GKI Merisi Indah Surabaya

SEJARAH SINGKAT GKI MERISI INDAH - SURABAYA

Kala itu, di tahun delapan puluhan dimulai dari sebuah persekutuan jemaat kecil gabungan jemaat GKI Diponegoro dan Jemaat GGS( Gereja Gereformeed Surabaya) di Jl. Pregolan Bunder, yang berdomisili di wilayah Kendangsari dan sekitarnya dengan berpindah-pindah dari rumah ke rumah.

Dengan adanya sebuah rumah kosong yang ditawarkan untuk dipakai secara cuma-cuma dari Bp. Ir. Winata, M.Arch, Semarang, maka Majelis Gereja GGS memprakarsai untuk mengadakan Kebaktian pertama Minggu, 01 Januari 1982 yang dipimpin oleh Pdt. Trees Adinata, S.Th. dan terbentuknya Panitia GGS Cabang Kendangsari sebagai Cabang IV (Cab. I GKI Gresik, Cab. II Darmo Satelit dan Cab. III GKI Manyar). Dalam keterbatasan dan kesederhanaannya GGS Cabang Kendangsari tersebut bertumbuh dan berkembang, hingga tibalah saatnya Tuhan menghendaki, bahwa Jemaat GGS Cabang Kendangsari segera mempunyai Gedung Gereja yang Representatif dengan caraNya.

Suatu ketika akhir tahun 1984, Majelis Jemaat Gereja GGS yang ditunjuk Tt. Subaru Martodisastro melayani Cabang Kendangsari dipanggil oleh Kelurahan setempat dan Pejabat Muspika tersebut melarang Jemaat untuk beribadah menggunakan sebuah rumah tinggal, yaitu tempat yang bukan diperuntukkan untuk tempat ibadah. Sehingga mau tidak mau, Jemaat harus segera mencari tempat ibadah baru yang memenuhi persyaratan sebagai tempat ibadah antara lain dengan mendatangi Yayasan Kas Pembangunan (YKP).

Dalam pergumulannya, Panitia Cabang mendapat tawaran dari Bpk. Prawiro Maruto (Alm.), Pemilik Real Estate Ready Indah, sebidang tanah yang terletak dikawasan Bendul Merisi Selatan Surabaya, yang boleh digunakan untuk membangun Gereja. Oleh karena pada saat itu perijinan membangun Gereja Tuhan sangatlah sulit, maka Bpk. Prawiro Maruto (alm.) menyarankan Ibu Lely Tedjakusuma bersama Pdt. Liem Ie Tjiauw, yang saat itu sebagai pendeta GGS, untuk mengurus perijinannya terlebih dahulu, baru setelah Ijin keluar, tanah yang ditawarkan boleh mulai diangsur pembayarannya.

Dalam suatu perjuangan yang berat dan lama, Panitia Pembangunan Gereja yang diketuai Bpk. J.W. Bierhuijs, bersama-sama Ibu Lely Tedjakusuma dan Bpk. Alex Polin, tidak henti-hentinya berhadapan dengan pejabat-pejabat Pemerintah Kotamadya, untuk mengurus Permohonan ijin peruntukkan Gereja dari Walikota serta IMB dengan bekal sebuah gambar karya rancangan seorang arsitek Bpk. Ir. Yahya Winata M.Arch. dan dibantu oleh Bpk. Ir. Sunarto Djajasaputra sebagai konstruktornya.

Setelah segala sesuatunya siap, maka pada 8 April 1988 bertepatan dengan kebaktian Hari Raya Paskah maka acara peletakan batu pertama, sebagai tanda dimulainya pembangunan dengan didahului ibadah pengucapan syukur yang dipimpin oleh Pdt. Trees Adinata, S.Th (Pembimbing Jemaat Cabang) dilaksanakan. Walaupun segala perijinan dari pemerintah kota telah ada, pembangunan Gedung Gereja tersebut sempat dihentikan dan tidak boleh dilanjutkan, dengan dalih ada "sekelompok orang" yang merasa keberatan dengan berdirinya Gedung Gereja ini. Dalam keputusasaan dan ketidakpastian, salah seorang Panitia Pembangunan mempunyai gagasan membentuk Persekutuan Doa Pembangunan yang bersekutu setiap hari Kamis di rumah keluarga Bpk. Budisetyono Tedjakusuma di Jl. Kendangsari Blok L-20. (Persekutuan Doa inilah yang menjadi cikal bakal PDM / Persekutuan Doa Malam, yang diadakan setiap hari Rabu malam).

