|
SEJARAH SINGKAT GKI WONOSOBO
Wonosobo, sebuah kota berhawa dingin di bawah gunung Sindoro, gunung Sumbing dan pegunungan Dieng. Arti nama Wonosobo cukup unik : `Wono' berarti `hutan' dan `sobo' berarti `tempat'. Dapat pula berarti mengunjungi atau mencari makan. Dengan demikian, Wonosobo mengandung arti tempat berhutan yang selalu dikunjungi untuk mencari makan. Di sekeliling kota Wonosobo, ada sejumlah tempat yang indah sebagai obyek pariwisata dan memang sudah dikenal ke mancanegara.
Kisah berdirinya GKI Wonosobo berawal pada tahun 1910, ketika seorang pendeta dan dokter bernama Netelenbos, utusan zending Gereformeerd Friesland datang ke Wonosobo. Beliau melayani para pasien dan para murid sekolah yang didirikannya. Tuhan memberkati pelayanannya, sehingga muncul rumah sakit dan Christelijke Hollands Chinese School pada tahun 1930 dengan Pdt. K. van Djik sebagai guru agamanya. Pada tanggal 28 Oktober 1942 Sdr. Kho Im Liong (Imam Kosasih, ayahanda Pdt. Iwan K. Kosasih) dipanggil untuk melayani mereka. Atas prakarsa Sdr. Koo Bie Tjoan (ayahanda Pdt. Adi Christianto Suwandi dari GKI Muntilan) pada tanggal 1 Agustus 1943 diadakan Sekolah Minggu yang kemudian bertumbuh menjadi jemaat. Pada tanggal 6 Desember 1943 didirikan jemaat Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee cabang Purwokerto.
Akibat Agresi I dan II terjadi kekosongan pelayanan, sehingga mereka mengundang kehadiran Bpk. Armudjo dan Bpk. G. Swasana untuk melakukan pelayanan gerejawi di tengah jemaat Wonosobo. Kemudian pengganti Sdr. Kho Im Liong, yakni Sdr. Siem Tjien Ling (J. S. Probosukmono), yang dibantu oleh Sdr. Go Ing Liem, sejak tahun 1951, mengembangkan pelayanan di sana. Berikutnya tugas pengasuhan dipindahkan ke HKKTKH Magelang sejak tanggal 24 Agustus 1952. Kemudian, sejak kepindahan Sdr. Siem Tjien Ling ke Purworejo, jemaat menerima kehadiran Djie Poen Hian (jahja Dwidjosoetopo). Pada masa pelayanan beliau, jemaat ini didewasakan pada tanggal 12 November 1959. Berikutnya, jemaat juga memanggil Sdr. Kho Oen Liang (ayahanda dari Pdt. Anthonius Kurniasatya dari GKI Cimahi) untuk melayani cabang jemaat Banjarnegara sampai beliau memenuhi panggilan jemaat di Metro Lampung pada tahun 1965.
Karena Sdr. Djie Poen Hian menerima panggilan jemaat GKI Kutoarjo, maka jemaat mengalami kekosongan pelayan sampai saat Sdr. Loe Hok San (Girihardjo Lukito) menggantikannya pada bulan November 1961, yang kemudian ditahbiskan pada tanggal 12 November 1963. Beliau melayani hingga 5 Juni 1974 karena beliau memenuhi panggilan GKI Nurdin Jakarta. Menyusul kemudian, pada tanggal 11 November 1977, ditahbiskanlah dua orang pendeta sekaligus atas diri Sdr. Daniel Haryono (untuk GKI Wonosobo) dan Sdr. Eko Pudjiono (untuk cabang Winongsari). Berhubung Pdt. Eko Pudjiono tidak lagi melayani jemaat ini, maka dipanggillah Sdr. Paulus Eko Samodra untuk melayani cabang Winongsari sejak Juni 1979 hingga 1983.
Berkaitan dengan pengembangan penginjilan, jemaat GKI Wonosobo melakukannya ke desa-desa sekelilingnya, yakni Winongsari, Sikapat, Tanjunganom dan Gumelar. Hal ini ternyata membawa banyak berkat rohani bagi penduduk desa-desa tersebut, yang ditandai dengan kerinduan mereka untuk berbakti, kendati harus menempuh perjalanan yang cukup jauh.
|
|
Alamat
Jl. Kartini 12, Wonosobo 56311
Telp : (0286)-321426
Fax : (0286)-321426
|
 |
 |
Minggu-Umum I |
06.00 |
 |
Minggu-Remaja |
07.30 |
 |
Minggu-Umum II |
09.00 |
 |
Minggu-Umum III |
17.00 |
 |
 |
Lengkapi dengan peta? Silakan hubungi kami untuk melengkapi koordinat peta jemaat anda. |
|