji-Ku..” Ini adalah pesan Allah kepada Salomo setelah ia selesai membangun Bait Allah.
  2. Ayub 2:3: “Firman TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya (his integrity), meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.”
  3. Mzm 25:21: “Ketulusan (integrity) dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau.”

Ketika kita bekerja, memberi dan menerima adalah dua dimensi yang ada di dalamnya. Ini sama dengan hak dan kewajiban. Kita memberikan jasa atau kemampuan kita, dan kita menerima hak berupa penghasilan. Tapi di tengah-tengah proses itu, acapkali muncul potensi godaan untuk mengambil apa yang bukan menjadi hak kita.

Hari Minggu yang lalu, Badan Pelayanan Dewasa GKI Kepa Duri mengundang Tim KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) untuk mengadakan seminar tentang korupsi. Menurut salah satu pembicara dari KPK, potensi untuk berbuat korupsi ada tiga. 1.)karena adanya peluang [seperti: lemahnya sistem dan pengawasan], 2.)karena dorongan [seperti: kebutuhan, keserakahan, iri hati, hutang, gaya hidup mewah], dan 3.)pembenaran diri sendiri [misal: saya sudah berjasa banyak, orang lain juga melakukan, perusahaan sudah untung banyak karena saya, dsb]. Namun demikian, tim KPK juga memberikan cara pencegahannya. Bagaimanakah kunci untuk mengalahkan potensi-potensi godaan ini? Dengan integritas!

Jika kita meneliti Alkitab kita, di dalamnya ada cukup banyak contoh-contoh perbuatan korupsi yang dilakukan di tengah-tengah bangsa Israel (PL) dan orang Kristen (PB). Para nabi sering menegur para pejabat, penguasa, dan orang kaya yang tega melakukan apa saja untuk memperkaya diri sendiri dan melupakan dampaknya bagi orang lain, terutama bagi orang miskin. Ketidakjujuran bukan terjadi di lingkungan pemerintahan saja. Jika kita ingat, anak-anak Imam Eli: Hofni dan Pinehas bahkan berani mencuri persembahan yang harusnya menjadi milik Tuhan, dan tentu hal ini terjadi di tempat kudus Allah. Artinya, dari jaman dahulu korupsi dan ketidakjujuran itu masuk di segala lini. Nah, di tengah-tengah kondisi itulah nasihat dari penulis Amsal datang, bahwa “Lebih baik orang miskin yang lurus hidupnya [KJV: walked in his integrity], daripada orang bodoh yang suka berdusta.” Tapi pesan itu tentu berlaku juga untuk kita dan untuk segala jaman.

Renungan ini ingin mengerucut kepada satu aplikasi saja, yaitu berapapun penghasilan dari pekerjaan kita, hendaknya kita cari dengan cara yang jujur. Lebih baik kita hidup sederhana bahkan miskin, daripada kita hidup kaya namun dari hasil berdusta. Tuhan tentulah tidak senang jika memiliki penghasilan dari cara-cara yang tidak jujur. Jika kita berbuat demikian maka kita tidak lagi menjadi pribadi yang memiliki integritas. Jika kita tidak berintegritas, maka kita sesungguhnya bukanlah orang yang menjaga kesalehan dan kejujuran hidup di mata Tuhan. Sebaliknya, Tuhan pasti senang jika di dalam bekerja, kita memakai cara-cara yang lurus/ berintegritas. Jika kita berbuat demikian, niscaya ketika kita memberikan kembali untuk Tuhan dalam wujud persembahan, kita mempersembahkannya dengan hati yang gembira dan penuh rasa ucapan syukur. Kiranya Tuhan memampukan kita.