Pada akhirnya tangan Tuhan bekerja, melalui salah satu pejabat di Gubernuran, yang juga pasien dr. The Swie Liang (seorang jemaat GGS), telah mencairkan penghentian pembangunan Gedung Gereja. Atas anugerah Tuhan, pada tanggal 14 Maret 1998 diterbitkan Surat Persetujuan Izin Prinsip No. 452/01/411.22/1988 Oleh Walikotamadya Surabaya. Terkabullah segenap permohonan doa yang dinaikkan kepada Tuhan sang Kepala Gereja untuk izin prinsip pendirian rumah ibadah. Hingga akhirnya seluruh pembangunannya dapat diselesaikan pada tanggal 31 Oktober 1990. Sehingga bila dihitung seluruh pembangunannya memakan waktu selama 2,5 tahun. Hal yang menggembirakan peresmian gedung Gereja ini diresmikan sendiri oleh Bpk. Walikota yang saat itu dijabat oleh Bpk. dr. Poernomo Kasidi. Dengan diliputi rasa syukur yang dalam, jemaat cabang GGS benar-benar menyadari bahwa, "Jikalau Bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya" (Mazmur 127:1)

Mulai 1 Januari 1991 diadakan penyesuaian nama Cabang Kendangsari menjadi Cabang Merisi Indah, karena lokasi tempat ibadah tidak lagi berada di daerah Kendangsari, tetapi kini berada di Bendul Merisi Selatan. Setelah diresmikan, Panitia GGS Cabang Kendangsari yang diketuai oleh Ibu Okky Djajasaputra, segera mengajukan permohonan kepada Majelis Jemaat GKI Pregolan Bunder, untuk segera memproses pendewasaan menjadi sebuah Gereja yang seutuhnya dan jemaat yang mandiri. Pdt. Liem Ie Tjiauw dan Pdt. Trees Adinata yang berperan aktif dalam mendukung kemandirian GKI Merisi Indah. Hingga pada akhirnya, tepat tanggal 21 Oktober 1992, Majelis Jemaat GKI Pregolan Bunder, melepaskan "anak asuhnya", yaitu Cabang IV GGS, menjadi GEREJA yang dewasa yang kita kenal sekarang ini dengan "GKI MERISI INDAH" di Jl. Taman Bendul Merisi Selatan B-2/Kav. 10 - 14, Surabaya. Pada saat itu juga 15 orang Majelis Jemaat pertama diteguhkan oleh Pdt. Liem Ie Tjiauw, sedangkan kotbah pada ibadah oleh Pdt. Trees Adinata, S.Th. Diawali dengan 264 anggota sidi dan 43 anggota baptisan, Jemaat GKI Merisi Indah dengan tegar melangkah. Sidang Klasis Banyuwangi telah menetapkan Pdt. Simon Filantropha, M.Th., dari GKI Ngagel - Surabaya, sebagai Pendeta Konsulen pertamanya.

Pada tahun 1996 Majelis Jemaat memutuskan untuk memanggil Pdt. Samuel Tjahjadi, S.Th., yang saat itu menjadi Pendeta Konsulen GKI Merisi Indah, serta masih menjadi Pendeta Jemaat GKI Pasuruan. Ketika terjadi proses pemanggilan, maka perlu ada penggantian Pendeta Konsulen dari Pdt. Samuel Tjahjadi, S.Th., kepada Pdt. Sardius Kuntjara, S.Th., dari GKI Jemursari - Surabaya. Keputusan pemanggilan Pdt. Samuel Tjahjadi pun segera dilaksanakan. Setelah mengalami perjalanan panjang selama 5 tahun sejak 21 Oktober 1992, maka baru bulan Oktober 1997 Majelis Jemaat menerima jawaban kesediaan Pdt. Samuel Tjahjadi, S.Th., untuk menjadi Pendeta tetap di Jemaat GKI Merisi Indah yang selama 5 tahun melangkah tanpa seorang pendeta jemaat. Pada tanggal 16 Februari 1998 diadakan Kebaktian Peneguhan Pdt. Samuel Tjahjadi, S.Th., menjadi Pendeta Pertama GKI Merisi Indah, dengan tema "Sebagaimana Bapa mengutus aku" (Yohanes 17 : 20-26). Pelayanan Pdt. Samuel Tjahjadi, S.Th., sampai dengan memasuki masa emeritasi (tanggal 27 Oktober 2008). Sementara menunggu kehadiran Pendeta Kedua, PMK Klasis Banyuwangi menetapkan Pdt. Djusianto, M.Min. dari GKI Residen Sudirman-Surabaya sebagai Pendeta Konsulen.

Setelah melalui proses "lintas" GKI Sinode Wilayah Jatim dan Jabar, Pdt. Gunadi, M.Min.( Pendeta Jemaat GKI Halimun - Jakarta ) menerima pemanggilan sebagai Pendeta Kedua GKI Merisi Indah dan diteguhkan dalam Kebaktian Peneguhan pada tanggal 10 Agustus 2009; EBEN HAEZER. Literatur: Meniti jejak 15 tahun GKI Merisi Indah; Sejarah Ringkas I GKI Merisi Indah, Surabaya.

Alamat
Jl. Taman Bendul Merisi Selatan, B-2/ KAV.10-14, Surabaya 60239
Telp : (031)-8432665
Pdt. Gunadi, M.Min  
Lengkapi dengan peta? Silakan hubungi kami untuk melengkapi koordinat peta jemaat anda.
Apakah anda menemukan kekurangan atau kesalahan data? Hubungi kami
Kembali ke halaman utama Jemaat GKI... Kembali...
http://www.gki.or.id/wap Penggunaan
RSS