GKI Bondowoso

SEJARAH SINGKAT GKI BONDOWOSO

Awalnya Jemaat Bondowoso pada Tahun 1932 dilayani oleh J v/d Blinh sebagai Hoofd Onderwijzer Christelijke Hollandse Chinese School (chr HCS Bondowoso). Dengan 7 orang anggota/ jemaat yang dilayani baptisan dewasa dan sidi sejak tahun 1928-1932 baik oleh Pdt. H.W. Vd Berg di Bondowoso, Pdt. Kisbri Gereja Pantekosta Situbondo yaitu: Tjan Kian Ho, Tjan Kian Pa, Oh Ping Nio, Tjan Djie Liang, Ong Tiam Nio, Tjan Hong An dan Tjan Hong Twan putra Bpk. Tjan Djie Liang. Kemudian datang W.A. v/d Hors pengganti J v/d Blinh dari Netherland membawa sebuah Orgel bermerk LINDHOLM pembungkus orgel tersebut dibuat dari peti triplek yang akhirnya dibuat mimbar. Pemain orgel saat itu, Bapak M.J. Paulana. Kemudian datang D.S. HAC Hildering dari Surabaya bersama Pdt. Oei Soei Tiong dari Bangil ke Bondowoso. Sebulan satu kali Pdt. Oei Soei Tiong datang untuk melayani khotbah di Jemaat Bondowoso. Pada tanggal 26 Agustus 1933, lima orang pemuda pemudi di baptis oleh Pdt. Oei Soei Tiong. Dengan nomor Induk Anggota dari no. 8-12 yaitu: Gan Tjing Hien (Timotius Harsono Gandawidjaja) yang berusia 92 tahun saat sejarah ini dituliskan, Gan Tjing Hian (Thomas Rumijanto Gandawidjaja), Gan Tjing Twan, Oei Tiong Sien (Hoo Gwan-Eddy), Oei Tiong Nio (Maria Wijono)

Setelah bertambahnya 5 orang anggota, maka tgl. 9 September 1933 dibentuklah sebuah gereja yang diberi nama Djoemaat Kristen Tiong Hwa Bondowoso, sebelum terbentuknya Tiong Hwa Ki Tok Kauw Hwee (THKTKH). Terbentuknya Jemaat Kristen Tiong Hwa di Bondowoso ini juga hasil perjuangan dari Bpk. Tjan Kian Pa yang lahir di Bondowoso pada tanggal 12 Desember 1906. Jumlah anggota Jemaat Baptis Sidi sampai akhir tahun 1933 sebanyak 12 orang. Kebaktian berlangsung dan pelayanan saat itu dibantu oleh rekan-rekan GKDW (Geredja Kristen Djawi Wetan sekarang GKJW) dan GPIB Bondowoso: Yosafat Paulana (GKDW), E. Karimin (GKDW), M. Nugroho (GKDW), Debora Paulana (GPIB), Mbak Koba (GPIB), M. Paulamahuni (GPIB), Pdt. P. Wanay (GPIB)

