GKI Gunung Sahari
|
SEJARAH SINGKAT GKI GUNUNG SAHARI Tahun 1932 Pelayanan dan pemberitaan Injil tersebut dilakukan oleh Pdt. A.K. de Groot, Pdt. C.L. van Doorn, Pdt. J. Iken, Pdt. O. van den Burg dari Gereja Hervormd Belanda serta tenaga-tenaga setempat seperti Bp. Tjan Hong Jauw, Bp. The Eng Siang dan lain-lain. Mereka dibantu pula oleh keluarga Ibu Gan Kiauw Siong. Di museum Perpustakaan Nasional tersimpan cuplikan Berita (berichten) dimana sumber berita ini untuk menunjukkan secara jelas awal mula pertama pelayanan yang kemudian menjadi "KRING" = Kelompok. Judul tulisan: VAN ONZEN ARBEID IN OORLOGSTIJD BERICHTEN, uitgaande van de ANTI-OPIUM VERENIGING 13 Mei 1937 (Pra Bakal Jemaat GKI Gunsa) Pembawa Firman atau pengkotbah dilayani oleh mahasiswa-mahasiswa STT sebagai tempat berpraktek, yaitu Tjoa Tek Swat, Hwan Ting Kiong, Oey Bian Tiong. Tahun 1941-1945 (Masa Pendudukan Jepang) Pekerjaan beliau dilanjutkan oleh Ny. Gan Kiauw Siong dan Bp. Tjan Tjin Siang (pernah menjadi Kepala Sekolah Rakyat jl. Pintu Besi no. 29 sore, yang sebelumnya bernama Bijbel School). Akibat dari kesulitan uang dan tidak dapat membayar sewa rumah tempat kebaktian, maka gedung sekilah Chr. H.C.S. di Tanah Nyonya No. 1 digunakan sebagai tempat berbakti (kini SMU Gn. Sahari 90A), lalu pindah lagi ke jl. Kramat Raya 65 selama satu setengah tahun. Juni 1945 tempat kebaktian pindah lagi ke jl. Tanah Nyonya Kecil No. 63 (kini Bungur Besar). Sebagai akibat pendudukan Jepang, perkembangan jemaat terhambat dan tenaga pengerja juga berkurang. Yang ada tinggal Bp. Lie Beng Tjoan dan Tjan Tong Ho, Ny. Gan Kiauw Siong. Pekerjaan selanjutnya digantikan oleh ibu Gan Hoat Bwee dan kawan-kawan. Bulan April 1945, Pdt. Tjan Tong Ho (Pdt. Samuel Messah) mulai diperbantukan pada Jemaat Senen sebagai Konsulen. Tahun 1946-1950 3-4 Agustus 1948 para wanita dan pemuda mengadakan bazaar serta mengumpulkan koran-koran bekas untuk maksud pembangunan gereja dengan hasil Rp. 13.000,- (uang lama). Panitia pembangunan yang diketuai oleh Sdr. Kho TJoe Jong membeli persil yang digunakan sekarang ini dengan harga Rp. 33.000,- (uang lama), sekalipun pada tgl. 9 Maret 1949 pemerintah mengeluarkan keputusan menggunting nilai uang. Kita patut bersyukur kepada Tuhan yang senantiasa menyediakan tempat bagi anak-anakNya untuk dapat berbakti. Akhirnya Gereja Senen memiliki tempat ibadah yang tetap hingga saat ini yaitu di Laan Kadiman No.8 (sekarang bernama jalan Gunung Sahari IV). 14 Oktober 1950 nama Gereja Senen dirubah menjadi "Gereja Gunung Sahari" bersamaan dengan selesainya restorasi gedung sekaligus peresmian pemakaian gedung baru sebagai tempat kebaktian. Tahun 1951 - Sekarang Tanggal 5 Oktober 1960, GKI Gunsa membuka Pos PI di jalan Tanah Tinggi No. 1. Pos ini telah menjadi "batu loncatan" bagi banyak orang mengikuti kebaktian-kebaktian, katekisasi dan dipermandikan di Gunung Sahari IV No. 8. Sementara perkembangan sekolah minggu anak-anak (KAA) juga ikut berkembang maju. April 1961, karena daya tampung gedung tidak memadai maka dilakukan renovasi gedung gereja. Untuk sementara jemaat beribadah di GKI jl. Bungur Besar no. 84. Tanggal 21 Maret 1964, renovasi selesai dan jemaat kembali berbakti di gedung baru jalan Gn. Sahari IV No. 8. Tahun 1970, Pos KPK Cengkareng bertumbuh menjadi Bakal Jemaat GKI Cengkareng. Tanggal 26 Agustus 1983, kebaktian perdana hari Minggu pagi di Pra Bajem Sunter. |
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Kembali ke halaman utama Jemaat GKI... | Kembali... |