Tiong Hwa Ki Tok Kauw Hwee diresmikan pada tgl. 28 Februari 1934 di Bangil, di bawah Khoe Hwee yang berkedudukan di Surabaya, yang terdiri dari 7 Jemaat kecil di Malang, Probolinggo, Kraksaan, Mojokerto, Bondowoso, Jatiroto, Mojosari dan Bangil. Dengan Ketua adalah Bapak The Tjik Kie dan sebagai Sekretaris Bapak Chen Ie Lie. Utusan Bondowoso ke persidangan/ peresmian Vergadering pendirian Road Gredja Besar Tiong Hwa Ki Tok Kauw Hwee Oost Java pada Hari Kamis tgl. 22 Februari 1934 di Bangil adalah Tjan Kian Pa, Tjan Kian Hoo, Tjan Kiem Tjoan, Tio Swie Gwan dan Gan Tjing Hien. Akhirnya perkembangan pekabaran Injil di Bondowoso berjalan pesat, pada peringatan tjap go mee tahun 1934, dengan mengendarai sepeda 4 orang mengadakan Pekabaran Injil ke Pakisan, yakni Tjan Kian Pa, M.J. Paulana, Nugroho dan E. Karimun. Disambut oleh 20 orang yang akhirnya diadakan kebaktian pada setiap hari Sabtu pukul 16.00, karenanya disepakati untuk membangun rumah ibadah sederhana oleh Bapak Koo Kiem Tjhan. Yang akhirnya pada bulan November 1947 terjadi kerusuhan di Pakisan termasuk di Maesan, rumah ibadah ini dihancurkan termasuk isinya dan anggota Jemaat ini mengungsi. Mulai 1 Juni 1937 rumah Ibadah pindah di sebelah RSU Bondowoso dan kehadiran Jemaat pada tahun 1937 kurang lebih 70 orang. Pada tahun 1939 J.B. Suitela dari Jember pindah ke Bondowoso sebagai Onwanger Slankas (konsulen). Bapak J.B. Suitela melayani 3 gereja di Bondowoso Tiong Hwa Ki Tok Kauw Hwee (THKTKH), Gereja Kristen Djawi Wetan (GKDW) dan Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB). Bapak J.B. Suitela Meninggal pada tanggal 21 April 1948 pkl. 12.30 di RS Malang dan dikebumikan pada tanggal 22 April 1948 pukul 15.30. Kebaktian umum yang biasanya dilaksanakan di Christelijke Hollandse Chinese School (Chr HCS), sejak tanggal 2 Februari 1934 pindah kerumah Bapak Tjan Kian Pa di Blindungan dilaksanakan tiap minggu malam. Dirumah Bapak Tjan Kian Pa ini disediakan 72 buah kursi lipat bekas kursi bioskop, hasil dari tukar mobil taksi Cevrolet Turing milik pribadi Bapak Tjan Kian Pa. Tanggal 7 Desember 1939 THKTKH - Khu Hwee Oost Java diakui sebagai Gereja yang berbadan hukum menurut Besluit Gouverneur Generaal no. 17 (staatsblad no. 694) sampai sekarang digunakan oleh Gereja Kristus Tuhan. Perkembangan Sinode GKI Jawa Timur tahun 1941 ada 8 Jemaat: Bangil (terdiri dari Besuki, Jatiroto, Lumajang, Kraksaan, Porong, Lawang, Krian, Tuban, Gresik, Gudo, Babad dan Jombang), Bondowoso (terdiri dari Pakisan, Maesan, Wonosari, Jember, Tanggul, Banyuwangi), Malang, Mojokerto, Mojosari, Surabaya - Sambongan, Surabaya-Jl. Johar dan Madiun (terdiri dari Kediri, Ponorogo, Ngawi, Baron, Kertosono, Gurah, Sarangan dan Ngerong). Dalam tahun 1947 Pdt. Thio Kiong Djien seorang hamba Tuhan berasal dari Banjarmasin Kalimantan Selatan datang ke Jawa Timur melayani di Jemaat Tiong Hwa Ki Tok Kauw Hwee Johar Surabaya dan dalam tahun 1951 melayani di Jemaat Tiong Hwa Ki Tok Kauw Hwee Bondowoso sampai dengan tahun 1960. Beliau tinggal di rumah yang disewa Bapak Tjan Kian Hoo Jalan Olah raga (Let. Sudiono) 19 Bondowoso, juga berfungsi sebagai tempat ibadah. Jemaat Tiong Hwa Ki Tok Kauw Hwee Bondowoso berkembang pesat sehingga banyak yang tidak mendapat tempat duduk dalam kebaktian, pada tanggal 1 April 1952 diputuskan untuk sewa tempat ibadah di GPIB Immanuel Bondowoso.

Pada tgl. 31 Oktober 1960 Majelis Gereja GKI Bondowoso menyewa sebidang tanah dan rumah dari Bapak Mas Katjungkamari di Jl. Olah Raga (sekarang Jl. Letnan Sudiono) harga sewa tanah setahun Rp 600,- (enam ratus rupiah). Selama 30 tahun dibayar lunas sebesar Rp. 18.000,- (delapan belas ribu rupiah) perjanjian sewa tanah ini di depan Notaris Tjan Gwan Kwie Djember. GKI Bondowoso dikatakan unik karena salah satu gereja di Jawa Timur yang dilayani langsung oleh Pdt. Oei Soei Tiong dan D.S. H.A.C. Hildering, dan tanah untuk membangun gedung gereja diberi oleh seorang Haji, yaitu Bpk. Haji Atmodiwirijo dengan Surat No: 389/XIII.a/62 pada tgl. 2 Oktober 1962. Karena surat penyerahan tersebut di atas hilang, kemudian dibuat surat kedua oleh Bpk. Haji Atmodiwirjo pada tgl. 21 Januari 1969 yang ikut menandatangani kedua orang anak dari Bpk. Haji Atmodiwirjo, yaitu Bpk. Ariefien dan Ibu Asriono. Sejak kehadiran Pendeta kedua, yaitu Pdt. T.J. Lintang (Lie Tie Yong) pada tahun 1961, maka setahun kemudian beliaulah yang meletakkan batu pertama tanda dimulainya pembangunan sebuah gedung gereja di Jl. Cemara (Yos Sudarso) yang diresmikan pada tgl. 02 Desember 1964. Dalam perkembangan lebih lanjut, maka gedung ini mengalami perombakan pada tgl. 26 September 1984 s/d selesai tgl. 17 Maret 1985 dengan biaya Rp. 3.868.235,- khususnya pada bagian depan. Surat hibah tersebut menjadi satu-satunya pegangan sampai pada tahun 2007 ketika di mulainya upaya untuk mendapatkan sertifikat hak milik. Selama bertahun-tahun, gedung gereja ini belum memiliki SHM yang menjadi tanda kepemilikan GKI, namun atas berkat dan doa dari segenap jemaat, maka pada tgl. 11 September 2008 - SHM gedung ini sudah diterbitkan. Sejak sertifikat tersebut diterbitkan, maka kami berbesar hati untuk memulai renovasi yang menyeluruh mengingat usia bangunan dan sarana ibadah. Proses renovasi dimulai pada tgl. 30 Agustus 2010 mengingat telah dikeluarkannya keputusan Bupati Bondowoso berupa IMB Renovasi Gedung No: 188.45/572/430.42/2010 pada tgl. 1 Agustus 2010 dan selesai pada tgl. 18 April 2011. Tanah sewa di Jl. Olah Raga (sekarang Jl. Let. Sudiono 19) ini akhirnya dibeli pada tgl. 24 April 1973. Kemudian dibangun pada tgl. 24 September 1977, peletakan batu pertama gedung Balai Pertemuan GKI Bondowoso oleh Pdt. Wiede Benaja, S. Th (Kwee Tjhing Swie) di PTK-kan pada tgl. 20 Nopember 1971 dan ditahbiskan di GKI Bondowoso tgl. 21 Juli 1973-Pebruari 1981 sebagai pendeta ketiga. Selain pendeta-pendeta yang sudah disebut sebelumnya, maka berikut ini adalah nama-nama pendeta konsulen di GKI Bondowoso: Pdt. Kwee Tik Hok (1960-1961), Pdt. MAM Sasabone (1971-1973), Pdt. MAM Sasabone (1979-1979), Pdt. Samuel Tjahjadi, S. Th (1981-1984), Pdt. Maria Gamaliel, S. Th (1989-1991), Pdt. Setyahadi, S. Th (1995-2000), Pdt. Djusianto, S. Th (2003-2006) dan Pdt B.J. Siswanto, S. Th (2006-2011). Dan berikut ini adalah nama-nama pendeta jemaat GKI Bondowoso ke-4 sampai ke-7: Pdt. Timotius Istanto, Sm.Th (Tan Hwie Liang, 1984-1989), Pdt. Budianto Puspahadi, S. Th dari GKI Tulungagung (1991-1995), Pdt. Edy Sumartono, S. Th ditahbiskan di GKI Bondowoso pada tgl. 17 April 2000 (2000-2004). Pendeta ke 7 adalah Pdt. Martin Krisanto Nugroho, M.Div yang ditahbiskan di GKI Bondowoso pada tgl. 18 April 2011. Berikut adalah Persidangan-persidangan yang pernah diadakan di Bondowoso, yaitu Persidangan Sinode III (24-26 November 1954), Persidangan Sinode VII (24-27 November 1958), Persidangan Sinode XXXIII (25-28 Agustus 1980), Persidangan Sinode XVIV (11-14 Juni 1990), Persidangan Majelis Klasis X (28-30 Juni 1999), Persidangan Majelis Klasis XX (16-18 Juni 2008) dan Persidangan Majelis Sinode Wilayah (10-13 September 2008).

Alamat
Jl. Yos Sudarso 147B, Sekretariat: Jl. Letnan Sudiono 19/23, Bondowoso 68212
Telp : (0332)-421287
Fax : (0332)-427001
Kebaktian Umum I 06.00
Kebaktian Anak (di balai pertemuan Jl. Let. Sudiono 19) 09.00
Kebaktian Pemuda Remaja 09.00
Kebaktian Umum II 16.30
Pdt. Martin Krisanto Nugroho, M.Div  
Lengkapi dengan peta? Silakan hubungi kami untuk melengkapi koordinat peta jemaat anda.
Apakah anda menemukan kekurangan atau kesalahan data? Hubungi kami
Kembali ke halaman utama Jemaat GKI... Kembali...
http://www.gki.or.id/wap Penggunaan
RSS